Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Diculik


__ADS_3

...Happy Reading...


................


Hari ini adalah hari ke dua Diandra ada di rumah keluarga Gio. Karena ini masih akhir pekan, Hana, Gita, dan Erika, mengajak Diandra untuk berjalan-jalan sambil menikmati hari libur dengan memanjakan diri.


Awalnya Gio tidak mengizinkan istrinya diculik oleh para perempuan di keluarganya itu. Bukan karena khawatir. Akan tetapi, lebih karena Gio tidak rela akan berpisah dengan Diandra di saat hari liburnya.


Laki-laki itu sudah harus mulai pergi ke kantor mulai besok pagi, mengingat dirinya sudah lama tidak muncul. Begitu banyak yang harus dia periksa, hingga dia yakin akan sibuk saat sudah mulai bekerja.


Namun, karena kemarin Gio melakukan kesalahan pada Gita, hingga gadis yang merupakan adik bungsunya itu merajuk. Akhirnya Gio tidak bisa membantah lagi, apa lagi kalau sudah Mama Hana yang ikut berbicara. Maka dia tidak akan pisa membantahnya.


Menjelang makan siang, keempat perempuan dari keluarga Purnomo berangkat menuju pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Jakarta.


Mereka mengawalinya dengan makan siang bersama di salah satu restoran yang ada di sana. Menu makanan ala negara dengan ibu kota Paris menjadi tujuan mereka.


Restoran dengan kelas internasional itu, mendatangkan chef, atau juru masak khusus dan bahan makanan, dari negara dengan julukan heksagon itu. Hingga cita rasa khas dari negara itu masih terjaga.


Diandra cukup dibuat silau dengan berbagai kemewahan yang tersaji di restoran itu begitu dia memasukinya. Jalan beramal dengan keluarga suaminya, membuat dia merasa menjadi orang yang belum mengetahui apa pun. Dirinya merasa hanya seorang gadis desa yang beruntung bisa menikahi seorang pewaris keluarga kaya.


Padahal bila di daerah kelahirannya, perempuan seperti Diandra sudah termasuk perempuan yang sangat sukses, hingga akan banyak dielu-elukan oleh orang-orang.


Namun, tidak dengan kota ini. Di Jakarta, dia merasa menjadi orang kecil yang tidak mengetahui apa pun, dan kembali ke titik terendahnya.


Untung saja dia mendapatkan mertua dan ipar yang sangat menyayanginya, dan dengan senang hati menjawab pertanyaannya dan menjelaskan, jika ada yang membuatnya penasaran.


Seorang pelayan menghampiri mereka, ternyata sebelumnya Erika sudah memesan tempat terlebih dahulu, hingga mereka hanya tinggal menyebutkan nama untuk mendapatkan kursi duduk.


Keempat perempuan itu diajarkan menuju salah satu meja dengan hiasan yang sangat cantik. Diandra sedikit mendesah, ini sudah seperti acara makan malam formal yang penuh dengan etika di atas meja.

__ADS_1


Untung saja dia sudah mempelajari semua itu sewaktu akan mengambil alih hotel milik neneknya. Sebagai seorang pemimpin, dia bisa saja di undang di acara formal, hingga setidaknya harus tau etika makan yang benar. Ya, walaupun selama ini dia berpura-pura sebagai seorang sekretaris.


Membuka menu, masing pun memesan dari mulai makanan pembukaan, utama, dan makanan penutup.


Makanan khas yang menjadi menu utama di sana adalah pasta, tentu dengan berbagai fariasi saus yang berbeda. Membuat Diandra sekarang sedang menjelajahi kuliner di negara yang bahkan belum pernah ia kunjungi.


Enggak apa-apa belum pernah pergi ke negaranya. Sekarang kita cicipi dulu makanannya, batin Diandra, menunggu pesanan datang dengan antusias, walau semua itu tidak terlalu terlihat di dalam raut wajahnya.


Diandra tetap saja seorang perempuan yang dingin cenderung sulit untuk mengungkapkan perasaan di dalam hatinya. Akan tetapi, dia juga termasuk perempuan ramah untuk orang-orang tertentu, seperti keluarganya.


Selesai dengan makan siang, kini keempat perempuan berbeda usia itu kini beralih menuju beberapa butik yang ada di sana.


"Kita kuras habis uang Gio!" seru Erika sambil mengipaskan kartu premium berwarna hitam yang tadi pagi dia dapat dari adik laki-lakinya.


"Ayo! Jarang-jarang kita bisa malak Kak Gio!" sambut Gita penuh semangat, seolah telah memenangkan lotre.


