
...Happy Reading ...
......................
"Awas matanya dijaga, jangan suka jelalatan!" Terdengar suara Diandra di aerphone yang dipakai oleh Gio, membuat Gio hampir saja tersedak salivanya sendiri.
Gio lupa kalau saat ini dirinya sedang dipantau dari jauh oleh sang istri.
"Ekhm!" Gio berdehem sebagai tanda kalau dia mendengar suara istinya, sekaligus melonggarkan tenggorokan yang terasa tercekat.
"Benar, Pak, saya memang anaknya Pak Handoyo. Tapi, saya memilih untuk merahasiakannya agar pegawai yang lain tidak merasa canggung," ujar Mely dengan wajah yang tersipu.
"Oh, benarkah? Ternyata kamu adalah wanita yang mandiri." Gio sedikit memuji Mely.
Mely terkekeh kecil dengan suara manja dan menggoda.
"Ah, saya memang sudah terbiasa mandiri, Pak," jawab Mely.
"Mandiri, mandi sindiri! Semua orang juga bisa itu mah. Dasar cewek bikini kecentilan!" Gio terkekeh mendengar suara Diandra yang menggerutu.
Sayangnya, Mely menganggap kalau Gio terkekeh karenanya, hingga membuat wanita itu semakin senang dan mengira kalau Gio memang menaruh hati padanya.
Ketukkan di pintu terdengar, membuat Gio dan Mely yang sedang berada di dalam mengalihkan perhatiannya.
Dua orang laki-laki tampak masuk ke dalam ruang kerja Gio. Mely semakin terkejut saat melihat Papanya dan Randi masuk secara bersamaan.
"Selamat datang, Pak Handoyo. Lama kita tidak bertemu," ujar Gio menyambut kedatangan salah satu manager di perusahaannya.
"Terima kasih, Pak Giovano. Suatu kehormatan untuk saya bisa bertemu langsung dengan, Bapak," jawab Pak Handoyo dengan wajah sumringah.
Kedua laki-laki berbeda usia itu bersalaman. Senyum lebar pun terlihat mengembang dari wajah keduanya.
Mely yang berada di sana semakin merasa senang, melihat sikap Gio yang tampak sangat baik dan hormat kepada Ayahnya.
Ada apa ini, kenapa Pak Giovano mengundang Papah ke sini? Apa jangan-jangan dia mau melamar aku? batin Mely dengan percaya dirinya.
"Mari, silahkan duduk, Pak Handoyo," ujar Gio, mempersilakan Pak Handoyo di sofa.
"Terima kasih, Pak Giovano." Pak Handoyo langsung duduk berdampingan dengan Mely.
"Sebenarnya ada apa ini, Mel? Kenapa kita berkumpul di sini?" bisik Pak Handoyo pada Mely.
"Aku juga gak tau, Pah," geleng Mely.
__ADS_1
"Pak Handoyo, Mely, sebenarnya saya mempertemukan kalian di sini karena ada yang mau saya bicarakan dengan kalian," ujar Gio mengawali pembicaraan.
Pasti dia mau mengungkapkan perasaannya padaku, terus melamar aku di depan Papa, batin Mely mengulum senyumnya.
Sementara itu Randi mengambil sesuatu dari meja kerja Gio kemudian memberikannya pada bosnya itu.
Apa itu? batin Mely, melihat berkas yang saat ini dipegang oleh Gio.
Apa itu uang yang akan diberikan padaku, sebagai tanda lamaran? Wah, Pak Giovano memang royal, aku yakin jumlahnya pasti tidak sedikit, gumam Mely di dalam hati.
Mely tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya, saat pikirannya sudah jauh ke mana-mana. Padahal sejak tadi Gio tidak menunjukkan sesuatu yang bisa membuat Mely berpikir ke arah sebuah lamaran atau pun pertunangan.
"Ini adalah laporan untuk proyek kita yang ditangani oleh Pak Eric," ujar Gio sambil menyerahkan berkas di tangannya.
Mely dan Pak Handoyo saling menatap, mereka berdua tampak kaget dan bingung, tidak mengerti dengan semua ini.
"A–apa maksud, Bapak, memanggil kami untuk laporan ini?" tanya Pak Handoyo sambil menerima berkas dari Gio.
"Iya, memang benar. Lalu buat apa lagi?" jawab Gio mengangguk pasti.
"Aku mendengar kalau Pak Eric masuk melalui rekomendasi Bapak, karena dia adalah suami dari kerabat, Bapak." ujar Gio lagi yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Pak Handoyo dan Mely.
"Lalu?" tanya Pak Handoyo.
'Apa? Jadi Pak Giovano memanggil aku dan Papa ke sini, hanya untuk membicarakan pekerjaan? Akh, dasar nyebelin! Aku kira Pak Giovano akan melamarku, batin Mely menahan kesal.
"T–tapi, ini kan bukan tugas saya, Pak," tolak Pak Handoyo.
