
...Happy Reading...
......................
Hery, Ares, dan Ana, sudah sampai di depan rumah Eric, mereka sedikit mengalami kendala, saat masuk ke dalam perumahan itu, karena kendaraan yang lumayan banyak.
"Apa ini? Kenapa ada tenda di sini?" tanya Ana.
Mereka pun ke luar dari mobil, lalu mendekat ke arah pintu masuk, wajah terkejut itu terlihat, begitu melihat foto pra nikah yang dipasang di dekat penerima tamu.
"Mereka benar-benar keterlaluan!" geram Ana dengan wajah marah, dia melangkah masuk ke dalam.
"Ana, jangan terburu-buru. Ingat wajah kamu dan Diandra sams, jangan sampai dia kembali terkena masalah, karena ulah ceroboh kamu." Hery memperingatkan Ana.
"Iya, Kak. Lebih baik kita cari Kak Diandra dulu." Ares ikut menimpali.
Mereka bertiga pun mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Diandra yang entah di mana.
"Kak, Dian?" Ares menatap wajah dingin Diandra yang turun dari atas pelaminan.
Ucapan yang terucap oleh Ares, tentu saja membuat dua orang lainnya menoleh padanya, mereka pun mengikuti arah pandangan dari Ares.
Keduanya tampak ikut terkejut, melihat Diandra yang baru saja turun dari atas pelaminan.
.
.
Tiba saat tinggal beberapa langkah lagi, untuk naik ke pelaminan, Diandra menutup matanya, merasakan rasa sakit yang semakin menyesakkan dada, seakan ada luka yang menganga begitu besar di dalam sana.
Diandra membuka mata kembali dengan arah pandangan pada, sepasang pengantin yang sudah memberi luka padanya.
Tatapan mata Diandra tampak terus terkunci pada targetnya, siapa lagi kalau bukan sahabat dan kekasihnya, atau mungkin sekarang lebih pantas disebut mantan.
Diandra berdiri di ujung pelaminan, melihat wajah terkejut sepasang pengantin dan orang tua yang ada di sana.
Diandra bisa melihat, raut wajah takut, begitu tatapan tajam pengantin itu bertemu dengan mata merah berselimut kaca, seakan menutup ruang hati untuk menerima segala alasan yang akan terucap.
Diandra tersenyum di depan kedua pasangan yang mungkin telah sah menjadi suami istri itu, pasangan yang tidak lain adalah kekasih dan sahabatnya sendiri.
"Kamu ngapain datang ke sini?" Eric terlihat panik, melihat keberadaan Diandra, dia hendak menyambar tangan Diandra dan membawanya pergi.
Namun, Diandra lebih dulu mengamankannya, rasanya sudah tidak sudi tubuhnya disentuh oleh laki-laki macam Eric.
__ADS_1
Rasa sakit bercampur marah dan kecewa, kini telah menyelimuti hatinya, membawa Diandra dalam hawa dingin, tanpa disadarinya.
"Jangan sentuh aku, atau aku akan mengacaukan semua dekorasi cantik ini," ancam Diandra.
Eric dan Sintia yang hendak membuka suara kini terdiam kaku, bagaikan patung di depan Diandra.
"Tenang saja, aku tidak akan berbuat apa-apa. Tadinya aku hanya ingin sebuah penjelasan ... tapi, sepertinya semuanya sudah jelas sekarang," ujar Diandra dingin.
"Terima kasih atas luka yang kalian torehkan di sini. Sakit, sangat sakit, sampai rasanya darahku berhenti mengalir dan air mataku kering." Diandra menunjuk dadanya sendiri.
"Boleh aku bertanya?" Diandra menatap dua orang di depannya secara bergantian.
"Sekarang aku harus bagaimana, sedih atau bahagia?" ujarnya, sambil tersenyum sarkas.
"Aah, mungkin bersyukur, karena susah diperlihatkan kebusukan kalian berdua?" sambungnya lagi.
Diandra terdiam beberapa saat, dengan tatapan mengedar melihat satu per satu orang yang berdiri di atas pelaminan, lalu kembali menatap kedua mempelai.
"Maaf, aku kemari tanpa membawa hadiah atau amplop." Diandra mengangkat kedua tangannya setara dengan bahu.
"Tapi ... selamat atas pernikahan kalian, semoga saja hidup kalian bisa bahagia, setelah menghancurkan kehidupan sebuah keluarga." Diandra tersenyum tipis.
"Oh iya, aku juga ingin memuji editan foto kalian yang sangat bagus. Haruskan aku bertepuk tangan?" Diandra sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap wajah dua orang anak manusia di depannya.
