Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.11 Jatuh Hati


__ADS_3


...Happy Reading...


...💖...


"Kamu tau, orang yang akan bertemu dengan kita adalah pemilik perusahaan yang masih cukup muda, dia sudah mengambil alih perusahaan keluarga itu dari sejak beberapa tahun lalu, setelah ayahnya meninggal," jelas Romi.


Diandra yang tengah mempelajari berkas di tangannya, mengangkat kepala sekilas demi melihat raut wajah penuh semangat saudaranya itu.


"Terus?" acuh Dian, kembali fokus pada kertas penuh rangkaian kata di tangannya.


Romi menatap Dian dengan decakkan di bibirnya, selalu saja begitu jika dirinya sedang menjelaskan tentang seorang lelaki, dingin, acuh dan tidak peduli. Tak tahukah kalau sebenarnya dia mempunyai niat terselubung kali ini, atau memang pura-pura tidak tahu?


"Dia juga belum punya pasangan."


Dian mengangkat kepalanya dengan mata yang berubah semakin tajam, rahangnya mengeras hingga giginya bergemelutuk. Itu terdengar begitu ngilu di telinga lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu.


"Kamu lebih tau, kenapa aku tidak suka laki-laki kan, Rom?!" Pertanyaan penuh tekanan itu terdengar rendah di telinga, tetapi kenapa terasa menghantam telak ke dalam dadanya.


Romi terdiam, dia memang tahu benar alasan Dian tidak mau mempunyai hubungan lagi dengan manusia berjenis laki-laki. Akan tetapi, dirinya hanya berniat baik untuk membantu saudara sepupunya itu.


Fyuhh!


"Aku tau. Tapi, apa kamu tidak mau mencoba memulai lagi? Aku rasa dia cocok dan sepadan untukmu," ujar Romi pelan.


"Lupakan masa lalu, Dian. Hidupkan untuk terus menatap masa depan, jangan terus terperangkap di dalam kebencian masa lalumu itu. Kecuali, kalau kamu masih mencintainya?" lanjut Romi, tanpa melihat tatapan mematikan perempuan di depannya itu.


"Kamu tau, aku paling tidak suka kalau sudah berbicara masalah ini kan, Romi? Lagi pula, buat apa aku harus susah hidup dengan lelaki, kalau seperti ini terasa lebih menyenangkan? Aku tidak butuh sosok lelaki di hidupku, Romi ... kamu tau itu!" tekan Dian, menatap tajam saudara sepupunya.

__ADS_1


"Sudahlah, aku sudah gak mood berada di sini, lebih baik aku keluar saja, kita bertemu di tempat rapat nanti siang," ujar Dian, sambil menaruh berkas di tangannya. Berdiri dan melangkah cepat menuju pintu keluar.


"Kamu ini, pasti selalu menghindar kalau aku sudah berbicara masalah itu." Romi menatap Dian yang kini sudah berlalu dari ruangannya.


"Nasib-nasib, jadi bos rasa sekretaris," gumam Romi, dengan sedikit dramatisir.


.


Di tempat lain, Gio sedang termenung di atas kursi kebesarannya, sedangkan Randi baru saja keluar dari sana setelah melaporkan tentang jadwalnya hari ini.


"Nanti siang kita ada jadwal pertemuan dengan pihak hotel lembayung yang akan membuka cabang di Bandung."


Perkataan Randi beberapa saat yang lalu terngiang di kepala, setelah seminggu ini dia tidak melihat wajah cantik perempuan pujaannya itu, karena sang ibu ratu memanggilnya untuk pulang, sekarang dia akan bertemu lagi dengannya, melihat wajahnya dan mungkin mereka akan terikat oleh satu kerja sama.


"Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini, kontrak ini harus aku yang mendapatkannya," gumam Gio, bertekad penuh.


"Kalau kamu memang yakin mencintainya, maka perjuangkan. Aku yakin perlahan hatinya akan terbuka untuk menerima kamu seutuhnya, walaupun mungkin kamu harus bersabar untuk mendapatkannya." Perkataan teman kuliah yang kini mempunyai perusahaan dalam bidang otomotif, waktu dia datang untuk memodifikasi mobilnya, menjadi penyemangat untuk Gio.


