Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Karyawan baru


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Pagi ini Diandra dan Gio sudah bersiap dengan pakaian rapihnya, mereka menuruni tangga bersama-sama.


"Sayang, kamu benar mau bergabung menjadi staf sekretarisku?" tanya Gio, untuk kesekian kalinya pagi ini.


Diandra tidak menjawab, dia hanya menoleh pada suaminya, menatap dengan sorot mata tajam seolah mencegah Gio untuk bertanya lagi padanya.


Gio hanya menghembuskan napas panjang, melihat sikap Diandra yang keras kepala itu, ditambah kini istrinya juga mendapat dukungan dari semua perempuan di keluarganya. Mereka semua bekerja sama mendukung Diandra untuk mencari tahu kebenaran tentang penyebar rumor itu.


Ya, setelah perdebatan di kantor kemarin, kini Diandra akan membuktikannya dengan caranya. Dia tidak terima karena Gio meragukan kecurigaannya pada Mely.


Sejak saat itu juga Diandra mengadakan protes pada Gio, dia menjadi lebih dingin dari pada biasanya, walaupun sebagai seorang istri Diandra masih mengerjakan semua kewajibannya.


Seperti saat ini, sampai di meja makan Diandra langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya dengan begitu cekatan. Diandra juga bisa bersikap biasa saja bila di depan keluarganya Gio, walau ketika berdua Diandra memilih mendiami suaminya.


Kemarin malam Diandra sudah berbicara pada Randi rentang keinginannya untuk masuk menjadi staf sekretaris Gio. Entah kebetulan, atau memang Diandra sedang beruntung, sudah dua hari salah satu posisi staf sekretaris memang sedang kosong, karena cuti melahirkan, dan mereka belum menemukan penggantinya.


"Kamu jadi, bekerja di kantor Gio, untuk mencari tahu tentang wanita bikini itu?" tanya Mama Hana. Ternyata sebutan yang dibuat Diandra untuk Mely juga dipakai oleh Mama Hana.


"Iya, Mah. Pokoknya aku akan membuktikan apa yang aku yakini," jawab Diandra tegas. Matanya melirik kesal pada Gio.


"Hem, bagus itu. Kita memang harus selalu mempertahankan apa yang kita punya. Ingat, Dian, jaman sekarang itu, pelakor sudah tidak bertindak sembunyi-sembunyi lagi, mereka bertindak secara terang-terangan menggoda para suami kucing garong." Erika juga terlihat mendukung Diandra.


"Iya, Kak," angguk Diandra.


Acara sarapan sudah selesai, kini Diandra, Gio, dan Randi sudah berada di dalam mobil, yang melaju menuju kantor.


Gio kini dibuat bingung melihat Diandra yang sedang menghapus riasannya lagi, lalu mengulanginya dengan warna yang lebih gelap.


"Sayang, kamu lagi ngapain sih?" tanya Gio, menatap heran istrinya.


"Kamu diam aja, gak usah ikut campur," ujar Diandra judes.


"Tapi, kenapa kamu pakai make up begitu?" Gio yang merasa penasaran tidak bisa berhenti bertanya.

__ADS_1


"Kalau aku ke kantor dengan wajah yang mereka kenal, mana bisa aku mendapatkan informasi," jawab Diandra.


Tadi malam Diandra baru saja menemukan sebuah ide untuk menyamar menjadi orang lain, agar dia bisa leluasa mendekati pegawai lainnya dan mencari informasi tentang penyebar rumor itu.


"Tapi, sayang–" Gio hendak protes.


"Gak ada, tapi. Jadi kalau di kantor jangan sampai orang tahu kalau kita suami istri," ujar Diandra yang membuat Gio menghembuskan napas panjang.


"Sayang–" Gio memelas. Dia sudah senang karena bisa meminta Diandra untuk menemaninya di kantor kapan saja. Akan tetapi, sepertinya kini semua itu tidak bisa terwujud lagi.


"Stop di sini saja, Ran." Diandra yang baru menyadari kini sudah hampir sampai di kantor langsung menyetop mobil yang dikendarai oleh Randi.


"Mau apa, sayang? Kita belum sampai," tanya Gio, melihat sekitar. Untuk mencapai kantor, mereka harus melewati dua gedung perkantoran lagi, mungkin sekitar dua ratus meter lagi dari sana.


"Aku turun di sini saja," ujar Diandra sambil mengambil kacamata di tas kemudian hendak membuka pintu.


"Tapi, sayang, ini masih jauh. Kamu bisa kecapean kalau turun di sini," cegah Gio.


