
...Happy Reading...
......................
"Aku ikut!" ujar Diandra, menatap khawatir neneknya yang tidak sadarkan diri.
"Kamu tidak usah ikut, urus saja di sini," ujar dingin Eros, membuat hati Diandra semakin hancur.
Diandra menatap kepergian mobil sang ayah dengan air mata berderai, sedangkan para tamu asyik menggunjikan dirinya, sambil melihatnya jatuh terpuruk, tanpa ada yang merasa kasihan padanya.
"Dian, kamu tenang saja. Nenek pasti tidak apa-apa." Ana memeluk kakak kembarnya itu dengan rasa prihatin yang begitu dalam
"Maafkan aku, Dian. Aku kira Eric adalah laki-laki yang baik untuk kamu. Tapi, ternyata dia hanya seorang bajing*n, yang tidak punya perasaan," ujar Ana dengan emosi yang menggebu.
Tangis Diandra pecah di dalam pelukan Ana, dia sudah tidak bisa lagi menerima semua ini. Sedangkan para tamu sudah diarahkan untuk segera pulang, oleh Hery dan Ares.
"Ayo, kita masuk ke dalam, kita bicarakan semua ini baik-baik, ya." Ana mengurai pelukannya, dan menatap wajah Diandra dalam.
Ana kemudian memapah Diandra untuk berdiri dan masuk kembali ke dalam rumah.
Gak nyangka, ternyata anak pertama Eros liar juga. Padahal sehari-hari dia berdandan layaknya gadis polos dan cupu.
Seorang saudara yang masih ada di area pesta, terdengar mulai menggunjingkannya dengan para tetangga.
Dalam langkahnya, ujung matanya melihat selembar foto yang tergeletak di atas lantai, di sana dia bisa melihat jelas kalau orang yang mirip dirinya, sedang tertidur di dalam pelukan seorang laki-laki.
Ya, mungkin saja dia berdandan seperti itu, untuk menutupi kelakuannya yang sangat memalukan. Sangat mengejutkan.
Sayang sekali, padahal dulu aku sangat menyukainya. Tapi, sekarang aku kagum padanya ... dalam satu hari dia bisa menghancurkan nama baik keluarganya sendiri.
Tubuh Diandra semakin gemetar mendengar semua kata-kata pedas penuh hinaan dan caci maki dari tetangga, kerabat, bahkan saudara sendiri yang menyalahkan dirinya atas kejadian memalukan itu.
Ana dan Diandra masuk lagi ke kamar, gadis yang masih memakai baju pengantin dengan riasan yang sudah berantakan itu, kini jatuh bersimpuh, tidak dapat lagi menahan tubuhnya untuk bisa berdiri tegar.
Hidupnya hancur dengan hanya dalam sekejap mata, nama baiknya dan semua keluarganya telah tercemar, karena ulah seorang laki-laki pendendam yang menyebar fitnah.
__ADS_1
Diandra duduk dengan kaki ditekuk, kepalanya dia sembunyikan di balik lutut, tangan bergetarnya memeluk erat kakinya yang terasa tidak memiliki tenaga lagi.
"Diandra, maafkan aku ... ini semua terjadi karena aku. Dian, tolong jangan begini." Ana yang juga duduk di sampingnya terus meminta maaf, atas kejadian yang menimpa saudara kembarnya itu.
Namun, semua itu seakan tidak terdengar oleh Diandra. Perempuan itu, hanya sibuk dengan bayangan-bayangan menyakitkan yang terjadi, dan suara sumbang dari orang di luar sana.
"Ana, aku mau sendiri," lirih Diandra, setelah hampir setengah jam tidak mengatakan apa-apa.
Ares dan Hary yang juga sudah berada di sana, akhirnya mengajak Ana untuk ke luar. Membiarkan Diandra menenangkan diri di dalam kamar, tanpa ada orang lain yang mendapinginya.
Setelah pintu kamar tertutup, perlahan Diandra mengangkat kepalanya, dia kemudian berdiri dan berjalan menuju lemari kaca yang ada di kamarnya.
Lama dia menatap bayangan dirinya di balik cermin, memperhatikan seluruh tubuh berbalut gaun pengantin, dengan wajah yang sudah berantakan.
