
...Happy Reading ...
.................
Siang ini Gio dan Diandra menyempatkan jalan-jalan di sekitar kampung, mengenang masa-masa di mana Diandra tubuh besar bersama keluarganya.
Awalnya Diandra sempat menolak, perempuan itu masih merasa malas, harus bertegur sapa dengan para warga kampung yang dulu menghina dan memfitnahnya.
Namun, Gio yang merasa bosan hanya diam terus di rumah, terus merayu istrinya untuk ke luar rumah. Cuaca yang sedikit berawan, membuat siang ini tidak terlalu panas, dan itu sangat nyaman untuk berjalan-jalan.
"Kita ke mana dulu nih?" tanya Gio, yang memang belum tahu jalanan sekitar kampung. Kecuali jalan utama menuju rumah.
"Kita jalan aja, nanti kalau ada yang menarik baru berhenti," jawab Diandra.
Gio mengangguk, mereka berajalan sambil bergandeng tangan. Baru beberapa meter ke luar dari area rumah, Diandra sudah berpapasan dengan salah satu warga.
"Eh, Dian. Udah pulang, ya?" sapa seorang ibu muda, mungkin seumuran dengan Diandra. Dia menggandeng seorang anak perempuan kecil di sampingnya, sepertinya mereka baru pulang dari sekolah taman kanak-kanak.
"Mela, apa kabar kamu? Lama, ya, gak ketemu," ujar Diandra, dengan senyum tipis di wajahnya.
Gio memperhatikan wanita di hadapan istrinya, cukup cantik untuk ukuran wanita di kampung. Walaupun tetap lebih cantik istrinya. Akan tetapi, ada sorot berbeda dari matanya, dia seakan memendam sebuah kebencian.
Senyum Diandra juga seakan terpaksa. Semua itu membuat Gio tampak mengerutkan keningnya.
"Wah, enak banget, ya? Pulang jadi TKW, bawa laki-laki ganteng begini, dapet dari mana tuh?" sindir wanita bernama Mela itu, sambil melirik genit pada Gio.
Gio melebarkan matatanya, sambil mundur satu langkah, berusaha menjauh dari sebuah ancaman untuk rumah tangganya. Dia cukup terkejut dengan keberanian wanita itu, dalam berbicara pada Diandra.
Apa tadi katanya? TKW? Maksudnya warga sini, mengira Diandra jadi TKW? Ck, bener-bener gak masuk akal! batin Gio berdecak kesal. Dia tidak terima istrinya dikira menjadi TKW.
"Heh!" Diandra berdecih sinis.
"Setidaknya aku tidak merebut suami orang, seperti kamu!" sindir balik Diandra.
Gio beralih pada Diandra, tidak menyangka kalau istrinya itu bisa berkata tajam dan sarkas seperti itu. Selama ini dia hanya melihat Diandra yang pendiam dan judes saja, itu pun hanya padanya.
Bukan hanya Gio, Mela pun ikut terkejut melihat perlawanan Diandra. Selama ini Diandra tidak pernah berani melawan dirinya, kecuali Diana.
__ADS_1
Mela adalah teman sekelas Diandra, sejak kecil mereka memang tidak pernah akur. Mela yang merupakan anak pak kades selalu bersikap seenaknya dan menjadikan Diandra sebagai sasaran perundungan.
Bukan karena Diandra jelek atau bahkan bodoh. Akan tetapi, semua itu karena Diandra masih terlihat cantik walau dengan tampilan sederhananya, ditambah nilai Diandra juga selaku menjadi sainganya.
Ya, mereka selalu kejar-kejaran peringkat paling atas, jika bukan Diandra yang peringkat satu, maka Mela lah orangnya, begitu pula sebaliknya.
Selama ini Diandra tidak pernah melawan, karena ingat kalau mereka sebenarnya masih kerabat dari Bunda. Ibunya Mela, adalah saudara jauh Bunda.
Namun, kini Diandra sudah tidak perduli lagi. Setelah melihat ibunya Mela malah ikut-ikutan menghina dirinya dan membenarkan fitnah itu, beberapa tahun lalu.
Diandra sekarang bukanlah, Diandra yang lemah dan selalu mengalah seperti dulu. Dia sudah cukup menerima semua yang terjadi, kini di sampingnya ada Gio yang harus dia jaga perasaannya.
Diandra tidak mau jika sampai semua masalahnya, akan berdampak pada nama baik suaminya. Sudah cukup suaminya mengorbankan waktu, tenaga, uang, dan pikirannya, untuk menyelesaikan masalah dirinya.
Sekarang dua tidak akan diam saja, dia akan terus melawan sampai mereka diam dan tidak berani berfikir hal buruk tentang dirinya dan Gio.
