
...Happy Reading...
......................
Senja hari ini terasa sangat indah, dengan matahari yang memancarkan sinar indah berwarna jingga kemerahan, menggantung di atas laut, bersiap untuk menenggelamkan diri di ufuk Barat.
Awan hitam pun tampak sedikit menghalangi cahaya matahar. Akan tetapi, itu malah membuat senja hari ini terlihat begitu berbeda.
Gio dan Diandra duduk berdua, di salah satu tempat duduk taman. Diandra tampak sangat menikmati pemandangan di sore hari ini.
Gio pun dengan setia menemani istrinya keras kepalanya itu. Walaupun dirinya khawatir, mengingat angin laut sedang kencang saat ini.
"Kamu senang, sayang?" tanya Gio.
Sejak tadi dia memperhatikan wajah Diandra yang terlihat selalu menampilkan senyum. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, saat melihat istrinya seperti ini.
Diandra mengangguk, tanpa mau mengalihkan pandangannya dari lautan luas di depannya.
"Aku kira kamu hanya menyukai matahari terbit. Ternyata kamu juga suka matahari terbenam?" tanya Gio.
Gio ingat, saat awal dia menikah dengan Diandra, istrinya itu mengghilang dari kamar karena ingin menikmatinya matahari terbit.
"Heem, aku suka matahari terbenam. Hanya saja, sangat sulit untuk menikmatinya seperti ini," jawab Diandra.
"Kenapa gak meluangkan waktu saja?"
"Aku tidak suka meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, kecuali memang keadaanku sedang tidak baik."
Gio mengagguk, dia tersenyum sambil ikut melihat lautan luas di depanny.
Tidak banyak pengunjung yang datang, untuk menikmati keindahan senja sore itu. Membuat Gio dan Diandra cukup nyaman berada di sana.
"Dian," panggil Gio lagi, setelah beberapa saat, keduanya hanya berdiam diri, menikmati keindahan lukisan alami.
Kini matahari terlihat mulai tenggelam, hingga bias cahaya jingga di atas lautan semakin terlihat indah.
Diandra menoleh sekilas pada Gio, lalu kembali menatap lurus ke depan. "Hem."
"Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Gio, dengan anda ragu.
Diandra mengernyit, mendengar pertanyaan Gio yang terasa asing di telinganya. "Untuk apa?"
Diandra berkata dengan nada yang sedikit sarkas. Dia kesal pada Gio, yang terlihat seperti sedang meminta imbalan dari semua yang sudah laki-laki itu lakukan untuknya.
"Kalau kamu meminta imbalan untuk semua yang telah kamu lakukan, lebih baik jangan pernah lakukan," sambung Diandra lagi.
Gio tersenyum tipis, di dalam hatinya tidak ada sama sekali niatan untuk meminta imbalan. Walaupun dirinya bukan laki-laki yang baik seperti yang lainya. Akan tetapi, dirinya bukanlah orang yang bermuka dua.
__ADS_1
"Bukan," ujar Gio, sambil menggelengkan kepalanya samar.
Kerutan di kening Diandra semakin dalam, dia pun menatap Gio dengan penuh tanda tanya. "Lalu?"
Gio beralih duduk miring menghadap Diandra, dia memegang kedua pundak istrinya itu lalu membanya untuk berhadapan dengannya.
Perlahan Gio meraih tangan Diandra, dia menggenggamnya dengan lembut dan hangat.
"Aku hanya meminta kepadamu, untuk memberikan kesempatan padaku."
Kini mata keduanya tampak tertaut dalam, seakan sedang mengungkapkan apa yang tersembunyi di dalam hati.
"Kesempatan?"
Gio mengangguk. "Iya. Aku ingin, kamu mau memberikanku kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupan kamu, sayang."
Pandangan mata Diandra tampak goyah saat mendengar permintaan Gio. Ada alarm di dalam dirinya yang seakan berbunyi dan memperingatkannya.
Gio mengeratkan genggaman tangannya, walaupun dia masih menahan agar Diandra masih tetap merasa nyaman.
"Hanya masuk ke dalam kehidupan kamu. Tidak apa kalau kamu tidak bisa menerima kau sebagai seorang suami. Tapi, setidaknya, terima aku sebagai seorang teman." Gio menatap Diandra penuh harap.
Diandra tampak sedikit menundukkan pandangannya. Hatinya masih merasa bimbang bahkan untuk menerima seseorang yang baru, walau hanya sebagai seorang teman.
