
...Happy Reading...
......................
Dasar laki-laki mesum! Dia kan memang selalu begitu kalau ke luar dari kamar mandi ... masa bisa lupa sih? gerutu Diandra di dalam hati, walau wajahnya terlihat menahan senyum, entah karena apa.
Gio yang melihat senyum tipis istrinya, dari ujung matanya ikut tersenyum.
Setelah selesai memakai bajunya, dia kembali duduk di samping Diandra. Menempelkan tangannya, kembali mengukur suhu tubuh istrinya.
"Panas kamu, masih lumayan tinggi. Kita ke dokter aja yuk," ajak Gio, menatap penuh kasih sayang sang istri.
Diandra membalas tatapan Gio dengan mata sayu miliknya. "Gak mau."
"Ya udah, kalau kamu gak mau ke rumah sakit, gimana kalau aku panggil dokternya ke sini aja, ya? Asal kamu mau di periksa." Gio menatap Diandra penuh permohonan.
Perempuan itu tampak menatap wajah suaminya dengan begitu dalam. Baru kali ini dia melihat wajah Gio dengan lebih lama.
Apa selama ini dia selalu menatapku seperti ini? Kenapa aku baru menydari tatapannya yang begitu lembut dan hangat ini? batin Diandra penuh tanya.
Gio membiarkan Diandra menatapnya, dia malah merasa senang karena perlahan Diandra mulai semakin membuka hatinya, untuk menerimanya.
Kenapa kamu menutupi luka yang kamu derita seperti ini, Dian? Siapa yang tahu, kalau di balik wajah cantik yang terlihat selalu menampakkan raut judes cenderung sombong ini, menyimpan begitu banyak luka di dalamnya.
Gio tersenyum tipis, sambil memperhatikan wajah istrinya dengan seksama. Rasanya begitu nyaman tanpa ada rasa bosan, walau setiap hari dia terus memandang wajah di depannya.
Diandra kemudian menggeleng pelan, dia masih menolak untuk diperiksa. "Aku mau istirahat."
Gio tersenyum kemudian mengangguk, "Heem, selamat tidur, sayang."
Gio tampak mengusap kening Diandra setelah mengambil handuk yang ada di atasnya.
"Airnya sudah dingin, biar aku ganti dulu ya," ujar Gio yang langsung diangguki oleh Diandra.
Gio pun mengambil tempat air itu lalu berjalan ke luar, untuk mengganti airnya. Romi dan sang istri langsung menghampiri Gio, saat melihat laki-laki itu ke luar.
"Bagaimana, apa Dian sudah mau dibawa ke dokter?" tanya Romi.
Gio menggeleng. "Sebenarnya kenapa sih, Dian gak mau di bawa ke rumah sakit ataupun diperiksa oleh dokter?"
Romi tampak ragu untuk menjawab, dia lebih dulu melirik istrinya.
"Sebenarnya ... Diandra takut dengan jarum suntik."
__ADS_1
"Hah?!" Gio melebarkan matanya, mendengar jawaban dari Romi.
"Karena itu, Dian malas untuk diperiksa oleh dokter. Dia takut disuntik," jelas Romi.
Gio menahan tawanya, merasa lucu mendengar pernyataan dari Romi. Dia tidak pernah menyangka kalau Diandra yang seakan tidak takut dengan apa pun, ternyata takut dengan benda kecil semacam jarum suntik.
"Ya ampun, ternyata gara-gara itu, Dian tidak mau diperiksa oleh dokter?" Gio terkekeh kecil.
Romi langsung mengangguk membenarkan perkataan Gio.
"Ya sudah, kita lihat malam ini saja, kalau sampai besok pagi panasnya belum turun juga, terpaksa aku akan menyuruh Randi untuk memanggil dokter ke sini," putus Gio.
"Tapi, gimana nanti kalau Dian sampai ngamuk?" tanya Romi khawatir.
"Biarkan saja, urusan itu biar menjadi bagianku," jawab Gio.
Setelah berbincang sebentar Romi dan istrinya pamit pulang, mengingat malam yang semakin larut.
Gio kembali ke kamar setelah mengantarkan Romi dan istrinya ke depan rumah. Dia membuka pintu dengan perlahan, takut mengganggu istirahat sang istri.
