
...Happy Reading...
......................
Diandra duduk di ruang tunggu Bandara bersama penumpang lainnya, di luar hujan lebat disertai angin kencang terlihat sangat menegangkan, membuat seluruh orang yang berada di bandara itu terlihat tegang.
Udara dingin pun terasa menusuk tulang, Diandra sampai harus mengeratkan jaket yang dia pakai, demi menghalau rasa dingin itu.
Tangannya masih bergetar dengan jantung yang terus bertalu. Bayangan kejadian turbulensi beberapa saat lalu, masih saja terasa menegangkan sampai saat ini.
Sudah satu jam berlalu, Diandra dan para menumpang lainnya masih terdampar di tempat yang sama. Mereka masih menunggu cuaca akan kembali kondusif dan aman untuk terbang.
Berbagai macam doa pun terus bergumam dari banyak mulut di sekitar Diandra, begitu juga dengan Diandra sendiri. Hilangnya sinyal pun semakin menambah panik semua panjang yang terpaksa harus transit di sana.
"Ini, aku beli dua," ujar seseorang yang tidak lain adalah Winda, perempuan itu tampak menyodorkan segelas kopi pada Diandra.
"Terima kasih." Diandra mengambil segelas kopi dari Winda, dia menangkupkan kedua tangannya di gelas, agar terasa lebih hangat.
Winda tampak tersenyum kemudian duduk di samping Diandra.
"Ini penerbangan pertama kamu?" tanya Winda, kemudian menyeruput kopi di tangannya.
"Sebenarnya enggak juga, dulu waktu aku masih remaja, Ayah dan Bunda sering mengajakku berjalan-jalan ke negara tetangga. Tapi, ini adalah pertama kalinya aku pergi sendiri," jawab Diandra, kemudian ikut menyeruput kopi pemberian Winda.
"Wah, pantas saja kamu terlihat tegang banget," ujar Winda dengan kekehan kecil di akhir katanya.
Diandra tersenyum tipis, ternyata selama ini rasa takutnya begitu terlihat oleh orang lain. Padahal dia sudah berusaha menyembunyikannya di balik wajah datarnya.
"Sangat terlihat ya, Mba?" tanya Diandra.
"Heem, kamu sangat kentara," jawab Winda sambil mengangguk kepala.
"Kamu belum bisa menghubungi keluarga kamu?" tanya Winda saat melihat Diandra masih tampak gusar sambil memegang ponselnya.
"Belum, Mba. Sepertinya karena cuaca buruk, makanya terjadi gangguan sinyal," tebak Diandra.
"Hem, mungkin juga. Ya sudah, tunggu sebentar lagi, setidaknya sampai badai ini selesai, mungkin nanti kamu bisa menghubungi keluarga kamu," ujar Winda, mencoba menenangkan Diandra.
"Iya, Mba," angguk Diandra.
Berulang kali Diandra mencoba menenangkan diri, walau kini pikirannya terus saja tertuju pada sang suami yang pastinya sudah sangat mengkhawatirkannya di negara S.
Tangannya tampak mengambil kembali ponsel di dalam tas miliknya, kemudian mencoba melihat sinyal yang terlihat di layar. Diandra menghembuskaan napas panjang berulang kali saat ternyata belum juga ada sinyal untuk menghubungi suami dan keluarnya.
__ADS_1
Jari lentiknya menggeser layar, menjelajahi galeri untuk melihat foto yang terdapat di sana. Begitu dia membukanya gambar kenangannya dan sang suami langsung menyapa.
Entahlah sejak kapan gambar itu bisa ada di dalam ponselnya, mungkin ini semua adalah ulah suaminya. Akan tetapi, kini dia bersyukur karena dia masih bisa melihat wajah Gio, walau mereka sedang berada jauh, terpisahkan oleh jarak.
"Kamu pasti sangat khawatir sekarang," gumam Diandra sambil melihat foto pernikahan mereka di dalam ponsel miliknya.
Bayangan wajah panik Gio saat dia hanya menghilang sebentar, waktu dia diam-diam meninggalkannya ketika sedang tidur untuk menemui Ana, tiba-tiba saja melintas di ingatkan.
Walaupun dirinya hanya menghilang sebentar saja, Gio sudah sangat panik, padahal mereka sedang berada di tempat yang sama. Apa lagi saat ini, ketika mereka sedang berjauhan.
"Itu suami kamu?" tanya Winda saat tidak sengaja melihat layar ponsel Diandra.
Diandra menoleh, dia kemudian tersenyum sebelum menjawab pertanyaan wanita yang telah menjadi teman barunya. Mungkin?
"Iya, Mba," angguknya.
"Sepertinya wajahnya tidak asing. Tapi, siapa ya?" ujar Winda dengan kerutan di keningnya, matanya tampak meneliti gambar yang ada di layar ponsel Diandra.
"Oh ya? Apa, Mba, mengenal suamiku?" tanya Diandra menatap wajah Winda dengan wajah penasaran.
"Entahlah, mungkin hanya familiar saja," jawab Winda menhedikkan kedua bahunya.
Diandra tersenyum, dia kemudian mengalihkan pandangannya pada gambar di layar ponsel sebelum akhirnya dia simpan kembali di dalam tas.
"Kalian pengantin baru, ya?" tanya Winda tiba-tiba.
"Oh, jadi kalian masih pengantin baru? Pantas saja kamu sepertinya sangat mengkhawatirkan suami kamu, padahal seharusnya dia yang sedang mengkhawatirkan kamu di sini," ujar Winda sambil tersenyum.
Diandra tersenyum mendengar perkataan Winda, pandangannya dia alihkan untuk melihat lurus ke depan.
