Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Sarapan


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


Pagi hari, Diandra dan Gio sudah siap untuk pergi ke Bandung. Randi dan Romi pun sudah datang ke rumah Diandra untuk menjemput mereka.


Suasana rumah tampak ramai, mengingat kedua laki-laki yang merupakan asisten itu, menumpang sarapan di rumah Diandra.


Padahal tidak ada yang istimewa di sana, Diandra dan Gio hanya makan roti isi yang sebelumnya dibuat oleh Gio.


"Aku kira ada yang spesial di sini, makanya aku gak sarapan dari rumah," gumam Romi, melihat hanya ada roti di meja makan.


"Iya, tau begini aku sarapan nasi goreng Bi Jui dulu tadi." Randi ikut menimpali.


Mereka berdua berharap akan mendapatkan masakan Gio yang memang sangat enak dan berbeda dari yang lain.


Pasalnya, Gio hanya mau memasak untuk Diandra. Dia bahkan tidak pernah memasak untuk keluarganya.


Makanya, Randi dan Romi selalu mencari kesempatan untuk tuk makan masakan dari Gio.


"Siapa suruh kalian malah minta makan di sini? Dasar gak tau diri!" jawab Gio santai, sambil menaruh piring dan gelas yang ia bawa dari kamar.


Gio dan Diandra sudah sarapan lebih dulu di kamar, jadi sekarang yang tersisa hanya beberapa lembar roti tawar dan selai.


"Ck." Romi dan Randi kompak berdecak malas.


"Dasar bucin, sarapan aja di kamar, padahal di rumah juga hanya berdua!" gerutu Randi.


"Suka-suka aku lah, ini kan rumah istriku. Kalian ngapain malah nyari makan di rumah orang, padahal ada rumah sendiri?" balas Gio.


Ya, tadi Gio sengaja bangun lebih awal, dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Flash back.


Gio masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan di tangannya, dia melihat Diandra baru saja bangun. Perempuan itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Sayang, kamu udah bangun," ujar Gio, sambil berjalan menghampiri Diandra, lalu menaruh nampan yang dia bawa di atas nakas.


Diandra melihat Gio, dia tersenyum tipis lalu mengangguk sambil bergumam. "Heem."


"Ya sudah, mandi dulu sana, nanti kita sarapan bareng," ujar Gio, sambil mengusap rambut yang menjumpai menghalangi wajah Diandra.


"Heem." Diandra kembali bergumam lalu dengan malas beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Tadi malam dia tidur lumayan larut, karena harus menyiapkan semua bekas yang akan dibawa dan menyelesaikan pekerjaan kantor, agar Romi tidak kesulitan saat dia tinggalkan.


Gio tidak pernah mau ikut campur jika itu urusan hotel, dia tidak mau kalau sampai Diandra mengira dirinya ada maksud tertentu dengan menikahinya.


Walau bagaimana pun, Gio dan Diandra tetap saja saingan bisnis hotel jika terlihat dari kacamata bisnis. Akan tetapi, sebenarnya Gio tidak pernah berfikir begitu.


Hotelnya yang berada di sini, bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan bisnisnya di Jakarata. Dia tidak terlalu mengambil pusing urusan hotel peninggalan kakeknya.


Sambil menunggu Diandra selesai, Gio merapihkan ranjang mereka. Dia tidak pernah perhitungan dengan pekerjaan rumah, walaupun sebenarnya selama ini dia tidak pernah melakukan semua itu sendiri.


Namun, di depan Diandra dia ingin terlihat menjadi sosok laki-laki sederhana, dirinya sama sekali tidak pernah menunjukan arogansinya di hadapan perempuan dingin itu.


Beberapa saat kemudian Diandra ke luar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi.


Ya, semenjak kejadian Diandra yang lupa membawa baju ganti ke kamar mandi, akhirnya perempuan itu mengganti semua handuknya menggunakan jubah mandi, agar lebih aman jika dirinya lupa membawa baju lagi.


"Yuk, sarapan dulu," ajak Gio.


Diandra duduk di depan Gio dia menerima piring berisi roti isi, lalu memakannya bersama.


Masakan Gio tidak pernah gagal, selalu pas dengan lidahnya, hingga Diandra tidak pernah bisa menolaknya.


"Gimana, enak gak?" tanya Gio, memakan sarapannya sendiri.


Gio tersenyum melihat Diandra yang tidak pernah menolak, apa pun makanan yang dia masak untuknya.


Flash back off.


