
...Happy Reading...
...................
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Randi, begitu mendapatkan posisi Gio saat ini.
Diandra tampak mendengarkan percakapan Randi dan salah satu sana buahnya melalui telepon, yang menggunakan pengeras suara.
"Kamu belum sampai ke lokasi, Pak."
"Kalian lanjutkan dan cari di mana Gio berada, aku berangkat sekarang," jawab Randi sambil beranjak.
"Aku ikut!" Diandra langsung berdiri mengikuti langkah asisten suaminya itu.
"Gak bisa! Kamu tunggu di sini," tolak Randi langsung.
"Aku harus ikut!" Keras kepala Diandra mulai kambuh.
"Mau apa?" tantang Randi dengan raut wajah kesal.
"Pokoknya aku harus ikut!" ujar Diandra tidak perduli reaksi Randi. Yang dia tahu saat ini adalah memastikan kalau suaminya dalam keadaan baik-baik saja.
Untuk beberapa detik Randi hanya terdiam dengan tangan mengepal kuat, berusaha meredam emosi yang bergejolak di dalam dada.
"Terserah!" ujar Randi sambil berbalik dan berjalan lebih dulu.
Diandra langsung tersenyum lalu berjalan cepat, mengimbangi langkah Randi yang tampak teruru-buru.
Dia tidak perduli, walau dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang akan dia hadapi setelah ini.
Yang pasti, dia tahu kalau saat ini sedang terjadi sesuatu pada suaminya, dan itu pasti tidak baik-baik saja. Mengingat, selama ini dia belum pernah melihat raut wajah serius cenderung kalut yang ditampilkan Randi.
Namun, semua itu tidak akan membuatnya takut untuk terus melangkah dan membantu suaminya. Gio sudah terlalu banyak berkorban untuknya, dan kali ini biarkan dia membantu suaminya walau mungkin hanya sedikit.
Keduanya langsung masuk, dengan Randi yang menyetir. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak ada pengawal yang mengikuti, mereka hanya pergi berdua, mengingat di vila hanya tertinggal dua orang penjaga gerbang.
.
.
Sementara itu, Gio tampak masuk ke dalam salah satu hotel kecil di pinggir kota, dia sudah bersiap dengan gaya yang selalu sempurna. Berjalan menyusuri lorong hotel itu dengan pengawalan ketat dari beberapa orang laki-laki di belakangnya.
__ADS_1
Bayangannya kembali pada percakapannya bersama Renggo tadi malam.
...***...
"Ke mana kamu bawa Ana? tanya Gio langsung begitu dia bisa menerobos kantor Renggo.
Jangan bayangkan kalau kantor Renggo, berupa sebuah bangunan bagus yang tertata rapi, selayaknya kantor pada umumnya.
Sama sekali bukan. Kantor itu berupa rumah sederhana yang memiliki dua lantai, bangunanya sudah cukup tua, dengan cat yang memudar di beberapa bagian.
Namun, saat masuk semakin ke dalam, tampak tumpukan botol minuman dengan orag-orang yang sedang berpesta. Para laki-laki yang merupakan anak buah Renggo itu, tampak menggendeng perempuan cantik dengan pakaian terbuka.
Bau alkohol san asap rokok pun semakin pekat terasa menyengat indra penciuman. Ya, malam ini Gio mengetahui kalau Renggo mengadakan pesta, entah untuk apa.
Gio berdiri di depan para laki-laki yang sudah kehilangan setengah kesadarannya. Tatapan tajam degan bentuk tubuh tegap sempurna, tentu saja menarik perhatian para wanita malam yang ada di sana.
Renggo yang tengah diapit oleh dua orang perempuan itu kini menggeram marah, merasa terganggu dengan kedatangan keponakannya itu. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya dengan berpegang pada salah satu wanita di sisinya.
"Lihatlah, keponakanku tersayang datang untuk bergabung dalam pesta kita!" Bukannya menjawab pertanyaan Gio, Renggo malah menyambutnya.
Perkataan itu langsung dijawab oleh tawa dan tepuk tangan para laki-laki yang merupakan anak buah Renggo.
"Ck!" Gio berdecak malas, berbeda dengan dirinya yang dulu, kini dia sama sekali tidak suka semua ini.
"Ayo, duduk di sini. Kita berpesta malam ini! Bukannya kamu suka semua ini? Wanita dan alkohol?" Renggo melambaikan tanganya pada Gio.
"Ah iya, aku lupa sesuatu yang paling kamu sukai!" racaunya lagi.
"Ambilkan barang spesial kita!" perintahnya pada salah satu anak buahnya.
"Siap, Bos!" ujar laki-laki dengan tato bunga mawar hitam di tangannya. Dia langsung beranjak lalu kembali dengan beberapa benda yang sangat Gio tahu apa.
