Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Surat


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Diandra menaruh surat dari Rani di laci nakasnya, saat suara ponsel menyita perhatiannya.


"Oh iya, kenapa tidak menelepon atau mengirim pesan saja? Kenapa malah mengirim surat begini? Kayak jaman dulu aja," gumam Diandra sambil menutup kembali laci nakas itu.


Diandra lalu mengambil ponselnya yang terus bersuara. Di layar terlihat nama Romi terus terlihat.


"Iya, Romi, gak sabaran banget sih," gerutu Diandra begitu menempelkan ponsel di telinganya.


"Kamu ke mana aja sih, Dian. Lama banget angkat teleponnya," kesal Romi terdengar di ujung telepon.


"Iya maaf, tadi ponselku tertinggal di kamar. Ada apa sih?" tanya Diandra.


"Gak ada apa-apa. Ayo kita mulai rapatnya," jawab Romi.


"Oh, kirain ada apa. Oke, kita lanjut lewat zoom aja." Diandra langsung menutup teleponnya setelah mendapatkan jawaban asistennya.


Untuk beberapa saat Diandra sibuk dengan pekerjaannya, sambil terus melakukan rapat dengan Romi di laptopnya. Dia bahkan tidak langsung beranjak, saat panggilan zoom mereka sudah berakhir.


Diandra masih harus mengurus beberapa berkas yang baru saja dikirimkan oleh Romi padanya.


Waktu berlalu begitu cepat untuk seseorang yang sibuk, itu juga yang dirasakan oleh Diandra. Perempuan itu bahkan tidak sadar kalau sebentar lagi sudah waktunya makan siang.


Hingga suara dering ponsel menyadarkan Diandra dari kesibukannya. Dia kembali melihat layar benda pipih itu. Ternyata nama sang suami yang tertera di sana.


"Ya," sapa Diandra sambil menempelkan ponselnya.


"Sayang, sepertinya aku tidak bisa pulang untuk makan siang bersama. Ada beberapa urusan yang masih harus aku urus di sini. Kami gak apa-apa kan makan sendiri?" ujar Gio, dari seberang sana.


Diandra melihat jam yang tergantung di salah satu sisi dinding kamarnya. Ternyata waktu sudah pukul sebelas siang. Pantas saja Gio memberi kabar.


"Iya, tidak apa-apa. Kamu selesaikan saja pekerjaan di sana," jawab Diandra.


Dia menutup laptop di depannya lalu beranjak berdiri, meregangkan sedikit ototnya yang terasa kaku, karena terlalu lama duduk, lalu berjalan menuju ke balkon.


"Hem, baiklah. Kamu sedang apa sekarang, sayang?" tanya Gio.


"Aku baru saja selesai mengerjakan pekerjaan yang dikirimkan Romi."


"Jangan terlalu lelah, ingat kamu gak boleh telat makan siang."

__ADS_1


"Iya, aku tau. Kamu juga jangan sampai telat makan siang. Ohya, kirimkan foto saat kamu makan siang, aku mau tau," ujar Diandra.


"Untuk apa?" Gio mengertukan keningnya di seberang sana.


"Gak ada, hanya mau lihat aja," jawab Diandra.


"Heem, baiklah. Nanti aku akan mengirimkan foto saat aku makan siang."


Diandra tersenyum mendengar jawaban dari Gio. Entah kenapa dia merasa ingin tahu tentang suaminya, saat laki-laki itu sedang berada jauh darinya.


Bahkan kemarin malam dia sama sekali tidak bisa tidur dengan nyaman, ketika Gio tidak berada di sisinya.


Apakah dirinya sedang jatuh cinta? Atau memang hanya karena terbiasa?


Akh, sepertinya itu masih menjadi pertanyaan yang belum bisa dijawab oleh Diandra.


Terlalu rumit memang jika berbicara tentang lima huruf yang selalu memiliki arti yang berbeda dari setiap orang. Ada yang menyukainya, memujanya, bahkan rela menjadi budak dari satu kata itu.


Namun, tidak jarang ada yang membencinya, dan bermusuhan dengan kata cinta. Seperti dirinya yang sebelumnya. Atau bahkan trauma.


