
...Happy Reading ...
......................
"Ya sudah kalau kalian gak mau belanja di sini, kita pindah tempat lain saja. Tapi dengan satu syarat," ujar Gio setelah menyerah dengan protes dari mertua dan iparnya, bahkan Diandra pun ikut mendukung keluarganya.
"Lah, kok pake syarat segala sih? Memang syaratnya apa?" tanya Ayah, tampak mengerutkan keningnya.
"Aku akan bawa kalian ke salah satu toko di sini, dan kalian harus membeli setidaknya satu stel baju mulai dari atas sampai bawah. Anggap saja itu adalah kenang-kenangan dari aku, sebagai menantu di keluarga ini," putus Gio, tanpa mau ditawar lagi.
Dia hanya berniat ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga istrinya, makanya dia juga akan membawa mereka ke tempat terbaik di kota ini. Akan tetapi, sepertinya semua itu salah, mereka malah tidak nyaman karena bukan berada di tempat yang tepat untuk mereka.
Gio berjalan lebih dulu, dia membawa mereka menuju salah satu butik ternama, lalu membatu memilih baju yang kira-kira sesuai dengan gaya mereka masing-masing.
Ayah yang terlihat berwibawa dengan baju berkerah dan celana bahan yang selalu dipakainya, Bunda yang terlihat lembut dengan warna-warna pastel atau gelap. Ares yang kekinian dengan model baju anak muda jaman sekarang, Ana yang muslimah dengan kerudung di kepala, dan si kecil tampan Andra yang juga harus kebagian jatah.
"Sayang, boleh bantu aku cari baju untuk Andra, di toko depan?" tanya Gio pada istrinya, saat mereka baru sampai di depan toko.
Diandra tampak mengikuti arah pandangan suaminya, dia kemudian mengangguk saat mendapati toko baju anak dan bayi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan yang lainnya sudah masuk dan berpencar untuk mencari pakaian yang sekiranya mereka sukai dengan harga yang tidak terlalu mahal, tentu saja harga yang lebih penting.
"Ini, kamu pakai untuk bayar nanti." Gio memberikan kartu yang berbeda lagi pada Diandra, padahal yang kemarin saja masih ada.
"Gak usah, kartu yang kemarin masih ada kok," ujar Diandra, menolak.
"Gak apa, itu kartu khusus untuk keperluan kamu sendiri. Kalau yang ini untuk belanja yang lain," ujar Gio, sambil menaruh kartu itu di tangan istrinya.
"Paswordnya, tanggal kita pertama kali bertemu, kamu ingat kan, sayang?" sambung Gio.
Diandra tampak terdiam, seperti mengingat-ingat kira-kira tanggal berapa mereka pertama kali bertemu. Ah, dia memang tidak terlalu memikirkan soal tanggal, hingga harus memikirkannya cukup lama, malu kan kalau nanti dia ketahuan lupa oleh Gio. Diandra kemudian mengambil ponsel lalu menuliskan tanggal di sana.
"Ini, kan?" tanyanya tidak yakin.
"Iya, ternyata kamu masih mengingatnya?" Gio tersenyum lebar, saat melihat Diandra masih bisa mengingat tanggal pertemuan mereka pertama kali.
"Samar sih ... tapi, masih bisa aku ingat lah," ujar Diandra membalas senyum suaminya, seolah itu memang dirinya ingat, padahal dia hanya sedikit menebak.
"Ya sudah aku ke sana dulu," pamit Diandra yang langsung diangguki oleh Gio.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya," pinta Gio.
Diandra mengangguk sambil menyatukan ibu jari dan telunjuknya, membentuk huruf O. Mereka pun berpisah di sana, Diandra berjalan ke toko baju anak, sedangkan Gio menyusul keluarga mertuanya yang sudah berpencar di toko itu.
Siang itu Gio disibukkan dengan meyakinkan mertua dan para adik iparnya agar membeli baju yang pas untuk mereka, bukan hanya karena harganya yang paling murah. Gio bahkan sampai meminta salah satu pelayan untuk mengeluarkan baju yang kira-kira cocok untuk orang tua dan adik istrinya itu, tanpa melihat harga. Bagi Gio, nilai uang tidaklah menjadi beban, dia bisa memberikan baju termahal yang ada di sini, untuk keluarga Diandra, bila memang mereka mau.
Sedangkan Diandra malah tenggelam dalam tumpukan baju anak yang terlihat sangat lucu, dia bahkan sampai khilaf saat memilih baju untuk keponakan pertamanya itu. Hingga kini dia sudah memilih lima stel baju dengan berbagai macam gaya yang menurutnya akan lucu jika dipakai oleh Andra.
__ADS_1
Namun, disaat dia sedang bahagia memilih baju untuk Andra, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya, bersama dengan anak perempuan kecil, seumuran dengan Andra.
"Dian?" Panggilan itu membuat Diandra langsung mengalihkan perhatiannya dari baju di tangannya.
"Wah, ternyata tadi pagi aku tidak salah lihat, kamu memang benar Diandra?" ujar wanita itu lagi, dengan tatapan remeh.
"Sintia?" gumam Diandra pelan, baju di tanganya sampai terjatuh saking kagetnya dia.
Ternyata perempuan tadi pagi itu, memang benar dia? batin Diandra.
"Hai, Dian. Lama kita tidak bertemu, ya," sapa wanita itu yang ternyata benar adalah Sintia. Dia mengulurkan tangannya ke hadapan Diandra.
Diandra mengambil baju yang tidak sengaja dia jatuhkan, kemudian kembali berdiri di depan Sintia. Diandra tampak membalas senyuman Sintia dengan wajah yang terlihat dingin.
"Hai, Sintia, apa kabar?" balasnya, sambil menjabat tangan Sintia.
