
...Happy Reading ...
......................
Acara berlangsung selama dua hari, berbagai kegiatan yang sudah direncanakan sebelumnya pun silih berganti dilakukan sebagai hiburan untuk para pegawai. Gio yang menginap di vila tidak jauh dari acara terus memantau Diandra melalui anak buahnya yang menyamar menjadi pekerja di sana, hanya untuk memastikan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Seperti malam ini, Diandra tengah menikmati malam di sekitar vila, dirinya memang lebih banyak menyendiri dibandingkan bergabung bersama para teman-temannya.
Suasana malam yang sepi dan dinginnya pegunungan membuat Diandra dapat berpikir dengan lebih tenang. Walau di sekitarnya terasa ramai dengan sorak sorai para karyawan, Diandra yang masih mendiamkan Gio malah merasa sepi, hatinya terasa hampa walau dirinya sedang berada di tengah-tengah keramaian.
Ingatannya kembali pada masa di mana mereka menghabiskan waktu di vila yang berada di Bandung. Di saat itu, walaupun mereka berdua sedang menghadapi berbagai masalah entah itu dari perusahaan Gio, ataupun dirinya yang ingin menyelamatkan Ana.
Namun, rumah tangga keduanya malah semakin berkembang, hingga akhirnya Diandra mau menyerahkan dirinya sebagai seorang istri seutuhnya pada Gio.
"Heuh!" Diandra menghembuskan napas kasar, sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai merasakan dingin.
Semua kebaikan dan pengorbanan Gio selama mereka menjalin hubungan kemudian menikah, seolah sedang berputar bagaikan sebuah video di dalam pikirannya.
"Apa bayiku juga merindukan Papahnya?" gumam Diandra sambil mengelus pelan bagian bawah perutnya.
Diandra menutup matanya, mencoba berdamai dengan ego dan masa lalunya. Berusaha berpikir positif dan percaya pada orang lain, terlebih itu pada suaminya sendiri.
Masa lalunya yang buruk memang tidak tidak bisa disamakan dengan kegilaan masa muda seorang Gio. Semuanya berbeda, Eric yang telah menyakitinya bukanlah Gio, yang kini telah memberikan kebahagiaan untuknya. Mereka berbeda ... mereka adalah dua orang yang jauh dari kata sama.
Dalam gelap Diandra dapat mencium aroma tubuh seseorang yang tengah dia rindukan, hingga sebuah pelukan hangat dengan sebuah kain yang melekat di tubuh bagian belakangnya terasa begitu menghangatkan.
"Sudah malam, sayang. Kenapa masih berada di luar?"
Ya, itu adalah suara Gio. Laki-laki itu, merangkul Diandra dengan selimut di tangannya, kemudian beranjak menuju sisi sang istri.
Diandra menolehkan kepalanya melihat wajah sang suami yang masih tampak murung, dan itu semua karena keegoisannya. Hati Diandra terasa sakit saat mengingat itu semua.
"Kamu sendiri, sedang apa di sini?" Bukannya menjawab, Diandra malah balik bertanya.
"Tidak ada, hanya ingin melihat kamu. Tapi, ternyata kamu sedang sendirian di sini," jawab Gio jujur.
Gio memang berniat untuk menyelinap dan melihat Diandra, untuk memastikan keadaannya dan mengobati rasa rindunya. Akan tetapi, orang yang dia suruh mengawasi Diandra memberitahu kalau saat ini Diandra sedang memisahkan diri di belakang vila.
Diandra dan Gio kembali terdiam untuk beberapa saat, keduanya tampak berdiri canggung tanpa ada yang membuka suara lebih dulu.
__ADS_1
"Gimana kabar kamu, sayang?" tanya Gio setelah beberapa saat.
Diandra sedikit menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum yang tidak bisa dia tahan lagi. Diandra kemudian mengangguk. Entah kenapa pertanyaan Gio terdengar lucu di telinganya.
"Baik," jawabnya lirih.
"Syukurlah, aku senang kalau kamu baik-baik saja." Gio tampak tersenyum.
"Bagaimana dengan bayi kita? Apa dia rewel dan membuatmu kesulitan?" tanya Gio lagi, melihat perut bagian bawah Diandra.
"Heem, semuanya baik. Aku tidak merasakan apa pun," angguk Diandra lagi.
Gio tersenyum, tatapannya terus mengarah pada perut bagian bawah sang istri, dia ingin sekali menyentuhnya.
"Maaf," ujar Diandra mengalihkan perhatian Gio. Laki-laki itu langsung melihat wajah Diandra yang masih terlihat sedikit menunduk.
Gio cukup terkejut saat mendengar perkataan istrinya. Dia tidak menyangka kalau Diandra bisa mengatakan itu saat ini. Gio tahu, bagi Diandra mengatakan kata maaf, adalah sesuatu yang sulit, karena Diandra harus melawan egonya sendiri.