Pengalaman masa lalu yang juga berkaitan dengan temannya, membuat Diandra merasa tidak bisa langsung menerima hubungan baru begitu saja.
"A–aku tidak tau. Tapi, ini terasa sulit." Diandra berkata lirih.
Entah kemana keberaniannya selama ini, semuanya seakan hilang saat matanya bertaut dengan Gio.
Gio kembali tersenyum. "Cukup perlakukan aku sebagai teman. Bagaimana?"
Diandra terdiam, dia merasa kalau permintaan Gio, sebenarnya permintaan yang mudah di terima oleh banyak orang di luar sana.
Mungkin tidak buruk, kalau aku menerima permintaannya. Daripada hidup terus seperti ini, batin Diandra.
Beberapa saat kemudian perempuan itu pun akhirnya mengangguk pelan, hingga menampilkan senyum lebar di wajah Gio.
Gio bisa melihat dengan jelas keraguan yang ada di dalam mata Diandra, dia memahami semua itu, walaupun ada sedikit rasa sakit di dalam hatinya.
Namun, sebisa mungkin dia tutupi dengan raut wajah bahagia. Ya, dia hanya merasa miris pada dirinya sendiri, mengingat sebenarnya statusnya saat ini adalah seorang suami.
Namun, keadaan membuat dirinya seakan masih bujangan tanpa status yang jelas dengan pasangannya.
Semoga saja ini awal yang baik untuk hubungan kita, sayang, batin Gio, menatap wajah Diandra.
"Terima kasih, sayang. Aku sangat senang," ujar Gio, dia hendak memeluk Diandra. Akan tetapi, tangan perempuan itu langsung menahan tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf," lirih Diandra, sambil memutar kembali tubuhnya menghadap ke depan.
Gio tersneyum miris, dia pun mengikuti Diandra. "Gak apa ... harusnya aku yang meminta maaf padamu."
Diandra melirik Gio sekilas, hingga mata mereka hampir saja bertemu. Walaupun Diandra lebih dulu menghindar.
"Hanya teman," ujar Diandra.
Gio mengangguk. "Iya, hanya teman."
Tanpa terasa matahari pun sudah tenggelam seutuhnya, kini hanya menyisakan garis jingga kemerahan di atas laut, dengan awan hitam yang semakin terlihat pekat.
Angin pun terasa semakin kencang, dengan udara yang terasa semakin dingin.
"Kita pulang yuk, sudah mau malam," ajak Gio.
Diandra tampak enggan beranjak, dia masih menikmati suasana senja yang terasa indah dipandang mata. Walaupun sebenarnya tubuhnya sudah terasa kedinginan.
"Ayo, sayang. Sudah mau hujan ... lagipula, anginnya sudah terlalu dingin untuk kamu," ujar Gio, sambil mengambil tangan Diandra, lalu berdiri di depan perempuan itu.
Diandra mendongak melihat wajah Gio yang berada jauh di atasnya. "Tapi, senjanya belum selesai."
"Nanti, kalau kau sehat, kita bisa lihat lagi. Sekarang kita pulang dulu, yuk." Gio sedikit menarik tangan Diandra, untuk membantunya berdiri.
Diandra sedikit memajukan bibirnya, walaupun akhirnya dia berdiri juga.
Gio mundur satu langkah, saat Diandra berdiri di depannya. Entah kenapa rasanya Guo selalu ingin memeluk perempuan itu, jika mereka sedang seperti ini.
Diandra yang merasa sedikit pusing, karena sudah terlalu lama duduk, sedikit goyah. Akan tetapi, tangan Gio sigap langsung menahan tubuh istrinya, dengan melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang istrinya.
"Kamu, gak apa-apa, sayang?" tanya Gio panik.
Tangan Diandra refleks memegang tangan bagian atas Gio, hingga saat ini mereka tampak seperti sedang berpelukan.
"Ayo, aku bantu berjalan," ujar Gio, sambil memapah Diandra.
Diandra tidak menolak, tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya, hingga masih membutuhkan Gio di sampingnya.
Mereka pun berjalan perlahan, dengan posisi yang terlihat sangat romantis bagi orang yang melihatnya.
"Terima kasih," ujar Diandra, setelah mereka sudah sampai di dalam kamar.
"Aku senang melakukannya, sayang," jawab Gio, sambil membenarkan selimut untuk Diandra.
.......................
Sekeras apa pun hati seorang perempuan, akan luluh bila terus diberikan perhatian dan kehangatan. Seperti halnya batu karang yang terus terkena lembutnya tetesan air.
__ADS_1