Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kejutan ke dua


__ADS_3

...Happy Reading ...


.......................


Sampai di depan pintu lift, Gio memperlihatkan sebuah kain tipis yang dilipat memanjang.


"Untuk apa?" tanya Diandra, menatap Gio dengan pandangan bingung.


"Tutup matanya dulu, ya," ujar Gio.


"Kenapa harus pake ditutup segala?" Kerutan di kening Diandra terlihat jelas.


"Biar kejutannya makin terasa," jawab Gio dengan pandangan penuh permohonan, walau kekehan kecil juga terdengar dari mulutnya.


Diandra terdiam, dia menatap suaminya dengan kesal, hingga beberapa saat kemudian dia akhirnya mengangguk juga. Membuat Gio tersenyum sumringah.


Gio menutup mata Diandra dengan kain itu, dia mengikatnya di belakang kepala.


"Sudah ... ayo kita masuk," ujar Gio sambil merangkul pundak istrinya.


Diandra otomatis mengulurkan kedua tangannya, mencoba meraba apa saja yang ada di depannya. Gio mengambil salah satu tangan Diandra untuk dia genggam, kemudian menuntun istrinya untuk masuk ke dalam lift.


Beberapa saat berada di dalam kotak besi itu, Gio kini membawa Diandra ke luar. Diandra tidak tahu ini di mana, dia hanya bisa meraskan angin malam yang menerpa tubuhnya, menandakan kalau kini dirinya berada di luar geduang.


"Sedikit lagi," ujar Gio, kembali menuntun Diandra untuk berjalan.


"Sebenarnya kamu mau membawa aku ke mana sih, Gio?" tanya Diandra. Dia bisa merasakan angin di sini berhembus cukup kuat, itu semua terasa dari bajunya yang sedikit berkibar diterpa angin.


Tunggu dia juga mendengar suara mesin sesuatu yang sangat besar, apa itu sebuah mobil, atau yang lainnya? Diandra semakin penasaran.


"Sudah sampai," ujar Gio sambil menghentikan langkah keduanya.


"Kamu udah siap untuk membuka mata, sayang?" tanya Gio dengan nada bicara terasa sangat senang.


Diandra menganggukkan kepala, sebagai jawaban. Dia sangat penasaran, sedang berada di mana dirinya kini.


Gio beralih berdiri di belakang sang istri, kemudian perlahan membuka ikatan kain di belakang kepala istrinya.


Diandra mengerjapkan mata, saat Gio sudah membuka penutup matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea.


"Gio?!" Dengan wajah linglung Diandra menoleh menatap wajah suaminya.

__ADS_1


Gio tersenyum, kemudian kemudian merangkul pinggang ramping istrinya. "Ayo," ujarnya.


"Ini?" Diandra masih bingung.


Bagaimana tidak bingung, jika di depannya tiba-tiba ada helikopter yang sudah siap untuk terbang. Entah mau ke mana lagi Gio akan membawanya di tengah malam seperti ini.


Beberapa orang yang Diandra yakini adalah anak buah Gio, juga tampak berjaga di sekitar mereka. Sepertinya Gio memang sudah menyiapkan semua ini sejak awal.


Ya, saat ini Gio dan Diandra sedang berada di atap gedung, di mana terdapat tempat mendarat helikopter.


"Memang kita mau ke mana?" tanya Diandra, untuk kesekian kalinya.


"Naik saja dulu, nanti kamu juga akan tau, sayang," jawab Gio, sambil menarik Diandra untuk berjalan menuju pintu masuk helikopter.


Angin dari baling-baling membuat langkah Diandra cukup sulit, apa lagi dengan gaun panjang yang otomatis ikut terbang saat terkena angin di sekitarnya. Gio dengan telaten membantu Diandra untuk terus melangkah mendekati mesin berbentuk capung raksasa.


Setelah pejuangan yang cukup melelahkan, akhirnya sepasang suaki istri iti sudah sampai di dalam helikopter. Gio membantu Diandra untuk duduk dengan nyaman lebih dulu, dia juga memasangkan helm pelindung untuk istrinya.


Setelah keduanya siap, helikopter mulai bergerak terbang meninggalkan gedung hotel bintang lima itu.


Diandra menggenggam tangan Gio erat, dia merasa gugup, mengingat ini adalah pertama kalinya dia menaiki mesin berbentuk capung raksasa itu.


"Santai saja, coba lihat ke samping, kita bisa menikmati keindahan kota Jakarta dari atas sini," ujar Gio, sambil mengusap tangan istrinya.


"Tapi, aku takut," ujar Diandra.


"Coba dulu. Ada aku di sini, jadi kamu gak usah takut." Gio berusaha meyakinkan istrinya.


