Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Tidak bisa dihubungi


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Sore ini Diandra sudah berada di bandara untuk keberangkatan internasional, jadwal yang harusnya berangkat esok pagi, akhirnya maju karena Gio yang terus mendesak Diandra untuk segera menyusulnya.


Akhirnya Diandra menyerah dengan keinginan Gio, karena dirinya sendiri sudah tidak sabar untuk memberikan kabar baik ini kepada sang suami.


Mama Hana yang mencoba menahan keberangkatan Diandra pun akhrinya tidak bisa berbuat apa pun saat sepasang suami istri itu sama-sama memiliki keras kepala yang sama.


"Kamu yakin mau berangkat sore ini?" tanya Mama Hana lagi, saat Diandra sudah bersiap untuk check in.


"Iya, Mah. Kasihan Gio kalau aku undur lagi, Mah," jawab Diandra dengan tersenyum lembut.


"Heuh, anak itu benar-benar gak bisa jauh dari kamu." Mama Hana tampak menghembuskan napas kasar, mengingat anak laki-lakinya.


Diandra terkekeh melihat kekesalan Mama Hana.


"Ya udah, kalau kamu sudah yakin, Mama gak bisa ngomong apa-apa lagi. Kamu hati-hati di jalan, jangan lupa kabari Mama kalau sudah sampai, ya." Mama Hana tampak sangat berat melepaskan Diandra untuk pergi sendiri menyusul Gio.


"Iya, Mah. Kalau gitu aku pamit sekarang, ya. Mama juga jaga kesehatan di sini," ujar Diandra sambil memeluk ibu mertuanya itu.


"Dian, sayang banget sama Mama," sambung Diandra lagi, dengan suara parau seperti sedang menahan tangis.


"Mama, juga sayang sama kamu, Dian. Kamu adalah anak Mama, sampai kapan pun, tetap jadi anak Mama," jawab Mama Hana, sambil tersenyum, tangannya tampak menepuk pelan punggung sang menantu.


Tidak biasanya Diandra mengungkapkan rasa sayangnya pada orang di sekitarnya, jangankan kepada Mama Hana, bahkan pada Gio saja, Diandra selalu berat untuk menyatakan cinta. Semua itu membuat Mama Hana pun ikut terharu dengan ucapan sederhana yang ke luar dari mulut Diandra.


"Tolong jaga calon cucu Mama ya, sayang," ujar Mama Hana lagi sambil mengurai pelukan di antara mereka, kemudian mengelus perut bagian bawah Diandra.


Diandra mengangguk, "Tentu, Mah," jawabnya, sambil mengusap air mata yang sudah terlanjur menetes di pipi.


"Kita itu cuman pisah beberapa hari aja, loh. Kenapa kalian sampe nangis begitu, udah kayak mau pisah lama aja," ujar Gita tiba-tiba menyela suasana haru diantara mertua dan menantu itu.


Diandra dan Mama Hana terkekeh ringan, keduanya terbawa suasana perpisahan yang terlalu dalam, hingga membuat keduanya meneteskan air mata.


"Dih, sirik aja, mentang-mentang sekarang Mama lebih sayang sama aku. Iya kan, Mah?" ujar Diandra dengan percaya dirinya, sambil menggandeng tangan Mama Hana.


"Enak aja, gak gitu ya, aku tetap jadi kesayangan Mama. Iya kan Mah?" Gita yang tidak mau kalah, ikut menggandeng tangan Mama Hana.


Mama Hana tertawa melihat sikap manja Diandra dan Gita kepadanya. Keberadaan Diandra di dalam keluarganya, menambah ramai suasana rumah, apa lagi Diandra dan Gita begitu akrab dan sering saling menggoda, seperti sekarang ini.


"Kalian berdua sama-sama kesayangan Mama," ujar Mama Hana sambil merangkul anak bungsu dan menantunya, kemudian Diandra dan Gita pun ikut tertawa bersama.


"Yah sepi deh rumah, kalau Kak Dian gak ada," keluah Gita setelah keduanya melepaskan pelukannya pada Mama Hana.


"Tuh kan, kamu juga gak bisa jauh dari aku, hahaha," tawa Diandra sambil menggoda adik iparnya.


"Eh, kenapa sekarang Kak Dian jadi ketularan sifat jahilnya Kak Gio sih, nyebelin banget deh," gerutu Gita menatap kesal Diandra.


"Masa sih, perasaan aku biasa aja deh? Atau mungkin ini bawaan bayi?" ujar Diandra mengerutkan keningnya, walau diakhiri dengan kekehan, saat dia merasa lucu dengan pemikirannya sendiri.


