
...Happy Reading...
......................
Diandra terdiam di kedai bakso itu, pikirannya semakin tidak karuan, saat bayangan Gio yang sedang makan dengan seorang perempuan di restoran, kembali menghancurkan pertahanan hatinya.
"Wilujeng tuang, Neng," ujar pelayan yang mengantarkan bakso pesanannya.
(Selamat makan, Nona.)
Diandra yang pikirannya sedang kacau, tak menyadari kedatangan pelayan itu.
"Neng," panggil pelayan itu lagi, yang merupakan seorang wanita paruh baya.
Diandara terperanjat, dia mengerjapkan matanya beberapa kali, seakan tengah mengumpulkan kembali fokusnya, lalu menatap kedatangan pelayan tadi dengan senyum tipisnya.
"Ah, hatur nuhun, Bu," ujar Diandra, sambil menerima mangkuk bakso miliknya.
("Ah, Terima kasih, Bu,")
Diandra hanya menyeruput es teh yang ia pesan, sedangkan bakso miliknya hanya itu aduk dengan malas.
Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Semua itu Diandra lakukan berulang kali, ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu.
Flash back
"Dian, Ana!"
Panggilan dari dua orang laki-laki yang baru saja datang, mengalihkan perhatian dua orang gadis yang sedang duduk di sebuah kafe.
"Eric, Hery, bisa gak sih kalau datang jangan ngagetin," ujar Diana, pada dua orang laki-laki itu.
"Hai, sayang. Maaf, aku telat," jawab Hary, yang langsung duduk di samping Diana.
"Kamu, dari mana saja sih? Lama banget datangnya. Aku udah hampir jamuran gara-gara nungguin kamu," oceh Diana, pada laki-laki yang telah dipacarainya selama tiga tahun itu.
Diandra yang juga sedang berada di sana, hanya tersenyum tipis dan asik mengaduk jus jeruk di depannya, sambil melihat lurus ke depan, tanpa berniat untuk melihat kemesraan dari adiknya itu.
"Hai, semuanya!" Tiba-tiba seorang perempuan lagi, datang dan bergabung dengan keempat orang itu.
"Sintia, akhirnya kamu datang juga," jawab Diana.
"Aku kira kita paling terlambat. Ternyata, kamu malah lebih terlambat lagi," ujar Eric, dengan tangan asik menggenggam tangan Diana.
__ADS_1
"Iya, maaf. Aku terlambat," jawab Sintia, melihat sekilas pada Eric.
"Ya sudah. Lebih baik kita pergi saja sekarang, nanti keburu sore sampai di sana," ujar Diandra, sambil bersiap untuk berdiri.
"Yuk, aku sudah tidak sabar sampai di sana," semangat Diana, sambil menggandeng tangan Hery.
"Yah, aku gak dapet minum dulu. Haus nih!" lemas Sintia, yang batu saja datang.
"Sudah, jangan lemas gitu, nanti kita bisa minum di mobil," ujar enteng Eric, sambil memiting Sintia dengan tangannya.
"Aaa! Lepas, lepas!" Sintia mencoba memberontak dengan memukul tangan Eric yang berada di lehernya, sambil berjalan mengikuti langkah laki-laki itu.
Ya, saat ini kelima orang itu berencana berlibur ke luar kota, untuk merayakan hari ulang tahun Diandra dan Diana, yang sudah terlewatkan selama dua hari.
Mereka berangkat menggunakan dua mobil, Diandra berada satu mobil dengan Sintia dan Eric. Sedangkan Diana bersama dengan Hery.
Sepanjang jalan, Diandra menghabiskan waktu untuk membaca di jok belakang, sedangkan Eric dan Santi berbincang berdua.
Diandra memang tergolong pendiam di tengah para teman-temannya itu. Bila dia tidak mempunyai keberanian yang ceria dan mudah bergaul seperti Diana, mungkin Diandra tidak akan mempunyai teman seperti saat ini.
Diandra, Diana, dan Eric adalah teman sejak bersekolah di sekolah menengah pertama, sedangkan Sintia berteman dengan mereka setelah bersekolah di sekolah menengah akhir.
Menjelang malam dua mobil itu sudah berhenti di salah satu vila yang terletak di daerah Lembang.
Diandra pun keluar perlahan, dia menghirup napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Menikmati aroma khas pegunungan yang terasa masih segar dan menyejukkan.
