Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Berkunjung


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Hari masih gelap saat Gio dan Hana meninggalkan rumah, persinggahan mereka, keduanya bahkan terlihat berjalan dengan buru-buru.


"Ayo, Gio. Mama harus segera bertemu dengan mereka," desak Hana saat Gio baru saja masuk ke dalam mobil.


"Iya, Mah, ini aku juga udah cepet kok," jawab Gio sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.


Jalan yang masih terlihat sedikit basah, akibat embun pagi yang bahkan masih terlihat turun, menyerupai gerimis kecil di pagi hari.


Udara dingin pun masih terasa menusuk tulang, ketika matahari bahkan masih bersembunyi di peraduannya.


Dua jam berkendara, mobil yang dikendarai oleh Gio kini mulai memasuki sebuah perkampungan.


"Kamu gak salah jalan kan, Gio? Masa teman kakek kamu tinggal di tempat yang seperti ini?" tanya Hana, yang melihat jalan di sekitarnya yang masih terlihat banyak kebun.


"Enggak, Mah. Yang aku tau, ini memang jalan menuju rumah mereka," jawab Gio, sambil terus melihat ke depan, mengingat jalan di sini masih cukup tidak terawat.


"Apa mereka bangkrut? Seingat mamah, dulu mereka tidak tinggal di pegunungan seperti ini," ujar Hana, mencoba menebak yang terjadi.


"Tidak, Mah. Aku sudah menyelidikanya, mereka masih sama seperti dulu, walaupun setelah temannya kakek meninggal, perusahaan peninggalannya dipegang oleh anaknya yang tertua."


"Sedangkan temannya papah, memilih untuk pergi dan menetap di kampung istrinya. Dia juga memulai usahanya sendiri di kampung itu dari nol."


"Kabarnya sekarang dia sudah menjadi petani yang terbilang sukses di daerah ini, dengan kebun yang luas dan penghasilan cukup besar," jelas Gio panjang lebar.


"Apa mungkin di keluarga mereka ada masalah, sampai terjadi perpecahan seperti itu?" Hana bertanya dengan kerutan halus di keningnya.


"Aku gak tau kalau soal itu, Mah. Aku gak mencari tau sampai ke sana," jawab Gio.


Kini mobil miliknya sudah berhenti di pelataran sebuah rumah yang terlihat cukup besar. Akan tetapi masih terlihat sederhana bagi Gio dan Hana.


Hana mengedarkan pandangannya, melihat suasana di sekitarnya, kemudian pandangannya berhenti di rumah yang kini ada di depannya.


"Ini rumah mereka?" tanya Hana, menatap Gio penuh tanda tanya.


"Iya, Mah. Yuk turun," ujar Gio sambil membuka sabuk pengamannya.

__ADS_1


Dengan ragu Hana mengikuti apa yang Gio lakukan, dia masih belum percaya kalau suaminya pernah memiliki teman yang tinggal di pegunungan seperti ini.


"Yuk, Mah," ajak Gio lagi, sambil setelah membuka pintu untuk Hana.


Hana turun dari mobil dengan pandangan tidak lepas dari rumah di depannya. Mereka berdua pun mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah rumah.


Gio melihat seorang perempuan tampak ke luar dari rumah. Mata keduanya bertaut sekilas disusul dengan senyum di bibir keduanya.


"Nak Gio, kenapa gak bilang dulu kalau mau ke sini?" ujar wanita paruh baya itu, sambil menghampiri Gio dan juga Hana.


Matanya sekilas melihat ke arah belakang Gio dan Hana, berharap anak sulungnya itu ikut pulang bersama dengan mereka.


Namun, sepertinya kekecewaan harus menghampiri hatinya kali ini. Karenanya nyatanya Diandra tidak ada, bahkan perempuan itu tidak tau kalau suami dan mertunya, pergi berkunjung ke rumah kedua orang tuanya.


"Maaf, Bunda. Ini karena, Mamah, yang udah gak sabar mau bertemu dengan, Bunda dan Ayah," ujar Gio, sambil mencium punggung tangan perempuan itu yang tidak lain adalah Lisna.


"Pagi, Jeng. Perkenalkan saya Hana, ibunya Gio." Hana mengenalkan diri, setelah Gio kembali menegakkan tubuhnya.


