Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Rahasia


__ADS_3

...Happy Reading...


.................


"Mah, lebih baik kita pilih yang lain aja ya," ujar Diandra saat sudah mengetahui harga dari kalung yang dirinya pilih.


"Enggak usah, sayang. Ini memang cocok banget kok buat kamu." Mama Hana malah tetap memilih kalung yang dipilih pertama oleh Diandra.


Setelah memenuhi prosedur pembelian, Diandra dan Mama Hana ke luar toko dengan paper bag di tangan. Selsai dengan acara belanja, ternyata di luar sana matahari sudah tenggelam di peraduannya.


Kini keempat perempuan keluarga Purnomo itu memutuskan untuk memanjakan diri di salon kecantikan langganan mereka, tentu saja tidak termasuk Diandra yang batu saja bergabung dengan keluarga sosialita itu. Diandra yang tidak tahu arah tujuan Mertua dan para iparnya hanya mengikuti ketiga perempuan yang terus menariknya.


Salon milik teman Erika yang seorang dokter kecantikan itu pun menjadi tujuan selanjutnya. Berkonsultasi hingga mengambil paket kecantikan yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Kini, Diandra harus terpisah dari mertua dan para iparnya.


Entah perawatan apa yang dipilihkan mertuanya itu, hingga Diandra terus diarahkan untuk melakukan berbagai perawatan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Diandra bahkan sudah tertidur lebih dari sekali, saking lamanya dia melakukan perawatan di salon itu. Jam delapan malam Diandra baru selesai melakukan perawatan, dia berdiri linglung melihat penampilannya yang sudah dirubah habis oleh para pegawai salon profesional itu.


Bukan hanya itu dirinya bahkan didandani dan dipakaikan baju yang entah dari mana. Gaun merah terang dengan model A–line itu tampak menonjolkan pinggang rampingnya. Di bagian bawah ada belahan memajang hingga sampai ke tengah paha, membuat Diandra masih bisa melangkah dengan bebas, juga memperlihatkan kaki jenjangnya.


Aksen brukat di bagian dada, dengan tali transparan di leher membuatnya tampak sedikit terbuka di bagian atas, hingga membuat penasaran yang melihatnya, akan kese*ian tubuh sang pemakai. Mekap sederhana yang hanya menonjolkan beberapa sisi kecantikan wanita itu membuat Diandra benar-benar tampil berbeda.


Awalnya Diandra banyak protes dan tidak mau didandani. Akan tetapi Mama Hana menekankan kalau ini adalah sebuah kejutan untuk Gio. Hingga akhirnya Diandea hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan aneh dari keluarga suaminya itu.


"Di mana keluargaku?" Diandra tampak bingung saat melihat tidak ada lagi ketiga sosok perempuan yang tadi membawanya ke sini.


"Tunggu saja di sini, sebentar lagi ada seseorang yang akan menjemput, Anda," jawab karyawan salon yang bertugas untuk menemaninya.


Suara pintu terbuka membuat Diandra langsung mengalihkan perhatiannya. Melihat siapa yang datang.


Deg!


Hati Diandra tiba-tiba saja berdetak lebih cepat, saat seseorang masuk ke dalam dengan tampilan yang selalu menawan.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Gio, suaminya sendiri. Diandra tampak terpaku melihat Gio yang berpenampilan rapih, menggunakan setelan jas berwarna hitam, dengan aksen warna merah di sisi kerahnya membuat mereka tampak serasi.


Rambut yang ditata rapih, dengan dasi berwarna senada, membuat Gio terlihat sangat tampan dan menawan.


Tak hanya Diandra yang terpesona oleh ketampanan sang suami. Gio pun merasakan hal yang sama. Diandra yang tampil berbeda dari biasanya mampu membuat perasaan Gio tidak menentu.


Perlahan Gio melangkah menghampiri Diandra, dia menekuk salah atu kakinya ke belakang dan bergaya bagaikan seorang pangeran yang ingin mengajak wanita pilihannya pergi.


"Mau kah tuan putri untuk pergi bersama hamba?" ujar Gio, sangat berlebihan.


Diandra mengulum senyum mendengar perkataan lebay suaminya. Dia kemudian mengangguk sambil menyambut uluran tangan Gio.


Laki-laki itu langsung bangun dan berdiri di samping Diandra, memberikan tangannya untuk dirangkul Diandra, hingga akhirnya mereka berjalan ke luar bersama.


"Kamu cantik sekali malam ini, sayang," bisik Gio di sela langkahnya.


"Terima kasih. Kamu juga tampan," jawab Diandra, dengan senyum manisnya.


"Akh, aku bisa terkena penyakit diabetes jika kamu terus tersenyum begitu, sayang." Gio bergaya seolah dirinya lemas.