"Aku mengkhawatirkannya karena aku yakin, dia akan jauh lebih mengkhawatirkan aku di sana," jawab Diandra kemudian, dengan raut wajah yakin.
Ya, perkataan Diandra memang tidak salah, karena saat ini Gio yang masih menunggu kabar dari Diandra di Bandara, terlihat masih saja gusar.
"Sudahlah Gio, jangan kamu terus berjalan bulak-balik tidak karuan seperti itu, aku pusing melihatnya," gerutu Randi dengan wajah kesalnya.
Sejak beberapa waktu laku sahabat sekaligus bosnya itu terus saja berjalan bolak-balik tidak karuan di depannya. Padahal selama ini dia tidak pernah melihat Gio seperti itu sebelumnya.
Dalam hati Randi memang sangat prihatin dengan apa yang sedang dialami oleh Diandra dan Gio. Akan tetapi, dia juga jengah melihat kekhawatiran Gio yang terlihat sangat berlebihan.
Aku kira hanya suami yang sedang melahirkan saja yang akan melakukan hal bodoh seperti yang aku lihat di film. Tapi, ternyata sekarang aku melihatnya sendiri, batin Randi, menghembuskan napas kasar.
Gio tampak idak menghiraukan gerutuan dari asistennya itu, walau beberapa saat kemudian laki-laki itu tampak berhenti kemudian menatap Randi dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
Randi yang melihat itu mengernyitkan keningnya, dia bersiap untuk mendengar kata yang ke luar dari mulut bosnya itu.
"Apa kamu tidak bisa menyewa pesawat pribadi untuk menyusul Diandra ke sana?" tanya Gio, dengan raut wajah yang sangat serius.
Randi yang mendengar itu hampir saja tersedak oleh salivanya sendiri, dia bahkan sampai terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang terdengar nyeleneh di telinganya.
"Ini bukan masalah pesawat, Gio. Ini adalah masalah cuaca, jadi walaupun kamu menyewa sepuluh pesawat pribadi, tetap saja mereka juga tidak bisa membawa kamu untuk menyusul Diandra ke sana, sebelum cuacanya membaik," jelas Randi dengan nada suara penuh penenkanan di setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
"Ah iya, aku lupa," ujar Gio dengan wajah tidak bersalahnya. Sungguh otaknya seakan tiba-tiba saja kosong dan tidak bisa dipakai untuk berpikir jernih.
Randi hanya bisa menatap wajah kacau Gio sambil menghembuskan napas kasar berulang kali, untuk menambah kesabarannya kembali sebanyak-banyaknya.
Sungguh, kehilangan kabar Diandra saja sudah seperti ini, entah bagaimana jika memang terjadi sesuatu pada wanita yang sudah menjadi pawang dari seorang casanova itu.
.
.
Sekitar pukul tiga dini hari, akhirnya pesawat yang Diandra tumpangi sudah bisa mendarat di Bandara internasional negara S. Gio berdiri di terminal kedatangan dengan wajah sumringah, bersiap untuk menyambut kedatangan sang istri, setelah drama penerbangan yang hampir membuatnya terkena serangan jantung.
Diandra tampak berjalan dengan membawa koper kecil di tangannya, langkah pasti dengan mata yang mengedar mencari keberadaan sang suami. Sedangkan di sampingnya Winda berjalan santai dengan koper di tangannya.
"Kita berpisah di sini, ya. Aku harus buru-buru sampai di apartemen adikku," ujar Winda mengalihkan perhatian Dinadra.
"Apa, Mba, gak bisa menunggu sebentar, aku mau mengenalkan Mba pada suamiku?" tanya Diandra, dia bahkan belum menemukan suaminya, di tengah kerumunan para keluarga yang menjemput penumpang lainnya.
"Nanti saja, ya. Kamu kabari aku lagi saja, kalau aku ada waktu luang pasti kita berkumpul dengan suami kita masing-masing," jawab Winda yang akhirnya diangguki oleh Diandra.
"Terima kasih ya, Mba. Aku gak tau, bagaimana bisa melewati semua ini, kalau sampai gak ada Mba di sampingku," ujar Diandra sambil berpelukan kilas, sebelum berpisah.
"Aku hanya melakukan apa yang perlu aku lakukan, kamu tidak usah sungkan," jawab Winda.
Keduanya pun berpisah begitu saja, dan dengan langkah cepat sedikit terburu-buru, Winda pun meninggalkan Diandra dan berjalan lebih dulu.
Diandra sempat memperhatikan wanita yang sudah banyak berjasa untuknya di dalam penerbangan kali ini, sebelum akhirnya pelukan tangan kekar terasa sedikit kasar, hingga tubuhnya seperti tertabrak.
Walau begitu, DIandra tahu itu tangan milik siapa, wangi aroma tubuh sang suami langsung merebak memenuhi indra penciumannya, saat Gio memeluknya begitu erat.
Tangan Diandra langsung memeluk tubuh bergetar sauminya, bibirnya langsung tertarik ke atas, membentuk lengkung sempurna, walau kaca yang mulai menghalangi pandangannya pun tidak bisa dia bendung.
"Sayang, aku senang sekali karena bisa melihatmu lagi," ujar Gio, dengan suara parau dan terdengar berat.
Tetes air mata pun akhirnya tidak bisa terbendung lagi, begitu indra pendengaran Diandra menangkap suara yang sangat dia rindukan, suara yang sangat ingin dia dengar beberapa jam yang lalu, untuk dapat menenangkan hatinya yang sedang ketakutan dan gelisah.
__ADS_1
......................
Hah, akhirnya bisa bertemu lagi🥲