
...Happy Reading ...
......................
Diandra dan beberapa teman sesama sekretaris Gio baru saja meninggalkan kantin, setelah makan siang bersama.
"Aku ke toilet dulu, ya," ujar Diandra yang hendak memisahkan diri.
"Oh ya udah, kita ke atas duluan, ya," pamit Tia dan teman lainnya yang langsung diangguki oleh Diandra.
Diandra terdiam di dalam toilet, saat tiba-tiba tangannya dicekal seseorang.
"Ada apa, Mba?" tanya Diandra menatap orang itu dengan kening berkerut dalam.
Mau ngapain lagi nih dua perempuan? batin Diandra menatap jengah dua orang wanita di depannya.
"Berani-beraninya kamu membuat masalah denganku, anak cupu!" ujar wanita itu sambil terus mencekal tangan Diandra semakin kencang, hingga Diandra meringis menahan sakit.
"A–apa maksud, Mba? Aku tidak mengerti," ujar Diandra masih bertahan dengan perannya sebagai Dian si perempuan cupu di kantor.
"Gak usah bohong lagi, aku sudah tau semuanya!" sentak satu orang lagi yang berdiri di belakang wanita itu.
Tau apa dia? batin Diandra.
Diandra terdiam, dia bingung dengan perakataan wanita di depannya, mengingat dirinya sudah terlalu banyak membuat masalah bagi mereka.
"Memang aku berbuat apa?" tanya Diandra menatap kedua perempuan di depannya bergantian.
"Kamu sudah membuat kita malu dengan kopi yang kamu berikan. Dasar bodoh! Jangan pikir karena kamu saudara Pak Giovano, kamu bisa bebas berbuat apa saja di kantor ini," ujar geram wanita di depan Diandra dengan tatapan mengancam.
Oh, ternyata hanya itu, batin Diandra.
"Aku memang kerabat jauh Pak Giovano, lalu apa salahnya kalau aku memanfaatkan status itu di kantor ini, heh? Bukannya kalian berdua juga begitu?" tanya Diandra sambil menghempaskan tangan wanita itu kasar.
"A–apa maksud kamu, hah? Kamu nuduh kita mengandalkan koneksi, begitu?!" tanya wanita itu dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Ohya? Aku tau kalau kalian masuk ke sini karena ayah kamu adalah salah satu manager di sini, kan?" tanya Diandra pada wanita di depannya.
Kedua wanita itu pun terlihat melebarkan mata, mendengar perkataan Diandra yang tidak banyak orang tahu. Diandra pun tampak menyeringai tipis di ujung bibirnya.
"K–kamu tau dari siapa semua itu?" tanya wanita di depan Diandra dengan anda gugup.
"Tidak harus kalian tahu, aku mengetahui semua itu dari siapa, yang penting sekarang kalian sudah mengerti apa yang aku maksud. Jadi, sesama orang yang masuk melalui konseksi, gak usah sok paling pintar di sini," ujar Diandra menatap kedua wanita itu bergantian.
"Kamu! Siapa sebenarnya kamu, hah?!" tanya wanita yang berada di belakang.
"Aku?" tanya Diandra menunjuk dirinya sendiri. Badannya terlihat sedikit condong ke depan, seolah dia sedang menantang kedua perempuan di depannya.
"Aku adalah Dian, staf sekretaris Pak Giovano. Bukannya kalian berdua sudah tau?" tanya Diadra, sambil tersenyum lebar.
Dua perempuan itu langsung mengepalkan tangannya dengan wajah yang mengeras, menahan gejolak rasa tidak menyenangkan di dalam dada.
"Ah, sepertinya waktu istirahat sudah selesai. Aku harus segera kembali ke meja kerjaku, kalau tidak mau sampai dihukum oleh bos besar kita." Diandra kembali menegakkan tubuhnya kemudian berjalan melewati dua orang di depannya dengan santai, tanpa ada rasa takut sama sekali.
Dasar perempuan bodoh! Kalian kira aku akan takut dengan koneksi kalian itu? Heh, jangan harap! sarkas Diandra di dalam hati, sambil berjalan ke luar dari dalam toilet perempuan.
Dalam toilet dua wanita yang tidak lain adalah Mely dan Sintia mengerutkan keningnya, bingung tentang Diandra yang sekarang berubah sikap. Niat mereka yang ingin memberikan pelajaran pada Diandra dengan cara merundungnya di dalam toilet, kini sudah tidak bisa lagi dilakukan, karena ternyata Diandra lebih tangguh dari perkiraan mereka berdua.
