Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.39 Mau Tapi Gengsi


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Pagi ini Diandra sudah berada di hotel. Entah kenapa, semenjak kejadian pagi kemarin dia menjadi enggan untuk menikmati matahari terbit di pantai lagi.


Rasanya terlalu malas untuk bertemu dengan laki-laki bernama Jonas itu, hingga Diandra hanya ingin menghindarinya.


Saking sibuknya berkutat dengan pekerjaan, Diandra sampai tidak sadar kalau sudah ada laki-laki yang sejak tadi memperhatikannya, dari lorong ruangannya.


Diandra menyandarkan punggungnya sambil sedikit mendongakkan kepala, saat merasakan sedikit kaku di daerah tengkuknya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh kantor hotel yang masih terlihat cukup sepi, hingga matanya bersitatap dengan mata laki-laki yang tengah berdiri di ujung ruangan.


Cukup lama mata keduanya bertaut, seakan mengukur kekuatan satu sama lain, hingga akhirnya Diandra menyerah dan memalingkan pandangannya terlebih dahulu.


“Hai, sayang ... aku bawain sarapan nih buat kamu,” ujar Gio, sambil berjalan santai menghampiri istrinya.


Gio menaruh kotak bekal di meja kerja sang istri, lalu dia duduk di kursi yang berada di depan Diandra dan mulai membuka kotak bekal yang dia bawa.


Harum nasi goreng hangat langsung tercium, menyentuh hidung Diandra, hingga dia tidak sanggup untuk mengacuhkan makanan tersebut.


Diandra menatap suaminya itu tajam, dia masih saja tidak suka dengan panggilan yang Gio ucapkan.


“Ups, maaf. Aku keceplosan,” ujar Gio, dengan senyum tak bersalahnya, saat melihat Diandra yang sudah hampir menyemburnya dengan kata-kata indahnya.


Perempuan itu hanya menghembuskan napas kesal, sambil kembali beralih pada pekerjaannya yang belum selesai.


“Bagaimana kalau kita sarapan bersama?” tanya Gio, sambil membuka kotak bekal miliknya.


Nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi di atasnya, cukup membuat perut Diandra yang memang belum terisi apa pun, menagih untuk diisi.


Namun, Diandra masih berpura-pura mengacuhkan Gio dan nasi gorengnya, dia terus saja fokus pada laptop dan berkas yang masih terlihat berserakan di atas meja.


“Baiklah kalau tidak mau, aku bawa ke hotelku saja, biar nanti aku berikan pada Randi.” Gio hendak menutup kembali kotak bekal itu.


“Jangan.” Diandra langsung mengambil kotak bekal di tangan Gio dan menaruhnya di depannya.


“Kalau sudah diberikan kepadaku, kenapa diambil lagi?” sambung Diandra lagi, dengan wajah kikuk.


Gio terkekeh, melihat istrinya yang terlihat mau tapi gengsi itu.


“Baiklah, kalau begitu kita sarapan bersama,” ujar Gio, sambil membereskan berkas milik Diandra yang berserakan di atas meja.


“Tidak! Aku tidak pernah bilang kalau kamu boleh makan di sini.” Dian menatap Gio tidak setuju.


Gio duduk di kursi dengan lemas, dia menatap wajah istrinya penuh dengan permohonan.


“Ayolah, sayang. Masa kamu tega, biarin aku makan sendiri?”


Diandra menatap wajah melas Gio cukup lama, hingga akhirnya dia menganggukkan kepala.


“Ya, sudah, kamu boleh makan di sini. Hanya kali ini,” ujar Diandra kemudian.

__ADS_1


Senyum di wajah Gio langsung terbit, begitu mendengar perkataan istrinya, yang bagaikan embun pagi untuknya.


Sangat jarang sekali, Diandra mau mengalah dan membuka hati untuknya. Ternyata, ide memasak untuk istrinya, cukup membuat perempuan itu sedikit tergerak hatinya.


“Mau coba punya aku?” tanya Gio, menyodorkan sendok berisi nasi goreng miliknya pada istrinya.


Diandra sedikit memundurkan wajahnya, dengan kening yang berkerut. Dia menatap tak suka pada suaminya.


“Iya, maaf. Padahal ini enak loh,” ujar Gio, sambil menarik kembali sendok di tangannya.


“Sama saja,” sanggah Diandra, sambil kembali memasukkan satu sendok nasi goreng miliknya ke dalam mulut.


