Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Belajar masak


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Hari berlalu begitu saja, kini sudah seminggu lebih Gio dan Diandra berada di Jakarta. Semakin hari, hubungan Diandra dan keluarga Gio semakin dekat, terutama dengan para perempuan dan si kecil Ethan.


Begitu juga dengan hubungan rumah tangga Gio dan Diandra sendiri, kini setidaknya Diandra sudah lebih terbuka pada Gio, walau memang masih lebih mementingkan gengsi dan egonya. Ah, kalau tidak begitu, mungkin bukan Diandra namanya.


Seperti pada siang ini, Diandra sedang belajar memasak bersama dengan Mama Hana, di sana juga ada Gita dan Ethan yang sedang duduk cantik di kursi makan, bersiap untuk menjadi penonton sekaligus juri.


Sejak tiga puluh menit yang lalu, Diandra sudah berkutat dengan segala peralatan dapur bersama dengan Mama Hana yang siap mengawasi pekerjaan menantu perempuannya.


Dengan menggunakan celemek berwarna putih tulang, dan rambut diikat asal, Diandra tampak sedang sibuk memasak capcay dan ayam teriyaki, yang sudah beberapa hari ini dia pelajari dari Mama Hana.


Kali ini Diandra memasak dengan target untuk diberikan pada Gio sebagai makan siang, hingga dia bertekad untuk memasak sendiri tanpa bantuan dari Mama Hana atau dari pelayan yang bekerja di rumah, dan tentunya harus enak.


Dengan jahil Gita mengeluarkan ponsel lalu memotret kakak iparnya itu dari jauh, lalu mengirimkannya pada Gio.


Menantu yang baik, lagi berusaha belajar masak sama Mama mertuanya. Itulah tulisan yang ada di bawah foto Diandra.


"Ateu, kira-kira, makanan yang dibuat Aunty Dian, enak, gak?" tanya Ethan, sambil melihat Diandra yang sudah hampir menyelesaikan masakannya.


Gita yang sedang sibuk dengan ponsel lalu beralih pada keponakannya.


"Gak tau juga sih, ini kan sudah percobaan kedua Kak Dian memasak hari ini, masa masih gak enak juga," jawab Gita, sambil menggaruk belakang kepalanya.


Tadi pagi setelah Gio berangkat ke kantor, Diandra sudah mencoba memasak menu yang sama dengan menu yang sudah diberikan Mama Hana dua hari yang lalu, tanpa diawasi oleh Mama Hana yang sudah ada janji dengan teman-temannya.


Namun, ternyata semuanya gagal, ayam teriyakinya terlalu keras, sedangkan sayur capcaynya belum matang, ditambah dengan rasanya yang juga masih belum bisa dimakan, karena Diandra salah memasukan garam, hingga rasanya terlalu asin.


Kini setelah istirahat sebentar dan bertanya banyak hal lagi pada Mama Hana, Diandra mencoba membuat menu yang sama, dengan berpatokan pada kesalahan tadi pagi.


"Selesai!" seru Diandra sambil mengacungkan sutil di tangannya.


Mama Hana tersenyum dia kemudian maju mendekat menghampiri menantunya.


"Udah dicobain belum?" tanyanya.


"Hehe, udah kok, Mah," jawab Diandra, wajahnya tampak berantakan dengan anak rambut yang sedikit menutupi sisi wajahnya, dan keringat di keningnya.


"Enak, gak?" tanya Mama Hana lagi, sambil mengambil sendok, bersiap untuk mencicipi masakan menantunya.


Tampaknya mertua yang satu ini tidak ada kapoknya untuk mencoba makanan yang dimasak oleh Diandra, walau terkadang rasanya tidak karuan dan membuat perut begerjolak.


"Warnanya sih udah bagus," puji Mama Hana, sambil mencoba mengambil sedikit kuah capcay yang masih berada di atas wajan, kemudian mencicipinya.


Gita dan Ethan yang merasa penasaran pun ikut masuk ke dapur, hingga berdiri di samping Diandra. Mereka menantikan reaksi dari Mama Hana.


"Gimana, Mah?" tanya Gita tidak sabar.

__ADS_1


Mama Hana tampak terdiam, dia melihat ketiga orang di depannya bergantian kemudian mengernyitkan keningnya, yang otomatis diikuti oleh Diandra, Gita, dan Ethan.


"Gak enak ya, Mah?" tanya Diandra dengan suara lirih, hampir putus asa.


"Kata siapa?" Mama Hana malah bertanya balik.


"Hah?!" ketiga orang itu berseru bersamaan, hingga membuat Mama Hana tidak sanggup lagi menahan tawa.


"Kalian ini kenpaa, sih?" tanya Mama Hana sambil terkekeh pelan.


"Mama, baik-baik aja, kan? Perasaan aku tadi gak salah masukin garam lagi deh ... lagian masa ada racun sih di dapur?" ujar Diandra yang membuat Gita dan Ethan langsung menatap Diandra dengan mata melebar.


"Apa? Maksud, Kakak, Mama keracunan? Kak, jangan buat aku panik deh," ujar Gita, menatap khawatir Mama Hana.