"Rom, mana berkas yang aku minta?" tanya Diandra yang baru ke luar dari kamarnya.


"Ini, semuanya sudah aku susun. Tinggal kamu cek lagi nanti," ujar Randi langsung menyerahkan berkas yang tadi dia simpan di meja makan.


Diandra menerima dan memeriksanya sebentar.


"Hm, sepertinya sudah bagus." Diandra mengangkat berkas itu sejajar dengan wajahnya.


"Pasti dong, siapa dulu?!" jawab Romi penuh percaya diri.


Randi dan Gio yang melihat itu, hanya memutar bola matanya sambil berdecak pelan.


Diandra memasukkanberkas itu ke dalam tas, lalu kembali bergabung dengan para laki-laki dewasa itu.


Ya, sebenarnya Romi tidak akan ikut ke Bandung, dia hanya datang untuk memberikan beberapa berkas yang belum sempat dia antarkan sebelumnya.

__ADS_1


Setelah semuanya siap, mereka berdua berangkat dengan Randi yang menyetir mobil Gio, di belakang mobil mereka tampak satu mobil lagi berisi para anak buah Gio yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi.


Kedua mobil berwarna hitam itu melaju beriringan, dengan kecepatan sedang, meninggalkan kawasan pantai yang terlihat masih sepi, lalu melaju di jalan raya lintas provinsi.


Diandra tampak menyandarkan kepalanya di jendela, asik menatap le luar jendela. Melihat aktivitas warga di pagi hari. Mulai dari orang tua yang mengantarkan anak sekolah, sampai yang baru berangkat bekerja, entah itu ke pantai, ladang dan sebagainya.


Perjalanan ini juga melewati banyak pasar tradisional, hingga membuat laju kendaraan tersendat, saat melewati pasar yang sedang beroperasi.


Berangkat di pagi hari memang banyak terdapat kendala. Mulai dari keramaian di sekolah yang pasti membuat macet, dan juga kerumunan orang di pasar tradisional.


Namun, itu semua tidak membuat Diandra merasa bosan. Dia malah terlihat senang melihat semua aktivitas para masyarakat kalangan menengah kebawah itu.


"Kamu senang?" tanya Gio melihat mata Diandra yang sejak tadi tampak berbinar.


Diandra mengangguk.


"Kenapa?" tanya Gio lagi, sambil mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan istrinya.


Diandra kemudian menegakkan tubuhnya lalu menoleh hendak menatap Gio. Akan tetapi, dia dibuat terkejut saat wajah Gio sudah berada beberapa sentimeter lagi di depannya.


Keduanya tampak terdiam, Diandra yang terkejut dan Gil yang menikmati posisi seperti itu. Wajah Diandra selalu bisa membuatnya terpesona, walupun dalam keadaan terkejut seperti ini.


Diandra mendorong dada Gio perlahan sambil berdehem, berusaha menutupi rasa gugupnya.


"I–itu karena ... mereka bisa terlihat bahagia, di tengah keterbatasan ekonomi. Tersenyum bahkan tertawa dalam beban yang tersimpan rapi di dalam hati," jawab Diandra sambil mengalihkan pandangannya dari mata Gio yang terus saja menatapnya.


Randi yang berada di kursi depan, memutar bola matanya jengah. Seorang casanova seperti Gio memang tidak ada bedanya dengan laki-laki buaya.


Hanya saja cara Gio dalam merayu istrinya terlihat lebih rapih, tanpa gombalan receh yang biasa diucapkan para buaya, di luar sana.


Gio mengangguk samar mendengar jawaban Diandra.


"Setiap orang memiliki masalahnya sendiri. Setiap orang hang masih bernyawa dan perasaan pasti memiliki masalah. Semua itu hanya berbeda dari bagaimana cara kita menghadapinya."


Gio menatap wajah Diandra yang kini mulai memberanikan diri untuk membalas tatapannya lagi.


"Mau terlarut dalam masalah dan mengabaikan kesempatan hidup di dunia yang hanya satu kali. Atau, kita nikmati semua proses do dalam kehidupan yang sudah tertulis di dalam garis takdir masing-masing," sambung Gio lagi.


Diandra terdiam. Dia merasa sedikit tersindir oleh perkataan Gio. Mungkin hatinya tahu kalau selama ini Diandra terlalu larut dalam masalah hidupnya, hingga lupa menikmati hidupnya.


...................


Ada karya bagus nih, yuk mampir sambil nunggu aku up lagi😊.

__ADS_1



__ADS_2