Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Aku bukan orang lain


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Kenapa sebagian orang, cenderung lebih memperhatikan orang yang sedang sakit, dibandingkan denganorang yang sehat? Apa orang yang sehat tidak berhak untuk diperatikan?" tanya Diandra.


Ada rasa sakit yang meresap di dalam hati Gio, saat baru sadar kalau Diandra sedang mengeluh tentang perasaan padanya.


Gio menggenggam tangan Diandra dengan begitu lembut, menyalurkan rasa hangat dan ketenangan untuk istrinya.


"Tidak ada yang pantas membuat kamu iri pada orang yang sakit, sayang. Seharusnya kamu lebih bersyukur, karena diberikan tubuh yang kuat dan jauh lebih sehat dari yang lainnya," jawab Gio, sambil mengusap pelan punggung tangan Diandra.


"Bilang sama aku, kalau kamu sedang ingin bermanja atau bahkan lebih diperhatikan. Aku akan dengan senang hati, memberikan semua itu kepadamu, sayang," sambung Gio lagi.


Kerutan di kening Diandra kian terlihat, saat mendengar ucapan dari bibir Gio. Dia merasa ada yang salah di dalam ucapan itu.


"Memang aku perempuan apaan, minta perhatian sama orang lain gitu?" Diandra tiba-tiba melepaskan tanganya dari genggaman Gio.


Tentu saja sikap Diandra yang tiba-tiba, membuat Gio terkejut dan menatap heran istrinya.


Apa yang salah dengan ucapan aku, kok dia malah marah gitu sih? batin Gio bertanya-tanya.


Namun, sedetik kemudian Gio tersenyum simpul sambil menatap Diandra. "Aku bukan orang lain kok, sayang. Aku kan suami kamu."


Diandra menutup matanya, untuk menghindari perkataan Gio yang akan semakin menyudutkannya.


Gio hanya terkekeh kecil, melihat tingkah sang istri yang menurutnya sangat manis dan lucu.


"Ya sudah, kamu istirahat lagi saja. Aku ke luar dulu ya," ujar Gio sambil membereskan bekas makan Diandra, kemudian melangkah menuju ke pintu ke luar kamar.


"Jangan lupa makan," ujar Diandra, tanpa membuka matanya.


Gio tersenyum, dia kembali berbalik demi melihat wajah istrinya. "A–apa, sayang? Aku gak dengar?"


"Gak ada siaran ulang!" jawab Diandra sambil membetulkan posisi tidurnya.


"Ya, aku tau ... kamu tadi bilang 'sayang' sama aku, kan?" goda Gio sambil menahan senyumnya.


"Eh?! Siapa juga yang bilang gitu? Enggak tuh!" Diandra langsung membuka mata, terkejut dengan perkataan Gio.


Namun, sedetik kemudian dia menolehkan wajahnya berlawanan dengan Gio, saat melihat Gio yang tersenyum menggoda kepadanya.


Astaga, nyesel aku ngomong gitu, kalau jadinya kayak gini, batin Diandra merasa menyesal.


Gio terkekeh melihat Diandra yang tampak malu. Dengan sengaja Gio malah berjalan kembali mendekati istrinya.

__ADS_1


"Ngapain kamu malah balik lagi? Udah sana, katanya mau ke luar," ujar Diandra yang tiba-tiba merasa gugup tidak karuan.


"Aku mau denger dulu ... tadi kamu bilang apa, coba ulang," ujar Gio yang kini kembali duduk di sisi ranjang.


"Apa sih? Udah dibilang gak ada siaran ulang ... ya, gak ada," tolak Diandra.


"Ya udah, kalau kamu gak mau bilang ... aku gak akan ke luar dari kamar ini," ancam Gio, sambil menaruh kembali nampan di tangannya ke atas nakas.


"Eh?!" Pikiran Diandra tiba-tiba saja kosong, mendengar perkataan Gio yang berupa ancaman berselimut modus juga.


"Ya udah, diam aja di sini, biar kamu kelaparan sekalian!" tantang Diandra, yang malah membuat senyum di wajah Gio semakin merekah.


"Oh, jadi sebenernya kamu mau aku temenin ya? Ya ampun, bilang gitu aja susah banget sih, Neng," ujar Gio, diiringi dengan kekehan kecil di sela kata-katanya.


Diandra melebarkan matanya, sambil menatap Gio tajam, dia cukup terkejut dengan perkataan Gio, yang selalu membalikan keadaan mereka.


Ini orang waktu kecil dikasih makan apa sih, kok percaya dirinya tinggi banget? batin Diandra mengumpat Gio.


"Idih, siapa juga yang mau ditemenin sama kamu? Gak usah Ge'er ya," bantah Diandra.


