Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Ciuman tidak langsung


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Gio yang tidak dapat jatah sarapan, akhirnya memilih untuk memakan bubur sisa Diandra.


"Untung aja masih ada bubur punya Diandra, jadi aku masih bisa sarapan, tanpa harus ninggalin istriku," ujar Gio sambil membawa kembali mangkuk bubur milik Diandra ke meja makan, untuk dia sarapan.


Padahal Gio bisa saja ke luar rumah untuk membeli sarapan. Akan tetapi, rasanya dia tidak tega untuk meninggalkan istrinya sendiri.


Makanya, Gio lebih memilih untuk makan bubur sisa Diandra, yang memang masih banyak, mengingat tadi Diandra hanya makan beberapa suap saja.


Gio menikmati setiap suapan bubur itu. Senyum di bibirnya pun tampak merekah, mengingat wajah Diandra saat dirinya menggoda.


"Tunggu ... sendok ini kan bekas Diandra makan?" Gio menatap sendok di tangannya.


"Berarti secara tidak langsung aku dan Diandra sudah berciuman dong?" tanya Gio dengan wajah sumringah.


Laki-laki itu terkekeh, merasa senang dengan apa yang dia pikirkan sendiri.


"Pantas saja rasanya lebih enak, ternyata ada bekas bibir Diandra di sini," ujar Gio sambil menyuapkan satu sendok bubur pada mulutnya.


Tiba-tiba terlintas sebuah ingatan saat dirinya berkunjung ke rumah orang tua Diandra kemarin.


Flash back.


"Ayah, sebenarnya aku ke sini juga karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan pada, Ayah," ujar Gio, saat mereka sedang duduk di salah satu gubuk yang ada di sana.


Eros tampak mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh menantunya itu.


"Ada apa, Nak Gio?" tanya Eros kemudian.


Gio tampak sedikit ragu untuk mengungkapkan niatnya ke mari, hanya saja untuk saat ini dia harus meminta bantuan kepada mertuanya itu.


"Begini, Ayah ... sebenarnya, Diandra sedang dalam bahaya, ada seorang laki-laki yang sangat terobsesi untuk memilikinya dan berencana untuk membalas dendam pada Daindra, karena ditolak cintanya." Akhirnya Gio memberanikan diri untuk berbicara pada Eros.

__ADS_1


Kerutan di kening Eros semakin dalam, saat mendengar ucapan Gio yang terasa asing, bahkan mungkin tidak mungkin terjadi.


"Maksud kamu balas dendam hanya karena cintanya ditolak Diandra?" tanya Eros, berusa meyakinkan asumsinya.


"Iya, benar. Awalnya Diandra dan aku mengira kalau semua ini hanya masalah biasa, hingga saat restoran tempat Ares bekerja terbakar, dan kami mengetahui kalau itu bukanlah sebuah kecelakaan, membuat kami merasakan ada yang janggal,'' jelas Gio.


"Jadi kebakaran itu bukan sebuah kecelakaan? Apa mungkin ada orang yang berbuat nekat hanya karena ditolak cint?" Eros masih belum sepenuhnya percaya.


"luka Ares adalah bukti, kalau laki-laki itu adalah orang yang nekat dan berbahaya," jawab Gio yakin.


Eros melebarkan matanya mendengar pernyataan dari menantunya. Dia sama sekali tidak menyangka akan ada orang yang akan berbuat seperti itu, terlebih kepada anak perempuannya.


"Tapi, kenapa harus melibatkan restoran tempat Ares bekerja? Itu kan tidak ada hubungannya dengan Diandra?" tanya Eros, masih saja bingung.


Gio terlihat bingung, untuk menjelaskan semua itu kepada mertuanya. Dia takut salah berbicara, mengingat selama ini hubungan antara Diandra dan keluarganya tidaklah baik.


"Kalau soal itu, mungkin lebih baik kalau Diandra sana yang menjelaskan," jawab Gio.


Eros menganggukkan kepala, walau di dalam hati dan juga pikirannya, belum bisa melepaskan masalah kebakaran restoran yang telah melukai anak bungsunya.


Gio terdiam sebentar, mencoba memilih kata yang tepat, untuk menjelaskan situasi yang sedang dialami dirinya dan sang istri.


