
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...Happy Reading...
...💖...
"Aku tidak mengenalmu? Dan perlu kamu tau, kalau kami berdua sudah bertunangan bahkan sebentar lagi akn menikah, benar 'kan, sayang?" Gio merangkul pundak Dian, dia tersenyum lembut pada perempuan yang kini tengah menatapnya tajam.
Niat hati tak ingin berdebat dengan perempuan tak penting itu, kini dia malah terjebak oleh sandiwara lelaki di sampingnya.
"Dasar brengsek!" desis Dian pelan, dengan gigi yang sengaja di rapatkan, hingga hanya Gio yang mampu mendengar perkataannya.
Gio tak marah, dia malah tersenyum mendengar umpatan yang keluar dari perempuan di dalam pelukannya itu. Itulah yang dia suka dari Dian, semua kata umpatan yang ditunjukkan padanya.
Sepertinya hanya Dian, perempuan satu-satunya yang bisa melakukan hal itu pada seorang Gio. Dian seperti tidak melihat harta dan ketampanan seorang Gio, di saat banyak wanita memuja dan bermimpi ingin menjadi pendamping hidupnya, walau itu hanya sesaat.
Namun, itu begitu berbeda dengan Dian, perempuan itu malah selalu menghindar dan menjauh juga bersikap acuh saat Gio sendiri yang mendekatinya.
"A–apa, maksud kamu, sayang?" tanya wanita di depan Dian dan Gio, mukanya merah menahan malu, dengan tangan mengepal kuat, menatap Gio dan Dian dengan mata membulat penuh. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang baru belum ada satu bulan ini, berjalan dengannya kini mengaku sudah mempunyai calon istri.
"Jangan panggil aku dengan kata itu! Hanya calon istriku yang berhak memanggilku dengan perkataan itu, kamu tahu?!" geram Gio.
Sekarang semua orang di kantin itu langsung berubah haluan, dari yang tadi mencaci maki Dian, kini wanita yang mengaku sebagai pacar dari Gio itu lah yang tengah menjadi bahan pembicaraan.
Mendengar bisik-bisik para pengunjung kantin rumah sakit yang semakin memojokannya, wanita itu akhirnya pergi dengan wajah marah dan kesal, mungkin juga bercampur malu.
Setelah melihat wanita itu pergi, Dian langsung melepaskan rangkuman tangan Gio di pundaknya, dengan kasar.
"Ck, salah aku memang, memilih duduk dengan lelaki brengsek seperti dirimu." Dian berdecak kesal sambil melihat bajunya yang basah, ditambah terlihat jelas noda kopi yang disiramkan oleh wanita tadi, di bajunya yang berwarna putih.
"Maaf, sayang," melas Gio, melihat Dian penuh permohonan. Dia jadi merasa bersalah atas kejadian ini, karena memang benar kalau wanita itu pernah enjadi teman kencannya saat dia baru datang di daerah ini.
Dian tak menghiraukan ucapan maaf Gio, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar kantin.
__ADS_1
"Tunggu, sayang!" Gio langsung berdiri dan berjalan cepat demi mengejar Dian, dia melepaskan jaket yang dipakainya dan memakaikannya pada tubuh Dian.
Dian menantap tajam Gio, tangannya hendak melepaskan jaket Gio, akan tetapi, lelaki itu langsung menceganhnya.
"Buat nutupin noda kopi di baju kamu," ujar Gio mala semakin merapatkan jaketnya di tubuh Dian.
"Jangan pegang-pegang!"
Dian menepis lengan GIo yang masih berada di pundaknya, dengan tatapan tajam. Dua tak suka berada dekat dengan laki-laki, apa lagi di pegang seperti itu. Rasanya begitu risih, entah mengapa Dian merasa tidak dihargai bila ada lelaki yang memegangnya lebih jauh.
"Oke, aku lepasin ... tapi, biarkan jaketnya ya, biar kamu gak malu," Gio langsung melepaskan tangannya dan mengangkatnya setara dengan kepala.
Perempuan itu memutar bola matanya, melihat tingkah Gio yang tidak pernah tersinggung dengan perkataan dan sikapnya yang terbilang kasar, memilih untuk melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan lelaki itu.
GIo mengikuti langkah Dian, mereka kini sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka. "Kamu nanti ganti saja bajunya dengan yang aku bawa–"
Perkataan Gio terhenti saat dian kembalimenatapnya tajam.
