
...Happy Reading...
....................
Pagi ini Gio tengah berada di ruang kerjanya, bersama beberapa orang anak buah yang sudah dia tugaskan di beberapa tempat, untuk mencari tahu masalah Rani.
"Apa yang kamu dapatkan dari penyelidikanmu selama ini?" tanya Gio pada salah satu anak buahnya yang berdiri berjejer di depannya.
Anak buahnya itu tampak menyerahkan berkas pada Gio sebelum memulai penjelasnnya. Gio langsung menerima dan membacanya perlahan.
"Saya mendapatkan kalau kejadian kebakaran yang dialami oleh kakak dari Mang Aan dan keluarganya, bukanlah sebuah kecelakaan biasa. Sepertinya ada keterlibatan seseorang di balik ini semua."
Gio mendengarkan dengan seksama, sambil terus membaca setiap kata di berkas laporan dari anak buahnya.
"Saya juga baru mengetahui kalau kakak dari Mang Aan, sebelumnya bekerja di salah satu club malam di daerah Jakarta. Mereka pindah baru beberapa bulan sebelum kebakaran itu terjadi."
Gio mengerutkan keningnya dalam saat mendengar informasi dari salah satu anak buahnya itu.
"Club malam?" ulang Gio, seakan tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Benar, Pak," jawab laki-laki dengan potongan rambut cepak itu.
"Apa kami tau nama club malam itu, atau di mana tempatnya?" tanya Gio lagi.
Dia cukup banyak mempunyai kenalan para bos club malam, mengingat masa lalunya yang akrab dengan semua itu.
"Semuanya ada di dalam berkas, Pak," jawab laki-laki cepak itu.
Gio langsung kembali mengalihkan pandangannya pada berkas, setelah dia menemukan apa yang dia cari, senyum smirk terlihat di bibirnya.
"Kirimkan ini pada Randi, suruh dia mencari tau apa yang terjadi di club malam itu," perintah Gio dengan nada suara tegas.
"Baik, Pak!" sambut tegas laki-laki cepak itu, lalu memilih pamit dari sana, untuk mengerjakan tugas baru sari bos besarnya itu.
Setelah pintu ruang kerja tertutup kembali, kini giliran anak buah yang lainnya yang memberikan laporannya pada Gio.
Satu per satu dari mereka pun bergiliran untuk melaporkan semua hasil kerjanya, hingga siang hari Gio baru saja ke luar dari ruangan kerja, dengan orang terakhir yang melaporkan hasil investigasinya.
Bersamaan dengan itu Diandra juga baru saja ke luar dari kamar, setelah dirinya menyelesaikan rapat virtual bersama Romi. Ya, selama dia berada di vila begitulah cara kerjanya.
Tidak ada yang tahu kalau Diandra di vila untuk mengurus masalah Rani atau Ana. Diandra memilih untuk menyembunyikannya, sampai saatnya nanti dia akan membawa Rani kembali pulang dan bertemu seluruh keluarganya.
"Sayang, kamu udah selesai rapatnya?" tanya Gio, langsung menghampiri istrinya.
"Heem, baru saja. Kamu juga udah selsai?" tanya Diandra.
__ADS_1
Gio hanya mengangguk sebagai jawaban, dia kemudian bergelayut manja pada istrinya.
"Kenapa?" tanya Diandra, melihat wajah lelah suaminya.
"Gak apa, cuman lagi sedikit pusing aja," jawab Gio mencari perhatian. Walau sebenarnya kepalanya memang terasa sedikit pening, mungkin karena dia terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini.
"Ya udah, mending kamu istirahat dulu di kamar, biar nanti aku bawakan makan siang kamu." Diandra langsung menggandeng Gio dan membawanya ke kamar.
"Aku gak apa-apa, sayang." tolak Gio, merasa enggan untuk masuk ke kamarnya
"Ayo aku antar kamu ke kamar." Diandra tidak menghiraukan penolakan suaminya, dia langsung menarik Gio masuk ke kamar.
"Kamu duduk di sini, aku mau ngambil makna siang dulu," ujar Diandra setelah mendudukkan Gio di kursi.
Gio tersenyum kemudian mengangguk, terasa sangat senang saat dia bisa merasakan perhatian dari istrinya itu.
Gio merebahkan tubuhnya di sandaran kursi hingga kepalanya sedikit mendongak. Dia menutup matanya dengan helaan napas lelah terdengar berulang.
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka disusul dengan kemunculan Diandra dengan nampan di tangan.
Gio menoleh seiring matanya yang terbuka, dia kembali menegakkan tubuhnya dengan senyum teduh terukir di wajah tampannya.
