
...Happy Reading...
......................
"Kopi sudah ada, sekarang kita tunggu bahan campurannya datang," gumam Diandra duduk di kantin dengan tiga cangkir kopi di depannya.
Satu cangkir dia nikmati sendiri selagi menunggu, sedangkan dua lagi untuk dia berikan pada Mely dan Sintia.
Setelah barang yang dia pesan dari cleaning servis datang, Diandra kemudian pergi dari area kantin. Mampir dulu ke ruang kerja Sintia di lantai yang berbeda, untuk memberikan kopi.
"Bukannya aku gak pesan kopi?" tanya Sintia, menatap bingung Diandra.
"Tadi Mba Mely bilang, suruh belikan kopi sekalian untuk Mba Sintia," jawab Diandra.
"Oh, ya sudah, kamu taruh saja di sana," jawab Sintia, menunjuk meja kerjanya.
"Baik, Mba," jawab Diandra sambil menaruh kopi di atas meja.
Dia kemudian pamit dari ruangan Sintia dengan seringai tipis di ujung bibirnya.
Dua jam setelah meminum kopi yang dibelikan Diandra, Mely dan Sintia akhirnya memilih untuk pulang lebih cepat, karena keduanya mengalami masalah pencernaan.
Mereka terus saja ingin buang air besar, hingga mereka tidak bisa berada jauh dari toilet. Memang tidak parah hingga harus dibawa ke rumah sakit. Akan tetapi, itu cukup memalukan untuk wanita yang sok cantik dan gila kehormatan itu.
Diandra hanya bisa menahan senyum saat melihat Mely yang terus saja bolak-balik ke toilet, dan lebih parahnya lagi saat dirinya mau ke toilet untuk ke sekian kalinya, bertepatan dengan Gio yang ke luar dari ruangannya.
Mau tidak mau Mely harus menahannya lebih dulu, hanya untuk menunggu Gio selesai berbicara dengan dirinya. Akan tetapi, sepertinya kesialan memang sedang menimpa Mely, hingga tanpa sengaja dia buang angin di depan Gio.
"Astaga, bau apa ini?" tanya Gio sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya.
"M–maaf, Pak," ujar Mely sambil menundukkan kepalanya, menahan rasa malu.
Gio menatap Mely, wanita yang biasa terlihat selalu rapi dengan dandanan yang wah, kini tampak lebih berantakan dan sedikit pucat.
"Kalau kamu sakit, lebih baik izin pulang awal saja, tidak usah dipaksakan," ujar Gio, sebelum akhirnya pergi ke ruangan Randi.
Diandra yang melihat itu dari belakang hanya bisa menunduk seolah merasa bersalah. Walau sebenarnya sekarang dirinya sedang menahan tawa yang hampir meledak.
My Love: [Bagaimana rasanya dikentutin sama sekretaris seksi kamu?🤣]
Gio terkekeh saat melihat pesan yang dikirimkan oleh istrinya. Bisa-bisanya Diandra membuat hal seperti itu menjadi bahan candaan.
__ADS_1
Setelah melihat Mely pulang dan mendapatkan informasi kalau Sintia juga memilih pulang awal, Diandra kemudian bersiap untuk pergi dari mejanya.
"Mau ke mana, Dian?" tanya Mba Tia saat melihat Diandra hendak pergi.
"Aku disuruh Pak Giovano, untuk membeli sesuatu di luar," ujar Diandra sambil menunjukan ponsel yang sudah mati, seolah baru mendapatkan pesan dari Gio.
"Oh, iya-iya," angguk Mba Tia.
Diandra pun langsung berjalan menuju ke lantai tempat ruangan Sintia berada. Dengan sedikit menyelinap hingga tidak ada yang melihat kalau dirinya masuk ke ruangan Sintia.
Dengan memanfaatkan sakit Sintia, Diandra mencoba memeriksa setiap laporan tersembunyi di dalam komputer Sintia.
Hampir satu jam Diandra berkutat di depan komputer milik Sintia, hingga dia bisa mendapatkan beberapa bukti ringan dari kecurangannya di dalam perusahaan.
.
.
Waktu pulang kerja pun datang, para staf sekretaris yang lain sudah diizinkan pulang oleh Gio, hingga kini mereka sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Dian, kamu gak pulang?" tanya Mba Tia yang sudah bersiap.
"Oh, ya udah, kalau gitu aku pulang duluan. Kamu, hati-hati di jalan," ujar Mba Tia yang diiringi dengan para staf sekretaris lainnya, hingga kini tersisa tinggal dirinya yang masih ada di ruangan itu.
Sebenarnya tugasnya sudah selesai dari siang tadi, kini dia hanya sedang melihat berkas dari HRD yang dikirim oleh Randi setelah makan siang.
