Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Merajuk


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Gak tau, ada seseorang yang menitipkan ini buat kamu," ujar Diandra mengedikkan bahunya.


"Seseorang? Siapa?" tanya Gio yang merasa mulai waspada.


"Buka saja dulu," ujar Diandra sambil menyimpan kotak kado itu di pangkuan Gio.


Gio tampak ragu, walau akhirnya dia mengambilnya.


"Ini gak apa-apa aku buka sekarang?" tanya Gio tanpa mengalihkan perhatiannya pada kotak kado di tangannya.


"Buka saja," jawab Diandra sambil beranjak berdiri.


"Tunggu, kamu mau ke mana?" tanya Gio, menahan tangan Diandra.


Sungguh, jantungnya sudah berdetak tidak karuan sejak tadi, dia takut ada seseorang yang iseng atau berencana buruk padanya dan Diandra.


"Orang yang memberikannya menyuruhku untuk merekam saat kamu membukanya," jawab Diandra sambil mengambil ponsel di tasnya.


"Untuk apa, sayang?" tanya Gio menautkan alisnya dalam.


"Gak apa-apa, dia cuman mau melihat reaksi kamu saja," jawab Diandra, masih dengan ekspresi santainya.


"Tapi, sayang." Gio merasa keberatan, dia masih ragu akan isi di dalam kotak kecil itu.


"Sudah jangan hiraukan aku, kamu buka saja kadonya." Diandra mengacuhkan rasa panik suaminya yang sama sekali tidak beralasan.


Gio tampak melihat Diandra dengan tatapan ingin protes. Akan tetapi, akhirnya dia mulai membuka kotak itu.


Diandra langsung merekam suaminya dengan ponsel miliknya.


"Apa ini?" tanya Gio saat ternyata isinya adalah sebuah kado yang lebih kecil lagi.


"Buka lagi saja," ujar Diandra, yang membuat Gio menghembuskan napas kasar, karena merasa dikerjai entah oleh siapa.


Gio menatap malas istrinya, kemudian mulai membuka kotak kado kedua.


Dia sedikit bingung saat melihat benda pilih berwarna biru dan putih di dalam kotak itu. Dirinya belum pernah melihat benda seperti itu sebelumnya.


"Apa ini?" tanya Gio, sambil mengambilnya kemudian memperlihatkannya pada Diandra.


"Gak tau," jawab Diandra acuh, sambil mengedikkan kedua bahunya.


Gio tampak terlihat bingung, laki-laki itu terlihat memperhatikan benda di tangannya, dia membolak-baliknya, dengan tatapan menyelidik.


"Coba tanya orang, atau mungkin tanya melalui Internet," saran Diandra. Dia tidak menyangka kalau laki-laki cerdas seperti Gio bisa tidak tahu benda seperti alat tes kehamilan seperti itu.


Gio tampak menatap Diandra, dia merasa sedikit curiga saat melihat wajah datar istrinya.

__ADS_1


"Ini dari kamu kan, sayang? Kamu mau ngerjain aku, ya?" tanya Gio, masih menatap bingung istrinya.


"Enak aja kamu nuduh aku begitu! Gak ada ya aku ngerjain kamu! Iya benda itu memang dari aku, memang kenapa? Gak boleh aku kasih sesuatu sama kamu, heh?" Diandra malah berbalik tanya dengan nada kesalnya.


"Iya, Maaf. Aku gak bermaksud nuduh kamu, sayang, aku hanya penasaran aja. Makanya sekarang voba kamu jelaskan apa ini, sayang?" ujar Gio malah mencari penjelasan dari sang istri, dia melangkah mendekati istrinya.


"Coba kamu tanya orang atau tanyakan saja di internet. Aku sudah terlanjur malas menjelaskan sama kamu. Pokoknya aku mau kamu cari tau sendiri," jawab Diandra dengan tatapan yang berubah kesal.


Jujur saja dia sudah merasa kesal, saat Gio tidak mengetahui benda apa yang berada di tangannya sendiri saat ini. Terlebih Gio malah menuduh dirinya mengerjainya. Bayangan akan menyaksikan momen bahagia sang suami seperti di video yang dia lihat sebelumnya malah gagal.


Kalau tidak ingat permintaan Mama untuk mengirimkan video reaksi Gio, mungkin saat ini Diandra sudah mengakhiri merekam reaksi sang suami.


Gio akhirnya beranjak berdiri dia menghampiri seseorang yang berada di sekitarnya, untuk menanyakan benda yang ada di tangannya. Pilihannya jatuh pada seorang ibu yang sedang menunggu anak-anaknya bermain.


"Maaf, Nyonya, boleh minta waktunya sebentar," ujar Gio pada seorang wanita paruh baya.


"Iya, ada apa, ya?" tanya wanita itu, menatap wajah Gio dengan kerutan dalam di keningnya, sepertinya dia merasa heran karena tidak mengenal Gio dan Diandra.


"Saya mau bertanya tentang beda ini? Apa, Anda, tau ini benda apa?" tanya Gio sambil memperlihatkan benda di tangannya pada wanita itu.


Wanita itu tampak memperhatikan benda di tangan Gio, kemudian tersenyum sambil melihat Gio dan Diandra bergantian.


"Ini dari istrimu?" tanya wanita itu sambil melihat Diandra.


"Iya, benar. Dia adalah istriku," angguk Gio.


"Wah, selamat ya, Anda, akan segera memiliki bayi, Tuan," ujar wanita itu dengan senyum sumringah, dia bahkan langsung mengulurkan tangan untuk mengajak Gio bersalaman.


