
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...💖...
Dian menatap Lisna dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dadanya berdegup cepat dengan rasa rindu yang tak bisa lagi dia sembunyikan.
"A–aku,"
Grep.
Belum sempat Dian meneruskan perkataannya, kini tubuhnya sudah berada di dalam pelukan sang bunda. Dian melihat wajah sang adik yang kini tersneyum.
Tak ada balasan, kedua tangannya masih berada di samping tubuhnya, meremas erat celana longgar berbahan kain yang dipakainya. Hatinya bimbang, apakah dia harus membalas pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bunda rindu sekali sama kamu, Nak," ujar Lisna dengan isak tangis tertahan.
"Bunda," lirih Dian, dia sudah tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Pertahanannya runtuh saat itu juga, saat sang bunda berkata 'rindu'. Sebenarnya dia pun sama, merasakan rindu yang teramat sangat kepada bunda dan juga ayahnya.
Mata Dian melihat wajah Ares yang kini tengah menatapnya kembali, Perasaan haru bercampur dengan bahagia membuat air pun mengalir dari mata lelaki muda itu, tak sanggup melihat kebersamaan keluarganya yang sudah lama tak pernah terlihat.
Selama beberapa saat Dian dan Lisna masih tetap dalam posisi yang sama, menangis dengan saling berpelukan, menyalurkan kehangatannya dan rasa sayang yang telah lama tidak pernah mereka ungkapkan kembali, karena jarak dan ego masing-masing yang masih menghalangi. Kini keduanya seperti menumpahkan rasa yang sejak lama terpendam.
Dian mengurai pelukannya menatap sang ibu dengan penuh kasih sayang juga penyesalan, air matanya tak berhenti mengalir, isak tangis pun terdengar begitu menyayat hati. membuat orang yang ada di sana. seperti itu merasakan sakit di dalam hatinya.
Gio terdiam ,melihat sisi lain dari perempuan yang sudah merebut hatinya selama beberapa minggu belakangan. Hatinya ikut merasa sakit, melihat Dian yang tidak nampak seperti biasanya. Perempuan itu begitu rapuh, tak lagi ada pancaran percaya diri maupun ketenangan yang biasa terpancar dari wajahnya. Kini yang terlihat hanya penyesalan, kesedihan dan rasa sakit yang begitu mendalam.
"Maaf, Bunda ... maaf," suara parau itu terdengar begitu menyakitkan.
Ujung mata Dian melihat sang ayah yang sedang memalingkan wajahnya, hatinya masih terasa sakit. Dian menghembuskan napas pelan lalu tersenyum kearah wanita dihadapannya. "Bun, Dian pulang dulu ya, titip Ares."
__ADS_1
Lisna menggeleng, wanita paruh baya itu masih tidak rela, terpisah lagi dari anak perempuan yang selama dua tahun ini berada jauh darinya.
"Maaf, Bunda. Aku harus pulang malam ini." ujar Dian.
"Nak," Lisna masih mencoba membujuk anaknya agar tidak pergi.
Sekali lagi Dian tersenyum, perempuan dewasa itu, mencium kedua tangan Lisna berkali-kali. "Aku sayang, Bunda."
Setelah mengucapkan itu, Dian berbalik, berjalan menghampiri Gio, lalu menarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu, tanpa mau berbalik melihat ke belakang lagi.
Video terdiam, dia hanya mengikuti langkah Dian yang terus berjalan tanpa melepaskan tangannya.
"Dimana mobil kamu?" tanya dia begitu mereka sampai di luar rumah sakit.
Gio yang sejak tadi terpaku dengan sikap Dian yang tiba-tiba, kembali tersadar. Dia mengedarkan pandangannya, mencari letak mobilnya sendiri. "Itu!"
Gio dengan sigap langsung membuka kunci mobil, sebelum Dian sampai di mobilnya. Dian yang sudah tahu langsung masuk kedalam mobil dan menutup pintunya dengan sedikit kasar.
Gio pun mengikuti masuk ke dalam mobil di bagian pengemudi, dia tak langsung menjalankan mobil, terdiam terlebih dahulu membiarkan Dian menenangkan diri.