"Ya, Ezra benar. Aku tidak boleh menyerah hanya karena penolakannya," gumam Gio, mengingat temannya itu.


Awalnya dia seakan sudah pesimis dengan rasa cinta yang sudah terlanjur tumbuh dihatinya, bahkan sebelum pertemuannya dengan Dian. Akan tetapi, semua dukungan yang diberikan oleh para gemannya, membuat dia menjadi percaya diri kembali, untuk merebut hati perempuan itu.


Ya, benar! Dari semua perempuan dan wanita di sekitar kehidupan seorang Gio, hanya Dian yang bisa membuatnya berfikir pesimis untuk mendapatkan seorang perempuan.


Setelah kedatangannya, keadaan keuangan hotel dan restoran yang berlabel bintang lima itu semakin membaik, pengunjung mulai banyak yang berdatangan, walau tak sepadat hotel Lembayung, yang tepat berada di depannya.


Hotel yang menyatu dengan resort ala pedesaan yang tanpa embel-embel bintang lima itu di belakangnya itu, terlihat paling ramai, bila di hari-hari biasa. Mulai dari para pengunjung rombongan, atau yang berdikari, bahkan yang sedang melakukan bulan madu, semuanya memilih untuk menginap di hotel Lembayung.


Hotel yang terlihat biasa saja dari luar itu, entah menyimpan apa di dalammya, hingga orang yang pernah menginap di sana, akan kembali lagi bahkan dengan membawa serta teman atau keluarganya.

__ADS_1


Menyandarkan tubuhnya pada kursi, pikiran Gio terus berkelana, mencari keistimewaan hotel itu, hote yang merupakan milik Dian, tanpa ada orang luar yang tahu kenyataan itu.


Begitu rapat dan pintarnya Dian menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya pada orang di sekitarnya, hingga rahasia itu tidak pernah bocor pada orang lain.


"Benar-benar perempuan yang unik, di saat orang lain dengan suka rela menggunakan nama besarnya untuk meraih keistimewaan yang ditawarkan, dia malah menyembunyikan semua fakta itu." Gio menggelengkan kepala samar dengan senyum geli di bibirnya, saat mengingat Dian.


"Dian ... Dian, kenapa kamu begitu misterius, sama dengan hotelmu itu," gumamnya lagi, hingga kekehan kecil tak dapat dia tahan lagi.


"Hhaah, sepertinya aku benar-benar sudah tergila-gila padamu, Dian. Mantra apa yang kamu berikan padaku, hingga aku bahkan tak bisa mengalihkan dirimu dari pikiranku walau hanya sedetik saja?" desah Gio.


Lelaki matang yang sudah berumur tiga puluh dua tahun itu, terus bergumam sendiri dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya itu. Sepertinya bayangan Dian memang sudah mulai membuat kewarasannya sedikit berkurang. Ya, dan Gio sendiri mengakuinya.


Pesona Dian terlalu kuat merasuk ke dalam dirinya, hingga membuatnya menjatuhkan hati dan tak bisa berpaling pada perempuan manapun. Mungkin?


Hari telah beranjak siang, kini Gio dan Randi sudah berada di tempat pertemuannya dengan Dian, sedangkan waktu yang dijanjikan masih tersisa lima belas menit lagi.


Randi yang ikut serta hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar, mengikuti keinginan sang bos yang terlalu berbeda dari biasanya.


Ya, biasanya Gio akan datang di waktu yang mepet atau bahkan terlambat beberapa menit, untuk menunjukan kalau dia lebih dominan dan dia lah yang harus ditunggu, bukan dia yang harus menunggu.


Namun, sekarang yang dia lihat, begitu berbeda dengan prinsip seorang Giovano. Bagaimana mungkin, bosnya itu rela menjatuhkan prinsip hidupnya demi seorang perempuan yang kini sedang dikejarnya.


Lelaki yang berprofesi sebagai asisten pribadi Gio itu, menggeleng pelan, tak mengerti dengan apa yang kini sedang dipikirkan oleh sang bos.


"Selamat siang."


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2