
...Happy Reading ...
......................
Notes: Di sini Eros dan Ares berbicara dengan bahasa daerah ya. Tapi, demi menghemat kata, aku langsung buat menggunakan bahasa Indonesia saja.
......................
Eros dan Ares masuk ke dalam acara tersebut, mereka berpisah karena Ares yang harus menghampiri pengantin di pelaminan, sedangkan Eros memilih langsung duduk di samping seseorang yang dia kenal.
Keduanya bersikap santai seakan sedang menikmati hiburan grup musik dangdut keliling di atas panggung.
"Selamat ya, atas pernikahan kalian," ujar Ares kepada pengantin laki-laki yang merupakan temannya saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Terima kasih, Res. Wah, akhirnya kamu datang juga ... gimana luka bakarnya, apa sudah sembuh?" tanya pengantin pria itu.
"Sudah mulai mendingan, walaupun belum bisa menggenggam dengan benar. Makanya aku ke sini di antar sama Ayah, hahaha!" jawab Ares diakhiri dengan tawanya.
"Serasa jadi anak-anak lagi aku, ke mana-mana diantar ayahku," sambung Ares lagi.
"Gak apa lah, sekali-kali ... ahahaha!" Pengantin laki-laki itu tampak ikut menimpali keluhan Ares.
"Bener juga! Hahaha!" Ares dan pengantin laki-laki itu tampak tertawa bersama.
"Oh iya, aku dengan istri kamu saudaranya Pak Jonas ya?" tanya Ares, mulai mencari tau.
"Kamu kenal Om Jonas? Dia Om jauh aku," ujar pengantin wanita.
"Kebetulan tempat kita tidak terlalu jauh, aku sih gak terlalu kenal. Tapi, kayaknya dia kenal sama kakak aku," jawab Ares memberi alasan.
"Sekarang ada gak di sini?" tanya Ares.
"Ada kok, tadi dia ada di sana," jawab polos pengantin wanita itu sambil menunjuk salah satu kursi di dekat panggung.
Ares mengikuti arah telunjuk pengantin wanita itu. Akan tetapi, dia tidak bisa menemukan sosok Jonas di sana.
"Eh, ke mana ya? Tadi aku lihat Om Jo ada di sana," ujar pengantin wanita itu.
"Yah, sepertinya dia sudah pergi ya? Padahal aku sangat ingin menyapanya," ujar Ares dengan ekspresi kecewa.
Tentu saja semua itu membuat sepasang pengantin itu tidak enak hati pada Ares.
"Sebentar biar aku cari dulu ya, kamu nikmati dulu saja acarnya," ujar pengantin wanita.
"Benar itu, gimana kalau kamu ajak Om Eros makan dulu?" sambung pengantin laki-laki.
"Akh gak usah, kalau gak ada gak apa-apa kok, aku balik ke ayahku dulu ya," ujar Ares.
__ADS_1
Kedua pengantin itu pun mengangguk. "Nanti kalau ada, aku suruh dia menemui kamu."
"Oke, terima kasih ya," jawab Ares, sebelum menghampiri Eros yang terlihat sedang mengobrol dengan seseorang.
.
.
Gio sudah cukup lama menunggu, di balik semak belukar, saat tiba-tiba saja dia melihat targetnya datang sendiri ke lokasinya.
Dia merasa ada yang janggal saat tidak ada Randi maupun Ares yang mengikuti Jonas dari belakang.
"Ke mana Randi, Ayah, dan Ares? Kenapa mereka tidak ada?" lirih Gio.
Gio pun memberikan isyarat kepada para polisi untuk jangan gegabah, karena keluarganya dan asistennya tidak ada.
Hingga beberapa waktu berlalu, mereka tidak juga muncul, Gio akhirnya memutuskan untuk muncul terlebih dahulu.
Dia ke luar dari balik semak-semak, lalu berjalan pelan menghampiri Jonas dari arah belakang.
Dikarenakan mereka sedang berada di daerah kebun, langkah suara kaki pun tidak bisa terlalu senyap, karena daun dan ranting yang terinjak akan menimbulkan suara dengan sendirinya.
Namun, semua itu tidak terlalu jelas terdengar mengingat ada suara musik dari acara pernikahan yang tentu saja lebih kencang dari padatahan ranting kecil.
Beberapa langkah lagi Gio sampai ke belakang tubuh Jonas, tiba-tiba saja Jonas berbalik tanpa aba-aba terlebih dahulu.
"Siapa kamu?" tanya Jonas, menjaga jarak dari Gio.
Apa dia sudah melupakan aku? batin Gio penuh tanya.