"Pantas saja, sepertinya aku sedikit mengenali postur tubuhnya, ternyata itu memang kalian. Heh, aku baru sadar kalau ukuran tubuh kita sama, bahkan tinggi kita pun hampir setara," sinis Diandra pada Sintia.
Pandangan mata semua orang yang berada dia atas pelaminan kini tertuju padanya, dengan berbagai emosi yang berbeda dari setiap orangnya.
Tanpa Diandra sadari, kini hampir semua orang yang ada di dalam pesta pernikahan itu pun sedang memperhatikannya.
"Kak, Dian?" Ares langsung menghampiri kakak sulungnya itu. Dia tidak pernah menyangka kalau Diandra akan menemui Eric di saat seperti ini.
Tubuh Diandra hampir saja goyah, begitu Ares ada di sampingnya.
"Tolong bawa aku pulang," lirih Diandra.
Ares mengangguk, dia memegang Diandra dan membawanya ke luar, diikuti oleh Ana dan Hery.
"Kakak, naik mobil aja ya, biar motornya aku yang bawa," ujar Ares, menatap khawatir wajah kakaknya.
"Aku mau sama kamu aja," tolak Diandra.
"Dian, lebih baik kamu sama kita aja ya." Ana pun ikut membujuk.
__ADS_1
Diandra hanya menggeleng samar. "Ayo, Res."
Ares pun akhirnya mengangguk, dia bersiap untuk mengendarai motor milik kakaknya itu.
"Dian–" Ana masih berusaha membujuk saudara kembarnya itu.
Namun, Hery menahannya. "Biarkan saja dulu, dia. Ini memang pukulan yang cukup keras untuknya."
Ana melihat Diandra yang sudah pergi menjauh, dia masuk ke dalam mobil dan menangis di sana.
Ana merasa bersalah, dengan apa yang terjadi pada Diandra saat ini. Dia juga mengira kalau Diandra marah padanya.
"Andai saja dulu aku tidak menyuruh Diandra menikah sama Eric, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini," ujar Ana, di sela isak tangisnya.
"Ssh, jangan seperti ini. Itu semua memang mungkin sudah suratnya takdir yang harus dia alami. Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri," ujar Hery berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Sedangkan Ares yang sedang mengendarai motor Diandra, hanya bisa menatap wajah sendu kakaknya dari balik sepion, dia tidak tau harus berkata apa saat ini.
Flash back off.
Gio menatap wajah penuh penyesalan Eros, dia tidak pernah menyangka luka hati yang diderita oleh Diandra begitu dalam.
"Sejak hari itu aku dan kedua anak perempuanku, berselisih paham. Aku menghukum Diandra, dengan cara mendiamkannya. Aku lebih percaya pada sebuah foto, daripada anakku sendiri yang terus berusaha menjelaskan kebenarannya."
"Aku menutup mata akan kesakitan yang diderita anakku, dan memilih mengurus ibuku yang terbaring sakit karena kejadian itu. Aku dengan teganya menyalahkan semua itu pada Diandra."
"Hingga dua minggu setelah itu, Ana pun menghilang. Dia memilih pergi karena tidak sanggup menghadapi suasana di rumah yang terus saja memanas. Setiap kali kami semua berkumpul, hanya ada pertengkaran yang akan berakhir saling melukai hati satu sama lain."
"Ditambah dengan rasa bersalahnya kepada Diandra, juga ketakutannya akan semakin mencoreng nama baik keluarga, karena kehamilannya."
Gio mengusap pundak ayah mertuanya yang tampak jatuh, menahan rasa penyesalan dan kesedihan di dalam dirinya.
"Aku bahkan, tidak pernah mau tau rasa sakit yang dialami oleh Diandra, saat semua tetangga menghujatnya dan menjauh darinya. Dia dikucilkan di dalam rumah, dan di lingkungannya sendiri."
Suara Eros berubah parau, saat mengingat saat-saat itu.
"Sikapnya semakin dingin dan menutup diri, hingga setelah ibuku meninggal, dia juga memutuskan keluar dari rumah, karena aku mengungkit kembali masalah perjodohan kalian."
Gio terdiam mematung, mendengar semua cerita dari luka lama yang sampai saat ini masih menghantui kehidupan istrinya itu.
Dian, aku berjanji akan mengembalikan kepercayaan dan kehangatan hatimu yang telah mereka renggut dari dalam dirimu.
......................
__ADS_1
Maaf ya, flashback–nya terlalu kepanjangan😁
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...