Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Melepas lelah


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


"Antarkan dia pulang!" ujar Gio dingin.


Ana tampak sudah lebih tenang, setelah selama hampir satu jam dia bercerita di depan Gio sambil menangis.


"Maafkan aku karena harus merepotkan kamu, sedang masalahku," lirih Ana.


Gio mendengus, dia sama sekali tidak suka dengan Ana. Menurutnya semua masalah hidup Diandra bermula karena sikap egois Ana, yang lebih memilih cinta dibandingkan dengan keluarganya sendiri.


Walaupun dia juga tidak bisa memungkiri kalau Diandra juga bodoh dalam mengambil keputusan, dia dengan cerobohnya menyetujui rencana gila Ana untuk menikahi laki-laki brengsek seperti Eric, sampai akhirnya terjerembab dalam sakit hati berkepanjangan.


Ingin rasanya di memaki dan melampiaskan kekesalannya pada wanita di depannya. Akan tetapi, dia juga sadar kalau itu semua tidak akan ada guananya. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain membantu masalah Ana, demi kebahagiaan istrinya, dan menghilangkan simpul di hati Diandra, yang terus mengikatnya dalam masalah di masa lalu.


Dia juga sadar, kalau ini memang resiko dirinya yang berani menikahi seorang perempuan dengan masalah masa lalu yang belum selsai. Mau tidak mau, dia harus terlibat dalam penyelesaiannya, agar istrinya bisa membuka lembaran yang baru hanya bersamanya dan keluarga kecil mereka nantinya.


"Maafmu hanya akan aku terima jika kamu sudah bisa berpikir dengan dewasa. Aku benci orang bodoh yang mau mengorbankan keluarga demi cinta!" jawab Gio dingin.


Ya, sikap Ana meningkatkannya tentang kebodohannya sendiri di masa lalu. Entah berapa lama dia bisa keluar dari penyesalan, yang bahkan sampai saat ini masih terasa mengganjal di dalam dada.


Ana terdiam, dia tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi ucapan Gio yang seakan langsung menusuk ke dalam hati. Dia mengakui semua perbuatannya di masa lalu adalah sebuah kebodohan yang menimbulkan penyesalan untuk dirinya dan orang-orang yang menyayanginya.


"Pergilah, dan jangan sampai ada orang yang tau tentang tempat ini, atau kamu akan melihat bagaimana aku bisa bertindak lebih terhadapmu," ujar Gio, sedikit mengancam Ana.


Ana langsung mengangguk, padahal dia sama sekali tidak tahu saat ini berada di mana, mengingat matanya di tutup sejak penculikannya. Dia juga sadar kalau Gio bukanlah orang sembarangan, dia bukan hanya seorang pengusaha biasa.


Awalnya Ana tidak mau mengatakan semuanya, karena tidak mau melibatkan Diandra di dalam masalahnya. Akan tetapi, sepertinya dirinya salah. Diandra bahkan berada di tempat yang sangat aman, dengan suami yang hebat di sampingnya.


Semua kejadian hari ini yang terjadi padanya, menjadi bukti bahwa Gio termasuk pada orang-orang yang menyeramkan, walau mungkin dia bukanlah termasuk orang-orang yang berada di dalam bisnis dunia hitam.


Gio menghembuskan napas kasar, ada sedikit rasa kasihan saat melihat wajah sendu dan kacau saudara kembar istrinya itu. Dia bahkan masih bisa mendengar suara sisa tangisnya yang terasa menyayat hati.

__ADS_1


"Maaf, aku sudah memaksamu mengorek luka lama," ujar Gio sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Ana.


Wanita itu tampak melihat punggung tegap Gio yang terus menjauh drainya. Dia merasa bersyukur karena Diandra mendapatkan laki-laki seperti Gio. Dia pastikan Gio pasti bisa menjaga saudara kembarnya itu dengan baik.


Hidup dalam dunia yang hitam yang penuh dengan rasa takut dan resah, membuatnya tahu pentingnya berpikir berulang kali sebelum memutuskan sesuatu. Dia sudah menerima kehidupannya yang sulit selama tiga tahun ini, sebagai sebuah hukuman dari semua kebodohannya.


Semua rasa sakitnya, dia anggap sebagai penebus untuk sakit hati yang telah diaberkan kepada kedua orang tua dan dua orang saudaranya. Kali ini dia hanya ingin berkumpul kembali dengan anaknya, buah hati yang sangat dia cintai.


Tidak ada lagi yang lebih berharga di dalam hidupnya, selain anak yang sudah dua tahun ini terpisah darinya. Ya, akibat dari semua kejadian ini, dia juga bisa merasakan, betapa sakitnya seorang ibu di saat terpisah dari anaknya.


