
...Happy Reading...
....................
Jam dua malam Gio baru sampai di vila, setelah memastikan tidak ada lagi korban keracunan.
Lampu di dalam vila sudah dimatikan, hingga keadaan vila nampak gelap. Hanya ada cahaya temaram dari lampu hias yang sengaja masih tetap dinyalakan.
Perlahan Gio membuka pintu kamar, takut suara pintu akan mengganggu tidur istrinya. Helaan napas lelah terdengar pelan, dia sangat membutuhkan istrinya saat ini, untuk menghilangkan rasa penat yang mendera.
Namun, Gio terkejut saat melihat tempat tidurnya masih kosong. Dia tidak melihat keberadaan Diandra di sana.
"Sayang?" panggil Gio lirih, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Hingga tiba-tiba tubuhnya merasakan hembusan angin malam yang terasa dingin. Perhatiannya kini beralih pada pintu balkon yang tampak masih terbuka.
Gio melangkahkan kakinya cepat menuju baklon kamarnya. Terlihat di sana Diandra tengah bersandar di atas kursi bambu.
"Sayang, kenapa malam-malam begini kamu masih di sini?" ujar Gio, sambil melangkah menghampiri istrinya.
Gio berjongkok di depan Diandra, dirinya baru melihat kalau mata istrinya ternyata tertutup rapat.
"Ternyata kamu ketiduran?" Gio menggeleng samar kemudian beranjak berdiri.
Dia menggendong Diandra, lalu membawanya masuk ke kamar. Gio bisa merasakan betapa dinginnya pipi dan tangan Diandra yang tidak tertutup baju.
Diandra yang meraskan tubuhnya melayang, mengerjapkan mata. Dia bisa melihat samar wajah suaminya.
"Kamu udah pulang?" tanya Diandra dengan suara parau.
Gio menunduk melihat wajah istrinya. "Iya. Kenapa kamu malah tidur di balkon, hem?"
Diandra mengalungkan tangannya pada pundak Gio sambil menelusupkan wajahnya pada dada bidang Gio, rasanya matanya sangat sulit untuk dibuka.
"Aku gak bisa tidur," gumam Diandra, dengan wajah menempel pada dada Gio.
Gio terkekeh melihat sikap manja Diandra. "Itu pasti karena kamu sudah terbiasa denganku."
Perlahan Gio merebahkan istrinya di atas ranjang, memastikan kalau istrinya berbaring dengan nyaman. Akan tetapi, saat Gio ingin mengangkat tubuhnya, Diandra menahannya dengan tangan yang masih berada di pundaknya.
"Temenin," ujar Diandra.
"Aku ganti baju dulu, sayang," ujar Gio lembut.
Diandra akhirnya melepaskan tangannya, lalu kembali terlelap. Ah, Gio jadi ragu ... apa tadi Diandra berkata dengan setengah kesadarannya?
Gio tersenyum kemudian mengecup kening sang istri. Dia menarik selimut untuk memberikan kehangatan untuk istrinya, lalu pergi mengganti baju lebih dulu.
Beberapa saat kemudian Gio sudah kembali, dia merebahkan dirinya di samping Diandra. Gio sedikit mengangkat kepala istrinya lalu menjadikan tangannya sebagai bantal, mereka tertidur dengan Gio memeluk tubuh istrinya posesif.
__ADS_1
.
.
"Jadi dia mau kalau kita membuat surat tes DNA palsu?" ujar Gio dengan kening yang berkerut dalam.
Saat ini keduanya masih berada di kamar, Gio baru saja selesai mandi, sedangkan Diandra masih berdiri di depannya sambil membantu mengancingkan kemeja milik Gio.
"Untuk apa dia ingin kita melakukan itu?" tanya Gio.
Permintaan ini terlalu aneh dan terasa sedikit mencurigakan. Dia tidak bisa langsung mneyetujuinya begitu saja.
"Dia bilang kalau semua ini untuk menyelamatkan seseorang yang sangat penting untuk hidupnya," jawab Diandra.
Kerutan di kening Gio semakin dalam. "Dia memberitahu siapa yang ingin dia selamatkan?"
Diandra menggeleng samar. "Justru itu, aku ingin kamu menyelidikinya lebih dulu."
Gio menghembuskan napasanya pelan, kemudian mengangguk samar. Dia tidak pernah bisa menolak permintaan dari istri tercintanya.
"Aku akan mencaritahunya. Tapi, keputusan membuat surat tes DNA palsu, kita pikirkan lagi nanti. Lagipula, kita masih memiliki waktu beberapa hari lagi," jawab Gio.
Diandra mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Tapi, jangan sampai anak buah kamu ada yang tahu tentang masalah surat tes DNA ini," pinta Diandra, sambil membenarkan kerah kemaja suaminya.
