Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Jejak yang merepotkan


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Diandra menatap Gio kesal, dia kini tengah duduk di depan meja rias. Tangannya terus mengoleskan fondastion pada setiap bercak merah yang ditinggalkan oleh Gio di sekitar leher hingga dadanya.


Hari ini Diandra terpaksa memakai baju dengan kerah turtle nick untuk menutupi semua jejak kepemilikan yang ditinggalkan suaminya.


Namun, ternyata semua itu tidak dapat menutupi semuanya, hingga akhirnya dia juga harus memakai fondastion untuk membantu menyamarkannya.


Diandra bahkan sampai menjerit saat dirinya melihat penampakan tubuhnya dari cermin washtafel, saking terkejutnya.


Gio benar-benar tidak mau melewatkan sedikit pun kulitnya, untuk terlihat sedikit lebih mulus. Dia benar-benar melahap habis tubuhnya tanpa sisa.


"Sayang, maafin aku, aku benar-benar gak bisa menahan diri tadi," mohon Gio, sambil duduk di sisi ranjang.


Kini Gio sudah memakai baju lengkap, dia bahkan sudah siap dengan wajah yang segar dan bersinar, seolah telah mendapatkan sebuah undian berhadiah.


Namun, wajah marah Diandra sejak melihat bercak merah di seluruh tubuhnya, membuat Gio menjadi was-was. Hatinya tidak tenang, takut Diandra akan kapok melakukan itu denganya.


"Kamu ini keterlaluan banget sih," gerutu Diandra, sambil meratakan fondastion di lehernya.


Diandra memang suka berdandan dan tampil sempurna. Akan tetapi, itu hanya saat dirinya berangkat bekerja. Semua itu berbeda jika dirinya hanya menghabiskan waktunya di rumah.


Diandra hanya akan memakai riasan tipis agar tampak lebih segar, dia bahkan jarang memakai fondastion miliknya.


Namun, kini karena ulah Gio, dia harus memakai riasan yang cukup tebal di bagian leher, untuk menutupi bekas tanda yang ditingglkan laki-laki itu.


"Iya, aku memang keterlaluan. Maaf," ujar Gio lagi.


Diandra tidak menjawab, dia kini bingung bagaimana harus berjalan ke luar di saat bagian bawahnya masih terasa sakit seperti ini.


"Sekarang gimana aku mau ke luar?" tanya Diandra, sambil sedikit memajukkan bibirnya yang sudah terlihat lebih tebal.


Gio tersenyum. "Gimana kalau aku gendong aja?" ujarnya sumringah.


"Gak mau!" tolak Diandra langsung.


Perutnya sudah sangat lapar, dia ingin makan di meja makan, mengingat hari juga sudah beranjak siang. Bahkan sebentar lagi sudah waktunya makan siang.


"Kalau gitu, gimana kalau hari ini kamu gak usah ke luar dulu, nanti aku bawa makanannya ke sini," ujar Gio.

__ADS_1


"Kalau gak perlu ke luar, terus buat apa aku dandan gini?" kesal Diandra, merasa usahanya untuk menutupi bercak merah di lehernya kini berakhir sia-sia.


Karena kesal, dia sama sekali tidak terpikirkan bagaimana dia bisa berjalan ke luar kamar dengan gaya yang berbeda dari biasanya, di saat semua anak buah Gio berkeliaran bebas di vila itu.


Sebenarnya Diandra bukanlah tidak bisa berjalan, dia masih bisa berjalan pelan. Akan tetapi, semua itu terlihat memalukan, karena gaya berjalan yang sangat berbeda, akibat sambil menahan rasa sakit.


"Terus sekarang mau, sayang, gimana?" tanya Gio.


Ah, ternyata menghadapi jiwa manja dan perempuan Diandra, membuat Gio bingung sekaligus tak berdaya.


"Aku gak tau, makanya aku nanya. Kalau aku tau, ngapain coba aku nanya sama kamu?" jawab Diandra, membuat Gio mendesah pasrah.


Keduanya sama-sama terdiam dengan wajah Diandra yang menahan kesal. Sedangkan Gio berusaha berfikir keras untuk menemukan solusi dari permasalahan istrinya.


Setelah cukup lama terdiam, kini Gio beranjak lalu mengambil ponsel miliknya, dia menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan.


"Ada apa?" jawab malas seseorang di seberang sambungan telepon.


"Suruh semua orang di vila ke luar sekarang, jangan ada yang masuk sebelum aku menyuruhnya, dan bilang pada Bi Minah untuk menyiapkan makan siang untuk aku dan istriku," ujar Gio panjang lebar.


"Hah? Mau apa lagi kalian? Astaga, kenapa sekarang kamu jadi aneh gini sih?!" kesal Randi. Dia sudah cukup dibuat gelisah karena sejak tadi pagi kedua bosnya itu tidak kunjung ke luar kamar, dan sekarang tiba-tiba Gio menelepon hanya untuk memerintahkannya mengusir semua orang dari vila, sangat mengejutkan dan merepotkan tentunya.