Gio yang sudah tau kalau Diandra kini sendiri, langsung ke luar dari ruangannya dan menghampiri sang istri.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Gio, sambil berdiri di samping Diandra.
'Salah satu tangannya dia letakkan di meja, hingga kini tubuh Gio berada di atas Diandra.
"Aku sedang melihat berkas dari HRD yang dikirimkan oleh Randi siang tadi," jawab Diandra. Matanya masih serius melihat pada layar komputer yang ada di depannya.
"Lalu bagaimana? Apa ada yang aneh?" tanya Gio.
Diandra sedikit menoleh melihat wajah suaminya, hingga membuat Gio bisa mencuri ciuman dari bibir manis istrinya itu.
"Ck!" Diandra hanya berdecak, sambil menatap malas pada suaminya.
"Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua laporan ini. Tapi, aku pernah mendengar dari para karyawan kalau Sintia sering memotong gaji mereka. Sedangkan di sini, tidak ada riwayat pemotongan gaji. Lalu, ke mana uang yang didapat dari pemotongan gaji karyawan selama ini?" ujar Diandra panjang lebar.
__ADS_1
"Hem, mungkin itu hanya rumor saja? Kita kan belum tau kebenarannya seperti apa, sayang. Lagi pula, memang kamu mendengar ini dari orangnya langsung?" tanya Gio.
Diandra menghela napas, kemudian menggeleng. Dia memang tidak mendengar secara pasti kalau Sintia memang melakukan pemotongan gaji karyawan tanpa sepengetahuan pihak perusahaan.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita pulang. Aku juga udah capek, nih," keluh Gio.
Diandra kembali menoleh, dia memperhatikan wajah suaminya yang memang sudah terlihat lelah. Dia kemudian mengangguk dan membereskan mejanya sebelum beranjak.
"Yuk," ujar Diandra yang langsung dirangkul oleh Gio.
"Keadaan Sintia tadi siang, itu adalah ulah kamu ya, sayang?" tanya Gio pelan-pelan.
Randi ikut bergabung setelah melihat sepasang suami istri itu berjalan menuju lift khusus.
"Iya, sedikit kok. Aku yakin besok pagi mereka berdua akan segar lagi, dan bisa masuk kerja seperti biasa," ujar Diandra disertai kekehan di mulutnya.
"Kamu ini," ujar Gio, yang malah ikut terkekeh melihat kejahilan Diandra pada para stafnya.
"Jangan dilakuin gitu lagi, ya," peringat Gio.
"Iya, ini pertama dan terakhir kalinya," janji Diandra.
Gio dan Diandra langsung masuk ke dalam mobil yang ada di area parkir, mereka berjalan seperti biasa, selayaknya seorang kerabat jauh yang hanya menumpang pulang bersama, mengingat di sana masih ada beberapa karyawan yang sedang mengambil kendaraan untuk pulang.
Diandra berada di samping Randi, yang berada di belakang Gio. Walau saat di mobil, Gio akan langsung bersikap posesif dan manja lagi pada Diandra.
Rutinitas sepasang suami istri itu di lima hari dalam seminggu ini, terus berjalan sama. Diandra yang ikut bekerja di kantor dengan nama lain, kemudian pulang paling terakhir dengan alasan lembur, demi pulang bersama-sama.
Hari demi hari pun berlalu, dengan semakin banyak bukti yangdikumpulkan oleh Diandra dan juga Randi. Keduanya terus bekerja sama, untuk memancing para karyawan yang melenceng dari perusahaan, terutama tiga nama yang sejak awal menjadi target utama Diandra. Siapa lagi kalau bukan Eric, Sintia, dan Mely.
Walaupun sekarang Diandra juga semakin kesulitan berada di kantor, karena Mely kini memusuhinya dan mempersulit pekerjaannya. Itu semua akibat dari insiden kopi yang membuat Mely dan Sintia terkena gangguan pencernaan, dan berakhir dengan pertengkaran, karena Sintia mengira Mely sengaja memberinya obat pencahar.
Namun, semua itu tidak menghalangi Diandra untuk menemukan celah dan bukti dari ketiga orang itu. Seperti saat ini, Gio, Diandra, dan Randi sedang duduk bertiga di ruangan kerja Gio yang berada di rumah.
Ketiganya tampak sibuk mengevaluasi berkas-berkas yang dianggap mencurigakan dari perusahaan cabang dan proyek yang dipegang oleh Eric. Ada beberapa berkas yang ternyata memiliki kesalahan kecil yang berdampak cukup besar untuk perusahaan.
Apa lagi Eric melakukan ini berulang kali. Jelas itu semua membuat perusahaan harus menanggung kerugian yang cukup besar, karena kecurangan yang mereka lakukan.
......................
......................
__ADS_1