"Ya udah, aku pamit ya, kamu jaga diri baik-baik, jangan kangen sama aku ya, hahaha," ujar Diandra kemudian memeluk adik iparnya itu.


"Ck, alasan aja bawaan bayi!" decak Gita, mencebikkan bibirnya.


"Mana mungkin aku kangen sama Kak Dian, malah nanti aku bakalan tenang, karena gak digangguin Kak Gio lagi, buat nanyain Kakak," sambung Gita lagi.

__ADS_1


"Tapi, nanti gak ada yang mau nemenin kamu nonton drakor lagi." Diandra memainkan alisnya, menggoda Gita.


"Yah, iya juga ya," desah Gita yang membuat Diandra terkekeh.


Suara panggilan bagi penumpang terdengar menggema di area Bandara, membuat Diandra melepaskan pelukannya.


"Aku harus pergi sekarang, kamu jaga diri baik-baik ya, jangan begadang buat maraton nonton drakor terus, ingat sama tugas kuliah," ujar Diandra sambil menoel hidung mancung Gita.


"Iya, kalau gak lupa, hehe," jawab Gita sekenanya, terlihat sekali kalau Gita tidak akan menuruti pesan dari Diandra.


"Dasar kamu, ya," ujar Diandra sambil memeluk kembali Gita sekilas.


Diandra berjalan menjauh dari Mama Hana dan Gita, dia melakukan check in terlebih dahulu kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kabin pesawat.


Diandra tampak melambaikan tangan pada Mama Hana dan Gita yang masih setia berdiri di tempat yang sama.


Duduk di bangku kelas bisnis Diandra tampak sedikit gelisah, mengingat ini adalah pertama kalinya dia terbang ke luar negeri sendiri.


Walaupun kursi di sini tampak nyaman dan mewah, namun saat Diandra menyadari kalau dirinya hanya sendiri tanpa adanya suami atau keluarga membuat dirinya merasa sedikit tegang.


Suara pesan masuk di ponsel yang lupa dia rubah pada mode pesawat pun mengalihkan perhatiannya.


Suami nyebelin: [Jadi berangkat sore ini, sayang? Tolong kirimkan nomor penerbangannya, ya, agar aku bisa memantau kamu dari sini.]


Diandra tersenyum saat melihat pesan dari sang suami. Akan tetapi, saat dirinya mau membalas seorang pramugari mendatanginya dan menyuruhnya untuk mematikan ponsel, karena pesawat sudah mau lepas landas.


Diandra pun langsung mematikan ponsel tanpa membalas pesan dari Gio, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali.


"Sendiri juga?" tanya seseorang yang duduk di sampingnya, seorang wanita berumur tiga puluh tahunan yang masih terlihat sangat cantik menyapanya.


Diandra baru sadar dengan keberadaan wanita itu, karena sejak tadi dia sibuk mengendalikan dirinya sendiri.


"Mau jalan-jalan ya?" tanya wanita itu lagi.


"Enggak, cuman mau menyusul suami yang sedang kerja di sana," jawab Diandra, sambil tersenyum tipis.


"Oh, mau menemui suami. Aku kira kamu masih single, hehe." Wanita itu terkekeh kecil karena tebakannya tentang Diandra salah.


"Aku juga mau menemui suamiku, ini kejutan," ujar wanita itu dengan raut wajah cerianya.


Diandra tersenyum, wanita di sampingnya terlihat sangat ceria, hingga membuat dirinya juga tidak bisa mengacuhkannya.


"Suami, Mba, juga kerja di sana?" tanya Diandra, akhirnya dia memilih untuk mengobrol dari pada terus terhanyut dengan ketegangannya.


"Tidak, dia sedang mendampingi adik iparku yang mau wisuda besok," jawab wanita itu.


"Wah, semoga acaranya berjalan lancar ya, Mba," ujar Diandra.


"Amiin, terima kasih –" wanita itu tampak bingung, mau memanggil Diandra karena mereka lupa untuk berkenalan.


"Aku Diandra, panggil saja Dian," ujar Diandra memperkenalkan diri.


"Ah, terima kasih, Dian." Wanita itu tampak terkekeh, sambil mengulang perkataannya.


"Aku Winda," sambungnya lagi memperkenalkan diri.


Pesawat pun lepas landas begitu saja, Diandra yang awalnya tegang kini sudah terlihat biasa saja, karena Winda yang bisa membuatnya lebih tenang.

