Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Aku mencintaimu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Diandra menarik Gio untuk ke luar dari ruangan itu, dia hanya berniat untuk berbicara berdua dengan suaminya di sana.


Namun, Gio malah menariknya ke dalam kamar tempatnya tidur di sana.


"Ngapain kamu bawa aku ke sini?" tanya Diandra sambil mengibaskan tangannya dari genggaman suaminya.


Bukannya lepas, genggaman tangan Gio malah semakin kencang. Dengan seringai di wajahnya laki-laki itu menarik tubuh sang istri agar lebih dekat dengannya.


"Hk." Diandra tersentak, saat tubuhnya hampir menabrak tubuh Gio.


"Di luar masih ada para ank buahku yang akan mendengar percakapan kita." Gio menatap wajah Diandra yang tampak bersemburat merah.


"Lepas!" geram Diandra.


Tubuhnya semakin tegang saat menyadari tangan GGio yang merambat pada pinggangnya.


"Kenapa? Aku lebih suka berbicara seperti ini dengan kamu." Gio tersenyum menggoda.


"Ck." Diandra memutar bola matnya, mendengar perkataan suaminya.


Diandra sudah bersiap untuk menginjak kaki Giosekaligus mendorongnya, agar laki-laki itu melepaskan dirinya.


Namun, saat dia benar0benar melakukannya, Gio seakan sudah bisa membaca gerakannya, hingga dengan mudah dia menghindar.


"Eits! Aku sudah tau apa yang akan kamu lakukan, jangan mencoba kabur dariku," ujar Gio, sedikit memberi ancaman pada istrinya itu.


Laki-laki itu terkekeh pelan saat melihat wajah kesal istrinya, dia seakan sudah terbiasa menerima perlawanan dari perempuan itu, hingga wajah masamnya pun menjadi suatu hiburan untuknya.


Diandra semakin kesal dengan Gio, wajahnya semakin mengeras. Walau di dalam hati, ada sesuatu yang berbeda saat dirinya melihat tawa kecil suaminya.


"Oke!" Diandra akhirnya menyerah, dia membiarkan Gio melakukan apa pun padanya.


Gio tersenyum, dia pun sedikit melonggarkan pelukannya agar Diandra bisa menatapnya penuh.


"Bicaralah," ujarnya kemudian.


"Kenapa kamu ikut campur dalam masalahku dan Jonas?" tanya Diandra tanpa basa-basi.

__ADS_1


Gio melepaskan tangannya dari tubuh Diandra, dia tampak terkejut dengan pertanyaan yang istrinya itu ucapkan,


"Apa maksud kamu, aku tidak mengerti," kilah Gio, sambil berbalik menghindari istrinya.


"Gak usah sok gak tau. Kamu kan yang melaporkannya ke polisi, dan memberikan bukti yang gak bisa aku temukan?" Diandra menatap punggung tegap suaminya.


"Bukti? Bukti apa?" Gio masih mencoba mengelak.


"Kamu pasti tau bukti apa yang aku maksud. Sudahlah Gio, jangan terlalu dalam masuk ke dalam kehidupanku," ujar Diandra, masih berdiri di tempat.


"Memang apa salahnya kalau aku membantumu? Kamu istriku, melindungi kamu adalah kewajibanku, Diandra." Gio kembali berbalik dan menatap Diandra.


"Kamu salah, karena aku tidak pernah meminta bantuan kamu. Jadi lebih baik kamu jangan ikut campur lagi dengan urusanku," ujar Diandra tajam.


Dia sedikit mengalihkan pandangannya ke samping, tidak sanggup melihat tatapan tajam Gio.


"Bukanya dulu aku sudah bilang. Kita menikah hanya di atas kertas, selebihnya urus kehidupan kita masing-masing. Apa kamu sudah lupa? Bukannya kamu juga sudah menyetujuinya?" sambung Diandra lagi.


"Apa kamu pikir Jonas itu seseorang yang bisa kamu lawan sendiri, hah?!" Gio meletakkan tangannya di pundak Diandra, memaksa perempuan itu untuk melihatnya.


Ada rasa sakit di dalam hatinya, saat Diandra mengingatkannya lagi, tentang status pernikahannya saat ini.


"Itu masalahku, kamu tidak berhak untuk ikut campur di dalamnya!" Diandra langsung membantah kata-kata Gio.