Gio melihat Dian menangkup wajahnya, isak tangis lirih pun terdengar. Bahunya tampak bergetar, menyembunyikan air mata yang mengalir. Dian menangis dalam diam.
Berulang kali Gio menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya panjang. Matanya melirik kearah perempuan yang kini tengah tersedu disampingnya. Hatinya sakit seperti teriris, melihat perempuan yang selama ini selalu terlihat kuat, kini terpuruk, lemah tanpa sandaran.
Ingin sekali dia merengkuh tubuh gadis itu, memberikannya ketenangan, dengan pelukan hangat yang ia punya. Hanya saja dia meragu, takutbila perempuan itu menolak.
Memilih tetap diam melihat apa yang terjadi di depannya, berulang kali tangannya terulur hendak memegang bahu Dian, untuk mencoba memberi kekuatan. Akan tetapi, kemudian dia menariknya kembali, takut mengganggu perempuan yang tengah menumpahkan kesedihannya.
Entah apa yang terjadi pada keluarga itu? Gio pun tak tahu. Dia tak berani untuk sekedar bertanya. Akan tetapi, apa yang terlihat oleh matanya saat ini, menunjukkan betapa peliknya masalah keluarga itu.
__ADS_1
Waktu beranjak, sudah tak tahan rasanya Gio melihat tangis perempuan yang ia cintai.
Ya, Gio tahu, selama ini dia merasakan cinta kepada Dian. Cinta yang tulus tanpa adanya napsu untuk memiliki. Cinta yang mendorongnya untuk terus berjuang demi mendapatkan perempuan yang ada di depannya. Walau dia tak tahu, apa keputusan akhirnya.
Gio akhirnya mengulurkan tangannya, merangkul bahu bergetar itu. Memeluknya, memberi kehangatan, kekuatan, untuk terus menjalani hidup kedepannya. Memberikan rasa cinta yang da di dalam hatinya, berusaha memberikan rasa nyaman untuk perempuan di dalam rengkuhannya.
Dian tak melawan, dia bersandar di dalam dada bidang yang terasa hangat dan nyaman. Hatinya sakit, jiwanya rapuh, dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Saat ini, rindunya sudah tak tertahan. Akan tetapi, rasa takut ketika melihat wajah itu kembali terngiang. Takut akan perpisahan, takut akan kekalahan. Egonya menyuruhnya untuk bertahan walau hatinya memaksa untuk menyerah.
Dian dilanda kebimbangan, dia butuh kekuatan, dia butuh pegangan. Akan tetapi, dari siapa dia bisa menemukan semua itu? Entahlah, dia sendiri pun tak tahu.
Yang Dian tahu sekarang, dirinya menemukan kenyamanan, di dalam diri laki-laki yang kini tengah merengkuhnya, memberikannya ketenangan tanpa adanya kata, tanpa suara, hanya sekedar pelukan.
Cukup lama mereka dalam posisi itu, Gio merasakan dadanya basah oleh airmata. Isakan lirih itu masih terdengar hingga ia masakan tubuh Dian perlahan melemah, dengan napas yang teratur.
Dian tertidur dalam kehangatan pelukan Gio, lelaki itu menatap wajah cantik yang kini masih dalam rengkuhannya, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
Hatinya kembali merasa berdenyut, melihat sisa-sisa kelemahan dalam wajah yang kini tengah terlelap, mata sembab, hidung merah, dan bibir yang terlihat pucat, menunjukkan betapa rapuhnya perempuan itu.
Begitu pintar dia menyembunyikan luka dengan ketegaran, ketangguhannya dan sikap dinginnya, hingga tak ada seorangpun tahu, apa yang telah dia simpan di dalam hatinya.
Perlahan, Gio kembali merebahkan Dian dia atas kursi penumpang. Dia menurunkan sandaran kursu itu hingga Dian bisa tertidur dengan nyaman. Dia mulai menghidupkan mobilnya, mengajak pedal gas dan menjalankannya menuju rumah yang dia tempati.
Gio tak tahu di mana rumah Dian, saat ini pun dia tak mungkin membawa Dian ke hotel, itu bisa semakin menambah berita miring di luar sana. Menurutnya, yang terbaik untuk saat ini adalah membawa perempuan ini kembali ke rumahnya.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
__ADS_1