Sepasang suami istri penjaga vila pun langsung menyambut kedatangan mereka. Walau tanpa adanya orang tua, akan tetapi, vila ini salah satu milik kakek dan neneknya Diandra, hingga mereka tak lagi sungkan.
Mereka pun masuk ke dalam bila tersebut. Diandra, Diana dan Sintia, tinggal di satu kamar yang sama, begitu juga dengan Erik dan Hery.
Flash back off
Suara gelas pecah, menarik ingatan Diandra untuk kembali lagi ke alam nyata. Diandra mengerjapkan matanya, dengan hembusan napas kasar mengiringi.
Rasa sesak di dalam dada, saat mengingat kebersamaannya dengan saudara kembar dan para teman-temannya, selalu tak bisa ia tahan.
Pertemanan selama lebih dari sepuluh tahun, akhirnya harus hancur begitu saja, hanya karena sebuah perasaan cinta dan ambisi juga keegoisan, hingga membuat sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa terekam sampai saat ini.
Ujung matanya dapat melihat, seorang anak yang tadi sedang bermain dan secara tidak sengaja menyenggol gelas sampai terjatuh itu, sedang ditenangkan oleh sang ibu.
Sedangkan pecahan gelas itu sendiri, sedang dibersihkan oleh salah satu karyawan kedai bakso itu.
Dia menyeruput es teh yang ada di tangannya, berharap untuk bisa meredam rasa panas yang terasa di sekitar dadanya.
__ADS_1
Senyum sinis pun akhirnya tercipta di wajah cantik itu. Dia kemudian mulai berdiri dan melangkah menuju kasir untuk membayar kemudian pergi meninggalkan kedai bakso itu.
.
Di tempat lain, Gio, Randi dan Romi duduk bertiga. suasana mencekam antara Gio dan Romi masih saja terlihat, semua itu bisa dilihat dari tatapan keduanya, yang begitu tajam berusaha saling mengintimidasi.
Randy yang berada di antara keduanya seakan merasakan ketegangan antara Gio dan Romi.
"Coba jelaskan apa yang tadi kamu lakukan dengan wanita itu?" ujar Romi kepada Gio.
Gio berdecih, dia mengalihkan pandangannya dari wajah Romi dengan ekspresi menahan kesal.
"Seperti yang kamu lihat, aku hanya makan. Apa lagi?" jawab Gio dengan nada malas.
Romi tersenyum sini mendengar jawaban dari laki-laki di hadapannya itu dia kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya mencoba memberi intimidasi pada Gio.
" yang kami lihat memang makan tapi kami juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya Bila kami tidak ke sini. seorang laki-laki yang sudah mendapatkan predikat Cassanova kira-kira mau apa lagi setelah makan mungkin kamu juga sudah tahu?"
Gio mengepalkan tangannya menahan emosi yang tiba-tiba saja mendesak tubuhnya mendengar semua kata tuduhan dari Romi yang ditunjukkan untuknya.
Randy pun ikut terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Romi. dia ta menyangka kalau Romi mampu berkata seperti itu pada atasannya.
dia tahu Gio memang terkenal sebagai Cassanova akan tetapi selama ini Gio tidak pernah asal memilih wanita untuk menemaninya. apalagi saat ini Gio telah menikah, dia sedikit ragu bila Gio akan melakukan hal itu lagi.
" aku percaya Gio hanya makan di sini dengan wanita itu, dia tak mungkin berbuat hal buruk di belakang Diandra" ujar Randy sedikit membela Gio.
"Ya, kamu adalah saudara sekaligus asisten pribadinya, mana mungkin kamu mau memihak pada Diandra," ujar Romi, sengaja senyum kecewanya.
"Sudahlah, memang percuma berbicara pada kalian." Romi hendak berdiri dan meninggalkan kedua laki-laki itu.
"Aku sudah menjawab pertanyaan kamu. Terserah kamu akan percaya atau tidak." Gio berkata dengan pa dengan lurus ke depan. Walau sekilas dia sempat melihat ke arah Romi.
Romi menghentikan pergerakannya, dia melihat sekilas pada Gio.
"Aku orang lain di sini, semua keputusan ada pada Diandra. Tapi, sayang sekali sepertinya perbuatan kamu kali ini telah membangkitkan luka lama yang selama ini berusaha dia lupakan."
Romi melihat mobil Diandra yang pergi meninggalkan halaman kedai bakso itu.
Gio dan Randi menatap Romi dengan kening berkerut, dengan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Luka lama?" gumam Gio, dengan wajah gusar.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
...Bersambung...