Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.30 Makan Malam


__ADS_3

...Happy Reading...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Hari pun kini sudah berganti menjadi malam, matahari sudah tenggelam sejak satu jam yang lalu.


Saat ini, Diandara, Gio, Ares, Eros dan Lisna, sedang berada di meja makan. Bersiap untuk makan malam bersama.


"Selamat datang di keluarga kami, Nak Gio. Maaf, kami tidak bisa menjamu kamu di rumah kami sendiri," ujar Eros.


"Ah, tidak apa, Ayah. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena, Ayah dan Bunda, sudah mau menerima aku, untuk menjadi bagian dari keluarga kalian."


Gio menjawab dengan begitu santun, tanpa menghilangkan karisma yang selalu menyertai setiap gerak gerik lelaki itu.


Eros mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum hangat yang bahkan sudah sangat lama tak pernah Diandra lihat, dari ayahnya itu.


Ada rasa sesak di dalam dada Diandra, saat melihat senyuman itu bukanlah ditunjukan untuknya.


Dalam hati, dia begitu merindukan senyuman yang dulu selalu terukir dari wajah panutannya itu.


"Dian, siapkan suamimu makan." Lisna mengingatkan Diandra yang terlihat sedang melamun.


"Iya, Bunda," jawab Diandra singkat.


Perempuan itu, langsung berdiri dan mengambil piring yang berada di depan Gio, dia mengambil nasi dan beberapa jenis makanan secara acak.


Gio melirik sekilas, wajah Diandra. Dia sempat menangkap guratan sendu di matanya, walau itu terlihat hanya sekilas.


"Silakan, Nak Gio. Maaf, lauknya seadanya," ujar Eros.


Gio meringis, saat melihat makanan yang hampir penuh di piringnya, ditambah dengan adanya sambal yang lumayan banyak.


'Astaga, dia mau ngasih makan aku, atau ngeracunin?' gumamnya dalam hati.


Dia termasuk orang yang tidak menyukai pedas, termasuk sambal. Hidup di luar negri selama beberapa tahun, membuatnya sudah terbiasa dengan menu-menu di sana.


"I–iya, Ayah," angguk Gio, dengan senyum yang tampak dipaksakan.


Dian mulai makan dengan menu makanannya sendiri, yang jauh lebih sedikit dari Gio.


Bila dibandingkan, mungkin makanan Dian hanya empat dari semua makanan suaminya.


Menelan saliva dengan susah payah, sebelum akhirnya dia mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Tak hilang akal, Gio tersenyum sumringah, saat menemukan ide untuk mengurangi sedikit porsi makanan di piringnya.


"Sayang, kamu mau coba punya aku gak? Sini, aku suapin," ujarnya, sambil menyodorkan sendok di depan bibir istrinya.


Diandra melebarkan matanya, saat mendengar panggilan dari Gio. Dia semakin kesal saat mendengar perkataan Gio selanjutnya, bahkan dengan sendok yang sekarang sudah siap untuk masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Diandra mengedarkan pandangannya, melihat semua orang yang berada di sana. Dia kembali terkejut dengan situasi yang terjadi.


Ternyata, orang tuanya dan Ares sedang memperhatikan dirinya dan Gio. Mereka bahkan menghentikan makannya, demi melihat sikap dua orang pengantin baru itu.


Dian tersenyum sarkas, lalu dengan kasar melahap sendok yang di ulurkan oleh Gio.


"Gimana, enak kan?" tanya Gio, yang langsung mendapatkan anggukan dari Diandra.


'Laki-laki ini!' geram Diandra dalma hati, menatap tajam Gio, sambil mengunyah makanannya.


Gio tersenyum tipis sebagai jawaban dari kekesalan istrinya itu.


Akhirnya makan malam selsai, dengan keadaan perut Diandra maupun Gio yang tidak nyaman, karena terlalu banyak makan.


Rasanya, perut mereka hampir saja


meledak, saking penuhnya.


Diandra memilih kembali ke kamar, masih banyak pekerjaan yang harus dia urus, apa lagi dengan masalah kebakaran restoran yang belum menemukan titik terang.


Sedangkan Gio diajak berbincang dahulu oleh Eros, di teras depan.


"Res, kalau Ayah atau Bunda nanyain aku, tolong bilang kalau kau banyak kerjaan, ya," pesan Diandra pada adiknya.


"Teteh, mau ke mana?" tanya Eros, menatap curiga kakak perempuannya.


