Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Ke Makam


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Setelah cukup lama berdebat dan memilih, akhirnya Gio dan Diandra juga keluarganya berhasil ke luar dari mall tersebut. Sesuai dengan keinginan Gio, masing-masing dari keluarga Diandra mendapatkan satu stel baju dari atas sampai bawah.


"Tujuan selanjutnya milik kalian, aku hanya akan mengantarkannya saja," ujar Gio setelah mobil yang dia kendarai berhasil ke luar dari area mall.


"Mau ke mana kita sekarang, Yah?" tanya Gio, melirik sekilas pada Eros yang duduk di sampingnya.


"Mau pada ke mana lagi nih? Mumpung kita lagi di Jakarta," Eros malah bertanya lagi pada anak dan istrinya yang berada di jok belakang.


"Gimana kalau kita berkunjung ke makan Almarhum Pak Harsa dan Pak Yoga saja, mumpung kita ada di Jakarta," ujar Bunda Lisna.


"Boleh tuh, Bun. Ayah juga udah lama gak ke makam Kakek dan Papanya Nak Gio," jawab Ayah Eros, menyetujui saran Bunda.


"Tapi, kan, makan mereka berada di luar kota, Bun," ujar Ayah, sedikit tidak enak pada menantunya.


"Tapi, lebih dekat dari sini, dari pada dari kampung, Yah. Lagian, bukannya anak-anak belum pernah ke makan Almarhum, padahal sekarang Diandra sudah menjadi menantu di keluarga Purnomo," ujar Bunda.


"Gimana, Nak Gio, kalau kita ke makam saja?" tanya Ayah, beralih pada menantunya.


"Boleh, Yah. Kalau gitu kita ke sana saja, ya," angguk Gio.


Akhirnya Gio melajukan mobilnya menuju ke makam Kakek, Nenek, dan Papanya, yang sebenarnya berada di luar kota.


Beberapa jam berkendara di siang hari, mereka akhirnya sampai di pemakaman mewah setelah hari sudah mulai sore. Mereka bahkan sempat mampir di toko baju, untuk membeli selendang sebagai penutup kepala bagi Diandra dan Bunda.

__ADS_1


"Ayo, kita turun," ujar Gio, begitu dia sudah memerkirkan mobilnya.


"Ternyata makam, keluarga kamu jauh juga, ya?" tanya Diandra begitu dia turun dan berdiri di samping suaminya. Tangannya membenarkan selendang hitam di kepalanya.


"Iya, dulu Papah mau, makan Kakek dan Nenek berada di tempat yang bagus, jadi kami juga memakamkan Papah di tempat yang sama," jelas Gio.


Sejak perjalanan menuju ke makam raut wajah Gio sedikit berubah, dia juga lebih banyak diam dibandingkan biasanya. Diandra bisa melihat itu semua, walau sesekali suaminya itu masih tampak menyembunyikan kegelisahannya dengan menimpali candaan dari Ayah atau Ares.


Ingin rasanya Diandra bertanya pada suaminya. Akan tetapi, dia juga tidak mau terlalu mencampuri urusan pribadi dari suaminya, sebelum Gio mau bercerita sendiri padanya.


Untuk saat ini setidaknya Diandra harus menahan diri dulu di depan keluarganya. Entah nanti saat mereka bardua, apa Diandra masih bisa menahan rasa penasarannya.


Diandra dan Gio mampir lebih dulu di pedagang bunga yang berada di dekat pintu masuk, mereka membeli bunga tabur, air mawar, dan sebuket bunga segar untuk disimpan di atas makam.


Berjalan beberapa menit menuju blok pemakaman tempat keluarga besar Purnomo, hingga akhirnya mereka semua sampai di depan tiga batu nisan dengan nama yang mereka tuju.


Semuanya tampak khusyuk dalam lantunan ayat suci yang terdengar merdu dan seirama, hingga tidak menyadari jika salah satu diantaranya sudah menahan air mata. Siapa lagi kalau bukan Gio, laki-laki mantan casanova yang dulu adalah seorang pembangkang itu, kini merasa terharu saat ada orang lain selain keluarga yang mengaji untuk Kakek, Nenek, dan Papahnya.


Tanpa disangka, orang-orang itu adalah orang-orang yang dulu sempat dia remehkan dan dia tentang kehadirannya. Amanat dari sang kakek selalu dia tolak, hingga akhirnya waktu dan kesalahan telah membuatnya menyesal, melakukan semua itu.


Kakek, Ayah, lihatlah, keluarga yang dulu Kakek perjuangkan agar tidak pernah memutuskan silaturahmi, kini mereka datang dan mengaji di atas makam kalian dengan tulus,' batin Gio.


