
...Happy Reading...
......................
Sampai di kamar, Diandra langsung membuka sepatu yang dia pakai dan menaruhnya asal, Gio yang menyusul di belakang sudah tahu kalau istrinya pasti marah lagi padanya.
Semenjak mereka ke luar dari ballroom hotel Diandra langsung berjalan cepat tanpa mau menghiraukan Gio yang terus mencoba menjelaskan dan meminta maaf.
"Sayang, aku bisa jelasin," ujar Gio sambil mencoba memeluk istrinya dari belakang.
Namun, belum sempat Gio mendapatkan tubuh Diandra, Diandra langsung berbalik dan mencium bibir Gio dengan gerakan yang kasar, hingga berakhir dengan gigitan di bibir bagian bawah Gio.
Gio yang terkejut dan juga tahu kalau itu adalah pelampiasan emosi, bukan sebuah hasrat, hanya diam sambil memegang pinggang Diandra agar tidak jatuh.
"Balas, brengsek!" teriak Diandra saat tautan bibir mereka terlepas, sambil memukul dada bidang Gio dengan gerakan yang cukup keras.
"Sayang, tenang dulu," ujar Gio tanpa mau meladeni emosi istrinya. Suaranya tampak masih terdengar lembut , bahkan tatapannya terlihat begitu pilu dan penuh penyesalan.
"Dasar brengsek! Sialan!" Diandra masih saja memukul dada bidang Gio, hingga kaki Gio terus melangkah mundur karena terdorong oleh pukulan Diandra.
Wanita mana yang tidak kecewa saat mengetahui kalau masa lalu suaminya adalah seorang pemain wanita, sedangkan dirinya sendiri adalah salah satu korban dari seorang laki-laki, yang dengan teganya menggunakan perasaannya hanya untuk alat balas dendam.
"Sayang, aku mohon ... kasihan anak kita," ujar Gio lagi, dia kemudian memaksa memeluk istrinya walau Diandra terus saja berusaha melepaskan diri
"Laki-laki bajingan, brengsek!" Diandra masih mencoba memukul Gio, walau kini tangannya sudah terhimpit di antara tubuh keduanya.
"Maafkan aku, sayang. Aku mengakui semua kesalahanku yang dulu ... tapi, itu semua terjadi saat kita belum mempunyai hubungan, sayang. Itu adalah masa kelam yang tidak akan mau aku ulangi lagi, sayang. Masa laluku yang selalu meninggalkan penyesalan mendalam untuku," ujar Gio, tangannya tetap memeluk tubuh Diandra erat.
"Kamu bohong, kamu brengsek, Gio ... kamu brengek." Diandra sudah mulai menurunkan nada bicaranya, walau isak tangis kini terdengar memilukan.
Amarah Diandra kini sudah ke luar, berganti dengan air yang luruh membasahi pipinya. Suara lirih yang menandakan betapa sakitnya hati Diandra, membuat Gio meringis, merasakan setiap isakkan itu seolah pisau yang sedang melukai dirinya dan mengiris hati laki-laki itu.
__ADS_1
Inilah yang selama ini dia takutkan, di saat Diandra mengetahui tentang masa lalunya yang penuh dengan kelakuan buruk dan memalukan.
Itu adalah sesuatu yang akan membuat Diandra merasa sakit hati atau bahkan mungkin menyesal sudah menjadi istrinya.
Kenyataan bahwa dirinya adalah laki-laki yang berpikiran dangkal dan juga kotor, selalu membuatnya takut akan kehilangan Diandra, dan menjadikannya pengecut hanya untuk jujur pada istrinya.
"Aku memang brengsek, sayang, aku adalah laki-laki yang brengsek," angguk Gio, mengakui kesalahan dirinya sendiri.
"Aku janji, aku akan menerima semua keputusan kamu, asalkan izinkan aku untuk menceritakan semuanya tentangku. Aku janji tidak akan ada yang aku sembunyikan lagi padamu, sayang?" sambung Gio lagi.
.
.
Malam sudah semakin larut, semilir dinginnya angin, terasa menerpa tubuh. Diandra dan Gio kini masih berada di balkon hotel, Gio baru saja selesai menceritakan kisah hidupnya yang memang kelam.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir Diandra, sejak satu jam yang lalu, wanita yang tengah hamil muda itu kini hanya memilih diam dan mendengarkan, tanpa bisa menanggapi apa pun.
Berulang kali Diandra menghela napas, dia sungguh tidak tahu harus bereaksi apa dengan semua cerita Gio, entah itu harus marah karena ternyata Gio bukanlah laki-laki biasa. Sedih, saat mendengar semua kisah pilu Gio, atau mungkin harus bahagia, karena setidaknya itu terjadi di saat Gio belum bertemu dengannya.
