
...Happy Reading...
..................
"Terima kasih, kalian sudah mau pulang lagi ke rumah," ujar Lisna, setelah mereka semua duduk di ruang keluarga.
Lisna duduk di antara kedua anak perempuannya, dia sangat bahagia saat ini, sungguh. Kedatangan dua orang anak perempuannya ke rumah, adalah harapan terbesar yang selalu dia panjatkan di dalam doa.
"Bunda kangen banget sama kalian berdua," sambung Lisna lagi.
Diandra saling lirik dengan Diana, mereka bersama-sama turun ke bawah, hingga berlutut di depan wanita yang telah melahirkannya.
Keduanya tampak merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibunda.
"Maafin kami, Bunda," ujar Diandra dan Ana bersamaan.
Air mata yang baru saja berhenti kembali mengalir begitu saja, dari wajah Lisna. Dia menganggukkan kepala, dengan isak tangis yang kembali terdengar.
"Maafkan Bunda juga ya, Nak," lirih Lisna sambil mengusap puncak kepala anak-anak perempuannya.
"Kami sudah banyak membuat salah pada, Bunda. Kami anak yang selalu membuat, Bunda, menangis," ujar Diandra, sambil terisak di pangkuan sang Ibunda.
Gio yang sedang duduk di samping Eros, melihat istri dan juga adik iparnya. Dia kemudian mengambil Andra dari Eros agar mertuanya itu bisa melihat kedua anak perempuannya.
"Andra, mau beli jajan gak? Yuk kita jalan-jalan ke luar," ajak Gio.
Tentu saja anak dua tahun itu langsung mengangguk lalu mengulurkan tangannya, meminta digendong oleh pamannya.
"Yah, itu." Gio memberi isyarat agar mertuanya itu menghampiri Lisna, Diandra, dan Ana.
Eros tampak keberatan. Berbeda dengan yang lain, Gio memang tampak lebih dekat dengan Eros. Sikap Gio yang mudah bergaul, tentu saja bisa mengimbangi sikap ayah mertuanya.
"Bun, Ayah juga mau diajak tuh," ujar Gio dengan santainya sambil pergi ke luar, membuat acara haru antara ibu dan anak itu terpotong begitu saja.
Dasar menantu kurang ajar, awas aja nanti! kesal Eros di dalam hati.
Ketiga wanita itu kini mengalihkan perhatiannya pada Eros yang tampak duduk gelisah, akibat ditinggalkan oleh menantu dan cucunya.
Diandra dan Ana tampak melihat ke arah Lisna, mereka berdua kemudian berdiri dan menghampiri Eros, setelah mendapatkan anggukkan dari Lisna.
__ADS_1
Mereka kembali bersimpuh di hadapan laki-laki yang merupakan cinta pertama dari seorang anak perempuan.
"Ayah," ujar mereka bersamaan.
Eros mendongakkan kepala, saat merasa matanya kembali memanas. "Khem!" berdehem beberapa kali, untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dada.
"Maafkan kami, Yah. Kami salah, kami anak yang nakal dan gak pernah berbakti sama orang tua," ujar Diandra dengan isak tangisnya.
"Aku juga minta maaf, karena sudah membantah nasihat Ayah dan mencoreng nama baik keluarga," sambung Ana lagi.
"Ayah kami berdua meminta maaf, atas semua kesalahan yang kami lakukan baik yang kami sengja ataupun yang tidak kami sengaja, dari hari ini ke belakang. Kami harap Ayah mau memaafkan kesalahan kami." Diandra dan Diana berucap bersamaan.
Itu adalah permintaan maaf yang selalu mereka ucapkan saat sedang melakukan acara sungkeman, di saat hari raya idul fitri. Semua itu sudah turun temurun dari keluarga nenek.
Eros berusaha tersenyum kemudian mengangguk, dia mengusap puncak kepala kedua anak perempuannya.
"Ekhem!" Lagi-lagi, laki-laki paruh baya itu berdehem, untuk menormalkan suaranya.
"Ayah, sudah maafkan apa pun kesalahan kalian berdua dari hari ini ke belakang. Ayah, juga minta maaf, untuk kesalahan yang Ayah lakukan kepada kalian berdua. Semoga setelah ini, kehidupan kalian, selalu diberikan kebahagiaan," jawa Eros panjang lebar.