"Ayo makna dulu, nanti baru terusin istirahatnya," ujar Diandra sambil mengambil piring berisi menu makan siang dari atas nampan.
Perempuan bertubuh tinggi semampai itu duduk di samping suaminya, lalu mulai mengambilkan satu suapan nasi di sendok. Dia kemudian mendorongnya ke depan mulut Gio.
Diandra mengangguk samar kemudian melihat sendok ditangannya sebagai isyarat agar Gio membuka mulutnya.
Gio tersenyum kemudian mulai membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari istri tercintanya.
"Sekarang giliran kamu, sayang," ujar Gio sambil mengambil sendok di tangan Diandra lalu mengambilkan makanan untuk istrinya.
Ya, sepertinya aktivitas makan dengan satu piring dan sendok yang sama, menjadi salah satu kegiatan favorit untuk pasangan suami istri itu, hingga hampir di setiap mereka makan bersama, akan ada degan saling menyuapi.
Kegiatan kecil yang sering kali dianggap kekanakan itu, ternyata bisa membuat suatu hubungan menjadi lebih dekat, sama seperti Diandra dan Gio.
"Apa ada yang anak buah kamu dapatkan tentang masalah Ana?" tanya Diandra, saat keduanya sedang bersantai di balkon kamar.
Setelah selesai makan, Gio mengajak Diandra untuk bersantai dulu, padahal istrinya itu menyuruhnya untuk istirahat.
Namun, rasanya Gio tidak terbiasa untuk langsung tidur di saat baru saja selesai makan.
"Heem, sepertinya ini melibatkan seseorang yang berpengaruh di bekanganya, makanya Rani atau Ana, tidak mau berbicara jujur kepadamu," jawab Gio.
"Orang berpengaruh? Maksud kamu?" Kening Diandra tampak berkerut dalam, dia memandang wajah Gio lekat.
__ADS_1
"Untuk sekarang ini masih menjadi perkiraan aku saja, karena aku sendiri belum menemukan buktinya," jelas Gio lagi.
"Tapi, siapa orang berpengaruh yang kamu curigai? Dan, kenapa Ana bisa terlibat dengan orang itu?" tanya Diandra.
"Aku belum bisa memberitahu kamu, sayang. Setidaknya sampai aku yakin kalau memang yang aku curigai benar adanya," jawab Gio.
"Ish, kamu ini, bikin kau penasaran saja," decak DIandra.
Gio terkekeh kecil sambil mengelus lembut kepala istrinya, "Sabar, sayang. Kalau sudah waktunya pasti aku akan memberitahu yang sebenarnya."
Diandra tidak menjawab, dia hanya memajukkan sedikit bibirnya sebagai tanda protes kepada suaminya.
"Jangan berekspresi seperti itu, nanti aku gak akan tahan," ujar Gio, sedikit menggoda istrinya.
"Apa? Memang aku gimana?" tanya Diandra yang belum mengerti arti dara kata-kata suaminya, dia bahkan masih memajukan bibirnya hingga membuat Gio semakin gemas.
"Kamu menyuruhku istirahat, tapi wajah kamu membuatku tidak akan bisa istirahat, sayang." Gio mencubit gemas pipi Diandra.
"Gak usah ngegombal siang-siang begini." Diandra memalingkan wajahnya dari suaminya.
"Ah, sepertinya kamu memang berniat untuk menggodaku siang ini." Gio menjeda perkataannya sambil bangkit dari kursi lalu berdiri di depan istrinya.
"A–apa maksud kamu?" tanya Diandra bingung, tubuhnya refleks menjauh dari suamiya, hingga punggungnya membentur sandaran kursi.
"Ayo kita masuk ke dalam," sambung Gio sambil menggendong istrinya.
"Akh! Gio, kamu mau ngapain?!" pekik Diandra. Dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Aku mau tidur, sayang," jawab Gio dengan santainya. Dia mulai melangkah masuk ke kamar mereka.
"Jangan macam-macam, aku lagi gak bisa sekarang," peringat Diandra.
Gio mengerutkan keningnya, "Kenapa kamu gak bisa?"
"Aku lagi tanggal merah sekarang," jawab Diandra.
"Hah?! Jadi kamu gak bisa kalau lagi tanggal mereh? Kenapa?" Gio semakin bingung.
"Ah, sudahlah, kamu gak akan mengerti ... ini urusan perempua," ujar Diandra dengan wajah yang tampak menahan malu.
Masa iya, aku harus jelasin semua ini sama dia? Itu pasti sangat memalukan! batin Diandra.
Siang itu, Gio dan Diandra benar-benar hanya tidur siang. Gio tidak melakukan apa pun seperti yang diinginkan Diandra.
....................
__ADS_1
Yuk mampir di karya temen aku😊