"Itu gak gombal, sayang. Senyum kamu itu memang terlalu manis. Makanya jangan kasih senyum itu sama orang lain, kasihan kan mereka kalau tiba-tiba terkena diabetes karena kamu," ujar Gio.


"Ck!" Diandra berdecak, pipinya terasa panas, mendengar kata rayuan dari suaminya.


Untung saja saat ini wajahnya tertutupi mekap, hingga rona di pipi tidak terlihat oleh suaminya. Akan tetapi, bukan Gio namanya jika dia tidak bisa menebak, hingga laki-laki itu akhirnya terkekeh, karena tahu kalau saat ini rayuannya berhasil membuat Diandra tersipu.


Turun melalui lift, Gio dan Diandra akhirnya masuk ke dalam mobil sport milik Gio yang sudah terparkir di loby. Mall yang masih lumayan ramai, membuat sepasang suami istri itu cukup menarik perhatian para pengunjung.


"Kita mau ke mana?" tanya Diandra setelah keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Ke suatu tempat yang rahasia," jawab Gio, sambil masih fokus mengendarai mobil sport miliknya.


"Kok rahasia?" Diandra mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Karena ini adalah kejutan," jawab Gio santai.


Diandra menghembuskan napas panjang, kemudian memilih untuk mengedarkan pandangannya, melihat suasana kota Jakarta yang baru pertama kali dia nikmati.


Banyaknya lampu yang menenrangi, membuat kota besar itu seolah tidak tertidur. Aktivitas warga juga masih berjalan walau matahari sudah tidak menyinarinya lagi.


Gedung tinggi bertingkat yang menjulang, jalanan panjang bagaikan benang yang masih dipenuhi kendaraan, dan orang-orang pekerja keras yang masih harus membuka matanya di malam hari, untuk mencari rejeki demi tanggung jawab sebuah nafkah keluarga yang mereka sayangi.


Beberapa saat berkendara, Gio akhirnya mulai memasuki sebuah hotel mewah di pusat kota. Hotel dengan cap bintang lima itu, tentu bukanlah hotel yang bisa dimasuki oleh sembarang orang, hanya orang-orang berdompet tebal dengan penghasilan, dan aset bertebaran di mana-mana yang bisa menginjakkan kakinya di sini.


"Mau ngapain kita ke hotel?" tanya Diandra.


"Rahasia, sayang," jawab Gio sambil menatap wajah istrinya penuh kasih sayang.


"Gio, kenapa ada banyak orang?" tanya Diandra saat melihat banyak wartawan yang ada di depan hotel.


"Paling ada artis yang sedang menginap di sini, sayang. Tenang saja, ya," jawab Gio lagi.


Diandra terdiam, jawaban Gio ada benarnya juga, ini adalah hotel mewah, pasti banyak artis papan atas, bahkan luar negeri yang memilih hotel ini untuk menginap.


Sampai di lobi, ternyata Randi sudah menunggu, laki-laki itu langsung membuka pintu mobil untuk Gio. Gio pun ke luar dengan gagah dan penuh pesona.


Tubuh tinggi sempurna yang dibalut setelan mahal, dan wajah tampan, siapa yang bisa menolak pesona seorang mantan casanova seperti Gio.


Jangan lupakan juga, asal-usul keluarga yang jelas dan terpandang, dengan kekayaan melimpah di belakngnya. Semua itu sudah sangat cukup untuk membuat para wanita untuk memperebutkannya. Bahkan bayak dari keluarga kolega bisnisnya, yang dengan suka rela menawarkan anak gadisnya untuk dia nikahi.


Mereka tidak perduli akan berita buruk tentang Gio yang merupakan pemain wanita. Yang mereka pikirkan adalah hidup terjamin, dengan bisnis yang sudah pasti akan berkembang hanya dengan menyandang gelar sebagai mertua atau kerabat keluarga Purnomo.


Gio berjalan memutar demi membuka pintu untuk istrinya, dia tidak pernah mau menyerahkan tugas berharga itu kepada orang lain. Walaupun terlihat kecil, akan tetapi, dengan dia membuka pintu mobil untuk istrinya, dia tahu wanita akan merasa diperhatikan dan dihargai sebagai seorang istri dan yang disayangi suaminya.


Itu juga yang dirasakan oleh Diandra, dia merasa begitu dicintai dan diperhatikan oleh suaminya, hanya karena perhatian kecil yang Gio lakukan berturut-turut padanya.


Ingatkah, kalau yang kecil bila dikumpulkan akan terasa besar juga, begitu juga dengan perhatian dan rasa cinta. Perhatian kecil yang terus berulang lebih berpotensi mendatangkan sebuah kasih sayang dan cinta, dibandingkan dengan sesuatu yang besar, akan tetapi, dilakukan hanya satu kali.

__ADS_1


..................


__ADS_2