Terima kasih, sudah memberikan keluarga ini untuk aku. Kini aku bisa merasakan apa yang kalian perjuangkan sejak dulu. Mereka memang terlalu berharga untuk dicampakan, Gio terus berujar di dalam hati, seolah sedang mengadu pada kakek dan Papahnya.


Setelah mengaji, mereka sama-sama berdoa dan berujar dalam hati, mengungkapkan rasa terima kasih kepada orang-orang baik yang telah berpulang lebih dulu.


Pak Harsa, Yoga, sekarang kemauan kalian untuk menyatukan anak-anak kita sudah terwujud, Diandra anakku, dan Gio anak kamu, Yoga, sudah menikah. Aku lihat mereka juga mulai mencintai satu sama lain, batin Ayah Eros.

__ADS_1


Pak Harsa, Mas Yoga, terima kasih sudah mendatangkan Nak Gio, untuk anak saya dan keluarga kami. Gio adalah anak yang baik dan bertanggung jawab. Aku yakin, Gio bisa membuat Diandra bahagia. Bunda ikut berkata di dalam hati.


Kakek, Nenek, Papah, perkenalkan aku Diandra, anaknya Ayah Eros dan Bunda Lisna. Saat ini aku juga istri dari Gio. Aku harap Kakek, Nenek dan Papah bahagia selalu di sana, dan merestui pernikahan kami berdua. Maaf, aku baru bisa menemui kalian di sini sekarang, semoga kalian tidak marah, ya, batin Diandra yang memang tidak pernah tau tentang perjodohannya dengan Gio.


Gio dan Eros, memutuskan untuk menutup kisah perjodohan yang ditolak sebelumnya, biarkan semuanya berawal dari pertemuan pertama Gio dan Diandra, tanpa ada embel-embel perjodohan lagi, walau memang semua itu tetap saja akan berhubungan.


Dua laki-laki itu memutuskan untuk menutup buku tentang kisah perjodohan Gio dan Diandra, dan beralih pada kisah perjuangan cinta Gio untuk Diandra, yang pastinya harus berujung bahagia. Walau tidak ada yang pernah tau, akan apa yang terjadi di depan sana, di dalam kehidupan yang sesungguhnya.


Selesai dengan urusannya masing-masing, Ayah, Bunda, Ana, dan Ares memilih untuk berpamitan lebih dulu, membiarkan Gio untuk berdua bersama dengan Diandra di sana.


"Kakek, Nenek, Papah, sekarang aku ke sini tidak sendiri lagi, aku bersama dengan wanita yang sudah menjadi istriku," ujar Gio, memperkenalkan Diandra. Dia tersenyum sambil memegang tangan istrinya yang berada di sampingnya.


"Namanya, Diandra. Cantik, kan? Aku sangat mencintainya, semoga Kakek, Nenek, dan Papah, mau merestui penikahan kita," sambung Gio lagi.


Beberapa saat dia berbicara seolah sedang mengobrol dengan orang yang masih hidup, bercerita tentang kisah cintanya dengan Diandra, hingga tanpa disadari senja sudah menyapa, menyisakan semburat warna merah yang mewarnai lagit.


Gio dan Diandra beranjak, mereka menyusul keberadaan keluarga Diandra yang ternyata sudah menunggu mereka di salah satu warung tidak jauh dari area makam.


"Mereka tau aja kalau ada warung di sana. Aku aja gak pernah tau warung itu," ujar Gio, saat setelah mendengar laporan dari anak buahnya, ketika mereka berdua kebingungan mencari keluarga Diandra yang tidak ada di sekitar mobil.


"Namanya juga orang kampung, yang mereka cari kalau enggak tempat ngopi ya tempat makan," jawab Diandra diiringi kekehan kecil dibelakngnya.


"Hus, gak boleh gitu, orang kota juga sama saja. Kalau ke tempat baru yang dicari pasti tempat makan, kalau laki-lak, ya tempat ngopi," ujar Gio menimpali omongan Diandra.


Mereka berdua akhirnya mengambil mobil dan menyusul keluarga Diandra menuju sebuah warung sederhana. Benar saja, di sana Ayah dan Ares sedang menikmati kopi dengan gorengan hangat, sedangkan Ana, sedang menyuapi Andra bubur, dan Bunda yang sedang menyeruput teh panas.


Gio dan Diandra ikut bergabung lebih dulu, untuk hari ini Gio berubah menjadi laki-laki sederhana dari kalangan bisa. Dia menyesuaikan dengan kehidupan keluarga Diandra yang memang sangat sederhana. Walaupun sebenarnya di kampung, mereka termasuk orang yang berada.

__ADS_1


......................


__ADS_2