
...Happy Reading...
......................
Gio merebahkan Diandra di ranjang kembali, setelah beberapa saat yang lalu, istrinya itu berhasil muntah-muntah, karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa pening di kepalanya.
"Kamu istirahat dulu aja di sini. Mamah dan Gita biar aku yang temani," ujar Gio, sambil membenarkan selimut untuk istrinya.
"Tapi–" Diandra hendak membantah, walaupun tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya.
"Sudah, jangan membantah lagi. Mamah dan Gita, juga mengerti kalau sekarang ini kamu memang sedang sakit," ujar Gio, memotong perkataan Diandra.
Diandra hendak membuka mulutnya lagi, untuk membantah perkataan suaminya. Akan tetapi, dengan gerakan cepat Gio malah memberikan kecupan di bibir istrinya.
Diandra melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang Gio lakukan padanya. Tubuhnya terasa kaku saat menerima rasa asing yang tercipta dari ciuman itu.
Gio tersenyum tipis begitu melihat wajah terkejut istrinya, dia akhirnya melepaskan bibir Diandra dengan wajah puasnya.
"Kalau kamu berani membantah, aku akan lakukan itu lagi sama kamu," ujar Gio, sambil membelai pipi Diandra yang masih terasa hangat, lalu berbalik dan pergi ke luar dari kamar.
Diandra mengedipkan matanya perlahan, mencoba mengembalikan kesadarannya yang terasa terenggut secara tiba-tiba, oleh perbuatan usil suaminya.
Perlahan tangannya terulur, menyentuh bibir yang terasa sedikit berbeda. Entah mengapa dirinya bahkan masih bis amerasakan harum aroma mulut suaminya dan kecupan hangat itu.
"Apa itu tadi? Dia ... kenapa dia berani merebut ciuman pertamaku?" gumam Diandra, begitu setengah kesadaranya sudah terkumpul.
Matanya menatap pintu kamar yang sudah tertutup, Diandra menatap kesal saat mengingat wajah puas suaminya sebelum meninggalkannya.
"Iih, dasar laki-laki mesum!" geram Diandra mengusap bibirnya yang terasa berbeda.
Lelah dengan kekesalannya pada Gio, Diandra kini tampak terdiam, dia mengingat kembali perbincangannya dengan Hana, beberapa saat yang lalu.
Flash back.
Diandra menatap ragu wajah Hana dan Gita, jantungnya terus berdebar dengan ritme yang tidak bisa dia kendalikan.
Berbeda dengan para perempuan di luar sana, yang akan menemui orang tua keluarga laki-laki sebelum menikah. Diandra malah harus menghadapi mereka setelah resmi menjadi istri dari Gio.
Perasaan takut bercampur rasa bersalah, membuat Diandra bukan malu untuk menatap wajah dua perempuan di depannya.
__ADS_1
"Dian, Mamah sudah mendengar semuanya dari Gio, bahkan kemarin kita berdua sudah menemui kedua orang tua kamu. Jadi, sekarang Mamah minta, kamu jujur pada kami," ujar Hana, memulai pembicaraannya.
Diandra menatap wajah mertuanya dia kemudian mengangguk setuju, walaupun di dalam hatinya masih terasa ragu.
Sebelum memulai pertanyaannya, Hana lebih dulu menyenggol lengan Gita, dia memberikan kode agar anak bungsunya itu juga pergi dari ruangan itu.
Gita awalnya tidak setuju, dia ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan Diandra kepada ibunya. Akan tetapi, Hana terus mendesaknya untuk ke luar.
"Aku numpang ke toilet, boleh?" tanya Gita, mencari alasan, untuk mencari kakaknya yang tadi masuk ke dalam.
"Oh iya boleh, masuk saja nanti jalan lurus, toiletnya ada di sebelah kanan," ujar Diandra menunjukan arah jalan menuju kamar mandi.
"Ah iya, terima kasih." Gita langsung beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan pergi lebih masuk lebih dalam lagi, ke rumah kakak iparnya itu.
Setelah melihat Gita sudah benar-benar pergi dari sana, Hana kembali mengalihkan perhatiannya pada Diandra.
"Diandra, Mama tau kalau status hubungan kamu dan Gio, belum bisa kamu terima seutuhnya. Mama juga tau, kalau hati kamu bahkan belum terbuka untuk menerima kehadiran anak Mama," ujar Hana, menatap wajah Diandra dengan senyum tipis di bibirnya.
