Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.36 Kilasan Masalalu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Luka lama?" gumam Gio dengan wajah gusar.


Romi duduk kembali, dia menatap wajah dua orang lelaki yang seolah tengah menanti penjelasan darinya.


Menghembuskan napas kasar, sebelum mencoba menjawab rasa penasaran Gio dan Randi.


"Maaf, aku tidak mempunyai hak untuk berbicara tentang masa lalu Diandra, apalagi ini adalah kenangan pahitnya. Yang perlu kamu tahu, bahwa Diandra dulu tidaklah seperti ini. Dia hanyalah seorang gadis pendiam yang senang membaca, dia lebih memilih memendam perasaannya, hingga rasa sakit merubahnya menjadi sosok yang sekarang kalian lihat." Romi menjeda perkataannya dia menatap kedua orang laki-laki di depannya.


Kembali menghembuskan napas, seolah sulit untuk membagi cerita dengan laki-laki yang merupakan suami dari saudaranya itu.


"Haah! Sudahlah, aku hanya ingin meluruskan terlebih dahulu kejadian yang pasti kamu lihat ketika datang ke kantorku," sambung Romi lagi.


"Aku berani jamin, di antara kami tidak terjadi apa pun. Saat itu aku hanya sedang menenangkan Diandra, karena dirinya sedang merasa terpuruk dengan semua masalah yang terjadi padanya akhir-akhir ini," jelas Romi, dengan tatapan tak lepas dari wajah Gio.


Gio pun membalas tatapan Romi, dia seakan sedang mencari tahu kebenaran dari semua yang dibicarakan oleh laki-laki di depannya itu.


"Aku hanya memberi saran, lebih baik kamu bicara baik-baik pada Diandra. Dia memang tertutup dan juga keras. Akan tetapi, di dalam hatinya dia merasakan kesepian. Aku yakin, jika kamu bisa bersabar sedikit dalam menghadapinya, dia bisa luluh suatu hari nanti." Romi pun mengakhiri perkataannya.


"Baiklah, sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan." Romi pun kembali beranjak berdiri.


"Tunggu, kamu belum menjelaskan tentang luka lama yang diderita oleh Diandra. Bagiamana aku bisa mengerti dengan keadaannya saat ini, bila penyebab dari semua itu pun aku tidak tahu." Gio kembali mencegah langkah Romi.


"Kamu sudah memutuskan untuk menikahi Diandra, maka kamu harus bisa menerima dia yang sekarang, dengan luka dan sifatnya yang memang keras kepala. Mengenai luka lamanya, itu berhubungan dengan pengkhianatan dan perselingkuhan. Jadi jangan buat dia ingat lagian akan hal itu, bila kamu tidak mau dia semakin menjauhi kamu," ujar Romi, dia pun akhirnya melangkah pergi, meninggalkan Gio dan Randi.


Sepeninggal Romi, Gio hanya menyandarkan tubuhnya dengan pandangan yang jatuh ke bawah. Dia tidak pernah menyangka bahwa Diandra memiliki luka lama yang telah membuat dia berubah seperti ini.


“Ran, coba kamu cari tau masa lalu Diandra,” ujar Gio kemudian, pada asisten pribadinya itu.


“Dan, tolong cari tau juga orang yang bernama Jonas. Sepertinya aku sempat mendengar nama itu di kantor Romi, tadi,” sambungnya lagi, saat mendengar Diandra dan Romi sempat membicarakan nama itu sewaktu dia ke hotel.


“Tapi, Bagaimana dengan maslah hotel kita?” tanya Randi.


Ya, maslah hotel yang masih belum bisa terselesaikan pun menjadi maslah. Karena ibu dan para keluarga bosnya itu akan terus menanyakan perkembangan tugas yang memang diberikan pada Gio sejak awal, hingga mereka bisa berada di tempat ini sekarang.


Namun, pertemuan bosnya itu dengan Diandra, membuat Gio seakan lupa akan tugasnya itu. Sekarang ini Gio bahkan terlihat lebih mementingkan urusan Diandra dibandingkan dengan urusannya sendiri.


Entah bagaimana pula, tanggapan dari keluarganya nanti, bila sampai mereka tahu kalau Gio telah menikah, bahkan tanpa berbicara dulu dengan mereka.

__ADS_1


“Kita bicarakan itu nanti. Sekarang aku mau tau dulu bagaimana masa lalu istriku,” ujar Gio, yang membuat Romi tak bisa lagi membantah perintah dari bosnya itu.


“Baiklah, aku akan coba cari tau ini semua,” jawab Romi pasrah.


“Tapi, sebelum itu, aku mau makan dulu. Lapar nih,” sambungnya lagi, sambil mengangkat tangan, memanggil pelayan restoran itu.


Gio tak menjawab, dia pun akhirnya hanya terdiam dengan hati yang gundah.


.


Di tempat lain, Diandra menghentikan mobilnya di jalanan yang terlihat masih sepi. Hembusan napas kasar ia lakukan berulang kali, dengan mata yang mulai memerah, menahan desakan air yang ingin segera keluar.


