Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.42 Pergi


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Bagaimana, apa kita langsung pergi ke sana?" tanya Randi, begitu Gio sampai di kantor mereka.


Gio mengangguk samar, dengan tatapan tajam, dan wajah yang berubah keras. Itu semua sangat berbeda saat dia berada di depan Diandra, beberapa waktu lalu.


"Lebih cepat, lebih baik. Aku sudah tidak sabar, ingin melihat dia mendapatkan hukuman atas perbuatan gilanya pada Diandra." Gio mengepalkan tangannya, menahan amarah di dalam dirinya.


Mendengar semua itu, Randi pun langsung membereskan berkas yang ada di atas meja, dia kemudian beranjak dan mereka akhirnya meninggalkan kantor bersama-sama.


Mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi, walau di beberapa tempat harus menurunkan kecepatannya karena jalan yang masih terbilang kecil, hingga membuat gerak mereka sedikit terhalang.


Mereka sudah mendatangkan seorang pengacara keluarga, untuk menangani kasus yang akan mereka laporkan pada pihak yang berwajib.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah memarkirkan mobilnya di salah satu kafe, yang terletak tidak jauh dari kantor polisi, tujuan mereka.


Seperti biasa, Gio ke luar dari mobil, dengan gaya yang selalu menawan, bagi para perempuan yang melihatnya.


Berdiri tegap di samping pintu mobil yang sudah tertutup rapat kembali, sambil membuka kaca mata hitam yang selama perjalanan selalu bertengger epic di atas hidungnya.


Mengibaskan sedikit rambut di puncak kepalanya, dengan pandangan mengedar, melihat sekitarnya. Senyum tipis pun, seakan menjadi pelengkap kesempurnaan sosok Gio, saat itu.


Randi yang melihat semua itu, hanya berdecak malas, sambil memutar bola matanya, merasa jengah dengan segala pesona yang selalu atasannya itu tampakkan di mana saja dia berada.


Katanya sudah tidak mau lagi berurusan dengan perempuan lain. Tapi, lihat sekarang ... bagaimana dia menebar pesonanya, batin Randi, menggerutu melihat para perempuan yang sibuk melihat keberadaan atasannya itu.


"Ingat istri, bos," ujar Randi, saat menyamai langkah Gio, masuk ke dalam kafe tersebut. Di tangannya, ada sebuah tas berisi semua barang bukti untuk mereka perkirakan pada pengacara itu.


Sampai di sana, mereka memilih tempat duduk di tempat yang lumayan sepi, hingga mereka akan leluasa untuk berbicara.


"Sudah sampai di mana, dia?" tanya Gio, sambil duduk di atas kursi.


"Kabar terakhir, sudah dekat dari sini. Sebentar lagi, pasti dia sudah datang," jawab Randi, sambil ikut duduk di depan Gio.


Gio mengangguk, dia menyandarkan punggungnya dengan perasaan yang gusar.


Beberapa saat kemudian, seseorang yang mereka tunggu sudah berada di depan keduanya. Ketiganya kini tampak sedang berbicara serius, hingga mereka melupakan waktu yang terus berjalan.


Setelah makan siang, ketiga orang itu langsung ke luar dari kafe itu, lalu berjalan menuju kantor polisi.


Ya, saat ini mereka akan melaporkan Jonas, atas kejadian kebakaran di dalam restoran milik Diandra.


Setelah beberapa hari mencari bukti, juga keberadaan Jonas dan para saksi. Kini, Gio sudah berhasil menemukan semuanya, bahkan membuat para saksi membuka mulut dan bersedia bersaksi di kantor polisi juga pengadilan.

__ADS_1


Cukup lama mereka berada di dalam sana, hingga hari sudah mulai gelap, ketiganya baru saja ke luar.


"Terima kasih, Om, sudah mau datang jauh-jauh ke mari, untuk menangani kasus ini," ujar Gio, sambil menjabat tangan pengacara keluarganya itu.


"Ohya, Om, bisa tinggal di hotel kami, selama mengurus kasus ini," imbuhnya lagi.


Laki-laki setengah baya yang sudah menjadi pengacara keluarga Purnomo, sejak ayahnya Gio belum meninggal itu, tampak mengangguk.


"Semua itu sudah tugas aku sebagai pengacara keluargamu, Gio," ujarnya, mengangguk.


"Ingat, mama dan semua keluargaku, jangan sampai tau lebih dulu, mengenai pernikahanku dengan Diandra," peringat Gio pada pengacara tersebut.


"Iya, aku tidak akan memberi tau mereka semua. Tapi, bila boleh memberi saran, sebaiknya kamu cepat mengatakan semua ini kepada Hana. Jangan sampai dia tau dari orang lain," ujar pengacara itu.


"Iya, aku tau. Nanti pasti aku akan bicara pada mama," angguk Gio.


Sore itu, Gio, Randi dan pengacara itu kembali ke rumah Gio, untuk membicarakan tindakan selanjutanya, demi mempersiapkan hukuman untuk Jonas.