"Aku hanya berusaha melakukan apa yang sudah menjadi kewajibanku, Dian. Tolong mengerti posisiku, Diandra." Gio duduk di sisi ranjang, dia merasa lelah menahan emosinya dalam menghadapi sifat keras kepala istrinya.


Diandra menatap nanar kepala Gio yang tertunduk. Tangannya mengepal menahan rasa tidak nyaman di dalam hatinya.


"Aku mencintaimu, Diandra. Kamu tau bagaimana khawatirnya aku, saat tau kalau kamu berurusan dengan seseorang seperti Jonas? Dia bukanlah orang sembarangan, dia bahkan bisa lari dari penangkapan polisi."


"Itu adalah perasaanmu, aku tidak pernah memintanya untuk jatuh cinta padaku." Diandra langsung berjalan ke luar dari kamar itu, tanpa mau melihat ke belakang lagi.


Gio menatap punggung Diandra yang semakin menjauh darinya, ucapan Diandra kembali membuat luka di dalam hatinya.


"Kamu tidak akan pernah bisa menghentikanku, Diandra. Keputusanku untuk mencintaimu sudah mutlak, dan menjagamu adalah tujuan hidupku," ujar lirih Gio.


Diandra masuk ke dalam mobil, dia menutup pintu mobil dengan kasar hingga suaranya bahkan terdengar sampai ke dalam.


Air mata yang sejak tadi dia tahan, kini menetes sudah, membasahi pipinya. Rasa sakit di hatinya seakan tidak bisa dia kendalikan lagi, saat melihat wajah memohon Gio.


Kata-kata yang dia ucapkan terakhir kali, seperti sedang menyiramkan air cuka ke dalam luka, hingga menambahkan rasa sakit dan perih di dalam hatinya.

__ADS_1


Aku hanya tidak mau membahayakan keselamatan orang lain. Sudah cukup keluargaku yang hancur karena aku. Jangan ada lagi yang harus menanggung rasa sakit hanya karena perempuan sepertiku, batin Diandra.


"Ya Tuhan, aku lelah. Kenapa Engkau harus datangkan dia ke dalam hidupku, di saat aku sudah menutup hatiku?" lirihnya.


Diandra menelungkupkan wajahnya di atas setir mobilnya.


Beberapa saat lemudian, dia menegakkan kembali tubuhnya, menyeka bekas air mata di pipi, lalu mulai mengendari mobilnya ke luar dari rumah itu.


Tanpa Diandra tau, dari atas balkon kamar, Gio melihat semua yang dia lakukan di dalam mobil.


Aku tau, kamu juga terluka saat mengatakannya, Dian. Kamu hanya belum bisa menerima rasa yang sudah lama menghilang dan kamu lupakan. batin Gio, menatap kepergian mobil istrinya.


.


.


Diandra memarkirkan mobilnya di sisi, dia menyandarkan tubuhnya dengan pandangan jauh ke laut luas.


Perlahan dia buka kaca mobil, membiarkan angin masuk dan menerpa wajahnya.


Dia termenung berusaha menyelami hatinya sendiri, mengungkap rasa yang telah lama dia lupakan.


Dirinya yang selalu berusaha menutup hati, kini menyadari sesuatu telah terjadi tanpa dia sadari.


Ya, kehadiran Gio yang telah mengusik kehidupannya dari pertama, perlahan mulai masuk menerobos ke dalam celah hatinya.


Mencoba meruntuhkan dinding pembatas yang telah dirinya buat, untuk melindungi hatinya dari yang namanya cinta.


Ana, apa yang sekarang aku harus lakukan? batin Diandra penuh tanya.


Aku lelah, Ana. Apa kamu tidak lelah di sana, terus bersembunyi dan berlari? gumamnya lagi, di dalam hati.


Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Diandra mengambil ponselnya, dia tampak menghubungi seseorang.


"Apa kalian sudah menemukan petunjuk lainnya?" tanya Diandra pada seseorang di seberang sana.


Diandra tampak terdiam, mendengarkan setiap kata yang diucapkan orang yang dia hubungi.


"Hem, hubungi aku jika ada perkembangan yang lainnya," ujarnya, sebelum menutup kembali sambungan teleponnya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2