__ADS_1


Keduanya tampak asik berbicara bersama, dengan Winda yang ceria dan banyak menceritakan tentang keluarga kecilnya pada Diandra. Sedangkan Diandra lebih menjadi pendengar walau sesekali dia juga  tampak menjawab beberapa pertanyaan dari Winda.


Hingga tiba-tiba terdengar suara peringatan dari pramugari karena terjadi cuaca buruk. Beberapa dari penumpang terlihat panik saat pesawat mengalami turbulensi yang cukup kuat. Begitu juga dengan Diandra, dia mencengkram sisi kursi sambil terus berusaha menenangkan diri.


"Tenang saja, ini situasi yang biasa terjadi, sebentar lagi juga berhenti," ujar Winda yang masih tampak tenang.


Sepertinya wanita itu sering bepergian menggunakan pesawat, hingga dia terlihat sangat tenang di saat para penumpang lain sedang panik.


Diandra menutup matanya dengan tangan yang mendekap erat perut bagian bawahnya, ingatannya kini berkelana pada orang-orang yang dia sayangi, mulai dari Gio yang bahkan belum tahu kalau dia sedang mengandung. Mama Hana yang berpesan agar dia bisa menjaga calon cucunya.


Ayah, Bunda, dan keluarga yang berada di kampung, mereka juga belum mengetahui kalau dirinya mengandung, karena Diandra berencana untuk memberitahu mereka bersama Gio nanti.


.


.


Mama Hana yang sedang melihat berita hujan deras turun di beberapa bagian di Indonesia mulai merasa khawatir, apa lagi di Jakarta juga gerimis terus turun sejak beberapa waktu lalu.


"Gita, coba kamu telepon Kak Gio, apa Dian sudah sampai?" perintah Mama Hana yang terus saja duduk di depan televisi sejak pulang dari bandara beberapa waktu lalu.


"Seharusnya sekarang pesawat yang Dian tumpangi sudah mendarat kan?" ujarnya lagi melihat jam yang tergantung di dinding.


Gita ikut melihat jam dinding itu, kemudian mengangguk. Bila penerbangan tidak ada kendala maka mungkin saat ini Diandra sudah bisa ke luar dari pesawat. Dia langsung mengambil ponsel kemudian mencoba menghubungi Gio.


Beberapa kali panggilan tidak terjawab, hingga membuat Mama Hana dan Gita semakin khawatir.


"Coba hubungi Dian, kalau dia sudah sampai pasti dia sudah mengaktifkan lagi ponselnya," perintah Mama Hana yang masih terlihat gelisah.


"Iya, Mah," jawab Gita sambil beralih mencoba menghubungi Diandra.


Namun, ponsel Diandra masih saja tidak bisa dihubungi membuat Mama semakin gelisah.


Tiga puluh menit berlalu, panggilan di ponsel Gita terdengar, membuat Mama Hana langsung mengalihkan perhatiannya.


"Cepat angkat, siapa tahu itu dari Kakakmu," ujar Mama Hana.


Ternyata itu dari Gio, dengan cepat Gita langsung mengangkat teleponnya.


"Halo, Gita, apa Dian jadi berangkat malam ini? Tadi aku coba kirim pesan, tapi tidak dijawab, " tanya Gio, dia baru saja ke luar dari tempatnya melakukan rapat.


"Bukannya pesawat Kak Dian harusnya mendarat tiga puluh menit yang lalu, Kak? Kakak di mana sekarang?" tanya Gita dengan nada suara panik.


"Kenapa kamu gak bilang dari tadi? Aku baru selesai rapat," ujar Gio panik.


"Aku udah coba telepon Kakak dari tadi, tapi gak diangkat," jawab Gita tidak mau disalahkan.


"Ya sudah aku ke bandara sekarang." Gio langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, tidak mau berdebat lebih panjang dengan Gita.


Sejak tadi ponselnya memang sengaja dia atur dalam mode diam, agar tidak mengganggu rapat yang sedang dia lakukan. Akan tetapi, dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini.


Rapat yang harusnya sudah selesai sejak satu jam yang lalu, tiba-tiba saja diundur hingga membuatnya harus menunggu lebih lama, ditambah ternyata cukup banyak pembahasan yang harus dia lakukan, dan semakin membuat lama waktu rapatnya.


"Kita ke bandara sekarang," ujar Gio pada Randi.


Saat ini baik Gio dan Randi di negara S, atau Mama Hana dan semua keluarga Purnomo di Indonesia, sedang sangat panik, saat Diandra tidak ada kabar sama sekali.


......................

__ADS_1


Ada apakah ini? komen😊


__ADS_2