Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Tanggal merah 2


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


"Gio, kamu kan punya ibu, kakak dan adik perempuan, kenapa malah bertanya sama aku masalah ini, hah?"


Randi terdengar marah-marah di balik sambungan telepon. Dia benar-benar kesal pada bosnya itu kali ini. Bagaimana mungkin Gio menganggu tidur lelapnya, hanya karena ingin menanyakan masalah tanggal merah seorang perempuan.


Sedangkan dirinya sendiri tidak pernah mempunyai seorang pacar. Selama hidupnya hanya disibukkan oleh segala tingkah Gio.


"Mana aku berani bertanya masalah ini pada mereka, bukannya dapat jawaban yang ada malah habis aku diolok-olok sama mereka semua!" kesal Gio. Dia sudah bingung karena sudah beberapa hari ini Diandra tidak mau disentuh olehnya dengan alasan tanggal merah, padahal bila di lihat di kalender, itu bukanlah hari libur nasional.


"Kamu saja yang tanyakan pada mereka, kan kamu juga lagi ada di rumah," sambung Gio lagi.


"Kamu aja gak berani, apa lagi aku. Bisa-bisa aku jadi bahan interogasi keluarga kamu, kalau sampai bertanya tentang masalah perempuan," jawab Randi.


"Ck! Dasar asisten gak guna!" kesal Gio lalu memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


Gio kemudian mendaratkan bokongnya pada kursi kayu di balkon kamarnya. Angin malah yang berhembus dingin itu seakan tidak terasa oleh laki-laki yang sedang dilanda rasa bingung itu.


Sejak beberapa hari yang lalu, Diandra terus saja uring-uringan, perempuan itu sangat sensitif dan mudah marah, padahal tidak ada yang membuatnya marah sama sekali. Setiap kali dia bertanya pasti alasannya adalah tanggal merah.


Namun, saat Gio bertanya arti tanggal merah, Diandra akan kembali marah tanpa sebab. Itu semua membuatnya pusing tujuh keliling, sudah tidak bisa minta jatah, ditambah istrinya yang selalu marah-marah.


Seperti dua hari yang lalu, saat dirinya baru saja selesai mandi pagi, dirinya yang melihat Diandra masih berbaring di tempat tidur berniat untuk menjahilinya dengan mengibaskan rambutnya yang masih basah di depan wajah Diandra, hingga perikanan airnya jatuh membasahi wajah istrinya.


"Gio, apaan sih? Aku lagi malas bangun, jangan ganggu aku bisa gak sih?!" sungut Diandra dengan tatapan kesal.


Waktu itu Gio belum sadar kalau Diandra memang marah padanya, "Maaf," ujar Gio sambil masih tetap berdiri di samping istrinya.


"Kamu gak nyiapin baju aku, sayang?" tanya Gio lagi.


"Siapin aja sendiri, masa gitu aja gak bisa." Diandra menatap Gio tajam, matanya menyipit menahan kesal dan marah. Dia kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ah, mengingat itu, Gio jadi kesal sendiri. Sejak saat itu, Diandra terus saja marah-marah, sepertinya semua yang dia lakukan seakan salah dimata istrinya.


"Kamu ngapain di sini malam-malam begini?"

__ADS_1


Suara dari arah pintu, menyadarkan lamunan Gio, dia menoleh dan mendapati Diandra sedang berdiri di sana.


"A–aku hanya sedang mencari angin saja," jawab Gio sambil tersenyum, dia kemudian menghampiri istrinya.


"Kamu kenapa bangun, hem?" tanya Gio sambil merangkul bahu istrinya.


"Gak apa-apa," jawab Diandra sambil menggeleng pelan.


"Ya sudah, sebaiknya kita tidur lagi aja ya," ujar Gio dengan nada suara lembut.


Diandra mengangguk, lalu berbalik arah dan kembali masuk ke kamar. Sepasang suami istri itu lalu merebahkan dirinya kembali di atas ranjang.


Namun, baru satu jam berlaku, Diandra kembali membuka matanya dengan napas terengah dan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.


Gio yang masih memeluk tubuh istrinya ikut terbangun karena gerakan kasar istrinya. Dia bisa melihat wajah pucat Diandra.