Namun, di balik senyuman itu, Diandra bisa melihat jelas sendu yang terpancar dari mata wanita di hadapannya.
Diandra menundukkan kepalanya dengan pundak yang ikut terjatuh, tidak sanggup melihat kesedihan di wajah orang tua dari suaminya.
"Maaf," lirih Diandra.
"Tidak ada yang harus dimaafkan, Dian. Mama, juga gak bisa melarang pilihan yang sudah ditentukan oleh Gio. Mama hanya berharap perlahan kamu bisa membuka hati untuk Gio, dan kalian berdua bisa bahagia bersama," ujar Hana, menatap penuh harapan pada Diandra.
Diandra menatap bingung wajah Hana, dia benar-benar tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk wanita paruh baya di depannya.
Hatinya masih bimbang, di dalam sana masih ada simpul yang belum bisa terurai, menjadikannya beban yang tidak bisa dihindari oleh Diandra.
Hana tersenyum, menatap wajah menantunya yang terlihat begitu rapuh juga bimbang.
"Gak apa-apa, gak usah dipaksakan. Selama Gio masih bisa bertahan, Mamah juga akan terus mendukung hubungan kalian. Mama percaya, jika Gio saja bia keluar dari belenggu masa lalunya yang sangat menyakitkan, maka kamu juga pasti bisa melakukannya."
Hana berusaha mengerti dan mendukung semua keputusan yang dilakukan oleh Gio dan Diandra saat ini, walaupun mungkin dia juga kana merasa sakit bila melihat anak laki-lakinya, harus terus mengalah demi orang baru seperti Diandra.
Namun, di dalam hati Hana juga yakin kalau Gio bisa menarik Diandra dari kenangan menyakitkan di masa lalu, dan membawa menantunya itu menuju masa depan.
Flash back off.
__ADS_1
"Mama dan Gita pulang dulu, ya. Kamu jaga Diandra baik-baik," ujar Hana sebelum masuk ke dalam mobil.
Gio yang mengikuti ibu dan adiknya mengangguk mematuhi petuah dari Hana.
"Tanpa, Mamah, minta aku pasti menjaga Diandra dengan baik," jawab Gio.
Hana dan Gita tersenyum melihat ketulusan dari ucapan Gio. Gita yang sudah menerima penjelasan dari Gio, membuat dia juga bisa mengerti dengan masalah kakaknya saat ini.
"Mamah sama Gita, jaga diri baik-baik, kalau sempat nanti aku pulang ke rumah," ujar Gio.
"Heem, jangan pikirkan kami, anak buah kamu menjaga kami dengan sangat baik," ujar Hana.
Gio pun mengangguk kembali, dia kemudian membuka pintu mobil untuk Hana.
Beberapa saat kemudian, Gio tersenyum dengan pandangan tertuju pada, mobil yang ditumpangi adik dan ibunya semakin menjauh.
Setelah itu Gio kembali masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju ke kamar, untuk melihat istrinya.
Sampai di sana Gio melihat Diandra yang sudah kembali terlelap, dia tersenyum lalu berjalan menghampiri istrinya.
Namun, baru beberapa langkah berjalan ponsel di sakunya terdengar berdering, membuat Gio menghentikan langkahnya.
Dia melihat nama sang asisten di layar, membuat Gio mencebik kasar, walaupun akhirnya dia berbalik ke luar untuk menerima telepon itu.
"Ya, ada apa, Ran?" tanya Gio, sambil menempelkan ponselnya di telinga.
"Ada seseorang yang mau bertemu dengan kamu, Gio," jawab Randi dari seberang sana.
"Bilang saja kalau aku sedang tidak mau diganggu, apa susahnya sih?" Gio sedikit kesal dengan asistennya.
"Bukannya kamu sudah terbiasa melakukan ini kalau aku gak ada di kantor?" sambung Gio lagi.
"Iya aku juga tau kalau itu. Tapi, kalau ini tamu yang sangat penting dan tidak bisa dibantah, sepertinya dia sudah tahu siapa kamu, makanya sekarang mau bertemu," jelas Randi.
Gio mengerutkan keningnya. "Memang siapa dia?"
"Orang berkuasa yang melindungi Jonas," jawab Randi lugas, hingga tanpa sadar Gio langsung melebarkan matanya sendiri.
......................
__ADS_1
Lah, yang dicari nongol sendiri, gimana nih Gio, mau menemuinya atau enggak ya?
Jangan lupa like dan komen🙏🥰