Tangan yang menggenggam stir mobil itu terlihat bergetar, dengan mata yang goyah.


Dengan gerakan lemah, dia menaruh kepalanya di atas kemudi, menutup mata dengan kilasan bayangan masa lalu yang mulai berputar kembali membayang di ingatannya.


"Bagaimana kalau kamu menikah sama Eric saja? Biar aku dan Hery bisa mendapatkan restu dari ayah. "


"Tapi, Ana ...."


"Kamu hanya tinggal menyetujuinya saja, semuanya biar aku dan Hery yang akan melakukannya."


"Apa kamu tega, membiarkan semua itu terjadi padaku, Dian? Hanya ini satu-satunya cara, agar aku dan Hery bisa mendapatkan restu dari ayah."


Kilasan percakapan dirinya dan Diana beberapa tahun yang lalu, sekarang menambah rasa sakit di dalam dadanya saat ini.


Tak terasa air mata pun akhirnya menetes dengan isakan kecil mengiringinya. Punggungnya yang terlihat bergetar menahan rasa sakit pun, melengkapi sebuah pemandangan nyata, betapa sakitnya dia saat ini.


"Kamu terlalu bodoh menjadi perempuan, sampai dengan mudahnya menuruti adikmu itu, dan masuk pada jebakanku dan keluargaku."


"Sudah lama aku menunggu saat ini. Saat dimana kamu dan seluruh keluargamj mempercayaiku dan bertepuk lutut padaku. Dengan begitu, aku bisa menghancurkan kalian."


"Kalian pikir, aku dan keluargaku akan melupakan begitu saja, kejadian ketika meninggalnya ayahku saat itu, heh? Tidak mungkin!"


"Harusnya kamu sadar sejak awal, kalau aku tidak akan pernah tertarik dengan seorang gadis sepertimu. Kamu hanya aku jadikan pion, untuk membalaskan dendamku pada keluargamu.


"Bagaimana rasanya, dikhianati oleh orang yang sudah sangat kita percaya? Sakit, bukan?"


Kembali suara seorang laki-laki yang menorehkan luka pada masa lalunya terngiang di kepala, membuat Diandra semakin terpuruk dalam kenangan yang sudah lama berusaha dia lupakan.


“Tidak, itu semua bukan salahku. Kenapa semua ini harus aku yang menanggungnya?” Gumamnya lirih.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukkan di kaca mobil membuat Diandra kembali pada masa sekarang. Menarik alam bawah saudaranya pada kenyataan yang terjadi saat ini.


Dia pun mengangkat wajahnya dan melihat seseorang yang berada di samping mobilnya. Seorang lelaki yang sudah tahu pasti rasa sakit hatinya itu tampak menatap khawatir Diandra.


“Dian, buka pintunya. Kamu tidak apa-apa kan?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Romi.


Ya, dia langsung menyusul Diandra menggunakan ojek pangkalan, begitu selesai berbicara dengan Gio.


Diandra pun membuka kunci pintu mobilnya, membiarkan Romi masuk dan menemaninya.


Romi langsung duduk di kursi penumpang, sebelah Diandra. Dia menatap khawatir wajah sebab saudaranya itu.


“Dian?” ujarnya.


“Aku tidak apa-apa, Rom. Kamu jangan khawatir,” jawab Diandra, sambil mengambil tisu dan menyeka air mata di wajahnya dan cairan yang keluar dari hidungnya.


“Beneran, kamu gak apa-apa?” Romi masih belum yakin dengan jawaban perempuan di depannya.


Diandra hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia terlalu lelah hanya untuk menjelaskan pada Romi.


Apalagi Romi sudah pasti tahu, apa yang dia rasakan saat ini, tanpa Diandra mengatakannya sekalipun.


“Baiklah, aku percaya sama kamu. Sekarang kamu mau ke mana, sini biar aku yang nyetir,” ujar Romi.


“Aku masih bisa sendiri, Rom. Kita balik ke hotel saja, bukannya kita masih banyak kerjaan di sana,” jawab Diandra, sambil kembali bersiap untuk menjalankan mobilnya.


“Tidak-tidak. Kamu turun sekarang, biar aku yang mengemudi. Aku tidak mau mati konyol hanya gara-gara kamu yang gak fokus. Aku masih mempunyai anak kecil yang membutuhkan ayahnya dan istri yang membutuhkan suaminya,” geleng Romi, memaksa Diandra untuk turun dan bertukar tempat duduk dengannya.


Diandra hanya mencebik kesal, lalu menuruti keinginan saudaranya itu. Dia tidak akan bisa melawan kalau sudah ada anak dan istri Romi sebagai alasan.


“Dasar nyebelin,” cebik Diandra pelan, sambil duduk di kursi penumpang.


Romi tak menimpali, dia hanya tersenyum lalu mulai melajukan mobil milik Diandra menuju ke hotel kembali.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung


...

__ADS_1


__ADS_2