"Sial, kenapa dia bisa tau kalau kita masuk ke kantor ini menggunakan koneksi dari Papa kamu, Mel?" tanya Sintia dengan napas yang memburu dan emosi memuncak.
"Aku tidak tau, Sin. Yang aku tau, dia hanya perempuan cupu dan lemah yang masuk karena Pak Giovano yang merekomendaskannya. Bukannya kamu sendiri yang bilang begiu?" jawab Mely, masih terkejut dengan perubahan sikap Diandra.
"Heh, ternyata kita tidak bisa menganggap remeh perempuan itu. Mulai sekarang kita harus berhati-hati padanya. Kita lupa satu fakta, kalau dia adalah saudara Pak Giovano yang bisa melaporkan kita kapan saja dia mau, karena terlalu senang dengan kelemahannya hingga berniat untuk memmanfaatkannya. Tapi, nyatanya sekarang dia malah melawan kita dengan terang-terangan," ujar Sintia dengan raut wajah yang terlihat masih kelam.
"Iya, kita sepertinya memang harus berhati-hati padanya," angguk Mely menyetujui perkataan Sintia.
Mely sampai di lantai atas lebih terlambat, dia baru saja ke luar lift ketika Gio terlihat sedang berada di ruang sekretaris.
"Astaga, ngapain dia ada di ruangan sekretaris?" gumam Mely sambil mempercepat langkahnya hingga berlari kecil.
Tidak biasanya Gio berada di ruangan sekretaris secara langsung, karena selama ini Gio selalu menghubunginya melalui telepon dan jarang berkomunikasi dengan staf sekretaris atau karyawan lainnya.
__ADS_1
"S–selamat siang, Pak Giovano. Ada perlu apa, Anda, ke ruangan kami?" tanya Mely begitu dia sampai di depan Gio.
Gio tampak melihat penampilan Mely dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia kemudian mengedarkan pandangannya menatap seluruh ruangan itu, tanpa menjawab pertanyaan dari Mely.
Mely terlihat menunduk takut, melihat sikap Gio yang terlihat dingin. Walau dia juga tersenyum di dalam hati, mengira Gio sedang memperhatikannya.
"Saya hanya ingin melihat kinerja kalian saja. Sekalian saya juga ada sesuatu yang harus disampaikan pada Dian," jawab Gio sambil melirik istrinya yang tersenyum padanya.
"Kamu, tolong ikut ke ruangan saya sebenatar," titah Gio pada Mely sebelum berjalan masuk kembali ke ruangannya.
"B–baik, Pak," jawab Mely sambil mengikuti langkah Gio.
Senyum Mely mengembang, mengira kalau Gio hanya beralasan untuk menemui Diandra.
Pasti sebenarnya Pak Giovano memang ingin mencariku. Tapi, karena aku tidak ada jadi dia beralasan mencari si cupu itu, batin Mely dengan percaya dirinya.
Sedangkan Diandra menyeringai saat melihat Mely masuk ke ruangan suaminya sendiri.
"Aku baru tau kalau kamu adalah anak dari Pak Handoyo," ujar Gio sambil duduk di kursi kerjanya.
Mely tersenyum lalu mengangguk sambil menyelipkan rambutnya di belakang cuping telinga dengan gerakan mengoda.
Gio memperhatikan gerakan Mely, jika sebelumnya matanya akan langsung berbinar penuh semangat saat melihat wanita yang menggoda di depannya. Entah mengapa kini dirinya malah merasa jijik saat melihatnya.
Baginya, saat ini Diandra adalah wanita paling menarik yang ada di muka bumi ini. Hanya Diandra yang bisa membuatnya tergoda bahkan tidak bisa jauh dari wanita kesayangannya itu.
Astaga, sepertinya otak dan mataku sekarang sudah tidak suka dengan wanita cantik lagi, selain pada istriku. Kenapa aku malah merasa mual dengan semua gerakan menggoda itu? batin Gio, bingung dengan dirinya sendiri.
Diandra memang sudah menaklukanku, sambungnya lagi di dalam hati, merasa bangga memiliki istri yang sangat dicintainya.
Walau di depannya ada seorang wanita yang lumayan cantik dan seksi seperti Mely, di pikirannya tetap saja ada Diandra yang berkuasa, hingga dia tidak bisa berpaling dari istrinya.
Pesona istriku memang beda, dia tidak ada duanya di dunia ini, batin Gio dengan bayangan wajah cantik istrinya.
......................
__ADS_1