"Aku gak ke mana-mana, cuman mau ngerjain pekerjaan kantor aja. Kan tadi kemarin sama tadi siang aku gak masuk, jadi pekerjaan aku numpuk banget," alasan Diandra.


'Benar ya, Teteh, gak bohong kan?" Ares masih ragu.


"Iya, aku cuman mau kerja di kamar," jawab Diandra lagi.


Ares akhirnya mengangguk, dia mau menuruti keinginan sang kakak.


"Hah, akhirnya. Ya sudah, aku ke kamar dulu." Diandra menghembuskan napas lega, saat melihat adiknya itu mengangguk, dia pun langsung berpamitan ke kamar.


Ares hanya menatap kepergian kakaknya itu yang semakin menjauh, hingga tak lama kemudian menghilang dari pandanganan karenaterhalang pintu kamar yang ditutup.


Menghembuskan napas, sambil berbalik hendak masuk ke kamarnya. Baru saja, tangannya meraih gagang pintu, ibunya sudah memanggil dari belakang.


"Res, mana tetehmu?" tanya Lisna.


Ares berbalik, hingga berhadapan dengan ibunya, sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Di kamar, Bun. Katanya, lagi banyak kerjaan," jawab Ares.


"Apa benar?" Lisna tak percaya begitu saja dengan perkataan anak bungsunya itu.


"Iya, Bun. Kalau, Bunda, gak percya, coba saja ke kamarnya," ujar Ares.

__ADS_1


Lisna menatap pintu kamar Diandra, dia meragu untuk mengetuk langsung.


"Memang setiap hari seperti ini, Res?" tanya Lisna, menatap Ares dengan resah.


"Apanya, Bun?" Ares belum bisa menangkap maksud dari pertanyaan ibunya itu.


"Sikap dan kesibukan tetehmu itu. Apa setiap hari memang seperti ini?" ujar Lisna, bertanya lebih jelas lagi.


"Aku gak tau sih, Bun. Karena selama ini teteh gak pernah bolos kerja ... baru kemarin sama hari ini aku lihat teteh gak masuk kerja. Tapi memang biasanya teteh jarang di rumah, pulang sore atau bahkan malam, kalau ada lembur dan pertemuan di luar," jawab Ares, menjelaskan kebiasaan kakaknya selama dia tinggal di sini.


"Jadi kamu dan Dian, kapan ada waktu mengobrol?" tanya Lisna.


Ada rasa perih yang merambat di dalam celah hatinya, saat mendengar kesibukan anak sulungnya itu.


"Biasanya pagi hari, sebelum kami pergi kerja," jawab Ares.


"Jadi kalau malam, dia memang jarang ada di rumah?" Lisna seperti sedang menyelidiki anak sulungnya dari Ares.


Selama ini, dia memang tahu kalau Ares tinggal bersama Diandra, hanya saja dia tidak pernah bertanya tentang kegiatan anak sulungnya itu.


Lama berpisah, rasanya bisa menanyakan kabar anaknya dan mengetahui keadaan dia sehat saja, sudah menjadi kebahagiaan untuknya, hingga dia lupa bertanya lebih lanjut pada Ares.


Ares mengangguk, membenarkan perkataan ibunya.


"Bukan jarang sih, Bun. Lebih tepatnya, teteh selalu kecapean saat pulang bekerja, jadi dia memilih untuk langsung beristirahat di kamar," ujar Ares, memperjelas lagi.


Lisna mengangguk samar, sejak tadi pandangannya tak lepas dari pintu kamar Diandra yang tertutup rapat.


"Kalau, Bunda, mau ketemu sama teteh, tinggal ketuk aja pintunya," ujar Ares.


"Heem," angguk Lisna, menoleh pada wajah Ares, lalu berujar kembali.


"Kamu masuk saja ke kamar, istirahat."


"Iya, Bun. Aku masuk kamar dulu," ujar Ares, sebelum membuka pintu kamarnya.


Lisna hanya mengagguk sebagai jawaban.


Langkahnya terayun pelan, menuju ke depan pintu Diandra. Rasa rindu yang bahkan belum terbagi sepenuhnya, akan tetapi, anaknya itu bahkan seakan tak perduli dengan keberadaannya di rumah ini.


Tangannya sudah terukur hendak mengetuk pintu, walau dia tampak ragu.


Terdengar sayup-sayup, Diandra sedang berbicara dengan seseorang, di dalam sana. Ada rasa penasaran dalam hatinya.


'Dengan siapa dia bicara?'


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2