"Aku baik, sangat baik. Kamu sendiri bagaimana? Sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu. bagaimana kabar kamu setelah Eric meninggalkan kamu, tiga setengah tahun yang lalu?" Sintia terlihat menatap gaya Diandra dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Aku, baik," jawab Diandra singkat.
"Hem, baguslah kalau kamu baik-baik saja. Aku kira kamu akan hancur setelah ditinggalkan oleh Eric," ujar Sintia sinis.
"Baby, apa kamu sudah membeli bajunya?" Seorang laki-laki berpakaian formal tampak menghampiri Sintia, dia sama sekali belum menyadari keberadaan Diandra di sana.
Diandra menatap datar kedatangan laki-laki yang tidak lain adalah mantan tunangannya tiga tahun lalu.
"Ya, Baby, aku belum mendapatkan baju yang cocok untuk anak kita," jawab Sintia dengan nada manja, sambil melihat anak kecil di dalam stroler yang sedang asik dengan mainannya.
"Eric? Wah kita seperti sedang reunian yah," ujar Diandra memotong pembicaraan sepasang suami istri di depannya.
Laki-laki yang tidak lain adalah Eric terlihat mengalihkan perhatiannya pada Diandra, hingga mata keduanya bertemu, laki-laki itu sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Dian? Sedang apa kamu di sini?" tanya Eric seakan toko ini miliknya.
"Aku sedang membeli baju anak, lalu apa lagi?" jawab Diandra sambil menunjuk beberapa baju yang sudah dia berikan pada pelayan toko tidak jauh darinya.
Eric dan Sintia tampak mengikuti arah telunjuk Diandra, kemudian menatap wanita itu dengan raut wajah terkejut, walau kemudian mereka tertawa mengejek.
"Kamu membeli semua itu? Gak usah mimpi deh, wanita kampung seperti kamu mana mampu untuk beli baju mewah seperti itu," decak Sintia, meremehkan Diandra.
Namun, Diandra tidak mendengar, dia malah memanggil pelayan yang sedang memegang baju pilihannya untuk Andra.
"Mba, saya mau bayar," ujar Diandra langsung, sambil melirik sinis pada dua orang manusia di depannya.
"Oh iya, Nona, mari saya antar ke kasir," jawab wanita muda yang menjadi pelayan toko itu.
__ADS_1
"Saya sudah selesai, permisi," ujar Diandra sebelum melangkah menjauh dari Sintia dan Eric yang menatapnya tidak percaya.
"Oh iya, aku lupa, tadi kamu bertanya kabar saya? Saya merasa sangat baik, setelah saya kehilangan dua benalu yang ada di sekitar saya," sambung Diandra tajam, kemudian berjalan meninggalkan Sintia dan Eric yang menatapnya tidak percaya.
Diam-diam mereka berdua bahkan mengikuti Diandra ke kasir untuk memastikan kalau Diandra membayar bajunya dengan benar.
"Semunya jadi tujuh juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Mau bayar pake Cash atau debit, Nona?" tanya petugas kasir itu ramah.
"Debit aja, Mba," jawab Diandra sambil menyodorkan kartu eksklusif yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, yang pasti berkantong sangat tebal.
Eric dan Sintia yang bisa melihat itu tampak melebarkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Apa selama ini dia menjual diri? Kenapa dia bisa mempunyai kartu seperti itu? Tadi pagi aku bertemu dengannya di hotel, sepertinya dia memang menjadi wanita malam di sana," ujar Sintia pada Eric.
"Atau dia jadi simpanan pengusaha?" tebak Eric semakin membuat Diandra ingin tergelak saat mendengar bisik-bisik dari dua orang yang terlibat masa lalu dengannya itu.
"Ini kartunya, dan ini barang belanjaannya. Terima kasih banyak sudah berbelanja di tempat kami," ujar petugas kasir ramah.
"Sama-sama, Mba," jawab Diandra sambil mengambil paper bag berisi baju Andra. Walau sebenarnya tadi dia cukup terkejut saat mendengar jumlah harga lima buah baju yang dirinya pilih.
Dia tersenyum miring sambil melirik sekilas pada saat melewati sepasang suami istri itu, kemudian berjalan tegap menghampiri toko tempat suaminya berada.
Sekarang mau apa lagi kalian? Setelah tau kalau aku tidak hancur kerana ulah kalian? batin Diandra.
Memang keberuntungan sedang berada di pihaknya, karena kebetulan sekali Gio sedang berada di dekat pintu dan langsung mengahampirinya.
"Sudah belanjanya, sayang?" tanya Gio, mengambil paper bag di tangan Diandra.
"Sudah. Tapi, maaf aku kelepasan beli baju buat Andra," jawab Diandra dengan nada tidak enak.
Gio tampak terkekeh, dia malah senang saat Diandra mau membelanjakan uangnya.
"Gak apa, aku senang kamu mau berbelanja menggunakan uang yang aku berikan," jawab Gio.
"Terima kasih." Diandra tersenyum manis.
"Apa pun untukmu, sayang," jawab Gio gemas, sambil mengecup kening Diandra sekilas.
Sintia dan Eric yang melihat itu semua semakin yakin kalau Diandra adalah simpanan seorang pengusaha.
"Gimana sama Ayah, Bunda, Ana, dan Ares?" tanya Diandra.
"Sebentar lagi selesai, sekarang mereka sedang mencoba bajunya dulu," jawab Gio.
Keduanya masuk ke dalam toko, di saat itu ujung mata Diandra masih melihat Eric dan Sintia yang memperhatikannya dari jauh.
__ADS_1
Silahkan berpikir apa pun yang kalian inginkan, karena itu semua tidak akan berpengaruh pada kehidupanku saat ini, batin Diandra.
......................