“Mana bisa sama? Kata orang, kalau disuapi oleh orang lain pasti rasanya beda, apa lagi kalau disuapi sama orang tampan kaya aku,” ujar Gio penuh percaya diri.


“Ck, kepedean,” gumam Diandra pelan. Akan tetapi, masih bisa didengar oleh Gio.


“Kalau orang ganteng kayak aku gak pede, nanti gantengnya mubadzir,” sanggah Gio, sambil menyuapkan makanannya, dengan santai.


Diandra tidak lagi menjawab perkataan suaminya itu, dia memilih melanjutkan sarapannya, tanpa menghiraukan ocehan dari Gio.


“Selamat pagi!” ujar Romi, saat dia baru saja sampai di tempat Diandra.


Sepasang suami istri yangs ednqg menikmati sarapan bersama itu pun, terlihat mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu.


“Wah, sepertinya aku mengganggu kalian. Baiklah, kalau begitu aku langsung masuk saja,” sambung Romi lagi, hendak berbalik menuju ke ruangannya.


“Eh, Pak Romi, tidak mengganggu kok. Ini, kami juga sudah hampir selesai ... lagi pula dia juga harus segera kembali ke kantornya,” ujar Diandra, menahan langkah Romi.


“Tidak usah, aku mau langsung ke ruangan saja,” sanggah Romi, lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu kembali.


Diandra menatap kesal pintu itu dengan decakkan kecil lolos dari mulutnya. Usahanya untuk segera mengusir Gio secara halus, pupus sudah. Karena, Romi seakan tidak mengerti dengan kode darinya.


Gio tersenyum penuh kemenangan, dia meneguk air putih di dalam gelas yang sejak tadi berada di depan Diandra.


“Eh, itu kan gelas punyaku!” ujar Diandra, mengerutkan keningnya.


“Hehe, aku haus sekali. Tunggu sebentar, biar aku ambillah lagi untuk kamu,” ujar Gio, setelah meminum habis air di dalam gelas milik istrinya.


“Tidak usah, aku bisa mengambilnya sendiri. Sini!” ujar Diandra, sambil mengulurkan tangannya, meminta gelasnya kembali.


Namun, Gio langsung menjauhkan gelas di tangannya, hingga Diandra gagal mengambilnya.


“Tidak perlu, biar aku yang ambilkan,” ujar Gio, langsung berdiri dan pergi menuju ke luar.


“Ck.” Diandra memutar bola matanya, melihat sikap Gio yang selalu saja berbuat seenaknya.


Beberapa saat kemudian, Gio sudah berjalan ke luar dari kantor istrinya. Akan tetapi, langkahnya sedikit terusik saat mendengar berbagai perbincangan dari para pegawai hotel yang sedang membicarakan tantang istrinya.


“Lihatlah, dia baru saja keluar dari ruangan perempuan perusak rumah tangga itu. Sudah merayu laki-laki beristri seperti Pak Romi, sekarang dia sedang merayu pemilik hotel saingan kita.”


"Bukannya dia adalah pemilik perusahaan yang akan berinfestasi untuk pembangunan hotel di Bandung? Jangan-jangan semua itu karena Diandra sudah merayunya."

__ADS_1


"Iya juga, kenapa aku baru terpikirkan sekarang? Jangan-jangan, selama ini dia sudah sering melakukan hal pada para klien penting hotel. Ih, dasar menjijikan!"


“Iya. Aku saja sebagai perempuan malu, melihat perbuatannya. Dasar perempuan tidak tahu malu!"


“Pasti dia bertahan di posisinya, bukan karena kemampuannya. Tapi, semua itu karena dia menjalin hubungan dengan Pak Romi. Juga, para bos besar yang bekerja sama dengan hotel kita."


“Bukannya, memang sudah menjadi rahasia umum, kalau dia sering mendapat masalah karena merayu para tamu laki-laki yang datang ke hotel kita,”


“Benar juga, aku juga sempat mendengar berita itu. Ck, tidak disangka ternyata perempuan sepertinya hanya sok jual mahal di luar, padahal di dalamnya dia melakukan open BO."


Gio mengepalkan tangannya, mendengar percakapan dari para karyawan hotel yang sedang bersiap untuk bekerja.


Berani sekali mereka berbicara seperti itu pada istriku, akan aku buat mereka menyesal kali ini juga, gumam Gio di dalam hati, sambil bersiap untuk menghampiri para karyawan itu.