"Kamu tidak percaya kepada anak buahku, sayang?" tanya Gio, yang langsung membuat Diandra menggelengkan kepalanya.
Perempuan itu merasa tidak enak, karena sepertinya Gio sempat salah paham padanya.
Gio terdiam beberapa saat, dia mengerti apa yang ditakutkan oleh istrinya. Apalagi ini mengenai adik yang sudah lama tidak dia temui.
"Baiklah, aku tidak akan membicarakan ini pada siapa pun," angguk Gio, yang langsung dihadiahi senyuman tulus oleh istrinya.
Gio pun ikut tersenyum, dia kemudian memeluk tubuh istrinya dengan lembut sambil sesekali memberikan ciuman di kening.
Dia sangat bahagia dan sedikit tidak percaya, Diandra bisa luluh dan kini menjadi istri yang sesungguhnya, setelah selama ini perempuan itu selalu membencinya.
Sebenarnya ada sedikit rasa was-was di dalam dada, saat kenangan masa lalunya teringat di kepala. Diandra tidak pernah tahu apa yang dia lakukan, hingga itu menjadi suatu ketakutan di dalam hati.
Gio takut, jika sampai Diandra mengetahui masa-masa kelamnya, perempuan itu akan kembali membencinya dan tidak bisa menerima segala masa lalunya.
Gio takut kembali ditinggalkan, saat dirinya sudah terlalu mencintai istrinya. Mungkin dia tidak akan pernah sanggup menerima, jika sampai semua itu terjadi padanya.
"Yuk, kita ke luar. Bukannya hari ini kamu harus kembali ke kota?" tanya Diandra, sambil mengurai pelukannya.
Gio mengangguk, dia memang harus ke kota, untuk mengawal proses hukum perusahaan ketring yang sedang dicurigai menjadi tersangka keracunan masal para karyawannya.
Mereka berdua pun akhirnya melangkah bersama ke luar dari kamar.
__ADS_1
.
.
"Aku pergi dulu, jangan kemana-mana tanpa aku, dan jangan sampai ponsel kamu tidak bisa dihubungi," ujar Gio sebelum dirinya berangkat.
Kini keduanya sedang berada di bagian depan vila. Diandra sedang mengantarkan Gio yang akan pergi ke kota, setelah sarapan bersama.
"Iya, aku tau," jawab Diandra.
"Bagus, kamu memang istriku tercintaku," puji Gio.
Diandra hanya tersenyum, walau di dalam hati dia mengumpat, saat Gio seakan tidak tahu tempat untuk menggombalinya.
Perempuan itu mencium punggung tangan Gio, yang langsung dihadiahi ciuman di bibir oleh suaminya.
"Aku pergi," ujar Gio lagi yang langsung diangguki oleh Diandra.
Diandra melihat kepergian Gio bersama Randi dan beberapa pengawal pribadinya, hingga akhirnya mobil melewati gerbang dan tidak lagi terlihat.
Diandra sedikit menundukkan kepala, lalu menggeleng samar saat dirinya menyadari kalau ini adalah pertama kalinya dia mengantarkan suaminya untuk berangkat bekerja.
Ah, rasanya ini tidak terlalu baik untuk jantungnya, bahkan kini pipinya terasa panas, membayangkan semua itu.
"Kalau aku tahu begini jadinya, untuk apa dulu aku membencinya?" gumam Diandra sambil berjalan masuk ke dalam vila.
Diandra berniat kembali ke kamar untuk melakukan rapat virtual bersama dengan Romi. Tentu saja dirinya tidak bisa santai, walau ini jauh dari pekerjaannya, hotelnya harus tetap berkembang walau dia sedang tidak berada di sana.
Namun, saat Diandra baru saja sampai di dalam, Bi Minah lansung mencegah langkahnya.
"Ini adalah surat dari Rani untuk, Neng Dian," ujar Bi Minah, sambil mengulurkan secarik kertas di tangannya.
Diandra tampak mengerutkan keningnya, menatap bingung kepada wanita paruh baya di depannya.
"Kenapa tidak bertemu saja?" tanya Diandra.
"Neng Dian, mungkin akan menemukan jawabannya di dalam surat ini," jawab Bi Minah.
Diandra akhirnya mengangguk lalu mengambil kertas di tangan Bi Minah.
"Terima kasih, Bi," ujar Diandra yang langsung dianggukki oleh Bi Minah.
Diandra pun akhirnya meneruskan langkahnya menuju ke lantai dua, di mana kamar dirinya dan Gio berada.
Hem, kira-kira isi suratnya apa ya?🤔 Jangan lupa komen dan likenya ya, kalau mau ditambah bunga atau kopi juga aku terima ðŸ¤
.....................
Yuk mampir di karya bagus milik temen aku😊
__ADS_1