Lisna tersenyum lebar, dia pun langsung menyambut uluran tangan Hana dengan sangat hangat, disambung dengan menempelkan pipi kanan dan kiri.


"Saya Lisna, Jeng. Mari masuk, maaf rumah kami seperti ini," ujar Lisna, setelah mereka menguraikan pelukannya masing-masing.


Kedua wanita paruh baya yang baru saja saling mengenal itu, langsung masuk ke dalam rumah bersama-sama, mereka bahkan terlihat sudah akrab.


Gio yang merupakan laki-laki satu-satunya hanya mengikuti langkah kedua wanita itu di belakang.


"Silahkan duduk, sebentar saya buatan minum dulu," ujar Lisna.


"Tidak usah repot-repot, Jeng." Hana merasa tidak enak.


"Gak repot kok, sebentar ya," ujar Lisna lagi.


"Ayah dan Ares ke mana, Bunda?" tanya Gio, sebelum Lisna beranjak.


"Mereka sedang melihat kebun, gak jauh dari sini. Tunggu sebentar ya, biar Bunda suruh orang buat kasih tau mereka," jawab Lisna.


Ya, karena tidak tau akan ada tamu, jadi Eros dan Ares sudah terlanjur pergi melihat kebun, sejak pagi tadi.


"Lumayan juga suasana rumahnya, walaupun sederhana, tapi, semuanya tertata rapih dan bersih," puji Hana, setelah mereka hanya tinggal berdua saja.

__ADS_1


Gio mengangguk sambil tersenyum. Lama mengedarkan pandangannya, kini matanya teralihkan pada sebuah bingkai foto yang tergantung di salah satu dinding, di sana terlihat dua orang gadis remaja yang sedang tertawa bahagia.


"Itu, bukannya Diandra?" tanya Hana, sambil menunjuk pada foto yang dimaksud.


Gio mengikuti arah telunjuk ibunya, dia pun ikut tersenyum melihat salah satu gadis yang sia yakini adalah Diandra.


"Dia istriku, Mah," ujar Gio.


"Tapi, kok mama lihat, mirip dengan Diandra ya." Hana masih terus membandingkan wajah Diandra di dalam ingatannya dan gadis di foto itu.


"Ya, memang istri aku Diandra, Mah," ujar Gio, akhirnya jujur juga.


Hana menoleh pada Gio cepat, dia melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Gio.


"Jadi gadis yang kamu nikahi adalah Diandra? Sekaligus anak dari temannya papah?" tanya Hana.


"Tapi, kenapa waktu di hotel, kalian seolah-olah tidak saling mengenal, heuh?" sambung Hana lagi, menatap geram wajah anak laki-lakinya itu.


"Maaf, Mah. Tapi, sebaiknya nanti kita bicarakan lagi soal itu. Gak enak kalau ada yang dengar nanti," ujar Gio, sambil melihat ke sekitarnya, memastikan tidak ada yang mendengar mereka.


"Oke. Tapi, kamu harus janji, jelasin ke mama nanti," pinta Hana.


"Iya, Mah. Pasti nanti aku jelasin," jawab Gio, mengangguk patuh.


Beberapa saat menunggu akhirnya Eros dan Ares datang, mereka langsung menghampiri Hana dan Gio yang sedang menunggu di ruang tamu.


"Maaf membuat kalian menunggu lama. Perkenalkan sayang Eros, ayahnya Diandra ... dan ini Ares, adik Diandra," ujar Eros.


Hana tersenyum melihat sikap ramah keluarga Diandra padanya, dia pun menerima uluran tangan Eros sambil memperkenalkan namanya. "Hana."


"Mari, silahkan duduk," ujar Eros kemudian.


Kelima orang itu kini duduk bersama di ruang tamu. Hana pun mengutarakan niatnya datang ke keluarga Diandra, dia ingin meluruskan urusan Ayah mertuanya dan juga Ayah dari Eros.


Perjanjian mereka untuk menikahkan para cucunya, yang dibuat setelah melihat keturunan sebelumnya semuanya berjenis kelamin laki-laki.


Kini bisa terwujud, apalagi ternyata Gio dan Diandra telah menikah.


......................

__ADS_1


Apakah Eros sudah tau kalau Gio adalah anak dari Yoga dan Hana? Bagaimana reaksi Eros selanjutnya? Komen👍


__ADS_2