Namun, seseorang tiba-tiba mencekal tangannya dan menariknya ke dalam tangga darurat. Gio yang belum bisa menerima semua perbincangan para karyawan tadi, berusaha melepaskan tangannya. Akan tetapi, saat dia menatap lebih jelas lagi, dia hanya terdiam sambil berjalan mengikuti langkah seseorang di depannya.


“Ada apa? Kenapa kamu mencegahku memberikan pelajaran pada karyawan yang kurang ajar seperti mereka!” sentak Gio, begitu mereka sampai di dalam tangga darurat.


“Pelajaran apa? Bagaimana kamu akan melakukannya, hah? Dengan cara memberitahu hal yang sebenarnya, kalau Diandra adalah istrimu? Atau memberitahu kalau Diandra sebenarnya adalah pemilik hotel ini?!” sarkas Romi, mencegah niat Gio, sekaligus meredam emosi laki-laki itu.


Ya, itu adalah Romi. Dia yang hendak mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam mobil, tidak sengaja melihat Gio yang sedang mendengarkan pembicaraan para karyawan hotelnya.


“Aku tau kamu marah, mendengar istrimu dihina dan dianggap kotor, oleh orang-orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Aku pun sama denganmu, sudah sejak lama aku ingin memberi tahu mereka yang sebenarnya terjadi. Tapi, sebelum kamu bertindak setidaknya pikirkan dulu bagaimana reaksi Diandra nanti.” Cerocos Romi, mencoba menyadarkan pikiran Gio.


“Kamu sudah tau semua ini sejak lama? Tapi, kenapa belum juga berbuat sesuatu, hah? Apa kamu senang, melihat saudara kamu dihina orang seperti itu?” cecar Gio, masih dengan emosi yang memuncak.


Tangannya bahkan menunjukkan ke pintu keluar tangga darurat, dengan mata memerah penuh dengan sorot kemarahan.


“Justru karena aku memikirkan Diandra, makanya aku memilih untuk diam. Kamu pernah berpikir tidak, kenapa selama ini dia hanya diam? Diandra pasti mempunyai alasan yang kuat, di balik semua ini,” jelas Romi.


“Sudahlah, lebih baik kamu kembali ke hotel milikmu, anggap saja kejadian pagi ini tidak pernah kamu lihat dan dengar,” ujar Romi dengan ekspresi kesalnya.


“Bagaimana mungkin kamu bisa menyuruhku untuk melupakan semua ini, sedangkan mereka sudah dengan terang-terangan menghina istriku. Aku tidak menyangka kamu bisa berpikir seperti itu ... coba kamu pikirkan jika ini semua terjadi pada anak atau istri kamu, apa yang akan kamu lakukan, hah?” Gio berucap sarakas, merasa kesal dengan permintaan Romi.


“Aku berbicara begitu bukan tanpa sebab. Itu semua karena Diandra sendiri yang menginginkannya. Dia selalu menyuruhku menutup mata dan telinga, bila ada orang yang sedang berbicara tentang dirinya,” jawab Romi, menatap mata penuh amarah Gio.


“Kamu tau sendiri bagaimana istrimu itu kan, Gio. Menurutmu, apa dia akan senang jika kita mengungkapkan sesuatu yang selama ini dia sembunyikan dari orang banyak? Aku yakin dia pasti akan marah besar, bila sampai semua itu terjadi,” sambung Romi lagi.


Gio terdiam mendengarkan semua perkataan Romi, merenungkan semua yang terjadi selama dia berada di samping istrinya itu, juga mempertimbangkan dampaknya, bila sampai dia mencoba mengungkap salah satu rahasia milik Diandra.


“Aakh, sialan! Brengsek!” geram Gio, mencoba melepaskan emosi yang ada di dalam dirinya dengan meninju dinding di tempat itu.


“Kenapa dia bisa bertahan di dalam segala caci maki orang-orang di sekitarnya? Kenapa dia begitu keras kepala, Rom? Aku bahkan tidak tahan, hanya dengan mendengar selentingan kecil saja ... lalu, bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini?” gumam lirih Gio.


Dia mengacak rambutnya kasar, merasa frustrasi dengan semua maslah yang sedang dihadapi oleh istrinya itu.


Belum selesai masalah restoran yang mengalami kebakaran, kini muncul lagi berita yang menyakiti telinga dan hatinya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung

__ADS_1


...


__ADS_2