
...Happy Reading...
...................
Sementara itu, di sekitar hotel sudah berdatangan beberapa mobil polisi yang siap melakukan penggerebekan, hingga beberapa saat kemudian, suasana di lobi hotel benar-benar kacau.
"Nona, ada polisi di bawah," lapor seorang laki-laki pada Cleo, hingga membuat senyum di wajah cantik itu luntur seketika.
"Apa maksudmu? Kenapa bisa ada polisi di sini?" tanya Cleo, dengan kening berkerut dalam.
"Sepertinya ada yang sudah melaporkan hotel ini. Sebaiknya, Nona, segera pergi melalui pintu belakang," ujar laki-laki itu.
"Apa?! Sial! Siapa yang berani melaporkan hotel ini pada polisi?" umpat Cleo sambil bersiap untuk segera pergi.
Namun saat mereka membuka pintu, mata Cleo melebar melihat orang yang kini berdiri santai di hadapannya.
"Hai, Cleo, lama tidak bertemu," sapa Gio dengan seringai lebar di wajahnya.
"K–kamu?" Cleo tampak tergagap saat melihat Gio dan Randi kompak berdiri di depannya.
"B–bukannya kalian–" Cleo tidak dapat meneruskan perkataannya, saat Gio langsung memotongnya.
"Bertengkar? Hahaha, itu hanya bisa terjadi di dalam mimpimu saja, dasar wanita gila!" desis Gio.
"Kalian tidak akan bisa kabur, selama kami masih ada di sini," sambung Gio lagi, dengan tatapan berubah tajam.
Cleo tampak kalang kabut, dia menoleh pada empat orang laki-laki di belakangnya. "Untuk apa kalian diam saja, cepat hajar mereka, jangan sampai ada yang lolos!"
Keempat orang laki-laki itu langsung menyerang Gio dan Randi, sebuah pertarungan un terjadi di lorong hotel itu. Dua lawan satu, dengan kekuatan para anak buah Cleo yang tidak main-main, Gio bahkan sudah beberapa kali endapatkan pukulan di beberapa titik tubuhnya.
BIbir pecah dan pipi lebam akibat pukulan keras dari tangan lawannya, menjadi saksi jika kini pertarungan mereka tidak main-main.
Melihat Gio dan Randi yang sedang sibuk bertarung, Cleo memanfaatkan situasi untuk menyelinap kabur menuju tangga darurat yang berada di belakang gedung.
Namun, tiba-tiba saja dia dihadang oleh seorang wanita. "Mau ke mana kamu, wanita murahan?" geram Diandra dengan wajah merah padam dan tangan berkecak pinggang.
Kini Diandra bukan lagi seseorang yang terlihat anggun, wanita itu kini terlihat galak, bagaikan seekor kucing yang sedang mengincar tikus buruannya.
Cleo menghentikan langkahnya, matanya melebar melihat Diandra yang terlihat baik-baik saja, dan masih bekerja sama dengan Gio. Padahal baru beberapa saat yang lalu dia bisa mendengarkan wanita itu memaki Gio penuh amarah.
"K–kamu?" tunjuk Cleo pada wajah Diandra, dengan raut terkejutnya.
__ADS_1
"Kejutan!" seru Diandra, sebelum tangannya melayang pada pipi Cleo.
Empat kali suara tangan Diandra yang bertemu dengan pipi Cleo, membuat Gio dan Randi meringis di tengah pertarungan mereka, membayangkan betapa sakitnya itu semua. Padahal kondisi wajah mereka berdua juga tak jauh berbeda seperti Cleo sekarang.
Cleo jatuh terduduk di depan Diandra, dengan tangan memegang pipinya yang terasa panas, bahkan sudut bibirnya terlihat memerah dengan.
"Dasar wanita gila! Untuk apa kamu menamparku, hah?!" teriak Cleo, menatap Diandra nyalang penuh permusushan.
Diandra terkekeh ringan, "Itu semua belum apa-apa, dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lakukan pada adikku, brengsek!" sarkas Diandra.
"Kalau aku mau, aku bahkan bisa membunuhmu saat ini juga, wanita Jal*ng!" sambung Diandra lagi, sambil menjambak rambut sehat berilau milik Cleo.
Diandra membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Cleo, "Sayang sekali, mati adalah hukuman yang paling ringan untukmu. Kamu harus menebus semua perbuatanmu dan menerima hukuman di penjara," desis Diandra tepat di depan wajah Cleo, saking dekatnya, bahkan kini Cleo bisa merasakan hembusan napas istri Gio itu.
Diandra menghentakkan kepala Cleo lalu mengikat tangan wanita itu menggunakan kabel ties. Bersamaan dengan itu pertarungan Gio dan Randi dengan para pengawal Cleo pun sudah selsai, mereka menghampiri Diandra yang kini berdiri santai di belakang Cleo.
Tidak lama kemudian para polisi datang dan menangkap Cleo beserta anak buahnya, sedangkan Gio, Diandra, dan Randi, sudah ke luar dari hotel melewati pintu belakang, tanpa mau berurusan dengan kepolisian.
"Tenaga istrimu itu kuat juga, Gio. Dia bahkan membuatku berlari sambil menahan sakit," gerutu Randi saat mereka sedang berjalan menuju mobil.