Ya, itu adalah bubuk her*in dan sa*bu, lengkap dengan alat untuk memakainya. Semua itu begitu familiar untuk Gio, walau sudah lama dia tidak lagi menggunakan barang-barang haram itu.
"Aku ke mari bukan untuk mengikuti pestamu. Aku hanya ingin mengetahui kamu bawa ke mana Ana?" Gio langsung menolak dengan tegas.
"Tidak usah malu, kemarilah ... kita nikmati malam ini bersama-sama. Baru nanti aku beritahu di mana wanita itu." Gio mendesah, sepertinya Renggo sudah terlalu banyak minum, sampai perkataannya kadang melantur.
Gio berjalan santai menuju kursi lalu duduk di salah satu kursi di dekat Renggo. Renggo tersenyum melihat Gio yang sepertinya mulai tertarik dengan tawarannya.
Gio perlahan mengambil alat untuk mengaplikasikan salah satu obat terlarang itu, dengan gerakan santai dia meraciknya dengan takaran yang masih bisa dia ingat.
__ADS_1
Namun, beberap saat kemudian Renggo dibuat melotot saat sabu yang siap untuk digunakan Gio hancurkan dengan satu kali hentak, hingga semuanya tumpah dengan wadah yang juga pecah.
"Dasar sialan!" sentak Rengho, menatap nyalang wajah datar Gio.
"Aku bisa menghancurkan yang lainnya, jika kamu tidak memberitahuku di mana Ana!" ancam Gio dengan nada menekan. Sebelah ujung bibirnya tampak sedikit tertarik ke atas, menampilkan senyum smirk yang cukup tajam.
"Beraninya kamu melakukan ini padaku!" geram Renggo, membalas tatapan tajam Gio.
"Cepat katakan atau aku bisa saja membocorkan semua ini pada polisi," ancam Gio lagi.
Walah Renggo tampak merah padam. Mungkin menahan amarahnya, karena Gio yang telah menghancurkan pestanya. Akan tetapi, sedetik kemudian dia tersenyum.
Uh, Gio tahu kalau pamannya itu kini sedang terpengaruh oleh llkohol yang dia minum. Bahkan dia bisa melihat kalau di sana sudah tidak ada orang yang masih benar-benar sadar dalam kewarasan seorang manusia.
"Mana aku tau! Dia itu hanya wanita pembawa sial! Untuk apa aku mengurusnya lagi, hah?" jawab Renggo diiringi kekehan ringan.
Gio mengepalkan tangannya, menahan amarah, melihat Renggo yang malah mengejeknya. Walau begitu dia harus tetap bersaar, demi mendapatkan informasi dari laki-laki yang merupakan adik dari ibunya itu.
"Kamu tau ... gara-gara dia kabur, aku harus mengembalikan uang yang sudah aku dapatkan? Aku sangat tidak suka–" Renggo menjeda perkataannya.
"Aku tidak suka harus kehilangan uang yang sudah ada di tanganku, hahaha!" sambung Renggo lagi.
"Jadi kamu memberikan Ana pada Zack dan Cleo?" tebak Gio dengan tatapan tajamnya.
"Kamu yang sudah menculik Ana dan memberikannya kembali pada Zack dan Cleo?!" ulang Gio saat dirinya hanya mendapatkan tawa dari Renggo.
"Untuk apa aku harus cape-cape menculik perempuan sial itu? Melelahkan saja!" dengus Renggo.
"Jadi kamu apakan Ana, brengsek?" kesal Gio.
"Kamu tau?" Renggo semakin memajukan tubuhnya.
"Aku hanya tinggal memberitahu lokasinya, dan dengan senang hati mereka akan mengembalikan uangku, saat wanita itu sudah berada ditanganya lagi, hahaha!" Renggo tertawa puas.
Gio menggeram marah, dia langsung bangkit sambil menyambar bubuk he*oin yang belum sempat dia hancurkan, lalu membawanya ke luar dari ruangan yang sangat terasa pengap itu.
"Hei, kembalikan barangku! Itu adalah hadiah karena informasi yang aku berikan!" teriak Renggo, yang sama sekali tidak didengar oleh Gio.
Laki-laki itu terus melangkah ke luar, dengan perasaan yang campur aduk. Dia bahkan tidak mengira kalau waktu berjalan begitu cepat, hingga kini sudah dini hari.
...***...
__ADS_1
Mau apa ya Gio di hotel?🤔
Ohya, untuk pembaca Alvin, maaf ya belakangan ini aku agak sibuk, jadi belum sempat up. Sedangkan Diandra sedang dalam program kejar jumlah kata, jadi aku harus mencapai jumlah kata yang sudah ditentukan dalam bulan ini. Terpaksa aku kesampingkan dulu Alvin. Tapi kalau aku ada waktu luang, pasti aku up kok. Terima kasih ya untuk pengertiannya🙏🥺