"Ada apa, sayang?" tanya Gio sambil mengusap peluh yang menghiasi kening Diandra.


Diandra tidak menjawab, tatapannya pun terlihat kosong. Saat ini istrinya seakan tidak bisa mendengar suara Gio.


"Sayang? Hei, ada apa?" Gio mengelus pipi halus istrinya, wajahnya berubah panik.


"Ada apa, sayang?" Gio kembali bertanya.


"A–aku–" Diandra tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Gio tidak bertanya lagi, dia langsung menarik tubuh Diandra ke dalam pelukannya. Gio mengusap punggung istrinya berharap semua itu bisa sedikit menenangkan hati Diandra.


"Tenang, sayang. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Gio pelan.


Diandra tidak menjawab, dia hanya semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Gio, mencari ketenangan dari suaminya, sambil mencoba mengatur napasnya yang masih saja terasa sulit.


.


.


Diandra terdiam, saat ini dirinya sedang berada di Aviary milik Gio. Awalnya dia sengaja datang ke sini untuk menenagkan hatinya yang masih saja resah.

__ADS_1


Namun, ternyata indahnya kicau burung dan keindahan alam buatan itu tidak mampu menghilangkan semua keresahan di dalam hatinya. Mungkin semua itu karena saat ini dirinya sedang kedatangan tamu bulanan, hingga perasaannya terasa semakin sensitif.


Apalagi di awal, rasa sakit dan tidak nyaman benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Hingga sering kali Gio pun menjadi bahan pelampiasan kekesalannya.


Itu juga yang membuatnya seakan terus terintimidasi oleh mimpi semalam, dirinya bahkan tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan benar, hingga akhirnya memilih masuk ke Aviary.


Bayangan tentang mimpi semalam masih saja mengganggu pikirannya. Padahal sebenarnya tidak ada yang buruk dari mimpi itu, hanya saja mungkin Diandra belum siap jika harus dihadapkan dengan situasi seperti itu lagi.


Ya, Diandra bermimpi bertemu dengan Eric, dalam keadaan seperti biasa. Akan tetapi, mimpi itu diakhiri dengan kejadian saat hari pernikahannya, yang masih meninggalkan luka di hati Diandra.


Bila ada yang bertanya, apakah Diandra ingin bertemu dengan Eric, maka dengan tegas dia akan langsung menjawab tidak.


Bukan karena takut atau masih memiliki dendam. Jujur saja, di dalam hatinya Diandra tidak lagi memiliki semua itu untuk Eric, walau tidak dapat dia pungkiri rasa kecewa itu masih ada.


Mengingat bagaimana selama ini keluarganya memperlakukan Eric dengan begitu baik, bahkan Ayah dan Bundanya sudah menganggap Eric sebagai anaknya sendiri.


Namun, ternyata semua itu tidak bisa mengalahkan rasa benci di hati laki-laki itu, akibat kesalahpahaman yang terjadi antara ayah mereka.


"Heuh!" Diandra menghembuskan napas sambil beranjak berdiri, dari tempat duduknya.


Matanya mengedar melihat pemandangan di depannya, sesekali dia tampak mendongak melihat ke atas, di mana burung terlihat bertengger di dahan pohon.


Tak lama dia berdiam diri di sana hingga akhirnya melangkah pergi ke luar, saat dia tidak kunjung mendapatkan apa yang dia inginkan.


.


.


Gio masih duduk di ruang kerjanya, di depannya tampak layar laptop yang sedang memutarkan sebuah video yang baru saja dikirimkan oleh Randi.


Terlihat di sana adalah rekaman CCTV, dari club malam tempat kakak Mang Aan bekerja beberapa tahun yang lalu. Sepertinya anak buahnya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


Beberapa saat dia memutar video itu, ternyata Gio bisa melihat sesuatu yang mampu membuatnya melebarkan mata, dengan jantung yang berdegup begitu kencang.


"Diandra?" gumam Gio dengan suara tertahan.


Penasaran gak, penasaran gak? Penasaran dong😂

__ADS_1


....................


__ADS_2