Mereka menikah secara sah, dalam keadaan sama-sama sendiri dan tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Lalu kenapa sekarang pernikahannya dengan Gio masih menjadi pertanyaan?
Diandra tidak suka mulut-mulut tidak mempunyai penyaring seperti Mela, dia harus segera membungkamnya sebelum gosip itu kembali menyebar ke mana-mana.
"A', sepertinya salah memilih istri deh, pasti matanya kelilipan waktu menikah sama Dian." Mela kini beralih pada Gio.
Diandra hendak membalas omongan Mela lagi. Akan tetapi, Gio langsung menahannya.
"Saya tidak pernah salah memilih, apalagi untuk menjadikan Dian menjadi istri. Dia adalah perempuan terhormat dan terbaik untuk saya, dan saya yakin itu," jawab tegas Gio, sambil merangkul pundak istrinya.
"Sebaiknya jaga mulutnya ya, Mbak. Jangan sampai nanti, Mbak, menyesal karena telah berbicara sembarangan!" sambung Gio lagi, memberikan peringatan.
"Ayo, sayang." Gio beralih pada istrinya.
"Cih! Sok banget sih! Baru punya mobil aja udah sombong!" decak Mela, menatap sinis Diandra dan Gio yang sudah meninggalkannya.
"Siapa itu, sayang?" tanya Gio setelah mereka berjarak cukup jauh dari Mela.
"Kenapa, cantik? Kami tertarik?" sarkas Diandra. Dia melihat Gio menatap Mela tadi.
"Eh, enggak lah, sayang. Mana ada aku tertarik pada wanita modelan nenek lampir kayak dia," jawab Gio, terkejut dengan tuduhan dari istrinya.
__ADS_1
"Alesan! Buktinya tadi kamu terus liatin dia. Sekarang malah nanya-nanya." Diandra tetap menuduh Gio.
Sepertinya tanpa sadar Diandra menjadikan Gio sebagai pelampiasan atas kekesalannya.
"Enggak, sayang. Beneran deh. Aku nanya, karena sepertinya dia tidak suka sama kamu, dan kamu juga gak suka sama dia," jelas Gio.
Diandra melirik sini Gio yang masih merangkulnya.
"Dia teman sekelasku, atau mungkin lebih pantas disebut musuh. Tapi juga saudara," jawab kesal Diandra.
"Eh, kok bisa gitu?" bingung Gio. Walaupun dia juga tidak aneh dengan pertikaian dan permusuhan antara saudara sendiri.
Diandra tidak menjawab dia hanya mengedikkan bahunya.
"Gak usah dibahas lagi, aku gak suka," ujarnya kemudian.
Gio mengangguk, buat apa juga mereka membahas wanita titisan nenek lampir kayak gitu. Wajahnya sih lumayan, akan tetapi, mulut dan hatinya sudah busuk semua.
Mereka melanjutkan rencananya untuk berjalan-jalan di sekitar kampung. Ternyata Diandra membawa mereka menuju sebuah balai yang berada di tengah sawah, di sana memang sering digunakan orang untuk mengadakan acara, atau menyambut para tamu desa.
Namun, sepertinya hari ini sedang tidak ada acara apa pun di sana, hingga yang ada hanya para anak muda kampung yang sedang berkumpul.
"Kalau jauh begini, tadi aku pinjam motor milik Ares," ujar Gio sambil duduk di salah satu bangku cor yang tersedia di sana.
"Gak jauh kok. Kalau pulangnya capek, tinggal telepon Ares aja, suruh jemput," jawab Diandra santai.
Gio mengedarkan pandangannya, pemandangan di sini memang sangat indah, apalagi saat ini padi dalam kondisi mulai menguning, kata salah satu warga, mungkin seminggu lagi sudah bisa dipanen.
Dari sini, pemandangan di desa itu bisa terlihat dengan jelas, dari sawah yang lumayan luas dan berudak, persis seperti terasering yang berada di Bali. Ditambah di sekitarnya dikelilingi pegunungan yang masih asri dan hijau.
Semua itu mampu membuat setiap mata yang memandang, merasa dimanjakan. Hingga membuat mereka yang berada di sana lupa waktu, saking nikmatnya melihat pemandangan.
Begitu juga dengan Gio dan Diandra saat ini. Gio yang pandai bergaul mulai akrab dengan beberapa warga, sedangkan Diandra hanya menjawab saat sesekali ada warga yang bertanya padanya.
Mereka baru saja pulang setelah waktu sudah hampir senja, tentu saja dengan meminta dijemput oleh Ares, mengingat jalan menuju ke rumah banyak tanjakan, membuat mereka merasa enggan untuk berjalan.
..................
__ADS_1