"Ya ampun, Neng. Gak usah malu kali sama Aa' mah, kan kita udah suami istri." Gio berucap dengan penuh drama, seakan sedang memerankan seorang laki-laki desa.


Diandra bergidik ngeri, melihat perubahan yang dilakukan oleh Gio.


"Nang neng ... Nang neng, apa sih? Gak usah panggil aku kayak gitu, aneh tau!"


Gio semakin gencar menggoda Diandra, dia seakan sedang memanfaatkan situasi dan kondisi saat ini.


Ya ampun, Dian kamu kalau lagi gak galak kayak gini kok jadi lucu banget sih, bikin gemes deh! Coba aja kalau kamu udah bisa nerima aku, pasti aku peluk setiap waktu. batin Gio, gemas sendiri melihat Diandra yang seakan ingin melawannya, walaupun kondisi tubuh tidak memungkinkan.


"Giovano!" geram Diandra sudah kehabisan kata-kata.


"Ya, sayang!" jawab Gio cepat.


Diandra menutup matanya menahan geram laki-laki yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Udah sana ke luar, aku pusing lihat kamu di sini," usir Diandra.


"Iya, iya ... ini aku ke luar. Tapi, kamu harus janji untuk istirahat ya."


Akhirnya Gio sudah menyerah menggoda Diandra, dia kasihan juga melihat istrinya yang terus menahan kesal padanya.


"Aku ke luar nih ya? Jangan kangen loh." Gio kembali berucap sebelum beranjak dari ranjang.


"Iya, udah sana!" Diandra sedikit mendorong tubuh Gio, walau itu sebenarnya tidak berarti sama sekali untuk Gio.

__ADS_1


"Iya, iya. Ini aku bangun." Gio berdiri di samping ranjang, kemudian membenarkan letak selimut dan bantal untuk istrinya.


"Udah nyaman?" tanya Gio, yang langsung diberi anggukkan oleh Diandra.


"Ya sudah, selamat istirahat sayang. Aku ke luar dulu," ujar Gio.


Diandra kembali mengangguk, dia kemudian melihat Gik yang berjalan menuju ke luar kamar. Sesekali laki-laki itu tampak menoleh kebelakang, hingga mata keduanya bertabrakan.


Namun, Gio tidak lagi menggoda Diandra, dia hanya tersenyum lembut dan mengangguk samar, meyakinkan istrinya kalau dia akan selaku berada di samping Diandra.


Diandra menatap daun pintu yang sudah tertutup rapat, menelan tubuh Gio di baliknya, hingga menghalangi pasangan mata.


Walaupun dia sempat kesal dengan godaan satu suaminya itu. Akan tetapi, saat mengingatnya kembali, perempuan itu bahkan tidak bisa menahan senyumnya.


Sejenak dia bahkan bisa melupakan setiap masalah yang sedang menimpanya, saat Diandra berada di samping Gio.


Segala tingkah laki-laki itu yang selalu membuatnya kesal, tanpa sadar telah membantunya untuk ke luar dari masalah di dalam pikirannya, walau rasa trauma dan takut itu masih terasa di dalam hatinya.


.


.


Sedangkan di sisi lain, Gio baru saja sampai di dapur, dia menaruh nampan di atas meja makan, sambil mengedarkan pandanganya, mencari dua orang laki-laki yang tadi masih berada di sana.


"Ke mana mereka?" ujar Gio, sambil melihat sekitarnya.


Namun, Gio sama sekali tidak menemukan keberadaan Randi dan Romi di rumah itu.


"Apa mereka sudah pergi?" tanyanya lagi, sambil tersenyum senang.


"Hah! Baguslah kalau mereka sadar diri, untuk tidak mengganggu waktuku dan Diandra.


Namun, saat dia hendak mencuci tangan dan mengambil jatah bubur miliknya, matanya melebar melihat kekacauan yang ada di sana.


"Astaga! Ada apa ini? Kenapa semuanya berantakan seperti ini?" ujar Gio, melihat semua bahan pelengkap bubur yang tadi dia siapkan sudah habis tidak bersis.


Gio mengangkat mangkuk dan piring kecil yang tadi menjadi tempat dirinya menaruh pelengkap dan tomping bubur yang kini sudah kosong.


Gio semakin dikejutkan lagi, saat dirinya melihat ke arah washtafel, di sana ada dua mangkuk bekas bubur dan juga gelas yang masih kotor.


"Dasar asisten tidak tau diri! Sudah makan di rumah orang, bekasnya juga gak diberesin," geram Gio, melihat semua kekacauan di dapur itu.


......................


Gimana-gimana pilih mamas Ezra atau Gio nih? Yang satu duda dingin tapi posesif, yang satu casanova tobat yang jadi super sabar dan penuh kasih sayang😂

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, terima kasih 🙏🥰


__ADS_2