Mungkin ini juga yang dirasakan oleh ibunya, saat dia memilih ke luar dari rumah dan memilih orang lain dibandingkan mereka yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


Setelah Gio menghilang, Ana kembali ditutup matanya, untuk kembali ke rumah Mang Aan. Dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengetahui letak tempat dirinya bertemu dengan Gio.


...***...


Gio masuk ke kamar dengan suasana hati yang sedikit kalut, masalah ini cukup banyak menyita waktu dan pikirannya. Dia berharap bisa menemui istrinya hanya untuk bermanja dan menghilangkan lelah. Sungguh, dia sangat merindukan Diandra, walau mereka baru saja berpisah beberapa jam.


Dengan gerakan kasar, dia membuka tiga kancing dibagian atas kemejanya. Langkah lebarnya terayun menuju ke kamar mandi, menyusul istrinya.


Sementara itu, Diandra sedang berendam di dalam bath tub, dia yang merasa masih ada waktu untuk menyambut kedatangan suaminya, memilih bersantai bersama busa yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Diandra menyandarkan tubuhnya pada sisi bath tub sambil menutup matanya, mulutnya bersenandung ringan, menandakan kalau perempuan itu sedang menikmati waktunya.


Lilin aroma terapi, membuat suasana hatinya yang kalut membuat semakin membaik, pikirannya pun merasa tenang. Tanpa sadar Diandra mulai tenggelam dalam kenyamanannya.


Namun, tiba-tiba Diandra terkejut saat mendengar suara pintu terbuka. Sekejap dia langsung membuka matanya, menolehkan wajah menatap laki-laki yang kini tengah berdiri di depan pintu.


Gio tersenyum sumringah, melihat Diandra yang berada di dalam bath tub, dengan kasar dia langsung menghampiri istrinya.


"Kamu, kapan sampai?" tanya Diandra dengan wajah terkejutnya.


"Baru saja," jawab Gio, tangannya melepaskan kemeja yang membalut tubuhnya dengan gerakan kasar.

__ADS_1


"Eh, kamu mau ngapain? Kok pake lepas baju segala," panik Diandra.


"Mandi bareng," jawab Gio yang langsung menyangga kepala istrinya, lalu duduk di belakang tubuh Diandra.


Saat Gio berhasil duduk, otomatis air di dalam bath tub langsung tumpah dengan membawa busa yang berada di bagian atas.


"Kamu apa-apaan sih, maen masuk aja, ih!" Diandra merengut kesal.


Gio terkekeh, dia melingkarkan tanggannya ke depan perut Diandra, dagunya dia sadarkan di pundak istrinya yang tampak basah. Menghirup aroma tubuh istrinya dalam, mencoba menghilangkan rasa penat yang sebelumnya begitu menyiksanya.


"Aku mau istirahat sebentar," jawab Gio dengan mata terpejam dalam. Suaranya pun terdengar lirih, hingga membuat Diandra menoleh untuk melihat wajah suaminya.


Diandra sadar kalau suaminya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tangannya terulur mengusap kepala suaminya dengan gerakan lembut. TIdak ada kata yang terucap, untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam dengan keheningan.


Diandra membiarkan Gio untuk beristirahat sejenak dengan caranya sendiri. Walau sebenarnya dia merasa risih, mengingat kini dirinya tidak menggunakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuh mulusnya.


"Terima kasih, sayang," setelah lima menit terdiam akhirnya Gio membuka pembicaraan lebih dulu.


Diandra mengangkat bahunya sedikit sambil menoleh kembali pada wajah suaminya. "Untuk?"


"Kamu sudah mau menjadi obat untukku," jawab Gio.


"Obat?"Diandra mengerutkan keningnya.


"Ya. Kamu sudah menjadi obat untuk menghilangkan rasa lelah dan sakit di dalam diriku. Kamu adalah penyemangat untukku terus berjuang, demi masa depan kita dan anak-anak kita nanati."


Gio menjelaskan perasaannya pada sang istri. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Diandra. Mencoba mencari kesempatan untuk mendapatkan lebih dari wanita kesayangannya itu.


Diandra menenggang, saat dirinya merasakan sesuatu yang tampak mengganjal di bawah sana. Diandra tahu itu benda apa, dia sudah waspada takut suaminya akan melakukan sesuatu yang pasti akan sangat memakan waktu dan tenaganya.


Benar saja, beberapa waktu kemudian, sesuatu yang ditakutkan oleh Diandra, benar-benar terjadi. Pergulatan antara suami istri itu pun akhirnya terjadi, menunda waktu makan siang keduanya.


..................

__ADS_1


__ADS_2