"Selamat, Nyonya. Apakah ini anak pertama?" tanya Wanita itu.


"Iya, benar ini adalah anak pertama kami, Nyonya. Terima kasih, Nyonya. Maaf, kami mengganggu waktu, Anda," jawab Diandra dengan senyum tulusnya.


Sedangkan Gio malah mengeryitkan kening, melihat interaksi kedua wanita di depannya yang terlihat bahagia dan begitu akrab walau baru pertama kali bertemu.


"Apa maksudnya, aku segera memiliki bayi?" gumam Gio, masih mencoba mencerna perkataan wanita itu.


"Memiliki bayi?" gumamnya lagi pelan, dia kemudian melebarkan matanya saat menyadari hal itu, apa lagi telinganya samar mendengar ucapan dari wanita itu pada Diandra.


"Sayang–" Gio menghampiri Diandra dia menggenggam tangan Diandra begitu lembut dan hangat.


"Saya bantu merekam momen bahagia ini," ujar wanita itu sambil meminta ponsel Diandra. Dia memang sempat memperhatikan pasangan yang sejak tadi terus bersyukur mulut itu, hingga tahu niat Diandra untuk mereka reaksi Gio di saat mengetahui kehamilannya.


Diandra yang mengerti maksud wanita itu pun memberikan ponselnya kepada wanita itu.


"Terima kasih," ujarnya pelan.


"Sayang, kamu?" Gio masih belum sanggup untuk meneruskan perkataannya.


"Ini?" Gio memperlihatkan benda di tangannya.


"Di sini?" Kemudian mengusap perut bagian bawah Diandra.

__ADS_1


"Heem." Diandra mengangguk dengan senyum haru di wajahnya.


"Sayang, benih yang aku tabur sudah berhasil? Dia berkembang?" tanya Gio sambil semakin mendekatkan tubuhnya pada sang istri.


"Heem." Diandra masih bergumam sebagai jawaban, matanya berkaca-kaca melihat kebahagiaan di wajah suaminya.


"Terima kasih, sayang ... terima kasih." Gio langsung memeluk tubuh Diandra dengan satu tetes air mata berhasil jatuh, menandakan betapa bahagianya Gio saat ini.


"Aku akan segera menjadi seorang Papah? Aku akan mempunyai anak darimu, sayang!" sambung Gio lagi sambil menciumi kepala Diandra.


Dinadra tersenyum mendengar suara lirih suaminya, yang terdengar parau.


Untuk beberapa saat, keduanya tampak terlarut pada suasana bahagia bercampur haru yang tercipta, karena kabar bahagia tentang kehamilan Diandra.


"Sudah-sudah, malu dilihatin banyak orang," ujar Diandra sambil mencoba melepas pelukan suaminya.


Gio pun mengangguk, dia mengedarkan pandangannya yang melihat banyak pengunjung sudah melihatnya. Dia kemudian melepas pelukannya.


"Sebentar," ujar Diandra menghampiri wanita paruh baya yang membantu merekam moment itu, untuk mengambil ponselnya.


"Terima kasih banyak, Nyonya," ujar Diandra sopan.


"Sama-sama. Sekali lagi selamat ya untuk kalian berdua," jawab wanita paruh baya itu sambil tersenyum hangat. Dia kemudian menyerahkan kembali ponsel milik Diandra.


Wanita itu pun berpamitan untuk menghampiri anak-anaknya lagi.


Gio melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya, dia menuntun Diandra untuk duduk lagi di kursi taman. Dia kemudian mengelus lembut perut bagian bawah Diandra.


"Jadi, di sini sekarang sudah ada calon anak kita?" tanya Gio, sambil terus mengelus perut Diandra. Senyumnya terus terlihat menghiasi wajahnya, seakan Gio tidak bisa mengendalikan ekspresi bahagianya lagi.


"Heem," angguk Diandra, sambil tersenyum lembut.


"Tunggu." Gio tampak menegakkan tubuhnya dengan kerutan dalam di keningnya.


Diandra menatap wajah Gio lekat.


"Sudah berapa umurnya? Kenapa perut kamu belum besar seperti wanita hamil lainnya?" tanya Gio, membuat Diandra memutar bola matanya.


"Ini baru berusia sepuluh minggu, Gio," jawab Diandra.


"Sepuluh minggu? Berarti dua bulan lebih? Tapi, kenapa aku baru tau ini baru sekarang?" tanya Gio dengan raut wajah terkejutnya.


"Sejak kapan kamu tau soal ini? Jangan bilang kamu sengaja menyembunyikannya dari aku?" tanya Gio lagi, dengan pandangan penuh selidik pada sang istri.


"Kamu nuduh aku lagi?" Diandra tampak menatap Gio dengan raut wajah tidak suka.


"Asal kamu tau, ya. Aku baru tau semua ini waktu kamu sudah ada di negara ini. Itu juga gara-gara aku mau mangga mengkel, terus Mama curiga sama aku," jawab Diandra dengan nada menggebu-gebu, napasnha bahkan sampai terdengar cepat, akibat menahan amarah pada suaminya.


"Sudahlah, pusing aku dengerin kami yang terus nuduh aku. Memang kayaknya aku salah bilang semua ini sama kamu," rajuk Diandra sambil berdiri kemudian bersiap untuk pergi meninggalkan Gio.


......................

__ADS_1


Nah kan, bumil jadi ngambek😂


__ADS_2