Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bertemu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Diandra yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, terus terganggu dengan ponsel yang sejak tadi berdering.


Dia sama sekali tidak kenal dengan dering ponsel itu, hingga dirinya hanya mengacuhkannya saja.


Namun, lama-lama Diandra merasa terganggu karena suara berisik seperti itu.


"Ck, ponsel siapa sih, kok suaranya kenceng banget?" gerutu Diandra, belum sadar bahwa suara itu berasal dari tasnya sendiri.


Diandra pun mencoba mendengarkan suara dering ponsel yang terdengar. Kening perempuan itu tampak berkerut mendengar suaranya seperti ada di dekatnya.


"Kok dari tas aku?" ujar Diandra sambil mulai melihat isi di dalam tas miliknya.


Diandra pun menemukan ponsel berwarna hitam dengan model yang mirip dengan miliknya, hanya saja ketika dilihat lebih dekat lagi, ternyata itu bukan miliknya. Telepon yang sejak tadi berdering kini bahkan sudah terputus lagi.


"Ponsel siapa ini?" tanya Diandra, menatap bingung ponsel yang ada di tangannya.


Matanya melebar saat dia bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Ini pasti ponselnya Gio. Dia salah ngambil karena buru-buru. Ck." Diandra berdecak kesal begitu mengingat semua itu.


Sedang memikirkan kekesalannya, kini ponsel di tangan Diandra berdering kembali.


"Gadis cengeng? Siapa dia?" ujar Diandra lagi, membaca id nama di layar ponselnya.


Diandra tampak ragu untuk mengangkat telepon itu, dia hanya melihat layar ponsel milik Gio yang terus menampilkan nama Gadis cengeng.


"Paling ini salah satu cewek koleksinya," tebak Diandra kembali menaruh ponsel milik Gio di atas meja.


Perempuan yang merupakan pemilik dari hotel itu, lebih memilih kemblai mengerjakan semua pekerjaanny, dia pun kembali tenggelam bersama berkas dan layar komputer di depannya, tanpa perduli pada ponsel milik Gio.


Waktu sudah menunjukan jam makan siang, saat Diandra baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia menyandarkan punggunya sambil meregangkan otot yang terasa kaku, karena terlalu lama duduk dan menunduk.


"Makan siang yuk," ajak Romi yang baru ke luar dari ruangannya.


"Di mana?" tanya Diandra, sambil menegakkan kembali tubuhnya.


"Di kantin aja lah, istriku udah ada di depan tuh," jawab Romi.


Dia memang sudah ada janji dengan istrinya untuk makan siang bersama.

__ADS_1


"Ah, enggak deh, makasih. Aku gak mau jadi nyamuknya kalian. Mending aku makan sendiri, dari pada liatin kalian berdua," tolak Diandra.


"Hahaha, siapa juga yang mau jadiin kamu nyamuk?" ujar Romi sambil tertawa lepas.


"Udah lah, mending sana kamu cepat ke luar, nanti istri kamu nunggu lama," ujar Diandra.


"Beneran nih, gak mau ikutan?" tanya Romi lagi.


"Iya, udah sana pergi." Diandra mengibaskan salah satu tangannya agar Romi segera pergi.


Beberapa saat berselang, kini Diandra juga tampak ke luar dari hotel. Dia memilih mencari tempat makan di luar, daripada di hotel miliknya sendiri.


Beberapa saat berjalan menyusuri pantai, tiba-tiba saja tubuhnya tertabrak seseorang yang sedang membawa barang belanjaan cukup banyak di tangannya.


"Akh, maaf-maaf!" ujar perempuan itu, sambil mengambil barang belanjaan yang terlepas dari tangannya.


Diandra ikut membantu, dia mengambilkan belanjaan milik perempuan itu


"Gak apa-apa. Kamu gak apa-apa?" tanya Diandra, sambil mengulurkan beberapa kantong plastik, pada perempuan di depannya.


"Aku gak apa-apa kok. Terima kasih ya," ujar perempuan itu.


"Iya, sama-sama." Diandra tersenyum tipis, lalu hendak beranjak untuk melanjutkan langkahnya.