"Hahahaha! Kalian ini ngomong apa sih? Mama masih baik-baik aja." Mama Hana tergelak melihat wajah bingung bercampur khawatir anak, menantu, dan cucunya.


"Terus, kenapa muka, Mama, kayak gitu?" tanya Gita.


"Sini, cobain deh." Mama Hana menarik Gita untuk lebih dekat dengannya, mengambil lagi sedikit kuah Capcay lalu bersiap menyuapkannya pada Gita.


Namun, Gita langsung menghindar karena takut rasanya akan aneh, atau bahkan tidak enak.


"Coba dulu," ujar Mama Gita, sambil kembali menyodorkan sendok di tangannya.


Dengan sedikit ragu, Gita membuka mulutnya lalu menerima suapan dari tangan Mama Hana. Gita bahkan sampai memejamkan matanya erat, takut rasanya akan membuat dia tidak kuat.


"Ini enak, Mah!" serunya, menatap Mama Hana dan Diandra bersamaan.


"Gak usah bohong deh, Gita. Bilang aja kalau rasanya gak enak, aku gak apa-apa kok," ujar Diandra seakan sudah hampir menyerah dengan kebodohannya di dalam memasak.


Entah kenapa, sejak dulu dia memang sulit untuk bekerja di dapur. Untuk bisa satu resep masakan saja, dia harus mencobanya beberapa kali.


"Aku gak bohong, Kak. Ini beneran enak," ujar Gita lagi, mencoba meyakinkan Diandra.


"Aku ... aku, aku mau coba!" Ethan tidak mau kalah, dia meraih sendok yang masih berada di tangan Gita.


Gita mengambilkan wortel untuk Ethan cicipi.


"Eum, enak, Aunty!" seru Ethan dengan mulut penuh wortel.


"Beneran, Mah? Emang rasanya enak?" Diandra bertanya pada Mama Hana, dia masih belum yakin, selama Mama Hana belum memberikan penilaian.


Mama Hana mengangguk, hingga membuat Diandra tersenyum kegirangan.


"Ah, akhirnya aku bisa juga," ujar Diandra diselingi oleh tawanya.


"Wah, kayaknya ada yang jadi nih, ke kantor Kak Gio," goda Gita.


"Ish, apa sih, Git?" Diandra menyenggol Gita dengan semburat merah di pipinya.

__ADS_1


Mama Hana dan Gita tampak menahan senyum melihat Diandra yang tampakĀ  malu-malu.


"Nah, sekarang kita coba dulu ayamnya." Mama Hana memberi instruksi pada semuanya.


Deg!


Kini semua orang kembali mengalihkan perhatiannya pada Mama Hana.


"Ini pasti enak juga dong, iya kan, Kak?" ujar Gita dengan senyum hambar.


"Heuheu, gak tau juga sih, aku gak yakin kayaknya," jawab Diandra ragu.


"Astaga, Kak Dian, jangan bikin kita jantungan lagi deh," melas Gita yang langsung mendapatkan kekehan dari Mama Hana.


"Kamu lebay banget sih, Git, masa nyicipin makanan bisa bikin jantungan," ujar Mama Hana.


"Habisnya Kak Dian gitu sih jawabnya." Gita melihat kesal pada kakak iparnya itu.


"Ya ... aku kan memang gak yakin sama rasanya, soalnya selama ini pasti gagal terus," ujar Diandra, masih bisa mempertahankan senyumnya.


"Sudah-sudah, ini Mama coba dulu," ujar Mama Hana langsung memasukkan sendok ke dalam mulutnya.


"Eum, ini enak juga. Wah, kayaknya kemajuan kamu banyak juga, sayang," ujar Mama Hana, sambil mengacungkan dua ibu jarinya.


"Hah? Beneran, Mah? Mamah, gak bohong kan?" tanya Diandra dengan wajah sumringah.


"Kalau gak percaya, coba aja sendiri," ujar Mama Hana, sambil berlalu begitu saja dari dapur.


Gita yang penasaran langsung mengambil sendok dan kembali mencicipi ayam teriyaki, buatan Diandra.


"Heum iya, ini juga enak, Kak," seru Gita.


Diandra tampak menghembuskan napas kasar, merasa lega karena sudah berhasil memasak dua buah hidangan untuk makan siang suaminya.


"Gita, kamu anterin aku ke kantor Gio, ya," pinta Diandra.


"Eh, kok aku?" kaget Gita.


"Ya, terus siapa lagi? Kan aku belum pernah ke kantor Gio," ujar Diandra.


"Kan ada sopir, Kak," tawar Gita.


"Nanti ke dalamnya gimana, kalau gak ada temannya?" keluh Diandra.


Diandra boleh memiliki percaya diri tinggi di tempat asalnya, secara dia juga adalah salah satu pengurus dari hotel Lembayung. Akan tetapi, tidak untuk di Jakarta, di sini dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang tidak mempunyai pekerjaan lain, selain duduk diam di dalam rumah.


Apalagi, perusahaan yang Gio pegang bukanlah perusahaan biasa. Dia tidak memiliki keberanian untuk datang sendiri ke sana.


......................

__ADS_1


__ADS_2