Diandra dan Ana mendongak melihat wajah sang ayah, mereka kemudian mencium tangan ayahnya berulang kali, kemudian memeluk ayahnya.
Pelukan pertama setelah kedua anak perempuannya dewasa. Eros bahkan sudah lupa kapan dia memeluk anak-anaknya. Mungkin saat mereka dalam masa BALITA.
Lisna yang bisa melihat itu semua, tersenyum, kemudian beranjak mendekati mereka hingga ikut memeluk suaminya. Akhirnya kesalahpahaman dalam mengungkapkan cinta itu sudah berakhir, seiring berjalannya waktu, dan semakin dewasanya para anak-anak mereka.
Pada akhirnya, setiap dari orang akan bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri. Ana yang harus bertanggung jawab dengan keputusannya memilih orang lain dari pada keluarganya sendiri dan harus menjalani hidup yang ternyata sangat sulit.
Diandra yang memilih mengasingkan diri, dan hidup dengan rasa dingin dan keras hati, demi tetap bertahan dalam kewarasannya sampai menemukan adiknya kembali dan menyatukan keluarganya, seperti dulu.
Eros yang harus hidup dalam rasa bersalah dan khawatirnya, saat kedua anak perempuannya tidak bisa dia jangkau dan memilih pergi meninggalkannya.
Lisna yang tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa berharap juga berdoa untuk keselamatan anak-anak yang berada jauh darinya dan juga kelembutan hati suaminya.
Kini semuanya telah kembali berkumpul, walaupun mungkin tidak bisa lagi seperti dulu, mengingat sekarang sudah ada Gio dan Andra di dalam anggota keluarga.
Bagaimana dengan Hary? Apakah dia akan termasuk dalam keluarga itu, atau malah menjadi seseorang yang hanya numpang lewat dalam kehidupan keluarga Eros? Entahlah, sepertinya hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
.
__ADS_1
.
Sementara itu Gio mengajak Andra ke warung yang tidak jauh dari rumah mertuanya. Sampai di sana ternyata banyak warga yang sedang berkumpul di sana.
Kedatangan Gio tentu saja menjadi bahan perhatian dari para warga yang ada di sana. Penampilan Gio yang berbeda dari kebanyakan orang di sana, ditambah dengan kehadiran anak di gendongannya.
Kampung ini tidak terlalu besar, membuat semua warganya saling mengennal, jadi mereka bisa tahu kalau ada orang baru yang datang.
"Permisi," sapa Gio, sambil menurunkan Andra dari pangkuannya.
"Mau beli apa?" tanya Gio berjongkok di depan Andra.
Andra langsung mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Aa' tamunya Pak Eros, ya?" tanya salah satu warga laki-laki yang tengah duduk sambil menikmati kopi.
Gio menoleh pada laki-laki paruh baya itu kemudian mengangguk sopan. "Benar, Pak," jawabnya.
"Ada keperluan apa, A'? Sepertinya Aa' bukan keluarganya Pak Eros?" tanya laki-laki itu lagi, dengan pandangan menyelidik pada Gio.
Gio masih tersenyum, dia melirik semua orang di sekitarnya. Sepertinya mereka juga diam-diam menunggu jawaban Gio.
"Kebetulan saya adalah menantu beliau," jawab Gio.
Gio bisa melihat raut wajah terkejut dari semua orang yang berada di sana.
"Ooh, menantunya? Kalau boleh tau, suaminya siapa?" tanya seorang ibu-ibu muda yang sedang menyuapi anaknya makan camilan.
"Saya, suaminya Diandra," jawa Gio.
"Uncle, aku mau itu." Andra menarik ujung baju Gio, menghentikan laki-laki itu dari percakapannya.
"Mau apa?" tanya Gio, beralih pada Andra lagi.
Andra menunjuk beberapa makanan yang ada di sana. Gio pun langsung mengmbilnya, lalu membayarnya. Setelah itu dia langsung berpamitan kepada para warga.
Saat dia berjalan menjauh, Gio mendengar bisik-bisik dari para warga yang membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya.
...............
__ADS_1