
...Happy Reading ...
......................
"Kok kita ke sini lagi?" tanya Diandra, saat mobil yang dikendarai oleh Randi kembali ke rumah Gio.
"Hari ini kamu harus tetap berasa di rumah ini, karena aku ada pekerjaan lain. Aku gak mau ninggalin kamu sendiri lagi kayak kemarin," jawab Gio.
"Ck, aku kan udah sembuh, ngapain juga aku di sini?" tolak Diandra.
"Belum, bukannya kamu sendiri yang bilang tadi, kalau perut kamu masih gak enak?" tanya Gio.
Diandra tidak bisa lagi menjawab, dia hanya mendengkus kesal sambil beranjak turun dari dalam mobil.
Gio yang melihat itu, langsung menyusul istrinya, dengan sekali gerakan Gio langsung mengangkat tubuh Diandra, hingga membawanya bagaikan karung beras.
"Akh! Apa-apaan kamu, Gio?! Lepasin aku!" teriak Diandra sambil memberontak.
"Siapa suruh kamu ngambek terus sama aku," ujar Gio santai.
Randi menggeleng miris, melihat Gio dan Diandra yang sudah masuk ke dalam rumah, sedangkan para anak buah yang lain, tampak bengong dengan kelakuan pasangan suami istri itu.
Hadeuh, yang satu bucin, yang satunya gengsi, kacau-kacau, batin Randi.
Sampai di dalam kamar, Gio melepaskan Diandra di atas ranjang, dia langsung mengungkung tubuhnya istrinya, sebelum Diandra berhasil terbangun.
"Mau ke mana kamu, hem?" tanya Gio, memegang kedua tangan Diandra di samping kepalanya.
Wajah yang berjarak sangat dekat, membuat napas memburu keduanya seakan menyatu, dada Diandra naik turun, menahan kesal kepada suami jahilnya itu.
Entah apa lagi rencana Gio kali ini, untuk membuat dirinya kesal atau bahkan tidak berkutik di hadapannya.
"Mau hah, apah lagi sih, kamuh?" tanya Diandra, yang bercampur dengan napas tersengal.
Gio menatap setiap jengkol wajah istrinya, dia selalu terpesona dengan semua yang ada di dalam diri Diandra.
"Aku cuman mau kamu gak marah lagi sama aku. Aku janji, mulai saat ini aku akan berusaha menjaga jarak dari perempuan lain selain kamu," jawab Gio.
Susah payah Gio menahan hasrat dan juga pikirannya agar tetap berpikir jernih, saat melihat kulit indah dan perpaduan wajah sempurna milik istrinya.
Gio menelan salivanya, saat pandangannya kini beralih pada leher jenjang, yang begitu terlihat menggiurkan.
"Iya ... iya, aku gak akan marah lagi. Tapi, lepasin aku dulu," ujar Diandra.
Melihat wajah Gio yang mulai menampilkan hasratnya, membuat dirinya takut dan waspada. Diandra sama sekali belum siap untuk menyerahkan dirinya pada Gio, walaupun dia sendiri tidak bisa memungkiri apa yang dirasakan oleh hatinya.
Gio sedikit menurunkan tubuhnya, hingga kini mereka semakin dekat. Diandra refleks memalingkan wajahnya, menghindari Gio.
__ADS_1
"Janji gak akan uring-uringan kayak tadi lagi?" tanya Gio.
Diandra mengangguk. "Janji."
Gio langsung mengangkat tubuhnya dengan seringai penuh kemenangan di bibirnya.
Diandra langsung bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Maaf, aku hanya mempunyai cara ini agar kamu bisa menerima permintaan maaf aku," ujar Gio.
"Jangan lakukan lagi, kamu udah janji akan menungguku sampai aku siap." Diandra memeluk lututnya.
"Aku tidak akan melakukan lebih tanpa seizinmu, sayang. Aku janji," jawab Gio.
Diandra mengangguk.
"Baiklah, tenangkan diri kamu dulu, aku harus segera pergi lagi," ujar Gio, sambil hendak beranjak dari tempat tidur.
"Tunggu!" Diandra berangsur mendekati Gio.
"Mau ke mana?" tanyanya lirih.
"Aku ada janji dengan seseorang di luar hotel. Ada apa, hem?"
Diandra mengulurkan tangannya, untuk membuka kemeja Gio yang sudah terlihat kusut.