Ah, apa mungkin harus bersyukur, karena kini Gio sudah berubah dan berjanji tidak akan mendekati hal seperti itu lagi.
"Aku mau tidur." Hanya kata itu yang akhirnya terucap lirih dari bibir Diandra, wanita itu kemudian memilih berjalan ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang.
Gio menghembuskan napas pelan, dia menatap tubuh istrinya yang kini sedang berjalan ke dalam kamar, memastikan istrinya berbaring di atas tempat tidur, kemudian kembali duduk di atas kursi balkon.
Malam itu, Gio bahkan tidak tidur sama sekali, dia hanya terus duduk di tempat yang sama, dengan pandangan jauh menerawang ke depan, menikmati dinginnya angin malam, berteman gelap dan sepi yang terasa memberi wadah untuknya mengenali diri.
Pagi sekali, Diandra, Gio, dan Randi, sudah berada di bandara internasional negara S, mereka harus kembali ke jakarta mengingat banyaknya agenda yang harus Gio penuhi.
Belum ada suara dari Diandra, dia masih tetap nyaman dengan diamnya. Randi yang melihat sikap Gio dan Diandra hanya bisa mengernyit tanpa bisa bertanya, mengingat Gio terus berada di samping istrinya, walau Diandra tidak pernah menanggapi keberadaannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju ke Indonesia, Diandra menghabiskan waktu untuk tidur, walau sebenarnya itu hanya pura-pura, Diandra sebenarnya hanya sedang meredam rasa gugupnya, karena kejadian penerbangan kemarin, masih terngiang di ingatannya.
Gio menatap istrinya dengan tatapan sendu, entah mengapa dia merasa diamnya Diandra terasa lebih menakutkan dibandingkan Diandra yang kemarin menciumnya dengan brutal, sebagai pelampisan emosinya.
Sampai di Indonesia Diandra masih tetap dalam mode diam, dia bahkan menjadikan bayi yang dikandungnya sebagai alasan kenapa sekarang hubungan Gio dan Diandra terlihat renggang.
"Gak tau, Mah, rasanya sebel banget kalau aku lihat wajah Gio." Itulah alasan Diandra yang kemudian didukung oleh seluruh keluarga Gio karena dianggap Diandra sedang mengidam.
Gio sudah bingung harus berbuat apa, dia terus mencoba merayu istrinya, baik itu di rumah maupun di kantor, walau itu semua dia lakukan dengan sembunyi-sembunyi, mengingat tidak ada yang tau kalau hubungan Gio dan Diandra sedang merenggang.
"Sayang, lalu aku harus gimana untuk mendapatkan maaf dari kamu?" tanya Gio, saat keduanya sedang bersiap untuk pergi ke acara family gathering.
Walaupun Diandra tengah merajuk dan berhenti berbicara, bahkan menjaga jarak dari Gio. Akan tetapi, dia masih melakukan semua pekerjaannya untuk melayani Gio, Diandra bahkan masih dengan telaten menyiapkan baju untuk Gio setiap pagi.
Diandra masih tetap diam, dia seolah tidak pernah mendengar dan melihat Gio yang terus memohon dan meminta maaf padanya.
Kali ini bahkan Diandra lebih memilih naik bus bersama dengan rekan kerjanya yang lain, daripada naik mobil pribadi bersama Gio dan Randi.
"Sebenarnya kalian berdua itu sedang kenapa sih? Kenapa sejak dari pesta itu, aku lihat hubungan kalian terasa berbeda?" tanya Randi saat mereka sedang perjalanan menuju tempat family gathering dilangsungkan.
Sikap Gio yang terlihat tidak bersemangat dan lebih banyak uring-uringan tentu bisa terlihat oleh Randi, walau Gio dan Diandra tidak mengatakan apa pun padanya.
"Dia mengetahui semua tentang masa laluku, Ran. Sekarang Diandra tidak mau berbicara padaku, dia juga menjaga jarak dariku," jawab Gio, akhirnya tidak kuat juga menahan semua rasa kalutnya sendiri.
"Jadi selama ini hubungan kalian berdua tidak baik-baik saja?" tanya Randi melirik Gio sekilas dengan kening bertaut dalam, kemudian kembali fokus pada jalan di depannya.
"Iya, kita berdua sudah sepakat untuk tidak memberitahu siapa pun. Diandra bilang dia butuh waktu ... tapi, ini sudah seminggu, Ran. Aku harus bagaimana menghadapi istriku?" ujar Gio sambil mengacak rambutnya sendiri merasa sudah sangat prustasi dengan sikap Diandra padanya.
Masa awal kehamilan yang harusnya mereka lalui dengan kebahagiaan, kini malah berbalik menjadi penuh masalah, hingga menjadikan sebuah jarak diantara keduanya.
......................
__ADS_1