"Ini lokasi yang paling aman. Kalau lebih dekat lagi, nanti banyak orang yang tau kalau aku turun dari mobil kamu," ujar Diandra.


"Say–" Ucapana Gio terputus saat tiba-tiba Diandra mengecup bibirnya.


"Aku pergi, kita bertemu lagi di kantor ya," ujar Diandra kemudian membuka pintu dan ke luar dari mobil.


Gio yang baru kali ini mendapatkan ciuman tiba-tiba dari istrnya tampak terpaku untuk beberapa detik, hingga akhirnya Diandra berjalan menjauh dari mobil.


"Sayang?" Gio melihat punggung Diandra yang sedang berjalan tidak begitu jauh dari mobilnya.


"Ikuti dia pelan-pelan, aku tidak mau dia kenapa-napa," perintah Gio pada Randi.


Heh, dasar bucin! batin Randi mengumpat kebucinan bosnya.


Randi pun menjalankan mobilnya perlahan, Diandra yang awalanya terus membuat gerakan tangan agar Gio dan Randi mendahuluinya, akhirnya memilih berjalan biasa dan tidak memedulikan mobil suaminya di belakang.


Dasar Gio! Bisa-bisanya dia ngikutin aku pake mobil, batin Diandra.


Walau begitu dia tampak mengulum senyum, merasa diperhatikan dan dijaga oleh suaminya.

__ADS_1


Setelah jarak dari kantor tinggal sedikit lagi, Diandra terlihat mengambil ponsel lalu mengetikkan sesuatu di sana.


My Love: [Tingalkan aku, nanti banyak yang curiga]


Gio yang melihat pesan dari Diandra tampak ingin protes. Akan tetapi ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari istrinya.


"Kita bisa melakukan panggilan sampai aku masuk kantor, jadi sekarang kamu masuk lebih dulu," ujar Diandra dari seberang sana. Nada bicaranya terdengar lirih seperti sedang berbisik.


Gio bisa melihat kalau Diandra memakai aerphone di telinganya. Jadi banyak yang tidak sadar kalau mereka sedang menelepon.


"Baiklah, aku akan masuk lebih dulu. Tapi, jangan putuskan sambungan teleponnya, sampai kamu duduk di kursi kerja kamu," jawab Gio.


Diandra memutar bola matanya saat mendengar syarat dari Gio. Dia sudah tau semua itu pasti akan terjadi.


"Iya-iya, udah sana cepetan, ih. Nanti keburu ada yang lihat kamu! " ujar Diandra.


"Kita jalan duluan saja," ujar Gio pada Randi yang masih bisa terdengar oleh Diandra.


Beberapa saat kemudian Diandra bisa melihat mobil Gio mendahuluinya, dia akhirnya bisa bernapas lega, dan bersiap untuk berperan sebagai seorang karyawan baru.


"Semangat, Diandra. Dengan kamu masuk ke dalam perusahaan Gio, kamu juga bisa menyelidiki tentang Sintia dan Eric. Aku tidak mau kalau sampai sepasang pengkhianat itu menusuk suamiku dari belakang," gumam Diandra, menyemangati dirinya sendiri.


Ya, sebenarnya tujuannya masuk ke dalam perusahaan Gio bukan hanya untuk membuktikan kecurigaannya pada Mely. Akh, kalau hanya maslah rumor, sepertinya tidak terlali penting untuk seorang Diandra.


Namun, ada urusan yang lebih penting yang harus dia pastikan. Diandra juga ingin tahu kenapa Sintia dan Eric bisa berada di perusahaan suaminya itu.


Diandra tidak mau kalau sampai kejadian yang menimpa dirinya beberapa tahun lalu, terjadi juga pada Gio. Walaupun mungkin itu tidak akan berdampak besar kepada perusahaan raksasa milik Gio.


Namun, tetap saja, Diandra tidak bisa membiarkan masalah ini terus mengganggu pikirannya. Seorang pendendam yang gila harta dan pengkhianat yang bersatu, mungkin akan lebih berbahaya dibandingkan dengan penjahat sekalipun. Karena hati mereka sudah tertutup oleh besarnya ambisi.


Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar, Diandra mulai masuk ke dalam area gedung kantor yang merupakan perusahaan suaminya sendiri.


"Semangat!" ujar Diandra mengumpulkan semangat untuk dirinya sendiri.


......................


Setelah dari awal kita lihat perjuangan Gio, sekarang kita lihat perjuangan Diandra ya😂

__ADS_1


__ADS_2