"Ya, ada tang bisa aku bantu lagi?" tanya Diandra, kembali memusatkan perhatiannya pada perempuan muda di depannya.


"Aku baru datang lagi ke pantau ini. Aku tersesat, boleh antarkan aku ke hotel gak?" tanya perempuan muda itu.


"Tersesat?" tanya Diandra memastikan. Dia melihat penampilan perempuan di depannya dengan seksama.


Sepertinya dia bukan dari keluarga biasa. Pakaiannya saja semuanya hampir bermerek luar negeri, batin Diandra.


Perempuan itu pun langsung mengangguk. "Aku sama ibuku, tuh dia di sana."


Perempuan itu tampak menunjuk salah satu perempuan paruh baya dengan gaya yang lumayan menonjol.


Ya, bukan karena dandannan yang menor, atau baju tang berlebihan. Tampilan mereka berdua bagi orang awam mungkin terlihat biasa saja.


Namun, itu semua berbeda bagi Diandra yang cukup tau tentang barang-barang berharga selangit itu. Dia bisa memastikan kalau semua pakaian yang dipakai pasangan ibu dan anak itu, bukanlah pakaian biasa.


"Memangnya gak ada yang bisa dihubungi?" tanya Diandra. Dia cukup takut juga bila nanti terjadi salah paham.


"Ada kakak aku yang tinggal di sini. Tapi, sampe sekarang dia gak angkat telepon," jawab perempuan itu.

__ADS_1


Diandra mengangguk-angkuk kepalanya samar, mendengar penjelasan dari perempuan muda di depannya. Mereka pun akhirnya berjalan beriringan, menuju wanita paruh baya yang merupakan ibu perempuan tidak dikenal itu.


"Sini, biar aku bantu," ujar Diandra, sambil mengambil beberpa kantong plastik di tangan perempuan itu.


"Kalau boleh tau, memang hotel tempat kalian menginap itu apa?" tanya Diandra lagi.


"Eum, sebenarnya kita gak nginep di hotel. Aku sama Mama nginep di rumah kakakku. Tapi, kita tadi janjian di hotel."


"Gita, ini siapa?" Perkataan perempuan itu terpotong oleh pertanyaan dari wanita paruh baya itu.


"Ini, tadi aku gak sengaja nabrak, Mah. Oh iya, kita belum kenalan ya? Aku Gita, dan ini Mama aku," ujar Gita, memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya ke depan Diandra.


Diandra tersenyum dia menyambut uluran tangan Gita. "Aku Diandra, panggil saja aku Dian."


"Wah, cantik sekali namanya, sama seperti orangnya. Aku Hana, ibunya Gita," ujar Hana, memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih, Tante. Tante dan Gita juga cantik." Diandra mencium tangan Hana, dia kembali menegakkan tubuhnya dengan senyum tipis yang selalu terukir di bibirnya.


"Mah, Kak Dian, bisa nganterin kita ke hotel," ujar Gita.


"Ohya? Baguslah, kita udah capek nih terdampar di sini, aman uang cash kita juga usah habis lagi," keluh Hana.


Diandra tersenyum, mendengar keluhan dari wanita paruh baya di depannya.


"ini sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum aku antar ke hotel, sekalian istirahat dulu," ujar Diandra menawarkan.


Sebenarnya perutnya sudah meminta diisi sejak tadi, mengingat dia hanya minum oat meal siap saji untuk sarapan tadi pagi.


"Boleh deh. Kita juga udah lapar," jawab Gita langsung.


Diandra tersenyum, dia pun akhirnya mengajak Hana dan Gita ke tempat makan yang ada di dekat sana.


"Sini, Tante. Biar saya bantu," ujar Diandra sambil mengambil beberpa kantong plastik lagi dari tangan Hana.


"Wah, terima kasih, ya. Maaf, kita jadi ngerpotin kamu," ujar Hana, merasa tidak enak.


"Gak apa-apa, Tante. Saya senang kok bisa bantu, Tante dan Gita," jawab Diandra.


......................


Wah, gimana nih kalau sampe Hana dan Gita tau kalau Diandra adalah istrinya Gio? Komen๐Ÿ‘


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...

__ADS_1


__ADS_2