Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Anak kecil


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Menjelang Magrib para anak-anak mulai membubarkan diri, ada yang dipanggil oleh orang tuanya, ada juga yang pulang bersama-sama dengan tama-temannya.


Diandra dan Gio pun akhirnya beranjak dari sana dan melangkah menyusuri jalanan untuk kembali ke vila.


"Kalian ternyata di sini, aku mencari ke mana-mana," ujar Raandi yang ternyata menyusul Gio dan Diandra.


Randi khawatir pada sepasang suami istri itu, mengingat hari sudah hampir gelap. Akan tetapi, mereka berdua belum juga pulang.


"Ada apa?" tanya Gio, mereka masih berada di kawasan kampung.


"Kalian mau pulang ke vila jalan kaki malam-malam? Gimana kalau kalian bertemu dengan binatang buas, hah?" omel Randi.


"Dih, kmau kan bisa menungguku di gerbang utama, ngapain repot-repot nyariin aku," decak Gio.


"Ponsel kalian tertinggal di rumah, mana bisa aku tenang kalau gak bisa menghubungimu," cerocos Randi.


Gio menatap Randi dengan tatapan jijik, dia merasa tidak biasa mendengar Randi mengomel seperti ibu-ibu kepadanya.


"Apaan sih, geli banget dengernya. Aku masih normal ya, jadi jangan berharap kamu bisa merebutku dari Diandra." Gio bergidik.


Mendengar itu Diandra melebarkan matanya, lalu menatap Randi penuh curiga.


Ya Ampun, apa ini yang dinamakan bersaing dengan yang ganteng? Idih, masa aku harus berubah ganteng juga? batin Diandra.


Randi melongo mendengar perkataan aneh Gio, dia ingin sekali berteriak pada bos kurang ajarnya ini. Sayang sekali itu tidak bisa dia lakukan, karena dia masih sadar posisi.


"Astaga! Kamu pikir aku ini menyukaimu?" Randi menunjuk Gio dan dirinya bergantian.


"Astaga ...." Randi mendesah kesal, ingin marah dan memaki. Akan tetapi, dia tidak bisa.


Bisa-bisanya Gio berpikiran seperti itu tentangnya, padahal selama ini dia sudah menganggap Gio dan keluarganya adalah bagian dari keluarganya sendiri. Bagaimanapun, mereka hidup dan besar bersama.


Sedangkan Gio menahan senyumnya melihat wajah kesal asistennya itu, dia memang sengaja membuat laki-laki itu kesal. Itu semua adalah bentuk hukuman karena mengganggu acara berduannya dengan Diandra.

__ADS_1


"Aku masih waras dan sangat sehat pikiran dan hati, jadi aku masih bisa menyukai seorang perempuan," bantah Randi.


Dia sudah merasa tidak nyaman saat melihat tatapan penuh curiga Diandra padanya.


Diandra yang sejak tadi lupa bernapas, langsung menghembuskannya dengan kasar, merasa lega karena Randi bukanlah ancaman untuk hubungannya dengan Gio.


"Oh, baguslah kalau kamu masih normal. Makanya, segera cari pacar agar aku tidak menganggapmu seorang yang menyimpang," ujar Gio santani, dia seakan tidak merasa bersalah sudah membuat asisitennya dituduh yang tidak-tidak oleh Diandra.


Untung saja di sana sudah tidak banyak orang yang berlalu lalang, hingga kejahilan Gio hanya bisa didengar oleh ketiganya.


"Sayang, kamu mau pulang ikut mobil Randi, atau kita teruskan jalan kaki sampai ke gerbang utama?" tanya Gio, beralih kepada Diandra dengan suara yang lembut.


Randi memutar bola matanya, sudah bosan dengan tingkah bucin bosnya itu. Rasanya dia sudah mual saking jengah dengan sikap manja Gio pada Diandra.


Diandramenatap sekitarnya, suasana senja dengan lembayung berwarna kemerahan dari upuk timur, membuat peralihan siang pada malam itu tampak sangat indah.


Ditambah dengan para anak kecil yang terlihat berlarian menuju ke masjid untuk shalat berjamaah sekalian mengaji bersama.


Suasana pedesaan yang sangat indah, membuatnya merasa enggan untuk beranjak. Dia merasa rindu dengan masa kecilnya yang juga hampir sama dengan anak-anak itu.