Diandra hanya bisa melongo melihat para iparnya yang terang-terangan memperlihatkan kesenangannya setelah memalak suaminya. Entah itu memang sudah biasa terjadi di keluarga ini? Dia pun tidak tahu.


Diandra menoleh cepat, dengan mata melebar. Sekaya itu kah Gio?


Hana yang melihat reaksi Diandra malah terkekeh, dia merangkul pundak menantu perempuannya, lalu menyusul kedua anaknya yang sudah berjalan duluan.


Berpindah dari butik satu ke butik lainnya, hanya demi berburu barang-barang bermerek dengan harga selangit. Diandra bergidik ngeri saar melihat bandrol hanya untuk satu potong baju santai. Semuanya berharga diatas satu juta, untuk yang paling murah. Bisa dibayangkan jika mereka memilih barang dengan kualitas medium yang ada di sana, berpa kira-kira harganya


Diandra yang notabene pengusaha saja, merasa sayang untuk membeli baju-baju itu. Selama ini dirinya hanya membeli baju tidak lebih dari satu sampai dua juta, itu pun sudah pengeluaran untuk baju sekelas gaun yang dirancang oleh desainer. Yang diperuntukkan digunakan dalam acara formal, dan berkelas.


Entah berapa uang yang sudah terkuras dari kartu tipis itu. Diandra bahkan sudah tidak bisa membayangkannya. Berbeda dengan Erika dan Gita yang sibuk mencari barang untuk mereka, bahkan Ethan pun tak luput dari jatah belanja, walaupun anak laki-laki itu tidak ada di sana.


Hana malah sibuk memilih baju untuk Diandra, mulai dari baju santai, baju pesta, hingga sepatu, semuanya dia beli untuk menantu perempuannya.

__ADS_1


Selesai dengan baju dan yang lainnya, kini Hana menarik Diandra menuju tempat perhiasan, meninggalkan Erika dan Gita yang masih sibuk memilih baju-baju mereka.


"Mau apa kita ke sini, Mah?" tanya Diandra menatap bingung toko perhiasan dengan desain mewah itu.


"Mamah kan belum sempat memberikan kamu seserahan waktu menikah dengan Gio. Nah, sekarang kita cari sesuatu yang cocok untuk kamu," jawab Mama Hana, sambil membawa Diandra masuk ke dalam.


"Tapi, Mah–" Diandra ragu untuk membeli semua itu. Dia tidak mau disangka menjadi wanita matrealistis yang memanfaatkan kekayaan suaminya.


"Ini adalah hadiah dari Mamah, jadi jangan ditolak ya, sayang," pinta Mama Hana.


Diandra terdiam, dia akhirnya menganggukkan kepala, tidak tega menolak permintaan mertua baiknya.


Salah satu karyawan di toko perhiasan itu, menyambut kedatangan Mama Hana dengan begitu ramah, Membawa Mama Hana dan Diandra menuju ruangan VIP yang diperuntukkan hanya pada pelanggan kelas tertentu, sepertinya Mama Hana sudah terkenal di sana.


Tanpa diminta karyawan itu langsung memperlihatkan katalog desain perhiasan terbaru yang diproduksi di sana.


"Coba kamu lihat, suka yang mana?" tanya Mama Hana pada Diandra.


Diandra tampak melihat-lihat katalog itu, dia tampak ragu untuk memilih, karena sudah dipastikan harganya tidak akan murah.


"Mah, apa ini gak berlebihan?" tanya Diandra merasa tidak enak hati.


"Enggak, sayang. Kamu adalah menantu perempuan Mama satu-satunya, jadi Mama mau memberikan hadiah yang cocok untuk kamu," ujar Mama Hana, berusaha meyakinkan Diandra.


Setelah lama memilih, akhirnya Diandra menjatuhkan pilihannya pada sebuah kalung dengan desain yang sederhana, dan menurut Diandra akan memiliki harga paling murah.


Namun, setelah dia mendengar penjelasan dari karyawan toko perhiasan itu, dia hampir saja tidak percaya dengan nominal yang disebutkannya.


Bagaimana tidak, jika hanya untuk sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk bunga anggrek berhias permata ungu sebagai putiknya itu, dibandrol dengan harga tujuh ratus juta rupiah.

__ADS_1


Menurut penjelasan karyawan itu, kalung itu termasuk yang hanya dibuat tiga oleh desainer yang merupakan pemiliknya perusahaan itu sendiri. Memang terlihat sederhana dan tidak mencolok. Akan tetapi, jika diperhatikan dengan lebih dekat, permata yang menjadi penghias putik bunga itu adalah permata terbaik yang memiliki harga fantastis.


.....................


__ADS_2