"Saya tentu tau kalau ini bukanlah tugas Bapak. Tapi, saya mau, Bapak dan Mely, bertanggung jawab dengan orang-orang yang, Bapak, bawa masuk ke perusahaan saya," ujar Gio dengan raut wajah berubah tegas.
"Tapi, Pak–" Mely pun ikut berusaha untuk membantah tugas barunya.
"Tidak ada tapi lagi. Jika kalian menolak tugas ini, berarti kalian juga terlibat dengan kecurangan dari laporan Pak Eric?!" ujar Gio menatap Pak Handoyo dan Meli bergantian.
Pak Handoyo dan Mely saling menatap, kemudian keduanya mengangguk samar menyetujui permintaan dari Gio, walau itu semua terpaksa, demi membuat mereka berdua aman.
"Baiklah kalau begitu, saya tunggu laporan dari kalian berdua," ujar Gio, sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Randi maju menggantikan Gio, dia mempersilakan Pak Handoyo dan Mely untuk ke luar dari ruangan Gio.
Mely melirik Gio dengan wajah kesalnya, karena dia telah salah mengira maksud dari Gio memanggilnya dan sang Papa.
Sedangkan Diandra terkekeh kecil saat mendengarkan perbincangan dari suami dan para karyawannya. Ah, rasanya sangat senang saat melihat Mely ke luar dengan raut wajah kesalnya.
__ADS_1
"Rasain, wanita bikini! Sekarang pasti kamu kesel banget kan? Makanya gak usah sok kecantikan ... saat ini suamiku sudah tidak suka lagi ikan asin bau kayak kamu!" gumam Diandra sambil terkekeh kecil.
.
.
"Hahaha, aku gak bisa bayangin gimana rasanya jadi wanita bikin itu, pasti dia kesel banget sih," ujar Diandra di sela tawanya, setelah mendengar cerita Gio tentang kejadian tadi siang, saat Mely dan Pak Handoyo dipanggil ke ruanganya.
"Udah, jangan kenceng-kenceng gitu ketawanya, nanti malah keselek lagi." Gio memeluk istrinya dari belakang sambil mengusap punggung tangan istrinya yang berada di depan perut.
Keduanya kini sedang duduk di ranjang dengan posisi Diandra berada di depan dan menyandarkan dirinya pada dada sang suami. Tangan Gio pun melingkar dan bersatu di depan perut istrinya.
"Lagian, aku udah bisa bayangin gimana wajah wanita bikini itu, saat kamu bilang tentang masalah Eric," jawab Diandra masih dengan kekehan kecil yang terdengar.
"Kamu ini, kenapa harus senang di atas penderitaan orang, hem?" Gio mencuri gemas hidung Diandra.
"Kalau penderitaannya dari orang-orang gila harta dan jabatan kayak mereka mah, gak apa-apa. Lagian, mereka juga bahagia setelah berkhianat sama perusahaan kamu," jawab Diandra santai.
"Astaga, ternyata istriku, mempunyai jiwa tega juga, ya?" ujar Gio berpura-pura terkejut pada istrinya.
"Aku memang tega, makanya jangan sampai kamu buat aku sakit hati, karena aku tidak akan pernah mau memaafkannya lagi." Diandra berbalik dan menatap Gio dengan tajam.
"Ish, mana ada aku kayak gitu, sayang. Aku bahkan tidak bisa memikirkan semua itu, sayang. Kamu adalah satu-satunya yang ingin aku perjuangkan di dalam hidupku," ujar Gio sambil mengekus pipi istrinya pelan.
Diandra tidak menjawab dia hanya menatap wajah Gio sambil tersenyum yang dibalas dengan kecupan manis di salah satu tangan istrinya.
"Kami adalah cinta terakhirku dan satu-satunya wanita yang pantas untuk berada di sampingku, selamanya," ujar Gio dengan senyum mengembang di bibirnya.
Diandra menatap Gio dalam, selalu ucapan itu yang Gio ucapkan untuknya, sedangkan dirinya sendiri bahkan sulit untuk mengungkapkan sebuah kata cinta pada suaminya.
"Kenapa mulut kamu itu selalu manis? Apa karena kamu sudah terlatih untuk mengucapkan kata cinta pada banyak wanita?" tanya Diandra.
"Hem, gimana ya? Mungkin karena rasa cintaku yang begitu besar untukmu, sampai-sampai aku tidak bisa mengungkapkan kata lain selain kata cinta, jika sedang berada di dekat kamu, sayang," jawab Gio sambil mengeratkan pelukannya pada sang istri.
"Ih, dasar tukang gombal!" cebik Diandra yang langsung disambut tawa Gio.
"Gak gombal, sayang. Tapi, semua itu adalah ungkapan yang tulus dari hati aku, dan, tentunya hanya untukmu," jelas Gio.
"Heem, iya deh, percaya," jawab Diandra.
"Jadi, sekarang apa lagi rencana kamu setelah ini," tanya Gio setelah mencium pipi Diandra sekilas, setelah keduanya asik bercengkrama.
"Belum tau, aku belum ada rencana lagi," jawab Diandra santai.
__ADS_1
......................