"Maaf untuk apa, sayang? Kamu tidak salah apa-apa padaku," ujar Gio, walau di dalam hatinya merasa senang, karena itu menandakan hubungannya dengan Diandra akan membaik kembali.
"Aku mengacuhkan kamu selama beberapa hari ini, untuk sesuatu yang seharusnya tidak lagi menjadi masalah, karena semuanya sudah berlalu," ujar Diandra menatap wajah suaminya dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Jadi kamu maafin aku?" tanya Diandra memastikan.
"Aku yang harusnya mi–" ucapan Gio tidak lagi bisa berlanjut saat Diandra langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Aku kangen," ujar Diandra sambil memeluk tubuh Gio erat.
Gio melebarkan matanya untuk beberapa saat, dia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, walau akhirnya dia terlihat tersenyum, kemudian membalas pelukan istrinya.
"Aku juga sangat merindukan kamu, sayang," jawab Gio sambil mengecup puncak kepala istrinya.
Malam itu Gio dan Diandra menghabiskan waktunya bersama, walau Diandra masih harus pulang ke vila karena dia masih berperan sebagai Dian– salah satu staf sekretaris Gio di kantor.
"Kita bertemu lagi besok siang," ujar Diandra sebelum dia masuk ke dalam vila.
"Heem, jaga diri kamu baik-baik ya, sayang. Aku akan datang lagi besok siang," angguk Gio.
Diandra akhirnya masuk ke dalam vila, dan Gio pun kembali ke vila tempatnya menginap.
__ADS_1
.
.
Berbeda dari suasana di vila yang tampak ramai dan meriah, di kediaman rumah Pak Handoyo terlihat dua mobil polisi datang berkunjung bersama pengacara keluarga Purnomo, hingga beberapa saat kemudian Pak Handoyo tampak sudah ke luar dari rumahnya dengan tangan terborgol.
Begitu pun dengan keadaan di kediaman rumah Eric dan Sintia, mereka berdua pun akhirnya ditangkap oleh polisi atas kasus penggelapan dana perushaan.
"Saya gak salah, Pak. Ini semua fitnah!" teriak Sintia sambil meronta tidak ingin dibawa ke kantor polisi.
Namun, semua teriakan itu tidak berpengaruh apa pun pada proses hukum yang akan dijalani oleh mereka semua, termasuk Sintia.
Mely yang sedang ada di vila bersama para sekretaris lainnya pun mendapatkan kabar di hari keduanya, dia mengetahui di saat ayahnya sudah ditahan oleh polisi karena penggelapan, dan itu diurus langsung oleh pengacara keluarga Purnomo.
"Kok bisa sih, Mam? Bagaimana dengan Sintia dan Eric?" tanya Mely dengan wajah yang panik.
Berita kalau Eric dan Sintia juga ditahan, membuat Mely kelabakan. Disaat yang sama, Mely mendengar kabar kalau besok siang Gio dan Randi akan datang dan ikut bergabung dengan mereka.
"Aku harus menemui Pak Gio, untuk meminta penjelasannya," gumam Mely, mengurungkan niatnya untuk kembali Ke Jakarta, agar bisa menemui Ayahnya.
.
.
Pagi itu Diandra terbangun dengan berita yang sedang ramai menjadi perbincangan para karyawan kantor di sana, yaitu tentang hubungan dirinya dan Gio.
Sepertinya ada seseorang yang melihat pertemuannya dengan Gio tadi malam, dan menyebarkan hubungannya dan Gio melalui grup karyawan, hingga membuat gempar di pagi hari.
Bahkan beberapa foto saat Diandra berpelukan dengan Gio juga ikut serta sebagai barang bukti.
"Aku dan Pak Giovano kan kerabat dekat, memang gak boleh kalau kita memang akrab?" Itulah tanggapan Diandra saat Tia dan Nina mendesak penjelasannya atas berita yang beredar.
Melihat Diandra yang tampak santai dan tidak terpengaruh dengan berita yang beredar, sebagian orang ada yang tidak mempercayai semua itu, walau memang banyak juga yang akhirnya menganggap Diandra wanita murahan.
Namun, ternyata itu tidak berpengaruh untuk Diandra, dia memilih bersikap acuh pada semua gosip itu tanpa mau memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Untuk apa aku harus repot memberikan penjelasan. Itu tidak akan pernah berguna disaat orang-orang hanya ingin mempercayai apa yang ingin mereka percaya, tanpa memperdulikan sebuah fakta." Itulah jawaban Diandra ketika Tia dan Nina memintanya untuk memberikan klarifikasi di grup karyawan.
......................
__ADS_1