Diandra sudah berlari terlebih dahulu, untuk melihat kondisi Rani yang lebih dulu diselamatkan oleh anak buah Gio.
Beberapa saat yang lalu.
Randi lebih dulu mengirimkan berkas bukti tentang kejahatan Cleo, juga hotel yang digunakan menjadi tempat prostitusi ilegal, pada salah seorang kenalan Gio di kepolisisan.
Ternyata mereka sudah berbicara semuanya, hingga mereka sudah melakukan persiapan untuk penangkapan hari ini.
Suara pesan masuk di ponsel Diandra menjadi pertanda kalau drama istri tersakiti harus segera dimulai.
"Mereka sudah mengirimkannya," ujar Diandra memberitahu pada Randi dan anak buahnya.
"Bagus, kita lakukan sekarang. Buat senatural mungkin, jangan sampai mereka curiga." Randi memberikan instruksi.
Diandra memasang wajah marah, lalu ke luar, yang langsung disusul oleh Randi. Laki-laki itu sempat terkejut saat Diandra menginjak kakinya.
Wah ternyata aktingnya sangat bagus, sepertinya selama ini dia memang memendam kekesalan pribadi padaku? desah Randi di dalam hati, merasakan sakit di kakinya.
"Gio!" Diandra masuk ke dalam kamar tempat Gio berada, dia langsung menuju ke kamar mandi dengan wajah paniknya.
Gio yang berada di sana langsung memberi isyarat agar jangan berisik, karena kamar ini telah dipasang penyadap suara. Diandra yang mengerti langsung mengangguk.
__ADS_1
"Ana, kamu gak apa-apa?" tanya Diandra dengan suara lirih, dia menghampiri Ana yang kini sedang berada dalam guyuran air shower.
Ana tersenyum lalu menggelang, dia menyakinkan kalau dirinya baik-baik saja. Gio menepuk pundak Diandra memberikan tanda kalau dramanya harus segera dimulai.
"Biar aku yang mengurus Ana, kamu aliran perhatian mereka," ujar Randi, masih dengan suara berbisik.
Diandra dan Gio kembali ke kamar untuk memulai drama istri melabrak suaminya yang ketahuan selingkuh.
"Dasar laki-laki bajingan, sedang apa kamu di sini, sialan?!" Diandra mulai memaki Gio, dia bahkan sengaja menggunakan panggilan 'lo' pada Gio agar lebih meyakinkan.
Gio menatap Diandra memelas, "Sayang, bukan begitu ... aku bisa jelasin ini semua."
Diandra menahan tawanya, saat melihat wajah Gio. "Mau jelaskan apa lagi, Gio? Lo, bahkan tega selingkuh dengan saudaraku sendiri! Dasar laki-laki brengsek!"
Diandra memukul tangan Gio, membuat suara tamparan, Gio meringis memegang tangan bekas pukulan Diandra.
Sementara itu anak buah Gio yang ikut masuk bersama Randi, kini menggendong tubuh basah Ana yang sudah dibalut dengan selimut, lalu membawanya ke luar, dengan Randi yang menunjukan jalan, memastikan jalan yang akan dilalui oleh Ana telah aman.
Diandra terus meracau dan berteriak, walau pada kenyataannya mereka berdua tengah berpelukan. Gio bahkan asik mencium wajah istrinya.
Setelah memastikan Ana baik-baik saja, Randi kembali ke kamar dia berdecak saat melihat Gio dan Diandra tengah bermesraan.
"Dasar gila, lo gak mikir udah punya istri?!" Randi ikut berteriak memaki Gio, lumayan setidaknya rasa kesalnya bisa tersalurkan sedikit.
"Ayo ke luar, semuanya sudah aman. Polisi juga sudah berada di bawah," bisik Randi.
Diandra melepaskan tangan Gio yang terus memeluknya.
"Dasar laki-laki buaya, mulai saat ini jangan cari aku lagi!" teriak Diandra untuk terakhir kalinya, lalu berjalan ke luar lebih dulu dengan menghentakkan kakinya.
Diandra bahkan membandingkan pintu cukup keras hingga membuat Gio dan Randi terperanjat. "Waw, dia memerankan semuanya dengan sempurna," puji Randi yang langsung mendapat anggukan dari Gio.
"Sayang, tunggu dulu! Aku bisa jelaskan, dengar aku dulu, sayang!" Gio berteriak dan berlari, seolah sedang mengejar Diandra.
Sampai di luar Randi dan Gio berdiri di depan pintu kamar Cleo, sedangkan Diandra menunggu di ujung lorong, tempat tangga darurat berada. Dia bersembunyi di balik tembok, agar tidak terlihat oleh Cleo dan para anak buahnya.
Wanita itu bahkan sempat melakukan pemanasan, takut nanti akan ada pertarungan antara dirinya dan Cleo. Walau akhirnya semua itu berujung kecewa, ternyata Cleo sama sekali tidak memiliki keterampilan bela diri, hingga dengan mudah Diandra bisa mengalahkannya.
....................
Gimana? ada yang udah bisa nebak rencana Gio😏
__ADS_1