Bibir Gio tertarik tipis hingga menampilkan garis lurus.
"Aku salah satu tamu acara," jawab Gio berusaha untuk terlihat santai.
"Kamu, sedang apa di sini?" tanya Jonas lagi.
"Aku hanya sedang ingin melihat-lihat saja, kebetulan aku bukan asli dari sini." Gio mengedarkan pandangannya, seolah sedang melihat pemandangan rimbunnya pepohonan.
Jonas menatap penuh curiga pada Gio.
"Oh, ya sudah kamu nikmatilah pemandangan di sini!" ujar ketus Jonas, sambil hendak meninggalkan Gio.
"Eh, bisa tidak kalau kamu temani aku di sini?" tanya Gio, sambil berjalan menghampiri Jonas.
"Lagi pula kita bukannya belum saling berkenalan?" imbuh Gio lagi.
"Eh, jangan mendekat, diam di sana!" panik Jonas.
__ADS_1
"Ya, baiklah. Aku akan jaga jarak dari kamu. Tapi, bolehkah kita berkenalan? Siapa nama kamu?" tanya Gio, mengalihkan perhatian Jonas
Gi mengulurkan tangannya ke depan Jonas, dengan senyum manis palsunya.
"Panggil saja aku, Jo," ujar Jonas sambil menyambut uluran tangan Gio.
"Oh, hai Jonas. Perkenalkan Aku–" Gio menggantung perkataannya.
Perlahan langkah kakinya mendekat ke arah Jonas berdiri. Ketika Gio merasa Jonas lengah, dalam sekali gerakan Gio langsung menangkap Jonas, dengan cara memelintir tangan Jonas ke belakang, dan menguncinya di punggung Jonas.
"Sial! Siapa kamu?!" teriak Jonas.
"Aku adalah Gio. Suami Diandra," jawab Gio tepat di belakang Jonas.
Jonas melebarkan matanya saat mendengar perkataan dari Gio. Apalagi saat itu dia juga bisa melihat, ada beberapa orang yang ke luar dari tempat persembunyiannya, dengan membawa senjata.
Wajah Jonas tampak terkejut dan panik, laki-laki itu langsung berpikir cepat untuk kabur di saat genting seperti itu.
Jonas yang sudah biasa dengan medan tanah di sana, memanfaatkan pijakan kaki Gio yang tidak terlalu kuat, mengingat posisi mereka sekarang tengah berada di perbukitan yang cukup curam.
Kemiringan tanahnya cukup untuk membuat seseorang jatuh ke bawah, dan banyaknya guguran daun membuat tanah sedikit licin, hingga membuat orang yang terjatuh susah mengendalikan tubuhnya.
Jonas menendang kaki bagian depan Gio dengan kekutan penuh, menggunakan tumitnya, kemudian membungkuk sambil mengangkat Gio, hingga akhirnya Gio terlempar ke depan Jonas, dan berguling cukup jauh.
Di saat itu, salah satu polisi akhirnya memilih melepaskan satu tembakan pada kaki Jonas, agar Jonas tidak bisa kabur lagi.
Namun, mereka gagal untuk mencegah Gio mengalami kecelakaan. Tubuh Gio berhenti saat menabrak pohon yang lumayan besar, dengan kepala yang terkena batu di bawah pohon itu.
Namun, untung saja Gio masih terlihat sadar, hingga beberapa saat kemudian dia bahkan bisa bangkit dan berdiri kembali, walau darah dari kepalanya yang terkena goresan batu, terlihat mengalir di pelipisnya, dengan baju yang sudah berantakan.
Gio tersenyum saat melihat polisi yang bersamanya sudah menangkap Jonas, walaupun seluruh tubuhnya terasa remuk dengan kepala yang mulai terasa pening.
"Anda, harus segera dibawa ke rumah sakit!" ujar salah satu polisi yang menghampiri Gio.
Dia langsung memapah Gio dan membantunya untuk naik lagi ke atas.
"Saya tidak apa-apa, ini hanya luka kecil saja," jawab Gio enteng.
"Tapi, tetap saja, Anda, harus diperiksa dulu, untuk memastikan tidak ada luka dalam," ujar polisi itu, dia memang melihat luka robek di pelipis Gio tidak terlalu parah.
Namun, dia yang melihat sendiri bagaimana Gio terjatuh dan berhenti dengan benturan yang cukup keras, merasa khawatir akan akibat dari semua itu.
"Iya, nanti saya periksa sendiri. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Gio.
......................
Pengorbanan, hanya bisa dilakukan oleh orang yang menyayangi dengan tulus, hingga tidak ada harapan untuk mendapatkan sebuah imbalan.
__ADS_1