Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Tidak sadarkan diri


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Gio mendorong brankar Diandra yang baru saja turun dari mobil ambulance, keadaan Diandra saat ini tidak sadarkan diri dengan pecahan kaca yang menggores tangan dan wajahnya, sedangkan Gio masih sadar dengan luka memar di keningnya.


"Segera tolong istri saya dia sedang mengandung!" teriak Gio, sudah tidak memperdulikan apa pun lagi, kini yang ada di pikirannya hanya Diandra.


Para dokter yang sudah dihubungi sebelumnya pun tampak sudah bersiap kemudian membawa Diandra dan korban yang lainnya ke ruang instalasi gawat darurat rumah sakit itu.


"Dok, dia sedang hamil, tolong cepat selamatkan dia!" Gio masih saja terlihat panik dan tidak bisa berfikir jernih, sejak di dalam mobil ambilance sampai di rumah sakit, dia tidak pernah melepaskan tangan sang istri.


Apa lagi ketika dia melihat bercak darah yang mulai ke luar dari jalan lahir sang istri, itu semua membuatnya semakin bertambah panik.


"Bapak, tunggu di luar dulu ya, biar kami tangani istri Bapak di dalam," ujar perawat yang mencegah Gio untuk masuk ke dalam ruangan.


"T–tapi, Sus–" perkataan Gio berhenti saat perawat itu kembali berbicara.


"Kami akan segera menangani istri Bapak, jadi saya harap Bapak jangan khawatir dan jangan mengganggu pekerjaan kami di sini ya, Pak," ujar perawat itu.


Gio pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengikuti apa yang dikatakan oleh perawat itu, walau hatinya begitu berat untuk meninggalkan istrinya sendiri.


Gio meremas rambutnya menggunakan kedua tangannya, tubuhnya merosot hingga duduk di lantai, tanpa memperdulikan pandangan orang-orang yang menatapnya penuh perihatin.


Banyak brankar pasien yang juga hilir mudik di sekitarnya, mengingat jumlah korban di dalam kecelakaan beruntun itu cukup banyak, dan hampir semuanya dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Diandra.


Suara bising dan panik di sekitarnya tiba-tiba terasa tidak terdengar oleh Gio, dirinya hanya berfokus pada penyesalannya yang tidak bisa menjaga Diandra dan calon anaknya.


Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar tidak berguna menjadi seorang suami, batin Gio penuh penyesalan.


Bahkan beberapa orang anak buahnya yang mengikutinya di mobil berbeda pun, ikut mengalami kecelakaan, dan ada yang mengalami luka-luka.


Gio baru tersadar begitu ada seseorang yang menepuk pundaknya, dia langsung menoleh dan ternyata itu perawat yang tadi membawa Diandra ke ruangan instalasi gawat darurat.


"Iya, Sus. Bagiamana keadaan istri saya, Sus?" tanya Gio, sambil berdiri.

__ADS_1


"Maaf, Pak, istri bapak, mengalami pendarahan dan kebetulan golongan darah di rumah sakit kami sedang kosong. Bisa tolong bantu kami mencari darah yang cocok untuk istri Anda, Pak," ujar perawat itu yang membuat Gio melebarkan matanya dengan wajah semakin kalut.


"Baiklah, saya akan mencoba mencari donor darah untuk istri saya. Tolong selamatkan istri saya!" ujar Gio mengangguk cepat sambil mengambil ponselnya yang berada di saku.


Ingatannya hanya tertuju pada kakaknya yang berada di rumah sakit berbeda, dia berharap kalau di rumah sakit keluarganya ada darah yang cocok untuk Diandra.


Beberapa kali Gio mencoba menghubungi Erika, hingga dia hampir saja menyerah karena tidak ada jawaban dari kakaknya itu. Akan tetapi, beberapa saat kemudian Erika akhirnya menjawab panggilan dari Gio.


"Kak, ada stok darah dengan golongan ... resus ... di rumah sakit kakak? Aku sangat  membutuhkannya sekarang!" ujar Gio dengan suara bergetar dan napas yang terdengar tidak beraturan.


"Ada apa, Gio? Kenapa suara kamu begitu?" Bukannya menjawab pertanyaan Gio, Erika malah bertanya hal lain lagi pada adiknya itu.


"Diandra kecelakaan, Kak. Kami sekarang sedang berada di rumah sakit ... dan Diandra mengalami pendarahan, sampai membutuhkan donor darah," jelas Gio.