Ya, lima huruf yang tergabung menjadi satu kata dengan berbagai makna, memang penuh dengan misteri. Kita tidak pernah tahu kapan cinta akan datang menyapa hati, dan kapan cinta itu akan pergi.


Kita pun tidak pernah tahu bagaiman caranya dia bisa masuk ke dalam hati, dan seperti apa dia akan pergi. Apakah akan membawa bahagia hingga menciptakan suatu surga, atau hanya meninggalkan luka yang akan membekas di relung jiwa.


.


.


...Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai ada yang tahu kalau kita masih berhubungan. Untuk sementara, kita berhubungan melalui surat yang kan dibawa oleh Bi Minah sebagai perantara....


Diandra terdiam dengan hembusan napas berat yang terdengar terus berulang. Secarik kertas di tangannya pun dia genggam erat hingga terlihat kusut di beberapa bagian.


Jadi sekarang kita sedang diawasi oleh seseorang? batin Diandra.


Tapi, siapa? Darimana dia tahu kalau aku dan Rani ada di kampung ini?


Diandra berpikir keras, mencari benang merah yang akan menyambungkan semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Disaat dia dan adik kembarnya akan bersama kembali.


"Kenapa mereka bisa sampai tahu, disaat yang seperti ini?" gumam Diandra.


"Atau memang selama ini mereka sudah mengawasi. Tapi, baru sekarang bertindak karena kemunculanku?" tebak Diandra.


Kerutan di kening Diandra tampak semakin dalam, menandakan kalau dirinya sedang berpikir keras. Kakinya pun terus melangkah ke sana ke mari, seakan tidak bisa duduk diam.

__ADS_1


Beberapa saat berpikir, dia kemudian mendapatkan sebuah ide di kepala yang lumayan pintar itu.


"Aku harus mendengar semua ceritanya lebih dulu, baru aku bisa menyimpulkan siapa yang ada di balik semua ini," gumam Diandra.


Dia kemudian ke luar dari dalam kamar, lalu berjalan menuruni tangga, mencari keberadaan Bi Minah.


Ternyata wanita itu sedang berada di belakang vila, sepertinya sedang beristirahat dari pekerjaannya.


"Bi, tolong buatan aku jus jeruk, sama sekalian beresin kamar ya, sepertinya aku melihat ada kecoa di sana," ujar Diandra.


"Baik, Neng," jawab Bi Minah langsung.


"Aku tunggu di kamar ya, Bi. Jangan lama-lama," peringat Diandra.


"Baik, Neng," jawab Bi Minah lagi.


Diandra langsung kembali ke kamarnya, meninggalkan Bi Minah yang langsung beranjak ke dapur, untuk membuat apa yang diminta oleh istri majikannya.


Diandra sedang duduk di sofa, saat ketukkan di pintu kamar terdengar. "Neng, Bibi bawakan pesanan, Neng."


"Masuk aja, Bi. Pintunya gak dikunci," jawab Diandra.


Bi minah pun masuk dengan segelas jus jeruk dan beberapa peralatan membersihkan kamar.


"Duduk, Bi," ujar Diandra, saat Bi Minah menaruh gelas jus di depannya.


"Saya, Neng? Tapi, kecoanya?" Bi Minah tampak ragu.


"Gak apa-apa, itu cuman kecoa," jawab Diandra santai.


Ya, sebenarnya memang tidak ada kecoa di dalam kamar. Dia hanya menggunakan itu sebagai alasan agar bisa berbicara dengan Bi Minah berdua saja.


Surat dari Rani masih saja terasa ambigu untuknya, dia sama sekali belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini padanya dan saudara kembarnya.


Siapa mereka yang kata Rani sangat berbahaya, dan siapa juga orang yang ingin diselamatkan oleh Rani?


Semua itu membuat kepala Diandra hampir pecah, karena terlalu memikirkannya. Makanya saat ini dia bertekad untuk menerima penjelasan dari Bi Minah.


Tidak apa Rani tidak memberitahunya, dia masih memiliki banyak cara untuk mengoreknya sendiri, salah satunya dari wanita paruh baya yang kini sedang duduk di depannya.


Kira-kira Bi Minah mau menceritakan kisah Rani gak ya?🤔 Yuk komen biar aku makin semangat nulisnya😂


.....................

__ADS_1


__ADS_2