Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Dititipkan


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


"Kenapa kamu di sini sendiri?"


Rani melihat wajah laki-laki yang selama dua tahun ini sudi untuk menampunya dan menganggapnya sebagai anak sendiri.


"Mamang," jawab Rani sambil mengusap air mata yang masih saja mengalir.


Mang Aan tapak duduk di samping Rani, dia menghela napas panjang berulang kali, sudah dua tahun ini dia mengenal sosok perempuan malang ini.


Mendengar kisahnya dari sang kakak, saat dia menjenguk kakaknya di rumah sakit, pasca kebakaran itu.


Ya, kakak Mang Aan sempat di rawat di rumah sakit selama beberapa jam. Akan tetapi, karena luka bakar yang parah dia pun akhirnya meninggal, menyusul istri dan anaknya yang sudah pergi terlebih dahulu.


Ketika dia datang ke rumah sakit, dirinya sudah melihat perempuan asing yang tampak menangis di samping berangkar kakaknya.


"Tolong jaga dia, aku sudah menganggapnya anak sendiri. Dia tidak mempunyai tempat kembali, selain pada kami."


Itulah perkataan terakhir kakak kandung Mang Aan, sebelum dia meninggal. Sampai sekarang Mang Aan masih mengingat semua perkataan itu.


Kehadiran Rani di kehidupan Mang Aan dan Bi Minah yang tidak dikaruniai seorang anak, membuat mereka senang. Sikap Rani yang baik, langsung bisa menarik perhatian kedua paruh baya itu.


"Kamu kenapa? Kan Mamang sudah peringatkan kamu ... kalau memang belum sanggup bertemu, lebih baik jangan," ujar mang Aan, dia mengira kalau Rani menangis karena menemui Diandra.


"Bukan itu, Mang. Aku bukan menangis karena bertemu dia," sangkal Rani, sambil menggelengkan kepala.


"Lalu, kenapa?" tanya Mang Aan.


"M–mereka ada di sini, Mang," ujar Rani dengan suara terbata.


"Mereka siapa, Ran?" tanya Mang Aan yang belum sadar akan orang yang dituju oleh Rani.


Namun, sedetik kemudian mata Mang Aan melebar. "Maksud kamu, mereka?"


Rani mengangguk, seolah tahu arti kata 'mereka' yang diakatakan oleh Mang Aan.


"Bagimana bisa? Bukannya selama ini mereka sudah percaya kalau kamu meninggal di kebakaran itu?" tanya Mang Aan.


Laki-laki itu berkata sambil mengedarkan pandangannya, takut ada orang yang masih mengawasi mereka.


Ya, Mang Aan dan Bi Minah, menyebarkan kalau Diana sudah meninggal di kebakaran itu, sedangkan ini adalah Rani. Mungkin hanya rumah sakit dan kepolisian yang tahu data yang sebenarnya.


Sedangkan seluruh warga di sekitar rumah, mengetahui kalau yang meninggal bukan Rani, melainkan adalah Diana.


Mang Aan, bahkan langsung membawa Diana atau Rani palsu, ke kampung ini tanpa membiarkannya pergi ke rumah kedua orang tua angkatnya.

__ADS_1


Selama dua tahun ini, mereka bisa hidup dengan damai, hingga tiba-tiba saja Diandra muncul, dan kembali mengungkit tentang Diana atau Rani palsu.


"Ayo, lebih baik kita bicara di rumah saja," sambung Mang Aan lagi.


Dia merasa tidak aman jika membicarakan masalah ini di tempat umum seperti ini, walaupun di sekitar sana terlihat sepi tanpa adanya orang lain.


Rani mengangguk, dia memilih berjalan pulang ke rumah Mang Aan, yang tidak begitu jauh dari tempat itu.


.


.


Diandra dan Gio pulang ke vila dengan kondisi tubuh basah kuyup, karena ulah dari suaminya.


"Memang di luar hujan, ya?" tanya Randi yang baru saja ke luar dari kamarnya. Dia menatap bingung Gio dan Diandra.


Wajah Randi terlihat sedikit lebih segar dari sebelumnya, walau lingkar hitam di area mata masih terlihat jelas. Sepertinya laki-laki itu memang membutuhkan istirahat.


"Gak ada," jawab Gio, dia berhenti dulu untuk menjawab asistennya, sedangkan Diandra memilih untuk melanjutkan langkahnya.


Untung saja salah satu anak buah Gio ada yang berinisiatif untuk mengambil handuk ke vila, jadi Diandra bisa menutupi tubuhnya.


"Tapi, kok kalian basah begitu? Atau kalian kecebur di sawah?" tanya Randi lagi, walau sebenarnya dia juga merasa janggal, mengingat tidak ada lumpur di rusuh mereka.


