Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Ke Mana Gio?


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Jam satu siang, akhirnya sepasang suami istri itu selesai dengan aktivitas siangnya. Dengan rambut yang masih sedikit lembab, mereka berjalan ke luar kamar dengan bergandeng tangan.


Wajah Gio tampak lebih cerah, bila dibandingkan dengan saat dia pulang, senyum pun tidak pernah pudar menghiasi wajah tampannya.


"Ish, ini semua gara-gara kamu. masakannya jadi udah dingin, kan!" Diandra bersungut sambil terus melangkah di samping Gio.


"Gak apa, aku bisa makan makanan dingin, kalau itu bersama dengan kamu, sayang," jawab Gio santai.


Sepertinya Gio memang tidak bisa menahan rayuannya bila dirinya sedang bersama dengan istrinya itu. Semua kata-kata manis itu ke luar begitu saja dari dalam mulutnya, tanpa dia memikirkannya dulu.


"Gombal aja teroos!" Diandra memutar bola matanya.


Gio terkekeh mendengar Diandra menggerutu. Ah, sepertinya dia memang sudah tergila-gila pada wanita di sampingnya itu, hingga apa pun yang dilakukan oleh Diandra akan terus terlihat baik baginya.


Sampai di ruang makan, ternyata Bi Minah sudah menunggu mereka berdua.


"Mau, saya panaskan dulu makanannya, Den?" tanya Bi Minah, setelah dia menyapa lebih dulu.


"Gak usah, Bi. Aku makan yang sudah ada saja," jawab Gio.


Tadi sewaktu dia baru saja pulang, Bi Minah sudah memberi tahu kalau itu semua adalah masakan Diandra. Awalnya dia ingin langsung makna siang setelah menemui istrinya. Akan tetapi, saat melihat ada kesempatan untuk melakukan yang lain, Gio menjadi lupa dengan semua itu.


"Eh, ini di panaskan dulu saja, Bi. Gak apa-apa, kita tunggu sebentar." Diandra meralat perkataan suaminya.


"Tapi, sayang–" Gio hendang protes. Akan tetapi, belum sempat dia menyelesaikan perkataannya Diandra sudah menyela.


"Hanya sebentar," ujar Diandra lembut, sambil memegang tangan Gio.


Otomatis laki-laki itu langsung terdiam dan menganggukkan kepala, menyetujui apa yang dikatakan oleh isrinya.


"Tunggu di sini, biar aku bantu Bi Minah dulu, ya." Diandra melepaskan genggaman tangannya lalu melangkah maju.


Namun, baru satu langkah ke depan, tangannya kembali dicekal oleh Gio. "Gak usah, Bi Minah bisa dibantu yang lain. Sekarang lebih baik kita tunggu di ruang keluarga saja," ujar Gio.


Diandra menoleh pada Bi Minah, merasa tidak enak karena tidak membantunya.


Bi Minah hanya tersenyum kemudian menganguk, dia tentu tidak keberatan melakukan itu semua sendiri.


Diandra pun akhirnya mengikuti langkah Gio menuju ke ruang keluarga. Dia duduk di atas sofa, dengan kepala Gio berada di pangkuannya.

__ADS_1


Sepertinya, itu adalah posisi yang sangat nyaman untuk Gio. Diandra pun tidak pernah menolak, dia tahu kalau sebenarnya suaminya itu sedang kelelahan, dan hanya padanya lah, Gio bisa menunjukan semua itu.


Walau terkadang, suaminya juga menutupi semua itu darinya. Mungkin Gio ingin terlihat kuat jika di depan istrinya.


Namun, raut wajah dan pandangan mata, tentu tidak akan pernah berbohong. Diandra tahu karena dia juga mengalaminya. Saat dirinya tidak boleh memperlihatkan kerapuhannya dan rasa lelahnya pada orang luar. padahal hati dan jiwanya terus meronta ingin berhenti sejenak, hanya untuk beristirahat.


Itu semua memang harus selalu di lakukan sebagai seorang atasan. Mereka harus memberikan contoh yang biak kepada para pekerjanya, tanpa tahu kalau mereka juga manusia, yang membutuhkan waktu istirahat barang sejenak.


Sekitar lima belas menit kemudian, keduanya kembali ke meja makan. Sepasang suami istri itu makan siang bersama, di waktu yang sudah sangat terlambat.


.


.


Pagi ini Diandra dibangunkan dengan suara dering ponsel yang terus saja berulang. Diandra perlahan terbangun, sambil mengambil ponselnya di nakas. Nama Randi terlihat di sana.


Diandra sempat mengernyit, tidak biasanya Randi menelepon ke ponsel miliknya. Menoleh ke samping, ternyata Gio sudah tidak ada.


"Ke mana dia?" gumam Diandra, matanya menoleh pada kamar mandi, dia mengira Gio ada di sana.