"Ya ampun, kalian kecelakaan di mana? Kondisi kamu gimana, Gio?"


"Nanti aku ceritakan, tapi, sekarang tolong bantu aku mendapatkan darah untuk Diandra, Kak," ujar Gio, memotong langsung perkataan Erika.


"Oke, kakak pasti akan segera mendapatkan darah yang kamu butuhkan," janji Erika, pada Gio.


"Terima kasih, Kak. Aku mengandalkan, Kakak!" ujar Gio dengan nada penuh permohonan.


Gio menunduk dalam saat tiba-tiba rasa pening dan sakit di kepalanya terasa semakin menjadi, dari awal rasa sakit itu memang sudah terasa. Akan tetapi, karena terlalu khawatir dengan keadaan Diandra yang tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari jalan lahir, membuat Gio tidak menghiraukan rasa sakitnya sendiri.


Kedua tangannya kembali mencengkram kepalanya sambil berdesis lirih.


"Pak." Suara dari salah satu anak buahnya membuat Gio mendongakkan kepala, menatap seseorang yang kini berada di depannya.


"Bagaimana? Siapa saja yang terluka, dan bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Gio, sebelum dia membawa Diandra ke rumah sakit, dia sempat memerintahkan pada anak buahnya untuk mengurus para teman-temannya lebih dulu.


"Semuanya sudah ditangani, Pak. Tidak ada yang serius, semuanya hanya menderita luka ringan," ujar laki-laki yang tampak masih berdiri bugar walau ada perban di tangannya.


"Baguslah," jawab Gio sambil mendesah lelah.


"Sepertinya, Bapak, juga harus diperiksa. Wajah, Bapak, terlihat sangat pucat," ujar anak buah Gio melihat ada yang janggal dengan raut wajah bosnya itu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa," tolak Gio yang tetap ingin menunggu istrinya.


"Bagaimana kondisi, Bu Dian, Pak?" Dengan suara lirih dan ragu laki-laki itu mencoba bertanya pada Gio.


"Dian mengalami pendarahan, dia juga terkena pecahan kaca di sampingnya," ujar Gio dengan suara yang terdengar lemah.


Anak buah Gio menundukkan kepala, merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu pada Gio. Dia tentu tahu bagaimana Gio selama ini sangat mencintai Diandra, dan ini pasti menjadi suatu pukulan yang sangat berat untuk bosnya itu.


"Tapi, Pak, sepertinya Bapak memang harus mendapat pemeriksaan lebih dulu." Anak buah Gio masih mencoba mengingatkan bosnya.


"Tidak usah, aku tidak apa-apa. Aku ingin di sini saja," tolak Gio lagi.


Tidak lama kemudian Randi, Mama Hana, dan Gita pun mulai berdatangan di rumah sakit, mereka langsung mencari keberadaan Gio dan Diandra, hingga akhirnya menemukan Gio yang tengah berbicara dengan anak buahnya.


Namun, belum sempat mereka sampai pada Gio, Gio terlihat ambruk tidak sadarkan diri di depan anak buahnya sendiri.


Pemandangan itu tentu saja langsung membuat panik Randi, Mama Hana, dan Gita. Mereka bertiga langsung berlari menghampiri Gio yang sudah tidak sadarkan diri.


"Gio!"


"Kakak!"


"Gio!"


Mama Hana berteriak histeris dengan air mata berurai sambil berlari, begitu juga dengan Randi dan Gita, mereka tidak sanggup menahan rasa khawatirnya.


"Pak?!" Anak buah Gio yang berada di depan Gio langsung duduk di lantai untuk menopang tubuh bosnya itu.


"Tolong! Ada orang tidak sadarkan diri di sini!" teriak anak buah Gio dengan wajah panik.


"Pak, bangun, Pak!" Laki-laki itu berusaha untuk membangunkan Gio dengan sedikit menupuk pipi Gio. Akan tetapi, tidak ada pergerakan apa pun dari Gio.


Dokter yang sedang bertugas pun langsung membawa Gio menuju ke instalasi gawat darurat, dengan pandangan khawatir orang-orang yang menyayangi Gio.


"Apa yang terjadi? Kenapa Gio bisa tidak sadarkan diri?" tanya Randi pada anak buahnya.

__ADS_1


Sementara itu Mama Hana sudah lemas, hingga dipapah untuk duduk di bangku tunggu oleh Gita.


......................


__ADS_2