Diandra perlahan mulai menoleh ke jendela, melihat ke bawah, di mana kota Jakarta terlihat jelas. Diandra melebarkan matanya, saat matanya melihat berjuta lampu yang terlihat bagaikan bintang yang bertaburan.


Keindahan kota Jakarta memang tidak pernah bisa ditolak, mulai dari iming-iming lapangan pekerjaan dan kesuksesan. Hingar bingar kesenangan dunia dengan kebebasan pergaulannya. Sampai keindahan pemandangan kota yang sudah terkenal sampai ke luar negeri.


Dari semua itu, Diandra hanya baru merasakan sebagian kecilnya saja. Masih banyak yang belum Diandra tahu di dalam bagian ibu kota itu. Mulai dari hal kecil yang sudah tersebar luas, hingga hal besar yang tersembunyi di dalam sebuah keindahan fana.


"Kamu suka, sayang?" tanya Gio, melihat wajah istrinya yang mulai santai.


Diandra mengangguk sambil melihat Gio sekilas, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke luar helikopter.


"Ini bagus banget, Gio," ujarnya dengan mata yang sudah berganti dengan binar bahagia.


Gio tersenyum melihat raut wajah bahagia dari Diandra.

__ADS_1


"Kamu cantik jika tersenyum seperti itu," ujar Gio menatap dalam wajah Diandra yang sedang tersenyum bahagia.


Semoga setelah ini tidak ada lagi kesedihan yang menghiasi wajah cantikmu, sayang, sambung Gio di dalam batin.


Diandra tidak menghiraukan omongan Gio yang menurutnya sudah biasa, dua lebih memilih untuk menikmati suasana malam kota Jakarta dari atas. Sungguh, ini adalah sesuatu yang baru dan langka untuknya.


Perempuan itu merasa, tidak boleh menghilangkan kesempatan berharga seperti ini, untuk menikmatinya selama mungkin.


Beberapa saat berada di atas, kini mereka terbang ke arah pantai, hingga mata Diandra kini kembali dikejutkan dengan pertunjukan kembang api dari arah laut yang begitu indah, dan memukau.


"Gio, itu?!" seru Diandra sambil melihat sang suami. Tangannya menunjuk arah di mana kembang api itu mekar, menampilkan cahaya indahnya. Tubuhnya bergerak riang, bagaikan seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru.


"Bagus gak?" Gio mengalihkan tangannya memeluk pinggang ramping sang istri.


"Iya, itu indah banget!" jawab Diandra penuh semangat, dia menganggukkan kepala berulang kali.


Gio terkekeh, dia ikut bahagia melihat Diandra yang tampak antusias dengan kejutan yang sudah lama dia persiapkan dengan susah payah.


Di pertunjukan terakhir terlihat kembang api itu membentuk gambar hati, kemudian di susulan dengan nama Diandra di belakangnya.


Diandra menutup mulutnya yang menganga takjub melihat indahnya pertunjukan kembang api itu. Dia kemudian melihat ke arah Gio yang sejak tadi hanya asik memandang wajah cantik sang istri.


"Terima kasih," ujarnya dengan wajah berbinar.


"I love you, Diandra." Bukannya menjawab Gio malah mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya.


Diandra tampak terdiam mendengar ucapan Gio, dia melihat suaminya dalam. Ingatan semua kenangan kehidupannya bersama Gio mulai melintas di kepala.


Dari awal pertemuan mereka, karena Gio menolongnya dari percobaan pelecehan se*sual, yang malah dihadiahi sebuah tendangan di pagi hari. Kemudian pernikahan dadakan yang tanpa rencana atau pembicaraan lebih dulu.


Kehidupan rumah tangga yang kacau dan penuh dengan masalah, mencoba mengurai masalah satu per satu, dengan kekuasaan dan koneksi yang luas, Gio selalu berhasil membantunya menyelesaikan masalah dengan cukup mudah.


Diandra baru sadar kalau selama ini dirinyalah yang keras kepala dan menolak hubungan pernikahan mereka, hingga membut semuanya menjadi rumit. Sedangkan Gio malah terus bersikap sabar dan menerima sikap keras kepalanya.


Tanpa sadar, dalam menghadapi masalah pun, mulai tubuh benih-benih rasa kasih sayang dan cinta yang hadir di dalam hati Diandra.


Ketulusan Gio dalam setiap keputusan yang dilakukan laki-laki itu untuknya, membuat Diandra mulai tahu seberapa besar rasa cinta Gio untuknya.


"Aku tidak membutuhkan jawaban, kalau kamu masih belum mau menjawab," ujar Gio, saat melihat Diandra hanya terdiam.


"Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan, sayang. Jangan terbebani dengan semua itu. Aku cukup nyaman dengan hubungan kita yang seperti ini," sambungnya lagi.

__ADS_1


....................


__ADS_2