"Sebenarnya ini ada hubungannya dengan seseorang yang katanya sangat berkuasa di daerah ini. Apa, Ayah mengenalnya?" tanya Gio dengan sedikit berhati-hati.


Eros terdiam mendengar pertanyaan Gio, entah apa yang didirikan laki-laki paruh baya itu, yang terlihat sedang berpikir keras.


"Memangnya ada apa dengan laki-laki itu?" tanya Eros, malah berbalik bertanya pada Gio.


"Laki-laki itu bernama Jonas, dia tinggal di daerah perumahan orang berpengaruh itu. Dia juga sebenarnya pernah ditangkap polisi, beberapa hari yang lalu. Tapi, Jonas berhasil kabur dan sampai sekarang masih menjadi buronan kepolisian," jelas Gio panjang lebar.


"Jadi, laki-laki yang bernama Jonas itu, sekarang masih menjadi buronan?"


"Iya, dia bahkan sempat mengirim pesan ancaman kepada Diandra. Untung saja saat itu aku yang mengetahuinya lebih dulu, hingga pesan itu tidak sampai terlihat oleh Diandra."


"Astaga! Kenapa bisa begini? Aku memang cukup mengenal orang berpengaruh itu, beberapakali aku juga pernah bertemu dengannya. Tapi, untuk bernegosiasi tentang masalah seperti ini, aku juga belum pernah mengalaminya ... apalagi kita belum tau apa status dari Jonas di kelompok itu."

__ADS_1


Eros, merasa was-was, mengingat kelompok itu adalah kelompok yang menguasai keamanan daerah di sana. Laki-laki paruh baya itu sedikit merasa ragu, mengingat dirinya harus berurusan dengan orang itu.


"Apa tidak bisa kita mencoba untuk bicara baik-baik dulu pada orang itu, karena ini sudah menyangkut keamaanan keluarga, Ayah, juga."


Gio masih mencoba untuk merayu Eros, agar mau mempertemukan dia pada orang yang dikatakan cukup berkuasa di daerah itu.


"Baiklah, nanti aku coba untuk menghubunginya dan mengatakannya untuk bertemu."


Gio tersenyum, begitu mendengar keputusan akhir yang diberikan oleh mertuanya. Dia akhirnya bisa bernapas lega, dengan harapan orang yang sedang mereka bicarakan bisa membantunya menangkap Jonas.


"Terima kasih, Ayah. Diandra pasti senang sekali kalau tau, Ayah, membantunya dalam salah ini," ujar Gio tersneyum bahagia.


"Diandra juga anakku, juga Ares yang harus terluka karena kejadian itu. bukankah itu sangat tidak adalah, memangnya kenapa dengan diputuskan cinta? Kita bisa mencari yang lebih baik, dibandingkan seseorang yang sudah menolak kita."


"Iya, benar sekali, Ayah. Kita adalah laki-laki, mana boleh mendindas perempuan, apalagi sampai melakukan hal yang tidak masuk akal, hanya untuk membalas dendam," angguk Gio, menyetujui perkataan dari mertuanya.


"Baiklah, nanti aku coba membuat janji dengan orang itu, kalau udah mendapat jadwal pastinya, aku akan mengajari kamu lagi," ujar Eros, memutuskan.


"Terima kasih, Ayah. Aku tunggu kabar baiknya." Gio tersenyum senang, berharap dengan adanya perantara dari Ayah mertuanya, masalah ini bisa selesai tanpa menggunakan kekerasan.


Flash back off.


Tidak butuh waktu lama, Gio sudah menyelesaikan sarapannya. Dia langsung beranjak dari meja makan, untuk mencuci bekas memasak dan makan dirinya juga para asisten tidak tau diri itu.


"Mimpi apa aku semalam, bisa jadi seperti asisten rumah tangga seperti ini," keluh Gio, sambil terus mencuci semua piring kotor itu.


Beberapa saat kemudian Gio pun sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya, dia kemudian masuk lagi ke dalam kamar, untuk membersihkan diri.


Gio membuka pintu perlahan, dirinya melihat Diandra yang kini sudah terlelap kembali di atas ranjang. Mungkin karena efek obat yang dia minum, hingga tidak mudah bagi perempuan itu untuk tidur kembali.


......................


Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih🙏😊


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2