Dia juga tinggal di kampung bersama dengan kedua orang tunya, kesehriannya hampir sama dengan anak-anak di kampung ini, bermain di tanah lapang dan berangkat mengaji di saat menjelang solat magrib.


"Tuh, denger kan apa yang istriku bilang? Jadi sekarang kamu pergi dan tunggu kami di gerbang utama," ujar Gio.


"Iya-iya, tapi, setidaknya kamu bawa ponsel kamu. Aku pusing terus mendapatkan telepon dari Tante Hana dan Gita, yang terus menanyakan keadaan kamu." Randi mengulurkan ponsel milik Gio yang tertinggal di ruang kerja.


Gio menerimanya lalu mengantonginya. "Kalau kamu pusing, gak usah dijawab. Gitu aja kok repot," ujar Gio dengan santainya.


Diandra menepuk tangan Gio. "Jangan gitu, mereka kan kayak gitu karena khawatir sama kamu."


Diandra berkata seolah dia lupa kalau selama ini dirinya juga mengabaikan kedua orang tuanya.


"Iya, lagian aku kan cuma asisten, mana bisa berbuat seperti itu. Kalau nanti gajiku dipotong atau aku dipecat giman?" melas Randi memanfaatkan pembelaan Diandra padanya.


Gio menatap tajam wajah asistennya itu yang jelas sangat diabuat-buat, untuk menarik perhatian Diandra.


"Iya, sayang. Nanti aku gak gitu lagi. Itu kan hanya saran aja buat Randi yang katanya pusing dengan panggilan dari Mama dan gita," ujar Gio memberi alasan, sekaligus membuat Randi terlihat jelek di mata Diandra.

__ADS_1


Eh, kok malah aku yang kena? batin Randi, mendengar Gio menjelekkannya di depan Diandra secara halus.


"Sudahlah, kalian ini sama saja," decak Diandra yang udah merasa pusing dengan adu mulut antara bos dan asistennya itu, dia pun mulai melangkah menjauhi kedua laki-laki itu.


Ternyata bukan hanya suaminya yang kekanakkan. Akan tetapi, asistennya pun sama. Mereka sama-sama tidak mau kalau dan tidak mau mengalah saat beradu mulut.


Diandra menggerutu sendiri, tanpa sadar dirinya pun sama saja saat sedang berdebat dengan Gio. Selalu memaksa Gio untuk mengalah di dalam perdebatan.


Hah, memang terkadang orang dewasa tidak sadar kalau mereka masih bertingkah seperti anak kecil.


"Eh, kok malah pergi sih?" Gio melihat Diandra yang pergi berjalan menjauh darinya.


"Tuh kan, istriku jadi marah. Ini semua gara-gara kamu datang ke sini," sambung GIo menyalahkan Randi, lalu mengejar Diandra.


"Ck!" Randi berdecak.


"Lagi-lagi aku yang disalahkan. Heuh, nasib-nasib, punya bos bucin," keluh Randi, sambil berjalan menuju mobilnya terparkir.


Diandra tersenyum saat melihat para anak-anak yang berlari melewatinya. Ada kebahagiaan di dalam hatinya yang sudah lama dia lupakan.


"Sayang, kok ninggalin aku sih," protes laki-laki itu.


Diandra hanya melihat kedatangan suaminya yang kini sudah berada di sampingnya, dia kemudian mengalihkan pandangannya pada para anak kecil yang berbelok masuk ke dalam sebuah masjid yang terlihat sederhana.


Namun, cukup unik dan memiliki pelataran yang luas, hingga seperitinya akan muat banyak orang, jika sedang ada acara.


Diandra terdiam, memandang masjid itu dari kejauhan, melihat para anka-anak bermain di pelataran masjid, dengan diiringi tawa dan candanya.


"Anak-anak, ayo masuk, sebentar lagi adzan!" terlihat seorang perempuan berjibab, memanggil semua anak untuk masuk ke masjid.


"Ambil wudhu dulu," sambungnya lagi, mengarahkan anak-anak yang mungkin masih berusia empat sampai tujuh tahun.


Diandra terdiam menatap aktivitas yang terlihat indah dipandang. Matanya tampak berkaca-kaca, menahan gejolak rasa di dalam dada.


.......................


Karya bagus nih, yuk mampir😊

__ADS_1



__ADS_2