Dian tak bereaksi, lelah juga menghadapi lelaki yang tak mudah menyerah seperti Gio. Lagi pula apa yang dikatakan oleh lelaki itu benar adanya, dia tidak mungkin menggunakan baju itu lebih lama.
Pintu lift terbuka, mereka masuk setelah semua orang yang keluar lebih dulu, mungkin karena waktu sudah beranjak malam, tak ada orang lain di lift itu selain Dian dan Gio.
Beberapa waktu kemudian, mereka berdua sudah sampai di lantai ruangan rawat Ares, Gio bisa melihat perubahan raut wajah Dian.
Wajah yang sejak tadi hanya menampilkan ekspresi datar, kini terlihat gugup dengan tangan yang semakin erat meremas jaket milik Gio.
'Ada apa dengannya?' tanya Gio dalam hati.
Sampai di depan kamar rawat Ares, Dian berhenti sejenak, dia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi. Berulang kali Dian melakukan itu, berusaha untuk meredakan rasa sesak di dalam dada.
Semua tingkah perempuan itu, terlihat jelas olah mata Gio, lelaki itu tak bertanya apa pun, dia hanya diam dan memperhatikan semua gerak gerik Dian.
Cklek.
__ADS_1
Pintu kamar itu terbuka, Dian masuk dengan langkah ragu. Di dalam sana tiga orang itu langsung mengalihkan pandangannya pada kedatangan Dian dan Gio. Lisna langsung berdiri, dia sudah tak sanggup menahan rasa rindu pada anak suluangnya itu.
Dian sedikit menundukkan kepalanya, dia berjalan menuju meja, tempat dirinya menaruh tas, lalu mengambilnya. Dia kemudian menghampiri ranjang rumah sakit, tempat Ares terbaring.
"Kakak, mau kemana?" tanya Ares, melihat Dian sudah membawa tas miliknya.
"Kakak pulang dulu, ya? Tadi baju Kakak kena tumpahan minuman orang jadi sekarang basah, kakak mau ganti baju dulu," ujar Dian setelah berada di samping adik bungsunya itu.
Lisna yang juga berdiri di samping Dian, mengulurkan tangannya, mengenggam tangan anak suluangnya itu, perasaan rindu yang selama ini dia pendam sekarang sudah tidak bisa lagi ditahan.
"Kamu masih marah sama Bunda, Nak?" lirih Lisna, menatap wajah Dian yang masih saja tak mau menatap wajah sang ibu.
Gio berdiri di dekat pintu, menatap interaksi berbeda antara ibu dan anak itu dengan tatapan yang tak terbaca.
Sedangkan Eros duduk tegak di atas sofa yang tadi Dian gunakan untuk tidur. Tatapannya begitu rumit, hingga tidak ada yang tau apa yang dipikirkan oleh lelaki paruh baya itu.
"Dian, lihat Bunda, Nak. Kamu tidak rindu sama Bunda?" Lisna menarik tubuh Dian agar biasa menatap wajahnya.
Dian menatap wajah yang masih terlihat cantik, walau sudah tak muda lagi. Dua tahun sudah dia tidak melihat wanita itu secara langsung. Dua tahun dia juga tidak pernah berbicara lagi dengan wanita itu.
Wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang, hingga dia tumbuh dengan baik dan bisa seperti sekarang ini.
Dia juga tak bisa mengingkari rasa rindu di dalam hatinya, hanya saja ada rasa lain yang kini tidak bisa ia lupakan. Merekalah yang memisahkannya dengan saudara kembarnya sendiri, Karena keegoisan mereka sebagai orang tua yang telah mengakibatkan adik kembarnya memilih pergi meninggalkannya.
Juga karena keegoisan mereka, orang yang dia cintai juga pergi meninggalkannya. Kenapa? Kenapa dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang hanya mau melihat lukanya sendiri? Kenapa mereka hanya mementingkan kemauannya sendiri?
Salahkan, bila sekarang dia juga memilih untuk egois dan memilih jalannya sendiri. Tak ada niat melawan, hanya saja keadaan yang memaksanya menjadi seperti itu. Terlalu banyak kehilangan karena sikap keras, sang kepala rumah tangga yang tak bisa lulus oleh siapa pun, bahkan dirinya yang tak lain adalah anaknya sendiri.
"Aku–"
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
__ADS_1