"Gak ada! Enak saja kamu bilang kita kecebur di sawah, gak elit banget sih!" jawab Gio, menatap kesal wajah asistennya.


"Tunggu, sayang!" teruiak Gio, dia kemudian berlari menyusul istrinya yang hampir menutup pintu kamar.


Randi berdecak melihat Gio yang sedang tertawa meledak padanya.


"Dasar, bucin akut! Mentang-mentang Diandra udah luluh, sekarang makin sombong aja tuh orang," gerutu Randi, sambil melihat Gio dan Diandra yang masuk ke kamar.


Sementara itu Gio yang baru saja sampai di kamar, langsung menghampiri istrinya. Dia memeluk istrinya dari belakang.


"Sayang, kok ninggalin sih? protes Gio.


"Ini kan sudah di rumah," jawab Diandra, dia memutar bola matanya, melihat drama yang kembali dilakukan oleh suaminya.


"Tapi, tetap saja kamu minggalin aku." Gio masih dalam mode merajuk, dia mengeratkan pelukan di tubuh Diandra.


"Gio, aku mau mandi." Diandra menggeram kesal. Tubuhnya sudah menggigil karena kedinginan, dia ingin segera mandi dan mengganti baju.


"Mau mandi?" taya Gio, yang yang langsung mendapat anggukkan Diandra.


"Oke, ayo kita mandi!" ujar Gio penuh semangat, lalu menggendong Diandra ala bridal style.


"Gio, apa-apan sih, turunin aku!" teriak Diandra, sambil memukul dada bidang suaminya yang terletak jelas, mengingat laki-laki itu hanya menggunakan t‐shirt berwarna putih.

__ADS_1


"Kita mandi bareng," ujar Gio santai sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Ish, gak mau! Aku mau turun sekarang," teriak Diandra sambil mencoba melepaskan diri dari suaminya.


"Sebentar lagi, sayang." Gio menutup pintu menggunakan kakinya lalu berjalan menuju ke bawah shawer.


Dia menurun kan Diandra, lalu menghimpitnya di depan dinding.


"M–mau apa?" tanya Diandra dengan suara terbata.


Wajahnya tampak panik, dengan tubuh yang berusaha menjauh, walau sebenarnya dia memang tidak bisa lagi menjauh dari suaminya, dirinya sama sekali tidak mempunyai ruang untuk melarikan diri.


"Mau apa?" Gio malah menggoda Diandra dengan mendekatkan wajah keduanya.


"A–apa?" Suara Diandra semakin lirih, saat wajah Gio semakin dekat dengannya.


Tubuhnya menempel sempurna pada tembok, dengan wajah yang menoleh ke samping, menghindari wajah Gio.


Pandangan Gio kini teralihkan pada leher jenjang sang istri, dia mengalihkan targetnya. Biarkan bibir itu terbebas lebih dulu, masih ada daerah yang lainnya.


Sudah cukup dia menahan desakan hasrat sejak tadi, kini Gio ingin melampiaskannya pada istri dinginnya itu.


Istrinya ini terlalu menggoda, hingga rasanya kepalanya sudah pening, menahan desakan hasrat akibat pikirannya yang selalu tertuju pada keindahan tubuh Diandra.


Ah, sepertinya jiwa bercinta di dalam diri Gio kini telah tumbuh kembali, karena dibuka oleh percintaan pertama bersama istrinya.


Ini terlalu gila, kenapa dia mau melakukan itu di tempat seperti ini? batin Diandra.


Dia tidak menolak segala sentuhan dari suaminya, walau rasa tidak nyaman dan takut masih terasa. Bayangan rasa sakit saat inti tubuh Gio memasukinya, masih mengendalikan pikirannya.


Ya, ini kali keduanya Gio mencoba kembali memberikan nafkah batin padanya, setelah hari-hari kemarin dipenuhi dengan berbagai pekerjaan yang sangat menyita waktu mereka berdua.


Gio yang sudah tidak bisa menahan hasratya pun menuntun Diandra untuk mengikuti keinginannya, hingga akhirnya penyatuan itu kembali terjadi.


"Kamu terlalu indah dan sempurna, hingga mampu membuat aku gila, ingin segera menikmatinya," desah Gio, tepat di depan telinga Diandra.


Gemercik air yang mengguyur tubuh keduanya, seakan menjadi simfoni pengiring yang indah, bersama dengan suara-suara kenikmatan yang saling bersahutan.


Tidak ada lagi jeritan rasa sakit, ataupun penolakan Diandra. Keduanya sudah bisa saling menikmati arti dari surga dunia yang tampak jelas dari pasangan suami istri itu.


Ingat ya, adegan ini hanya boleh dilakukan oleh suami istri🤭


................


Yuk mampir di karya teman aku.


__ADS_1


__ADS_2