Gio tidak mau kalau nantinya Jonas akan mendapatkan keringanan masa hukuman, hingga dia mempersiapkan ini semua dengan sangat matang.


.


.


Diandra yang baru saja pulang dari kantor, menatap rumahnya yang tampak sepi. Ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya, saat mengingat biasanya Gio akan ada di depan rumah, dan menyambutnya.


Diandra berdiri di depan rumahnya, menatap tempat tinggalnya selama beberapa tahun terakhir ini, setelah memutuskan untuk pergi dari rumah kedua orang tuanya.


Kenapa terasa berbeda? batin Diandra.


Dia menundukkan kepala dengan hembusan napas kasar, lalu menggeleng menolak keras perasaannya sendiri. Ini baru dua hari, dia tidak bertemu dengan Gio. Akan tetapi, kenapa rasanya seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya.


Berjalan gontai, sambil mengambil kunci di dalam tas. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, ruang tamu, dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


Memejamkan mata, mengingat dua hari yang lalu, saat di mana dia menerima sebuah pesan dari suaminya.


Flashback


Malam itu, Diandra baru saja selesai membersihkan diri, saat ponselnya terus berdering tanpa heti. Dia melihat sekilas nama di layar, lalu kembali mengacuhkannya dan berjalan untuk mengganti bajunya.


Berulang kali ponselnya berdering, hingga akhirnya bisa berhenti, setelah lebih dari sepuluh kali panggilan, yang tidak berniat Diandra jawab sama sekali.


Diandra menghembuskan napas lega, lalu bersiap untuk segera tidur, dia sudah memejamkan matanya, ketika suara pesan masuk beruntun kembali mengganggu waktu istirahatnya.


Gio: [Diandra]

__ADS_1


Gio: [Angkat teleponnya dong, aku mau denger suara kamu]


Gio: [Dian, aku mau ngomong sebentar, tolong angkat teleponnya]


Gio: [Oke kalau kamu gak mau angkat, aku pamit di sini aja ya. Aku harus pergi ke Jakarta, sekarang juga. Ada masalah darurat di perusahaan yang tidak bisa diselesaikan sama orang lain]


Gio: [Sepertinya aku akan sedikit lama di sana, maaf aku gak bisa nemuin kamu dulu. Jaga diri baik-baik ya, sayang. I love you 😘]


Diandra menatap pesan yang dikirimkan oleh Gio, dia tampak ragu untuk membalas, entah kenapa rasanya berat hanya untuk mengetik satu atau dua kata balasan.


Gio: [Dian, aku tau kamu ada di sana. Gak apa-apa kalau kamu gak mau balas, sudah dibaca saja aku sudah seneng kok. Selamat tidur, sayang. Jangan kangen ya 😘]


Diandra kembali menatap nanar pesan yang dikirimkan oleh suaminya, dengan sedikit ragu dia akhirnya mengetikkan pesan di layar ponselnya.


^^^Diandra: [Jangan panggil aku sayang!]^^^


Dian menggeleng, dia pun menghapus kembali pesan yang belum sempat dia kirimkan.


^^^Diandra: [Apa peduliku?! Terserah kamu mau ke mana saja, aku tidak peduli!]^^^


Diandra kembali menggeleng dan menghapus susunan huruf yang sudah dia ketik sebelumnya. Menutup mata, memikirkan apa yang sekiranya pantas untuk dia katakan pada suaminya itu.


Ish, kenapa aku malah memikirkannya sih? batin Diandra, mengumpat dirinya sendiri.


Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan dengan mata yang terpejam, dia pun membukanya dan kembali melihat ponselnya saat satu pesan kembali masuk.


Gio: [Sudah tidur ya? Selamat malam, sayang. Jangan lupa mimpiin aku ya 😁😘]


Diandra mencebik kesal saat melihat pesan dari suaminya yang masih saja menggodanya, walau sedang tidak berada di dekatnya. Tanpa dia sadari, bahkan pipinya terlihat merona, tersipu oleh kata-kata Gio.


Dasar laki-laki brengsek! Masih saja sempat menggodaku, padahal dia sedang tidak ada di sini, batin Diandra.


Akhirnya dia pun kembali mengetikkan sesuatu di layar ponsel miliknya.


...Diandra: [Hati-hati di jalan]...


Tiga kata yang dia langsung kirimkan, dengan mata terpejam rapat, dia sama sekali tidak mau menimpali godaan suaminya.


Satu yang jadi perhatiannya dari semua pesan itu, Gio akan pergi ke Jakarta di tengah malam seperti ini. Ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya, saat mengingat itu.


Gio: [Iya, sayang. Aku akan berhati-hati, demi kamu😍]


Diandra tersenyum tipis melihat balasan pesan dari suaminya. Dia pun meletakkan ponsel miliknya di atas nakas, lalu bersiap untuk tidur kembali.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2