"Ganti bajunya dulu, gak enak kalau ketemu orang dengan pakaian kusut begini," ujar Diandra.
Setelah melepaskan baju Gio, Diandra beranjak ke lemari pakaian suaminya lalu mengambil salah satu kemeja berwarna navi.
Diandra memakaikannya ke tubuh Gio lalu memasang hampir semua kancing bajunya, hanya ada dua kancing bagian atas yang sengaja dia buka, agar tidak terlalu terlihat kaku.
Gio tersenyum memperhatikan Diandra yang sedang melayaninya. Ada rasa hangat dan kebahagiaan yang membuncah di dalam hatinya, melihat kelembutan istrinya.
"Terima kasih, sayang," ujar Gio, begitu Diandra selesai dengan pekerjaannya.
Tangan Gio menangkup wajah Diandra lalu sedikit mengangkatnya ke atas, dia menahannya sebentar sambil memberikan kecupan di kening itsrinya.
Diandra meremas baju Gio di bagian pinggang saat merasakan hangat sentuhan bibir suaminya.
"Aku mecintaimu, sayang," sambung Gio tepat di depan wajah Diandra.
Perlahan Diandra membuka matanya, hingga mata keduanya kembali bertemu. Diandra lebih dulu memalingkan wajahnya, dia tidak pernah bisa bertahan lama bila harus bertatap mata dengan suaminya.
Jantungnya yang terus bertalu, selalu membuatnya tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya menyerah dengan kekalahannya.
"Sudah siap ... kamu, sudah boleh pergi," ujar Diandra, masih menghindari tatapan Gio.
__ADS_1
Gio mengangguk, dia kemudian melepaskan istrinya dan melangkah mundur, memberi jarak antara keduanya.
Diandra mengambil tangan Gio lalu menciumnya.
"Aku pergi, kamu jaga diri baik-baik, jangan buat aku khawatir lagi," pesan Gio yang langsung mendapat anggukkan dari Diandra.
Gio pun akhirnya ke luar dari kamar mereka berdua, sedangkan Diandra memilih untuk tetap berada di dalam.
Dia menyibak gorden jendela kamar Gio, saat suara deru mesin mobil terdengar, menandakan suaminya sudah bersiap untuk pergi.
Diandra melihat mobil Gio dan beberapa anak buahnya yang perlahan mulai melaju meninggalkan pelataran rumah itu.
Setelah mobil Gio sudah tidak terlihat lagi, Diandra mengambil obat di tas miliknya, saat rasa tidak nyaman kembali diraskan di dalam perutnya.
Diandra meminum beberapa obat di tangannya lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
.
.
"Mana berkas perjanjian kita dan Sujino?" tanya Gio pada Randi yang sedang mengemudikan mobil.
"Ada di map berwarna biru," jawab Randi, melirik sekilas bosnya.
Gio mengambil berkas berwarna biru yang berada di kursi belakang, kemudian mulai memeriksanya kembali.
Ya, saat ini keduanya hendak pergi ke tempat mereka membuat janji dengan Sujino, untuk menandatangani kontrak.
Setelah urusan kerja sama ini selesai, baru Gio dan Randi akan melaksanakan rencana mereka untuk menangkap Jonas.
Beberapa waktu kemudian, keduanya sudah berada di sebuah restoran pinggir pantai yang tidak terlalu ramai.
"Selamat datang, Tuan Sujino," sapa Gio, begitu keduanya bertemu di parkiran.
Ternyata kedatangan mereka ke tempat itu hampir bersamaan, hingga keduanya bisa bertemu di luar seperti ini.
"Mari masuk, Tuan." Gio mengulurkan salah satu tangannya untuk mempersilahkan Sujino berjalan lebih dulu.
Sampai di dalam keduanya memilih tempat duduk yang tidak terlalu terlihat oleh orang banyak.
"Ini adalah berkas kerja sama kita yang sudah kami siapkan sesuai apa yang kita sepakati kemarin." Gio mengulurkan berkas ke atas meja.
Sujino mengambilnya lalu membaca dengan seksama setiap baris kata yang ada di dalam berkas tersebut, terkadang kerutan dalam di keningnya terlihat, membuat Gio dan Randi berdebar menantikan keputusan Sujino.
"Ini–" Sujino menggantung perkataannya sambil menyimpan kembali berkas itu di atas meja.
......................
__ADS_1
Gimana nih reaksi Sujino? Penasaran gak nih?
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...