Gio kembali duduk di samping ranjang istrinya, lalu mulai memberi kompers kembali di kening Diandra. Sepanjang malam Gio tampak terus merawat istrinya dengan begitu telaten, hingga akhirnya tertidur dalam kondisi duduk di samping ranjang.
Dasar perempuan murahan! Tukang selingkuh!
Perempuan murahan seperti ini, tidak seharusnya berada di kampung ini! Merusak pemandangan saja!
Awas, nanti para suami kita juga digoda sama perempuan murahan seperti dia. Sudah mempunyai calon suami saja masih selingkuh, apa lagi sekarang!
Dasar wanita murahan!
Dasar perempuan tukang selingkuh!
Kamu adalah penyebab dari kepergian adikmu dan meninggalnya nenek kamu!
Tubuh Diandra tampak bergetar, saat mimpi buruk saat dirinya menerima segala caci maki dari para tetangga, bahkan keluarganya sendiri, setelah kejadian di hari pernikahannya yang gagal.
"Aku bukan perempuan murahan," gumam Diandra hampir tidak terdengar.
Gio yang merasakan ada sesuatu yang tidak beres, langsung membuka matanya. Dia cukup terkejut melihat tubuh Diandra sudah penuh dengan keringat, dan tidurnya yang tidak tenang.
"Sayang ... hei, bangun, sayang," lembut Gio berusaha membangunkan istrinya.
"Ya ampun, panasnya kenapa semakin tinggi?" panik Gio, saat tangannya menyentuh tubuh Diandra.
__ADS_1
"Aku bukan perempuan murahan." Kembali Diandra bergumam lirih.
"Iya, kamu bukan perempuan murahan, sayang. Mereka yang mengatakan itu padamu yang murahan!" jawab Gio, sambil mencoba terus membangunkan Diandra.
Namun, Diandra tidak juga membuka mata. Perempuan itu seperti sedang terjebak di dalam mimpi buruknya.
Gio kemudian mencari ponsel yang tadi malam dia isi baterai. Dia langsung menghubungi Randi untuk mencari dokter yang bisa dibawa ke rumah secepatnya.
Mendengar suara panik Gio, Randi yang masih asik berbaring di atas ranjang pun, langsung terbangun untuk melakukan perintah dari bosnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat kamu sadar, sayang?" ujar frustrasi Gio, menatap Diandra berada di dalam keadaan setengah sadar.
Beberapa saat kemudian, Randi datang dengan seorang dokter perempuan. Gio langsung mempersilahkan dokter itu masuk ke dalam kamar untuk memeriksa Diandra.
Entah dari mana Randi bisa mendapatkan dokter selagi ini, Gio sama sekali tidak peduli. Yang penting untuknya sekarang dalam kondisi istrinya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Gio.
"Istri bapak, mengalami gangguan lambung. Sepertinya beberapa hari ke belakang, istri bapak, kurang memperhatikan pola makan dan menderita stres berlebih, hingga mengakibatkan asam lambungnya naik hingga mengalami peradangan."
"Pasien, juga mengalami dehidrasi. Apa kemarin dia tidak makan ataupun minum sama sekali?" tanya dokter itu.
"Iya, Dok. Kemarin dia memang tidak mau makan ataupun minum. Dia hanya tidur sepanjang hari," jawab Gio.
"Saya akan memberikan infus untuknya, agar lebih mudah untuk memberikan obat sekaligus mengatasi dehidrasinya," ujar dokter itu.
Gio menatap wajah lemah Diandra yang sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Istrinya itu tidak terdengar menhigau kembali, walau kadang kerutan halus di keningnya masih terlihat jelas.
"Lakukan apa saja, Dok. Asal istri saya segera sembuh," jawab Gio, walau di dalam hati dirinya juga merasa takut kalau nanti Diandra akan histeris saat melihat jarum suntik.
"Baiklah, aku akan mulai menyiapkannya," jawab dokter itu, sambil mulai mengeluarkan berbagai peralatan dari dalam tas yang dibawanya.
Gio tampak duduk di samping Diandra yang mulai membuka matanya, saat mendengar suara asing di Dalam kamarnya.
"Sayang, kamu udah bangun?" ujar Gio, sambil mengusap pelan kening Diandra sekaligus menyingkirkan anak rambut yang menjulur ke wajah istrinya.
......................
Gimana nih reaksi Diandra, saat tau kalau ada seorang dokter di sampingnya?
Jangan lupa komen dan likenya, terima kasih 🙏🥰
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1