"Jangan banyak tanya, sekarang cepat kamu kerjakan apa yang aku perintahkan kalau tidak mau singa perempuan di kamarku mengamuk." Gio berbisik pelan di akhir kalimatnya.


"Sudahlah, kamu gak bakalan ngeti, pokoknya kamu kerjakan apa yang aku perintahkan, dan kabari aku kalau kalian semua sudah ke luar dari vila," ujar Gio menahan kesal, lalu menutup teleponnya secara sepihak, tanpa mau mendengar lagi perkataan dari asistennya itu.


Sedangkan di luar, Randi hanya bisa menatap layar ponselnya yang telah mati, lalu berjalan ke luar untuk menemui para bawahannya.


"Kenapa semenjak menikah sikapnya semakian aneh saja?" gumam Randi.


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, kini pasangan Gio beralih kembali pada istrinya yang tengah menatapnya tajam.


"Aku sudah menyuruh seluruh anak buahku untuk pergi dari vila, termasuk Randi. Jadi, sayang, aman kalau mau ke luar," ujar Gio, sambil duduk kembali di sisi ranjang yang dekat dengan Diandra berada.


"Beneran?" tanya Diandra memastikan.


"Iya, kita tunggu sampai Randi mengabariku, baru kita ke luar," jawab Gio.


Diandra terdiam, kemudian mengangguk, menyetujui perkataan Gio.


Beberapa saat kemudian Gio kembali menerima panggilan dari Randi yang mengatakan kalau semua anak buah sudah berada di luar vila.

__ADS_1


Gio pun akhirnya berjalan sambil memapah Diandra di sampingnya, perempuan itu bersikeras untuk berjalan sendiri, agar lama-lama dia terbiasa dengan rasa sakitnya.


Ya, terbiasa hidup sendiri membuat Diandra tidak suka terlalu bergantung dengan orang disekitarnya, dia sudah terbiasa untuk mandiri dan melakukan segala hal sendiri.


Hingga rasanya begitu berat untuk meminta bantuan bagi masalah yang menurutnya masih bisa dia selesaikan sendiri.


"Aku gendong saja, ya?" tawar Gio, saat mereka akan meniruni anak tangga.


"Aku bisa, ini kan hanya anak tangga. Lagian rasa sakitnya sudah jauh berkurang," jawab Diandra.


Ya, sebenarnya yang sangat mengganggu saat ini bukan rasa sakitnya. Akan tetapi, rasa mengganjal yang membuatnya tidak bisa leluasa dalam melakukan sesuatu.


Gio hanya bisa mendesah pasrah. "Baiklah, pelan-pelan saja ya," ujarnya memperingatkan.


Keduanya tampak menghembuskan napas lega saat mereka sampai di anak tangga terakhir. Ini terasa lebih menegangkan dari bermain kora-kora di taman hiburan.


Jadi begini rasanya saat kita sudah merenggut keperawanan seorang gadis? batin Gio.


Aku gak bisa membayangkan mereka yang harus kehilangan mahkota sucinya secara paksa, atau di luar nikah seperti Ana. Bagaimana mereka bisa menutupi rasa sakit ini dari orang luar, dan bersikap normal seakan tidak terjadi apa-apa? batin Diandra yang merasa miris dengan para gadis yang dengan suka rela menyerahkan mahkota mereka sebelum pernikahan, seperti saudara kembarnya sendiri.


Mengingat Ana, bayangan sosok Rani kembali muncul di ujung mata, membuat Diandra terdiam sejenak.


"Ada apa, sayang?" tanya Gio.


"E–enggak, enggak apa-apa kok," jawab Diandra menggeleng samar.


Sampai di ruang makan ternyata di atas meja sudah tersedia makanan yang hangat dan tampak menggiurkan.


Gio menarik kursi lalu menuntun Diandra untuk duduk, dia kemudian mengambil piring milik istrinya itu.


"Biar aku saja," ujar Diandra, menghentikan gerakan tangan Gio.


"Untuk kali ini, biar aku saja yang melayani kamu. Kita akan makan di piring yang sama, seperti biasanya," jawab Gio, sambil menjelaskan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ya, siang itu keduanya makan dari piring yang sama, dengan Gio yang menyuapi istrinya. Keduanya tampak lahap mengingat itu adalah sarapan dan makan siang yang dijadikan satu.


Diandra pun hanya mengikuti keinginan suaminya, dia sudah cukup lelah untuk berdebat dengan Gio, hanya untuk sebuah acara makan. Perutnya tidak bisa lagi menunggu, rasa laparnya sudah terlalu menyiksa jika harus kembali tertunda.


......................


Ada karya bagus dari temen aku nih, yuk mampir😊

__ADS_1



__ADS_2