Beralih kembali pada ponsel miliknya, lalu menggeser ikon berwarna hijauuntuk menerima panggilan itu.


"Dian, Gio mana?!" Diandra kembali mengernyit saat mendengar nada panik dari asisten suaminya itu.


"Jawab saja pertanyaanku!" Randi tanpa sadar mengeraskan suaranya, hingga Diandra menjauhkan ponselnya dari telinga.


Sampai di depan kamar mandi, Diandra tidka mendengar suara gemercik air. Perlahan dia mengetuk pintu sambil memanggil suaminya.


Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Hingga akhirnya Diandra langsung membukanya sendiri. Benar saja, kamar mandi itu sudah kosong, tidak ada siapa pun di sana.


"Gak ada?" ujar Diandra pelan.


"Akhh, sial!" geram Randi dari seberang sana.


"Ada apa, Ran? Kenapa kamu panik begitu?" Kini Diandra sudah tidak bisa santai, dia bisa mengira kalau ada sesuatu yang terjadi kepada suaminya.


Akhir-akhir ini Diandra juga sering melihat suaminya pergi diam-diam di malam hari, dan datang setelah menjelang pagi. Entah ke mana, dia pun tidak tahu.


Namun, tadi malam, dia tidak melihat Gio pergi, mungkin karena dirinya juga kelelahan setelah kemarin seharian meninjau lokasi pembangunan hotel. DItambah malamnya Gio juga meminta jatah.


"Kamu diam di vila, jangan ke mana-mana. Aku sedang perjalanan ke sana," jawab Randi kemudian menutup teleponnya sepihak.


Diandra bingung, Randi sama sekali tidak menjawab rasa penasarannya. Dia menyambar jubah mandi lalu berjalan ke luar kamar, untuk mencari keberadaan suaminya.

__ADS_1


Ruangan pertama yang dituju adalah ruang kerja. Diandra bahkan langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Perasaannya tiba-tibasaja resah, pikirannya dipenuhi oleh suaminya.


"Gio!" panggil Diandra. Akan tetapi, tidak ada siapa pun di sana.


Diandra menutup kembali ruang kerja Gio. Kini dia beralih menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan suaminya. Tujuan utamanya adalah dapur, di mana Bi Minah pasti berada sekarang untuk menyiapkan sarapan.


"Bibi, tau di mana Gio?" tanya Diandra langsung, saat melihat wanita paruh baya itu.


Bi Minah yang sedang sibuk mengaduk nasi goreng di wajan terperanjat mendengar suara Diandra. Dia terlihat terdiam sebentar entah karena terkejut atau yang lainnya.


"Bibi, belum lihat Den Gio, dari pagi, Neng," jawab Bi Minah.


Mata Diandra memicing tajam, ada sesuatu yang berbeda dari nada suara Bi Minah. Suara wanita paruh baya itu terdengar sedikit bergetar dan ragu. Walau akhirnya Diandra hanya menganggap itu karena Bi Minah terkejut.


"Baiklah, terima kasih, Bi," ujar Diandra sambil kembali berlalu dari dapur.


Kini dia beralih mencari anak buah Gio yang biasa berjaga di luar. Akan tetapi, dia kembali mengernyit saat tidak mendapati beberapa anak buah yang sering mengikuti Gio.


"Berarti Gio memang pergi dari vila," gumam Diandra sambil terus melangkah menuju gerbang.


"Selamat pagi, Bu!" ujar dua orang anak buah yang bertugas di gerbang vila.


Diandra tidak menghiraukannya, tatapannya begitu tajam dengan wajah yang tampak mengeras. "Di mana suamiku?" tanya Diandra dengan nada tegas.


Kedua anak buah itu tampak saling melirik, tanpa menjawab pertanyaan dari Diandra. Wajah kedua orang itu tampak gugup dan ragu.


"Cepat jawab! Di mana suamiku?!" Diandra mengulang pertanyaannya.


"Eem ... kami tidak tau, Bu," jawab salah satu orang itu.


"Mana mungkin kalian tidak tau! Cepat katakan atau kalian akan habis di tangan saya!" desak Diandra.


Sungguh hatinya semakin kalut sekarang, dia benar-benar khawatir pada suaminya.


"Kami benar-benar tidak tau, Bu." Kedua orang itu masih tetap bersikukuh dengan jawabannya.


"Dasar tidak berguna!" Diandra menginjak kaki keduanya bergantian, dia sangat kesal karena dua orang itu sama sekali tidak bisa dia andalkan.


Tidak main-main memang tenaga Diandra, hingga kedua laki-laki kekar itu mengaduh kesakitan. Sedangkan Diandra memilih masuk ke dalam rumah, setelah memberikan rasa sakit untuk anak buah suaminya itu.


.................


Apa ya yang terjadi🤔

__ADS_1


__ADS_2