"Apa aku sejelek itu? Apa aku pantas menerima semua ini, hanya karena aku tidak suka berdandan?" lirihnya, sambil menatap wajahnya sendiri.
Tangan Diandra perlahan mengusap wajahnya dengan sedikit tekanan, hingga riasan itu sedikit terhapus. Dia kembali mengulanginya lagi, hingga riasan di wajahnya semakin tidak berbentuk.
Diandra beralih pada riasan di kepalanya, dia mencabut satu per satu aksesoris yang terpasang, dia melucuti semua pernak-pernik pernikahan dari tubuhnya, hingga berakhir hanya menggunakan sebuah kain tipis penutup tubuh saja.
Di bawah guyuran air dingin, Diandra berusaha menguatkan hati, pikirannya terus berputar mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul.
Hampir satu jam, Diandra berada di dalam sana, hingga akhirnya dia ke luar. Perempuan itu kembali memakai baju yang biasa dipakai, lalu bergegas untuk ke luar.
"Dian, kamu mau ke mana?" Ana, Ares, dan Hary, yang sejak tadi menunggu di depan kamar, langsung berdiri saat melihat Diandra ke luar.
Diandra tidak menjawab, dia hanya terus berjalan ke luar, tanpa menghiraukan orang-orang disekitarnya.
Mengambil motor yang biasa dia pakai, lalu pergi dari rumah itu, tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.
"Hery, ayo kita kejar dia!" panik Ana.
"Aku ikut, Kak!" Ares pun langsung masuk ke dalam mobil milik Hery.
Diandra terus menyetir motornya, dia sudah bertekad untuk meminta penjelasan pada Eric, tentang apa yang sudah terjadi padanya dan keluarganya hari ini.
__ADS_1
Beberapa saat berkendara, kini Diandra sudah sampai di depan rumah Eric, perempuan itu menautkan alisnya, begitu melihat kondisi yang terjadi di sana.
Tenda besar, dengan hiasan mewah, dan janur kuning yang berdiri di depannya, khas sebuah pernikahan. Para undangan pun terlihat banyak yang berdatangan.
Diandra semakin dibuat terkejut, saat membaca nama dari kedua mempelai, yang tergantung di ujung janur itu.
...Eric dan Sintia...
Diandra tersenyum kecut, saat membaca nama itu, dia semakin dibuat penasaran, dengan apa yang terjadi di dalam sana.
Menghirup napas dalam lalu membuangnya dengan kasar, Diandra melakukan itu berulang kali, hingga dadanya terasa sedikit lebih baik. Ya, tentu hanya sedikit.
Perlahan perempuan itu turun dari motornya, dan bergabung dengan para undangan untuk masuk ke dalam. Di pintu masuk, Diandra bisa melihat langsung foto pra nikah, yang terlihat sangat bahagia.
Diandra mengenali kedua mempelai yang ada di dalam sana, hatinya terasa semakin sakit bagai luka yang tersiram air cuka.
Terus berajalan dengan sedikit menyembunyikan wajahnya, agar tidak terlihat oleh kerabat Eric yang dia kenal.
Sampai di dalam Diandra bisa melihat langsung, sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk manis di pelaminan. Wajah keduanya, bahkan tampak berseri dan begitu bahagia, tanpa ada beban setelah apa yang terjadi padanya.
Jadi ini alasannya? Mereka sedang berbahagia? batin Diandra masih tidak percaya dengan apa yang terlihat oleh mata.
Diandra mengedarkan pandangannya pada setiap dekorasi yang ada di sana, terlihat begitu indah dan penuh dengan senyum bahagia di setiap wajah.
Diandra menyusup, menghampiri pengantin yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
Matanya sudah berkaca-kaca, menahan semua gejolak rasa, melihat pasangan di depan sana yang terlihat sangat bahagia.
Di setiap langkah yang membawanya semakin mendekat, Diandra terus bergumam berbisik kepada dirinya sendiri, agar dirinya menjadi lebih kuat lagi.
Tiba saat tinggal beberapa langkah lagi, untuk naik ke pelaminan, Diandra menutup matanya, merasakan rasa sakit yang semakin menyesakkan dada, seakan ada luka yang menganga begitu besar di dalam sana.
......................
Apa yang akan Diandra lakukan ya di sana? Yuk komen๐
__ADS_1
...๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น...